NovelToon NovelToon
DARK RONIN

DARK RONIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Action / Perperangan
Popularitas:91
Nilai: 5
Nama Author: (Rahu)l

DARK RONIN

Kode namanya Kakashi. Selama sepuluh tahun, ia adalah bayangan tak terlihat, pengawal setia pemimpin dagang yang disegani seantero wilayah timur. Dianggap keluarga, dipercaya sepenuhnya—hingga satu momen kelalaian mengubah segalanya. Musuh menyerang, tuannya tewas, dan Kakashi gagal melindunginya.

Ditinggal tanpa majikan, ia menjadi ronin. Namun alih-alih mengembara tanpa tujuan seperti aturan yang berlaku, ia melanggar sumpah para ronin: tak akan diam membiarkan kematian tuannya berlalu begitu saja. Ia menentang ketetapan, membuang masa depan, dan menapaki jalan balas dendam yang gelap. Sendiri, tanpa nama, tanpa tuan, Kakashi menyusup ke bayang-bayang musuh. Bukan lagi pengawal, melainkan pedang pembalas yang tak akan berhenti sampai keadilan—atau kebinasaan—tercapai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 — Penyusup

Angin malam berhembus lebih kencang saat mereka melangkah di atas tembok batu yang lebar dan dingin. Di bawah kaki mereka, halaman kediaman Garo Takemaki terbentang luas, diterangi cahaya remang dari obor-obor yang tertanam di tiang-tiang tinggi. Bayangan bangunan utama menjulang gelap di tengahnya — gedung dua lantai yang dibangun dari batu hitam dan kayu tua, jendelanya tertutup rapat, seakan tak ingin ada yang melihat apa yang tersembunyi di baliknya.

Kakashi memberi isyarat tangan pelan, menundukkan tubuhnya lebih rendah. Shizuka di sampingnya melakukan hal yang sama, matanya menyapu setiap sudut halaman dengan kewaspadaan yang tajam. Sejak tadi, perasaan tidak tenang terus menyelinap di dada Kakashi. Sesuatu terasa terlalu mudah. Tidak ada siapa pun yang melihat mereka, tidak ada suara langkah kaki patroli yang mendekat, tidak ada teriakan peringatan. Keheningan ini bukan kedamaian — ini adalah kediaman yang dijaga dengan disiplin militer, dan kesunyiannya justru menjadi tanda bahwa mereka sedang diawasi.

"Ikuti aku," bisiknya pelan, suaranya hampir tak terdengar tertiup angin. "Jangan melangkah di tempat yang tidak kutapak lebih dulu."

Shizuka mengangguk pelan, jemarinya mencengkeram gagang pisau pendek di pinggangnya. Mereka bergerak perlahan di sepanjang punggung tembok, menuju sudut paling gelap di mana bayangan pohon cemara tua menutupi pandangan dari mana saja. Di sana, dinding batu itu memiliki lekukan-lekukan kecil yang memudahkan turun ke bawah.

Kakashi melompat turun lebih dulu, mendarat tanpa suara di atas hamparan rumput lebat yang tumbuh di sudut halaman. Ia berbalik seketika, mengangkat tangan memberi isyarat aman. Shizuka menyusul sesaat kemudian, mendarat ringan di sampingnya, seakan kakinya tak menyentuh tanah sama sekali.

"Penjagaan di sini..." Shizuka berhenti sejenak, menatap ke arah lorong yang terbentang di hadapan mereka. "Terlalu sepi. Seperti sudah dikosongkan."

"Justru itu yang menakutkan," jawab Kakashi pelan, matanya tak lepas dari deretan pintu dan jendela yang tertutup rapat. "Garo bukan orang yang ceroboh. Jika dia tahu kita datang, dia tidak akan membiarkan hal ini terjadi tanpa persiapan."

Mereka bergerak menyusuri sisi bangunan, menjaga jarak dari cahaya obor yang menyinari bagian tengah halaman. Setiap langkah mereka diletakkan dengan sangat hati-hati — mengelakkan kerikil yang berderit, menghindari ranting kering yang patah, membiarkan napas mereka tenang dan teratur. Namun semakin jauh mereka melangkah, semakin terlihat betapa ketatnya pertahanan tempat ini. Di balik semak-semak yang tampak alami, terdapat celah-celah pengawasan yang tersusun rapi. Di atas atap sayap timur, siluet penjaga bersenjata tampak berdiri diam, menatap ke arah luar, tak bergerak sedikit pun.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar mendekat dari arah depan. Dua orang, berjalan beriringan, sepatu bot mereka menghentak lantai batu dengan irama yang berat dan teratur.

Kakashi menarik lengan Shizuka, menyelamkan mereka berdua ke balik tirai bayangan di bawah jendela yang menjorok keluar. Langkah kaki itu semakin dekat, lalu berhenti tidak jauh dari tempat mereka bersembunyi.

"Kau dengar perintah Tuan?" suara seseorang terdengar berat dan serak. "Biarkan mereka masuk. Jangan halangi. Biarkan mereka masuk sejauh mungkin, lalu kunci."

"Sudah kuterima sejak tadi," jawab yang kedua, suaranya lebih tajam. "Tapi aneh. Untuk apa membiarkan penyusup masuk begitu saja? Bukankah lebih mudah menghentikan mereka di tembok?"

"Jangan bertanya. Tuan tahu apa yang dilakukannya. Katanya, tamu ini istimewa. Harus disambut dengan tempat yang layak."

Keduanya tertawa pelan, tawa yang dingin dan penuh makna tersembunyi, lalu melangkah pergi, meninggalkan Kakashi dan Shizuka yang saling bertukar pandang dengan ngeri.

"Mereka memang sengaja membiarkan kita masuk," bisik Shizuka, napasnya tertahan. "Kita berjalan tepat ke dalam perangkap."

"Ya," Kakashi mengangguk perlahan, tangannya mencengkeram gagang pedang hitam di pinggangnya. "Tapi kita tidak bisa berbalik sekarang. Aoi ada di sini. Dan kalau kita pergi begitu saja, siapa yang akan menolongnya?"

Ia mencondongkan tubuh sedikit, menatap ke arah lorong yang ditinggalkan kedua penjaga itu. "Mereka harus lewat depan sana. Kalau kita cepat, kita bisa menyusul mereka sebelum mereka memberi isyarat ke bagian lain."

Tanpa menunggu jawaban, Kakashi melangkah maju, menyusuri jejak langkah kedua penjaga itu. Shizuka mengikuti di belakangnya, langkahnya senyap seperti bayangan.

Mereka menemukan kedua penjaga itu di sebuah lorong pendek yang menghubungkan halaman depan dengan bangunan utama. Keduanya sedang berdiri membelakangi dinding, berbisik-bisik, tidak menyadari kehadiran mereka.

Kakashi memberi isyarat tangan — satu ke kiri, satu ke kanan. Shizuka mengangguk, mengerti.

Mereka bergerak serentak. Kakashi meluncur maju, menutup mulut penjaga pertama dengan telapak tangannya yang lebar, sementara siku lainnya menghantam tepat di titik leher yang membuat kesadaran lenyap seketika. Tubuh pria itu terkulai lemas di pelukannya, diturunkan perlahan ke lantai tanpa suara.

Di saat yang sama, Shizuka melompat ke arah yang kedua. Sebelum pria itu sempat berteriak atau mencabut senjatanya, ia sudah berada di belakangnya, satu lengan melingkar di lehernya, menekan dengan tepat namun tidak mematikan. Pria itu meronta sejenak, lalu perlahan menjadi lemas, terjatuh tak sadarkan diri di atas lantai batu yang dingin.

Kakashi berjongkok sejenak, memeriksa denyut nadi keduanya. "Hanya pingsan. Mereka akan bangkit dalam beberapa jam."

Shizuka menghela napas pelan, menatap tubuh kedua pria itu. "Mereka bersenjata lengkap. Pedang, belati, bahkan bubuk api. Garo benar-benar siap untuk sesuatu yang besar."

Kakashi menyambar dua buah belati kecil dari ikat pinggang salah satu penjaga, menyimpannya untuk Shizuka. "Simpan. Kita mungkin membutuhkannya."

Mereka melanjutkan perjalanan, semakin dalam menuju pusat kediaman. Setiap beberapa puluh langkah, mereka berpapasan dengan patroli lain — dan setiap kali, mereka harus bertindak cepat dan senyap.

Di dekat sumur tua di halaman samping, tiga orang penjaga sedang berhenti sejenak, meminum air dari kendi. Kakashi memberi isyarat, dan mereka bergerak memisahkan diri. Shizuka menarik perhatian mereka dengan menjatuhkan ranting kering di sisi lain. Saat kepala-kepala mereka menoleh, Kakashi sudah berada di antara mereka. Satu gerakan tangan cepat — tiga orang itu terjatuh sebelum sempat mengeluarkan suara apa pun.

Di lorong sayap barat, dua orang penjaga berdiri menjaga pintu belakang. Kali ini Shizuka yang bergerak lebih dulu, meluncur turun dari atap dengan tali tipis, menghantam pundak salah satu dari bawah, sementara Kakashi menyergap yang kedua dari samping. Semuanya berlangsung dalam keheningan yang menegangkan — setiap detik terasa berjam-jam, setiap napas ditahan, setiap gerakan dihitung dengan presisi.

Namun semakin banyak penjaga yang mereka lumpuhkan, semakin Kakashi menyadari sesuatu yang mengerikan. Jumlah mereka terlalu banyak. Dan mereka tersebar di setiap bagian bangunan ini, seakan tempat ini bukan sekadar kediaman, melainkan benteng militer yang dijaga ketat. Jika mereka terus melumpuhkan mereka satu per satu, cepat atau lambat ketiadaan mereka akan disadari. Dan saat itu terjadi...

"Kita tidak punya banyak waktu," bisiknya kepada Shizuka, saat mereka bersembunyi di balik dapur yang sepi. "Mereka pasti sudah menyadari ada yang tidak beres."

"Sudah ketemu jejak Aoi?" tanya Shizuka, matanya mencari-cari di antara deretan pintu yang tertutup.

"Belum. Tapi ada satu tempat yang belum periksa." Kakashi menunjuk ke arah sayap paling dalam, bangunan yang terpisah sedikit dari bangunan utama, dikelilingi tembok tersendiri, jendelanya tertutup rapat dengan papan kayu. "Itu biasanya tempat menyimpan barang berharga atau tahanan penting."

"Dan dijaga paling ketat," tambah Shizuka pelan. "Lihat sana."

Di depan pintu bangunan itu, berdiri empat orang penjaga, masing-masing memegang tombak panjang yang ujungnya berkilau tajam. Mereka berdiri tegak, tak bergerak, pandangan mereka menatap lurus ke depan — tidak ada celah, tidak ada kelemahan yang tampak.

"Kita tidak bisa menyusup lewat depan," kata Kakashi, menimbang. "Terlalu terbuka."

"Ada jalan lain?" Shizuka menatap ke arah atap bangunan itu. "Kalau bisa naik ke atas..."

"Atapnya licin, dan tidak ada pegangan. Tapi..." Kakashi menatap ke arah deretan pohon tinggi yang tumbuh di samping bangunan itu. "Dahan pohon itu menjulang hingga ke jendela lantai atas. Jendelanya tertutup, tapi mungkin tidak terkunci."

Mereka bergerak menuju pohon itu dengan sangat hati-hati, memutar jauh agar tidak terlihat oleh para penjaga di depan. Kakashi memanjat lebih dulu, bergerak lincah naik ke dahan paling tebal, lalu menarik Shizuka menyusulnya. Dahan itu kokoh, menopang berat badan mereka dengan baik. Perlahan, mereka melangkah sepanjang dahan yang menjorok ke arah jendela lantai atas bangunan tertutup itu.

Jendela itu tertutup daun jendela kayu, namun tidak terkunci rapat — celah kecil terlihat di bagian bawah. Kakashi mendorongnya pelan, sedikit demi sedikit, agar tidak menimbulkan suara berderit. Daun jendela itu terbuka, membiarkan cahaya remang bulan masuk ke ruangan yang gelap dan sepi.

Mereka melompat masuk, mendarat di atas lantai kayu yang dingin. Ruangan itu kosong, hanya berisi beberapa peti kayu tertutup kain. Kakashi menutup kembali jendela dengan hati-hati, lalu menoleh ke arah Shizuka.

"Kita di dalam," bisiknya. "Tapi ingat — masuk ke sini berarti tidak ada jalan mundur yang mudah. Jika tertangkap, tidak ada yang bisa menolong kita."

Shizuka mengangguk, tangannya mencengkeram belati yang diambilnya tadi. "Aku tahu. Tapi aku tidak akan pergi tanpa Aoi."

Kakashi melangkah maju, menyusuri lorong gelap di luar ruangan itu. Di sini, keheningan terasa lebih pekat, lebih menindih. Bau debu dan kesepian menyelimuti tempat ini, namun ada sesuatu yang lain — samar, namun tak bisa disangkal — aroma samar minyak wangi yang dikenakan Aoi.

Langkah Kakashi terhenti. Ia menciumnya. Itu benar-benar aroma yang ia kenal baik.

"Shizuka..." suaranya bergetar pelan. "Dia ada di sini."

Mereka berjalan menyusuri lorong itu, langkah mereka semakin cepat, semakin yakin. Aroma itu semakin kuat, semakin nyata, menuntun mereka seperti cahaya di kegelapan. Hingga di ujung lorong, sebuah pintu kayu tertutup rapat berdiri di hadapan mereka. Dan dari balik pintu itu, terdengar suara — isak tangis yang tertahan, lemah namun jelas.

"Aoi..." Shizuka menyebut nama itu tanpa sadar, ingin berlari mendekat, namun Kakashi menahannya.

"Tunggu," bisiknya, menahan lengan gadis itu. Ia menatap pintu itu dengan kewaspadaan penuh. "Ini bisa jadi jebakan."

Namun dari balik pintu itu, suara lemah terdengar lagi, begitu pilu hingga hati siapa pun yang mendengarnya akan teriris.

"Kakashi... Kakashi, apakah itu kau?"

Kakashi tersentak. Aoi mengenali kehadirannya, bahkan tanpa melihatnya. Ia melangkah maju, melupakan segala kewaspadaan, dan membuka pintu itu perlahan.

Di dalam ruangan itu, di atas tempat tidur sederhana, duduk sosok yang dicarinya — Aoi. Matanya bengkak dan merah, pakaiannya kusut, wajahnya pucat, namun saat melihat Kakashi, secercah harapan menyala di matanya yang basah.

Namun sebelum siapa pun sempat melangkah maju, pintu di belakang mereka tertutup rapat seketika. Suara kunci yang diputar terdengar nyaring di ruangan itu.

Dari arah sudut ruangan yang gelap, suara tepuk tangan terdengar pelan, berirama, penuh kepuasan yang kejam.

"Bagus... bagus sekali," suara itu — suara Garo Takemaki — terdengar dari kegelapan. "Kau datang tepat waktu, Kakashi. Dan kau juga, Shizuka. Semua orang yang kucari akhirnya berkumpul di satu tempat."

Cahaya lampu minyak tiba-tiba menyala terang, menerangi seluruh ruangan. Di sudut ruangan, berdiri Garo Takemaki, tersenyum lebar, dikelilingi oleh enam orang penjaga bersenjata lengkap, pedang terhunus menunjuk tepat ke arah mereka.

"Selamat datang di rumahku," ucapnya, matanya menyala licik. "Ini akan menjadi akhir dari perjalanan kalian."

Kakashi melangkah maju, berdiri di depan Shizuka dan Aoi, pedang hitam di tangannya terhunus perlahan, memancarkan kilat dingin yang mengancam. Ia tidak bicara, tidak mengancam. Ia hanya berdiri tegak, siap bertarung, siap melindungi mereka di belakangnya bahkan jika nyawanya harus menjadi taruhan.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!