Bagi Monica dan kelompoknya, ini bukan sekadar tugas biasa—ini adalah perjuangan untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi.
Di tengah kepungan musuh dan bayang-bayang naga hitam, mereka terus melangkah maju. Tetapi tidak semua orang bisa pulang. Ketika tabir misteri akhirnya terkuak, darah dan air mata telah tercurah, meninggalkan hanya dua orang yang berdiri di antara puing-puing pengorbanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang star_nrl22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehancuran Sang Inkuisitor dan Fajar Kebangkitan Benua
BOOOOOOM!
Gelombang Miasma pekat berkekuatan purba meletus dari Batu Inti yang dipegang Lord Malakor. Tekanan mana kegelapan itu menghantam seluruh sudut aula kristal darah, menciptakan badai angin hitam yang memotong pilar-pilar obsidian di sekeliling mereka menjadi serpihan halus.
Bau amis darah bercampur cairan asam racun menyeruak kencang, menggulung udara di dalam benteng hingga terasa mencekik leher.
"Semuanya, rapatkan barisan!" teriak Monica seraya menghentakkan tongkat safirnya ke lantai cadas.
"Siasat Kontra-Segel: Celestial Fortress!"
Kubah cahaya keemasan murni merekah luas, membentengi kelima anggota Tim Vanguard dari terjangan badai racun Malakor. Reno menopang kubah itu di sisi depan dengan menancapkan perisai besinya seraya menggeram menahan guncangan fisik yang luar biasa.
Zirah Aegis of the Iron Titan miliknya menyala terang, membendung cipratan Miasma cair yang mencoba melelehkan armornya.
"Kalian pikir sihir cahaya murahan ini bisa menahan kekuatan naga purba yang mengalir di dalam darahku?!" jerit Malakor dari atas altar.
Wajah Malakor yang kini separuhnya terbuka memperlihatkan kulit hitam bersisik dan sepasang mata merah yang memancarkan aura kegilaan murni. Ia mengangkat kedua tangannya ke atas. Lautan Miasma cair di bawah altar meletus membumbung tinggi, membentuk monster naga tanpa sayap berukuran raksasa yang siap melahap kubah pelindung Monica.
"Dia menyatukan sisa mana bumi dengan sirkulasi darahnya sendiri!" seru Kazuma seraya mengamati gejolak sihir Malakor lewat kacamatanya. "Jika kita menyerangnya secara bertahap, dia akan terus memulihkan lukanya menggunakan cairan Miasma di bawah altar itu!"
"Artinya kita harus menghancurkan Batu Inti di tongkatnya dan memutus hubungannya dengan lautan Miasma secara bersamaan!" tegas Danis yang muncul di samping Monica dari balik bayangan perisai Reno.
Elena menarik tali busur Celestial-nya hingga melengkung pada titik batas maksimal. "Beri aku satu celah bersih.
Aku akan membidik kristal pelindung di dadanya!"
Monica membetulkan kuncir kuda rambut hitamnya. Cahaya biru jernih di matanya berkilat tajam dengan pendaran wibawa kepemimpinan yang mutlak. Ia menggenggam tongkat safirnya dengan kedua tangan, membiarkan aura emas Soul Aegis mengalir menyelubungi seluruh anggota tim melalui benang-benang Resonansi Mana.
"Reno, buka pertahanan naga Miasma itu! Kazuma, lapisi tembakan Elena dengan api suci! Danis, kunci pergerakan bayangan Malakor! Aku yang akan mengeksekusi Kontra-Segel pada Batu Inti!" perintah Monica penuh tekanan wibawa.
"SIAP, KETUA!" jawab keempat sahabatnya serempak.
"Aegis of the Iron Titan: Titanium Charge!"
Reno menerjang paling depan bagaikan peluru kendali baja. Dengan perisai emas menyala, Reno menghantam lurus ke dada naga Miasma buatan Malakor. Benturan dahsyat itu meletuskan gelombang kejutan emas yang membelah monster cairan hitam tersebut menjadi dua bagian!
"Sekarang, Elena! Kazuma!" teriak Reno di tengah gemuruh asap.
"Hellfire Phoenix: Solar Fusion!" Kazuma memanggil dua burung api emas yang saling memilin, melapisi anak panah perak yang dilepaskan oleh Elena. Tembakan gabungan itu meluncur membelah udara bagaikan kilat petir matahari, menghantam tepat di pelindung dada Malakor!
CRAAAACK!
Zirah hitam Malakor retak hebat. Sang Inkuisitor meraung kesakitan saat aura suci membakar luka di dadanya. Tepat di saat Malakor hendak mengangkat tongkatnya untuk membalas, Danis muncul dari bayangan altar di belakangnya!
"Shadow Bind: Nether Chain!"
Rantai-rantai bayangan hitam meluncur cepat dari lantai, mengikat kedua tangan dan kaki Malakor hingga sang ketua Ordo Umbra itu terkunci total tak bergerak!
"A-apa?! Lepaskan aku, bocah bayangan!" jerit Malakor histeris seraya membelalakkan matanya yang penuh kemurkaan.
Monica melompat melintasi pilar batu yang roboh, melayang tepat di hadapan Malakor di atas altar. Cahaya keemasan Soul Aegis membumbung tinggi mengelilingi tubuhnya, membiarkan rambut hitamnya berkibar megah di tengah bentrokan sihir.
"Permainan kegelapanmu berakhir di sini, Malakor!" seru Monica tegas.
"Siasat Kontra-Segel Puncak: Celestial Sanctum - Grand Salvation!"
CRAAAAAAAASH! BZZZZZZT!
Ujung tongkat safir Monica dihantamkan tepat ke Batu Inti Miasma Purba di puncak tongkat Malakor. Gelombang cahaya emas murni berukuran raksasa meletus memecah kegelapan benteng!
Cahaya suci itu menyusup masuk ke dalam Batu Inti, membalikkan sirkulasi Miasma secara paksa, dan membersihkan racun Miasma cair di bawah altar hingga berubah menjadi air jernih abadi. Batu Inti Miasma Purba meletus menjadi abu emas yang menguap di udara!
"TIDAKKKKKKKKK!" jerit Malakor saat kekuatan kegelapannya terkuras habis.
Tubuh sang Inkuisitor terdorong mundur, meletuskan sisa-sisa Miasma dari dadanya sebelum akhirnya terkapar tak berdaya di atas tanah batu altar yang kini telah bersih dari racun.
Seluruh dinding obsidian Benteng Tengkorak Merah retak dan runtuh perlahan. Langit-langit benteng terbuka lebar, memperlihatkan fajar pagi yang hangat di atas Gurun Tengkorak. Sinar matahari keemasan menerobos masuk, menyelimuti Tim Vanguard yang berdiri gagah di atas puing pertarungan.
Reno menyarungkan perisainya seraya menghela napas lega, Kazuma tersenyum puas sambil mengusap kacamatanya, Elena menurunkan busurnya, dan Danis menyarungkan belati kembarnya di balik jubah.
Monica berdiri tegak di puncak altar, memandang ke arah ufuk timur benua yang kini memancarkan kedamaian murni. Pimpinan utama Ordo Umbra telah takluk, dan ancaman Miasma yang menghantu mereka.