Malam itu, dengan kaki telanjang menembus jalanan Jakarta, Sekar nekat menghentikan sebuah mobil mewah… dan takdirnya berubah selamanya.
**Bramantyo Adiwangsa.** Empat puluh tahun, konglomerat paling disegani di ibu kota. Pria yang dingin pada dunia—tapi memungut gadis malang itu, memberinya rumah, nama, dan perlindungan yang tak pernah ia punya. Bertahun-tahun Om Bram menjaganya seperti harta paling rapuh miliknya.
Sampai gadis kecil itu tumbuh menjadi wanita. Dan berani mengucap kalimat yang mengubah segalanya:
*"Om… aku mencintaimu."*
*"Ini salah,"* tolaknya dingin. *"Om dua puluh tahun lebih tua darimu."*
Tapi bagaimana kalau pria yang paling keras menolaknya… justru pria yang paling tak sanggup melepaskannya?
Di antara gunjingan tetangga, penghinaan karena ia "cuma gadis pungut", mantan yang kembali dari 'kematian' untuk membalas dendam, dan satu kecelakaan yang merenggut sesuatu dari tubuh Om Bram selamanya—cinta mereka harus melewati badai yang tak pernah mereka bayangkan.
Dulu, Om yang menyelamatkannya. Kini, giliran Sekar yang bersumpah menyembuhkan pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30
Namira
Fikri menelepon lewat tengah malam karena tim hukum menemukan masalah pada nama Nabra Boutique.
Beberapa hari sebelumnya, atas permintaan Om Bram, mereka memeriksa pendaftaran merek dan materi promosi toko. Nama serta bentuk huruf `Nabra` ternyata sangat mirip dengan merek fesyen milik salah satu perusahaan afiliasi Adiwangsa yang sudah terdaftar lebih dulu. Keduanya berada dalam kelas barang yang sama dan berpotensi membingungkan konsumen.
"Kami tidak bisa langsung memaksa siapa pun mengganti nama hanya karena Pak Bram tidak menyukai maknanya," kata Fikri kepadaku di ruang rapat kecil kantor SCBD. "Dasarnya harus objektif dan bisa diuji."
Di atas meja terletak salinan sertifikat merek, tangkapan layar promosi Nabra, analisis kemiripan, dan draf surat keberatan.
Fikri menunjukkan nomor pendaftaran dan tanggal perlindungan merek milik afiliasi satu per satu. Tim hukum juga menyimpan bukti bahwa beberapa pelanggan di media sosial sudah menanyakan apakah Nabra merupakan lini baru Adiwangsa. Pertanyaan publik itu memperkuat risiko kebingungan, tetapi belum otomatis membuktikan pelanggaran.
"Kami tetap memberi mereka kesempatan menjawab," jelasnya. "Tidak ada pencopotan paksa, tidak ada ancaman menutup toko. Kalau mereka punya dasar lebih kuat, pengacara mereka bisa menyampaikannya."
Aku mengangguk. Setelah melihat bagaimana Om Bram pernah memakai pengaruh untuk menekan sekolah, aku perlu tahu batas antara perlindungan dan pembalasan. Kali ini semua langkah harus meninggalkan dokumen yang bisa diperiksa pihak luar.
Aku membaca halaman pertama. "Kalau Nadia menolak?"
"Tim akan menempuh prosedur di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual dan, jika diperlukan, gugatan sesuai jalur hukum. Tapi kami lebih dulu menawarkan penyelesaian terbatas. Ganti nama, tarik materi yang membingungkan, dan masing-masing pihak menanggung biaya sendiri."
"Jadi bukan karena Na dari Nadia dan Bra dari Bramantyo?"
Fikri menahan senyum. "Motif pribadi bukan dasar surat kami."
Pintu ruang rapat terbuka sebelum aku sempat bertanya lagi.
Nadia masuk bersama seorang pengacara perempuan. Wajahnya tenang, tetapi cara dia meletakkan tas di meja menunjukkan kemarahan yang tidak benar-benar tersembunyi.
"Saya kira pertemuan ini hanya dengan tim hukum," katanya saat melihatku.
Aku hendak berdiri, tetapi Fikri menjawab lebih dulu.
"Sekar berada di kantor untuk urusan pribadi dan akan meninggalkan ruangan jika kedua pihak menganggap pembahasan rahasia."
"Saya tidak keberatan," kata Nadia. "Biar dia melihat bagaimana Bram memakai perusahaan untuk masalah pribadi."
Aku tetap duduk.
Fikri menyerahkan surat keberatan dan menjelaskan poin demi poin. Dia tidak menyebut hubungan Nadia dengan Om Bram, tidak membahas gabungan nama, dan tidak memakai nada mengancam. Semua argumennya kembali pada kelas produk, prioritas pendaftaran, kemiripan visual, serta risiko konsumen salah mengira butik itu berafiliasi dengan Adiwangsa.
Pengacara Nadia membaca dokumen dengan serius.
"Klien kami sudah mengeluarkan biaya pembukaan," katanya. "Pergantian nama akan menimbulkan kerugian besar."
"Karena itu kami mengirim keberatan pada tahap awal, sebelum penggunaan meluas," jawab Fikri. "Kami juga menawarkan waktu transisi dan tidak meminta ganti rugi jika perubahan disepakati."
Nadia menatapku. "Kamu pasti senang."
"Ini bukan keputusanku."
"Tapi kamu yang mendapat manfaat."
"Manfaat apa? Om Bram sudah mengatakan nama toko tidak mengubah kenyataan."
Senyum Nadia mengeras. "Kenyataan versi siapa?"
"Nadia."
Suara Om Bram terdengar dari pintu.
Dia masuk sendiri setelah rapat lain selesai. Jasnya masih rapi, dan tidak ada emosi di wajahnya.
"Kalau ada pertanyaan tentang keputusan perusahaan, tanyakan kepada saya," katanya.
Nadia berdiri. "Jadi ini memang perintahmu."
"Saya memerintahkan pemeriksaan. Tim menemukan konflik yang memiliki dasar hukum."
"Kamu bisa memberi pengecualian."
"Saya tidak akan meminta perusahaan mengabaikan merek terdaftar untuk memenuhi keinginan pribadi siapa pun."
Pengacara Nadia mengangkat satu halaman. "Kalau pihak kami mengganti tampilan visual, apakah nama boleh dipertahankan?"
Kepala tim hukum yang sejak tadi duduk di ujung meja menjawab, "Kami terbuka memeriksa proposal baru, tetapi analisis awal menunjukkan kemiripan bunyi dan kelas barang tetap menjadi masalah. Penyelesaian paling rendah risiko adalah perubahan nama. Keputusan akhir tetap bisa diuji melalui prosedur resmi jika klien Anda tidak setuju."
Om Bram tidak memotong atau memerintahkan jawaban berbeda. Dia membiarkan penasihat hukum masing-masing pihak menilai pilihan.
"Bahkan keinginan teman lama?"
"Ini murni masalah hukum, Nadia, bukan urusan pribadi."
Kalimat itu disampaikan tanpa meninggikan suara. Justru ketenangannya membuat wajah Nadia memucat.
Pengacaranya menyentuh lengan Nadia dan meminta waktu berbicara berdua. Mereka keluar ke ruangan sebelah. Aku menatap Om Bram.
"Om sudah tahu dia akan marah."
"Marah bukan alasan untuk membiarkan risiko hukum."
"Kalau mereknya tidak mirip?"
"Saya tidak akan menyentuh tokonya. Nama buruk tetap bukan pelanggaran."
Jawaban itu membuatku lega. Dia tidak menggunakan kekuasaan perusahaan hanya untuk memberiku kemenangan pribadi.
Setelah hampir setengah jam, Nadia kembali. Pengacaranya mengatakan mereka bersedia mengganti nama dalam batas waktu yang disepakati, dengan syarat tidak ada tuntutan ganti rugi dan stok kemasan lama boleh ditutup stiker sementara selama masa transisi.
Fikri menyetujui prinsipnya dan meminta semua rincian dituangkan dalam kesepakatan tertulis.
Notulen mencatat tenggat pemasangan tanda baru, penarikan iklan digital, penutupan logo pada kemasan, dan hak kedua pihak untuk memeriksa kepatuhan dari area publik. Nadia diberi kesempatan membaca ulang bersama pengacaranya sebelum menandatangani. Tidak ada satu pun dokumen yang ditandatangani di bawah ancaman keamanan atau tekanan fisik.
Nadia menandatangani notulen awal.
Sebelum pergi, dia berhenti di depan Om Bram. "Kamu benar-benar ingin menghapus semua yang menghubungkan nama kita."
"Tidak pernah ada nama kita," jawabnya. "Yang ada namamu dan namaku. Pisahkan keduanya."
Nadia berjalan keluar tanpa berpamitan.
Empat hari kemudian, aku menemani Fikri ke Central Park Mall untuk mencatat kepatuhan perubahan. Huruf neon Nabra sudah diturunkan. Pekerja memasang papan baru bertuliskan `Namira`.
Fikri mengambil foto berpenanda waktu dari area publik dan memeriksa materi promosi yang masih dipajang. Kemasan lama sudah ditutup stiker sesuai kesepakatan. Tidak ada keributan atau penyitaan barang.
"Selesai?" tanyaku.
"Untuk tahap ini. Semua bukti masuk arsip hukum."
Aku melihat ke dalam toko. Bu Nar tidak tampak di meja kasir. Nadia berdiri sendirian di dekat papan lama yang disandarkan ke dinding. Tangannya mengepal di sisi tubuh.
Seolah merasakan tatapanku, dia menoleh ke arah kaca. Mata kami bertemu.
Aku tidak tersenyum. Dia juga tidak.
Saat aku dan Fikri bergerak menuju eskalator, Nadia mengambil ponsel dan menekan satu nomor. Dari balik kaca, aku melihat bibirnya membentuk kalimat pendek kepada seseorang.
Aku tidak bisa mendengar isinya, tetapi ekspresi di wajahnya membuat rasa lega di dadaku berubah menjadi peringatan.
Masalah nama memang selesai, tetapi kemarahannya jelas baru saja dimulai.