DI ANTARA DUA BAYANGAN
Kebangkrutan bisnis sang ayah memaksa Aira—gadis SMA yang polos, penakut, dan penurut—menjadi jaminan utang keluarga. Ia diserahkan ke kediaman megah keluarga Pradipta dan dijodohkan dengan Vino, pewaris tunggal yang arogan, playboy, dan tak segan mengintimidasinya. Bagi Vino, Aira tak lebih dari benalu dan pelayan terhormat. Di sekolah maupun di rumah, Aira harus menelan bulat-bulat rasa malu saat Vino terang-terangan memamerkan kemesraan dengan Caren, kekasihnya.
Di tengah kehempaan dan rasa takut yang menghimpit, muncul Darel. Sepupu Vino yang baru pulang dari luar negeri itu hadir bak pahlawan. Dengan tutur kata lembut, perhatian manis, dan senyum hangatnya, Darel menjadi satu-satunya tempat Aira bersandar.
Namun, Aira tak menyadari bahwa keselamatan yang ia rasakan hanyalah ilusi. Di balik topeng sempurnanya, Darel menyimpan obsesi gelap dan jiwa psikopat yang siap menghancurkan siapa saja. Saat Vino perlahan mulai menyadari perasaannya dan melihat bahaya ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Perhatian Dingin di Ruang UKS
Hari berganti, tetapi intensitas pengawalan Vino di sekolah justru makin tidak masuk akal. Sebagai teman sekelas di 12 IPS 2, Vino kini punya akses penuh untuk mengawasi setiap gerak-gerik Aira dari bangku belakang.
Siang itu, matahari terik membakar lapangan utama SMA Nusa Bangsa. Kelas 12 IPS 2 sedang menjalani jam pelajaran Olahraga di bawah bimbingan Pak Gunawan. Sementara siswa lain sibuk berlari mengelilingi lapangan lima putaran, Vino—yang memang enggan mengikuti instruksi guru—hanya duduk santai di pinggir lapangan, menyandarkan punggungnya di bawah peneduh sambil terus memasang mata pada sosok Aira.
Di putaran ketiga, langkah Aira melemah. Wajah cewek itu pucat pasi, dan peluh dingin mengucur deras di pelipisnya. Pandangannya mulai berkunang-kunang.
"Aira! Lu kenapa? Muka lu pucat banget!" seru teman sekelasnya khawatir.
Sebelum Aira sempat menjawab, tubuhnya melemas. Lututnya menyerah, dan Aira hampir saja ambruk menghantam permukaan semen lapangan jika sebuah lengan kekar tidak menahan tubuhnya dengan sigap dari belakang.
Sret!
Vino, yang sejak awal tidak pernah melepaskan pandangannya dari Aira, langsung melompat berdiri dan menerobos ke tengah lapangan tanpa peduli instruksi Pak Gunawan.
"Aira!" panggil Vino, suaranya panik luar biasa meskipun raut wajahnya berusaha tetap galak.
Vino tidak membuang waktu. Tanpa meminta izin pada Pak Gunawan atau mendengarkan riuh teriakan kaget anak-anak sekelasnya, Vino langsung menyelipkan tangannya di bawah lutut dan punggung Aira, membopong tubuh cewek itu secara bridal style.
"Vin... kamu... ngapain..." bisik Aira lemah, menyandarkan kepalanya yang berat di dada Vino.
"Diem lu! Gak usah banyak omong!" bentak Vino kasar, napasnya memburu cepat. "Udah tahu fisik lemah, sok-sokan ikut lari! Kalau pingsan di tengah lapangan kan bikin repot satu sekolah!"
Meskipun mulutnya terus menyemprotkan omelan kasar, dekapan Vino pada tubuh Aira terasa sangat erat dan protektif. Langkah kakinya lebar-lebar membelah kerumunan siswa yang memandang mereka dengan mata membelalak tak percaya.
Vino menendang pintu ruang UKS hingga terbuka lebar. Ia meletakkan Aira dengan sangat perlahan di atas kasur busa empuk, memastikan kepala Aira tersangga bantal dengan nyaman.
Petugas UKS yang bertugas tampak kaget. "Eh, Mas Vino? Ada apa—"
"Gak usah banyak tanya, ambilkan minyak kayu putih, kompres dingin, sama teh manis hangat sekarang!" perintah Vino galak dan tak sabar.
Petugas UKS yang ketakutan langsung terbirit-birit menuruti perintah sang pangeran sekolah.
Vino melepaskan jaket seragamnya, melemparkannya ke kursi, lalu duduk di tepi ranjang di samping Aira. Ia meraih botol minyak kayu putih, menuangkannya ke telapak tangannya sendiri, lalu mengusapkannya ke pelipis dan area leher Aira dengan gerakan yang sangat hati-hati—sangat bertolak belakang dengan raut wajahnya yang ditekuk gusar.
"Makanya kalau gak kuat ngomong dari awal sama gurunya!" omel Vino lagi, menatap Aira yang mulai membuka mata perlahan. "Suka banget bikin orang panik. Lu tuh beban tahu gak?"
Aira menatap Vino yang sibuk memijat pelan tangannya yang dingin. Meskipun kalimat Vino ketus, binar mata cowok itu memancarkan kekhawatiran murni yang tidak bisa ditutupi.
"Maaf ya, Vin..." bisik Aira pelan, menyunggingkan senyum tipis yang sangat tulus. "Makasih udah nolongin aku."
Vino tertegun. Senyuman tulus Aira yang berada persis di depan wajahnya membuat dada Vino mendadak berdesir hebat. Vino buru-buru memalingkan wajahnya ke arah dinding, menutupi mulutnya dengan sebelah tangan seraya berdeham keras demi menyembunyikan rona merah yang kini menjalar hingga ke telinganya.
"Si—siapa yang nolongin lu? Gue cuma gak mau nama keluarga gue jelek gara-gara ada anak penjamin utang pingsan karena kelaparan!" celoteh Vino gengsi. Vino lalu merebut kompres es dari tangan petugas UKS dan menempelkannya sendiri ke dahi Aira. "Dah, diem di sini. Jangan berani-berani keluar sebelum gue suruh!"
Di luar jendela kaca UKS, Darel berdiri membisu di balik rindangnya pohon peneduh.
Mata Darel menatap tajam ke dalam ruangan—memperhatikan bagaimana Vino telaten mengompres dahi Aira dan bagaimana Aira menatap Vino dengan binar kepasrahan yang makin hangat.
Kepalan tangan Darel mengerat di samping tubuhnya. Senyuman manisnya menghilang tanpa sisa, digantikan oleh tatapan dingin penuh intrik.
Vino makin berani menyeberangi batas, batin Darel sinis. Saatnya bikin Aira meragukan semua "kebaikan" palsu sepupu gue itu.