Dibuang oleh darah dagingnya sendiri hanya karena ia terlahir tidak sempurna.
Haruka tumbuh tanpa pelukan orangtua, tanpa tempat pulang. Dunia memandangnya sebelah mata... dihina, direndahkan, dianggap beban yang tak pantas hidup layak. Tapi di tengah semua penolakan itu, ada satu orang yang tak pernah melepaskannya: seorang nenek tua, satu-satunya yang mau memeluknya tanpa syarat.
Dari pelukan itulah tekad Haruka lahir. Ia bangkit, merangkak sejengkal demi sejengkal dari titik terendah, bukan untuk balas dendam, tapi untuk membuktikan satu hal: gadis cacat yang dulu mereka buang, kini akan berdiri lebih tinggi dari siapa pun yang pernah meremehkannya.
Akankah Haruka berhasil membungkam semua yang pernah menghinanya? Atau luka masa lalu akan terus menariknya kembali ke titik nol?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
Setelah kepergian Vania dari taman, Haruna sempat khawatir tak melihat gadis itu kembali ke kamar hingga larut. Dengan langkah tertatih, ia mendatangi pos penjaga asrama yang masih berjaga di malam hari.
"Pak maaf, apa Bapak lihat Vania keluar asrama? Dari tadi dia belum balik ke kamar," tanya Haruna cemas.
Penjaga itu memeriksa buku catatan di mejanya sejenak. "Oh iya, tadi dia sempat izin ke sini, katanya mau pulang ke rumah orangtuanya malam ini juga."
Mendengar jawaban itu, Haruna menghela napas lega, meski masih menyisakan sedikit kekhawatiran di hatinya. Ia mengucapkan terima kasih sebelum kembali melangkah menuju kamarnya.
Begitu pintu terbuka, Melati dan Sinta yang sejak tadi menunggu dengan wajah cemas langsung menghampirinya. "Gimana, Har? Vania di mana?"
"Katanya dia pulang ke rumah orangtuanya," jawab Haruna, duduk di tepi ranjangnya.
"Untung aja nggak kenapa-kenapa," ucap Sinta lega, meski di dalam hatinya masih menyimpan tanda tanya besar tentang apa yang sebenarnya terjadi malam itu.
---
Keesokan paginya, ketiga gadis itu bersiap seperti biasa untuk berangkat menuju kampus. Namun baru saja mereka melangkah keluar kamar, sesosok yang tak terduga muncul di depan pintu... Vania, dengan senyum cerah yang begitu berbeda dari sikap dinginnya selama ini, membawa beberapa kotak bekal di tangannya.
"Pagi!" sapa Vania riang, mengejutkan ketiga gadis yang berdiri mematung di ambang pintu.
Melati dan Sinta saling berpandangan bingung, tak menyangka akan melihat perubahan sedrastis itu dari gadis yang biasanya begitu galak dan sinis.
"Aku bawa sarapan, nih. Semalam aku masak sendiri," lanjut Vania, menyodorkan kotak-kotak bekal itu dengan antusias. "Yuk, sarapan bareng dulu sebelum berangkat."
Ketiganya masih terdiam, bingung bagaimana harus merespons sikap yang begitu berbeda dari kebiasaan Vania sebelumnya.
Menyadari kebingungan itu, Vania menghela napas, lalu menatap mereka dengan sorot mata penuh penyesalan.
"Aku minta maaf," ucapnya pelan, terutama menatap Haruna. "Maaf banget udah nyakitin kalian semua, terutama kamu, Har. Aku udah kelewatan banget selama ini."
Haruna tersenyum lembut, sedikit terkejut namun juga lega mendengar permintaan maaf yang begitu tulus itu. "Nggak apa-apa kok, Vania."
"Makasih juga, Har," lanjut Vania, "berkat saran kamu semalam, aku akhirnya berani ngomong sama orangtuaku dari hati ke hati. Ternyata selama ini kita cuma salah paham aja. Mereka pikir aku baik-baik aja sendirian, aku juga nggak pernah cerita kalau aku sebenarnya kesepian. Sekarang, Mama sama Papa janji bakal lebih sering luangin waktu buat aku."
Mendengar cerita itu, wajah Haruna berbinar bahagia. "Syukurlah kalau gitu. Nenek Haruna dulu selalu bilang, orangtua itu anugerah paling berharga. Jaga baik-baik ya, hubungan sama mereka."
Vania mengangguk mantap, matanya sedikit berkaca-kaca. "Iya, aku janji."
Akhirnya, keempat gadis itu duduk bersama menikmati sarapan yang dibawa Vania. Suasana yang begitu hangat dan cair, jauh berbeda dari ketegangan yang selama ini menyelimuti kamar mereka.
Setelah sarapan usai, mereka berjalan bersama menuju kampus, tawa dan obrolan ringan mengisi perjalanan pagi itu. Namun di tengah jalan, seorang gadis lain... teman lama Vania yang biasa bersamanya tiba-tiba menghadang dengan wajah tak suka.
"Vania, ngapain kamu jalan bareng mereka?" tanya gadis itu ketus, matanya melirik sinis ke arah Haruna, Melati, dan Sinta.
"Mereka temen aku," jawab Vania tegas.
"Temen? Mereka kan anak-anak nggak punya duit, apalagi yang satu itu," gadis itu menunjuk kasar ke arah Haruna, "cacat pula."
Mendengar hinaan itu, Vania langsung membela dengan tegas. "Jangan ngomong gitu! Mereka jauh lebih baik daripada kamu!"
Perdebatan sengit pun terjadi di antara keduanya, suara mereka semakin meninggi hingga menarik perhatian beberapa orang yang melintas. Melihat situasi yang semakin memanas, Haruna mencoba menengahi.
"Udah, udah, nggak usah berantem. Kalau mau, gabung aja sama kita," tawar Haruna dengan senyum ramah, mencoba meredakan suasana.
Namun gadis itu justru semakin sinis. "Nggak, makasih. Aku nggak sudi berteman sama orang miskin kayak kalian." Ia melirik tajam ke arah Vania. "Dan kamu, awas aja kalau masih deket-deket sama mereka."
Setelah mengucapkan kalimat itu, gadis itu berbalik pergi dengan angkuh. Meninggalkan mereka berempat yang masih berdiri di tempat.
"Biarin aja," ucap Vania santai, tak sedikit pun terlihat terganggu dengan sikap mantan temannya itu. "Aku udah nggak peduli lagi sama omongan kayak gitu."
Melihat perubahan sikap Vania yang begitu nyata, Haruna tersenyum bangga. Mereka pun melanjutkan perjalanan sambil kembali bercanda tawa, seolah insiden tadi tak pernah terjadi.
Sesampainya di gerbang kampus, sosok Reynan sudah berdiri menunggu dengan motornya. Senyum hangat langsung terkembang begitu melihat kedatangan Haruna. "Sayang," panggilnya lembut, tak peduli banyak orang yang melihat.
Melati dan Sinta langsung menyikut-nyikut Haruna dengan seringai jahil. "Cieee, yang dipanggil sayang di depan umum!"
Vania, meski masih menyimpan sedikit rasa canggung mengingat perasaannya sendiri terhadap Reynan. Mencoba ikut tersenyum, berusaha ikhlas menerima kenyataan itu. "Iya tuh, buruan samperin pacar kamu."
Wajah Haruna memerah malu. Namun tetap melangkah menghampiri Reynan yang menyambutnya dengan sebuah kotak bekal di tangan. "Ini, Mama yang masak. Aku udah sarapan, jadi ini buat kamu makan siang nanti."
"Makasih, Rey," ucap Haruna, menerima kotak itu dengan senyum bahagia.
"Aduh, so sweet banget," goda Sinta, membuat wajah Haruna semakin merona.
"Udah ah, kita duluan aja," ajak Vania kepada Melati dan Sinta, sengaja memberi ruang privasi untuk pasangan itu.
"Eh, Vania," tanya Melati sebelum mereka benar-benar pergi, "kamu udah bener-bener ikhlas belum soal Reynan?"
Vania tersenyum tipis, menghela napas pelan. "Udah, kok. Aku sadar, Reynan emang cuma buat Haruna."
Setelah kepergian ketiga sahabatnya, Reynan menggenggam tangan Haruna erat. Membimbingnya melangkah bersama memasuki gedung fakultas bisnis, jurusan yang mereka pilih bersama.
Kehadiran mereka berdua langsung menarik perhatian banyak mahasiswa lain, bisik-bisik penuh keheranan terdengar dari berbagai penjuru.
"Kok bisa ya, cowok setampan itu mau sama cewek yang... gitu?" bisik salah seorang mahasiswi.
Namun Reynan sama sekali tak menghiraukan bisikan-bisikan itu, sikapnya tetap begitu lembut dan penuh perhatian kepada Haruna. Memilih kursi tepat di sebelahnya begitu mereka memasuki ruang kelas.
Sepanjang perkuliahan, mata Reynan tak pernah sekali pun teralih dari Haruna. Meski beberapa mahasiswi lain terang-terangan mencoba menarik perhatiannya dengan berbagai cara.
Namun perhatian penuh itu justru membuat Haruna menyadari sesuatu yang selama ini luput dari pandangannya, ternyata begitu banyak gadis yang mengagumi kekasihnya.
"Kenapa? Kok diem aja dari tadi?" tanya Reynan, menyadari perubahan raut wajah Haruna yang mulai terlihat kesal.
"Nggak apa-apa," jawab Haruna singkat, namun nada suaranya jelas menyiratkan sesuatu yang mengganjal.
"Ayo, cerita. Ada apa?" desak Reynan lembut.
Haruna akhirnya menghela napas, mengaku jujur. "Ternyata banyak banget yang suka sama kamu, ya."
Mendengar itu, Reynan justru tersenyum lebar, membuat kekesalan Haruna semakin memuncak. "Kok malah senyum? Jangan-jangan kamu bangga banyak yang naksir kamu?"
"Bukan gitu, aku cuma..." Reynan mencoba menjelaskan. Namun Haruna sudah keburu memalingkan wajah, merajuk dengan bibir mengerucut.
"Sayang, dengerin dulu," Reynan buru-buru membujuk, panik melihat kekasihnya mulai kesal. "Aku senyum bukan karena bangga, tapi karena..."
Belum sempat Reynan menyelesaikan kalimatnya, seorang mahasiswi berbadan montok dengan pakaian sedikit terbuka tiba-tiba menghampiri mereka. Senyum genit terpasang jelas di wajahnya. "Reynan, boleh aku duduk di sini?" tanyanya sambil melirik kursi kosong di sebelah Reynan, sengaja mengabaikan keberadaan Haruna.
Melihat kedatangan gadis itu, kekesalan Haruna yang baru saja mulai mereda kembali memuncak. Ia melirik sekilas ke arah tubuh gadis itu, lalu tanpa sadar membandingkannya dengan tubuhnya sendiri yang begitu kurus.
Namun Reynan justru tersenyum tipis melihat perubahan ekspresi Haruna. Menyadari kecemburuan yang begitu jelas terpancar dari wajah kekasihnya. Sesuatu yang justru membuatnya merasa begitu bahagia, tanda bahwa cinta Haruna terhadapnya begitu besar.
"Maaf, kursi ini udah ada yang punya," tegas Reynan kepada gadis itu, nadanya begitu dingin. "Tolong jangan deket-deket lagi."
Gadis itu tampak kecewa, namun akhirnya berlalu pergi dengan wajah cemberut.
Melihat senyum Reynan yang masih terpatri di wajahnya, kesalahpahaman Haruna justru semakin membesar. "Kenapa senyum-senyum gitu? Suka ya, sama dia?"
"Bukan, Sayang," Reynan segera menggenggam tangan Haruna, mencoba menjelaskan dengan lembut. "Aku senyum karena aku seneng lihat kamu cemburu. Itu artinya kamu sayang banget sama aku, kan?"
Mendengar penjelasan itu, wajah Haruna kembali merona, meski rasa kesalnya belum sepenuhnya hilang. "Iya, aku emang cemburu," akunya jujur, menunduk malu. "Tapi Rey, aku minta satu hal. Jangan pernah menduakan aku. Kalau suatu saat kamu jatuh cinta sama orang lain, tolong jujur aja sama aku. Aku bakal mundur kok, nggak akan maksa kamu buat tetap sama aku."
Mendengar permintaan tulus itu, Reynan menatap Haruna lekat-lekat, hatinya dipenuhi keharuan yang begitu mendalam.
Digenggamnya tangan Haruna lebih erat, memberikan keyakinan yang begitu kuat lewat tatapan matanya.
"Nggak akan pernah ada yang bisa gantiin kamu di hati aku, Har. Aku janji."
mungkin ni langkah yg bkal jlan km bisa lebih mudah ,,
jgn nangis kalo d tolak yx neng ,,
aq yg maluuu looo km bgtuuu😹😹😹🫣🫣🫣🫣🫣🫣
buktikan KLO km mampu melewati semua ujian hidup km meski d tengah keterbatasan fisik
meski berat km harus bisa jd support sistem ny Haruna ,,