Satu keputusan membawa Elara masuk ke keluarga Halvar. Gadis yang ditemukan di sebuah desa mati itu tidak banyak bicara. Ia hanya tahu bahwa dirinya kini memiliki rumah, keluarga, dan kehidupan yang jauh berbeda dari sebelumnya.
Namun, sejak Elara datang, sesuatu mulai terasa tidak biasa. Gadis itu terkadang mengatakan sesuatu sebelum hal itu terjadi, menghilang tanpa jejak lalu muncul tiba-tiba. Dan seolah mengetahui rahasia yang bahkan belum pernah diceritakan.
Semakin keluarga Halvar mengenalnya, semakin mereka menyadari satu hal… gadis yang mereka bawa pulang mungkin bukanlah gadis biasa.
Lalu, siapa Elara sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eidolon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Di ruangan yang bernuansa gelap dan sunyi, Adrian masih duduk di kursinya sambil memperhatikan sebuah foto yang tergeletak di atas meja.
Foto seorang gadis berambut hitam panjang dengan sepasang mata hijau yang terlihat begitu mencolok.
Elara. Gadis yang tiba-tiba muncul dalam kehidupan keluarga Halvar dan membuat Adrian sedikit penasaran dengan keberadaannya.
Tok... tok... tok...
Suara ketukan pintu memecah keheningan. Adrian menghela napas pelan, lalu mengambil foto tersebut dan meletakkannya kembali di atas meja.
“Masuk.”
Pintu terbuka. Seorang pria berjas hitam segera melangkah masuk. Ia berhenti beberapa langkah di depan meja kerja Adrian sebelum menundukkan kepalanya.
“Tuan.”
“Bagaimana hasilnya?”
Pria itu segera menyerahkan sebuah map tipis. “Kami sudah mengikuti gadis itu sejak kemarin.”
Adrian mengambil map tersebut tanpa berkata apa-apa. Ia kemudian membuka lembar demi lembar isinya.
Ruangan kembali dipenuhi keheningan.
Beberapa lembar berisi foto Elara bersama Faresta saat berada di pusat perbelanjaan.
Ada foto saat mereka berbicara di depan eskalator, foto ketika mereka memasuki toko buku, hingga foto saat Elara keluar dari toko roti sambil membawa sekotak cheesecake.
Tatapan Adrian berhenti cukup lama pada foto terakhir.
“Hubungan mereka terlihat cukup dekat.”
Pria itu mengangguk. “Benar, Tuan. Meskipun Tuan Faresta terlihat bersikap dingin, tapi dari tindakannya terlihat jika dia cukup peduli dengan gadis itu.”
Adrian membalik foto tersebut dan melihat foto lainnya.
“Padahal menurut informasi yang kami dapat, anak sulung keluarga Halvar itu bukan orang yang mudah menerima kehadiran orang baru.”
Adrian tidak menjawab. Ia justru mengambil foto lain dan memperhatikannya lebih lama.
“Bagaimana latar belakang gadis ini?”
Pria itu terlihat ragu selama beberapa saat. “Itulah masalahnya, Tuan.”
Adrian perlahan mengangkat pandangannya. Keningnya sedikit mengernyit.
“Maksudmu?”
“Kami tidak menemukan apa pun.”
Pria itu menjeda kalimatnya sejenak. Gurat kegugupan terlihat jelas di wajahnya sebelum akhirnya ia melanjutkan.
“Kami sudah mencoba mencari identitasnya melalui data kependudukan, riwayat pendidikan, hingga catatan rumah sakit. Tapi hasilnya tetap sama.”
Ia menelan ludah sebelum berkata pelan, “Tidak ada.”
Ruangan itu terasa semakin sunyi.
Jari telunjuk Adrian mengetuk pelan permukaan meja. Tatapannya kembali tertuju pada foto Elara.
“Tidak ada...” gumamnya pelan.
“Benar, Tuan. Seolah-olah gadis itu baru muncul beberapa bulan yang lalu. Tepatnya setelah Tuan Danendra dan Nyonya Livia mengalami kecelakaan.”
Adrian kembali mengambil foto Elara. Untuk beberapa saat, ia hanya diam memperhatikan wajah gadis itu.
“Orang tanpa masa lalu...” ucapnya pelan.
Beberapa detik kemudian, sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis yang sulit diartikan.
“Atau… Seseorang yang memang sengaja tidak ingin ditemukan.”
Senyuman Adrian terlihat sangat misterius. Anak buahnya yang melihat itu hanya bisa terdiam.
“Lanjutkan pengawasan. Tapi ingat…” Sorot mata Adrian berubah dingin. “...jangan sentuh gadis itu.”
Pria berjas hitam itu tampak sedikit bingung. “Kenapa, Tuan?”
“Aku belum tertarik pada gadis itu.” Adrian meletakkan kembali foto Elara ke atas meja. “Yang ingin kulihat adalah… seberapa jauh keluarga halvar akan melindunginya.”
“Baik, Tuan.” Pria itu segera membungkukkan badan sebelum meninggalkan ruangan.
Kini di ruangan itu kembali tersisa Adrian seorang diri. Tatapannya masih tertuju pada foto Elara.
Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang membuatnya tidak bisa membaca seluruh permainan.
***
Sinar matahari pagi menembus jendela-jendela di kediaman Halvar. Aroma roti panggang dan kopi hangat memenuhi ruangan. Di atas meja telah tersaji berbagai hidangan yang disiapkan Livia sejak pagi.
Satu per satu anggota keluarga mulai berdatangan.
Lucas datang lebih dulu sambil merapikan manset kemejanya sebelum duduk di kursinya.
Tak lama kemudian, Leonard dan Lionel muncul bersamaan. Seperti biasa, keduanya bahkan sudah saling berdebat sebelum sempat duduk.
“Semalam jelas aku yang menang,” ucap Lionel, seolah tidak ingin dibantah.
“Menang apanya? Itu cuma karena aku sengaja mengalah,” balas Leonard cepat.
“Halah... alasan.”
“Aku serius.”
“Iya, kamu serius...” Lionel mengangguk dengan wajah sok mengerti. “Serius mengarang.”
Leonard langsung melotot. “Kamu—”
Livia yang sejak tadi menyiapkan makanan hanya bisa menggeleng sambil tersenyum.
“Kalian ini, pagi-pagi sudah ribut.”
“Kami sedang diskusi, Ma,” jawab Lionel santai sambil menarik kursinya.
“Itu bukan diskusi. Itu debat yang tidak penting,” timpal Lucas tanpa mengangkat kepala dari piringnya.
Leonard langsung terkekeh.
Lucas hanya menghela napas kecil, lalu melanjutkan sarapannya.
Tak lama kemudian, Danendra dan Faresta ikut bergabung di ruang makan.
Dan orang terakhir yang datang tentu saja Elara.
Langkah gadis itu masih terlihat tenang seperti biasa. Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda.
Di tangannya terdapat sebuah kotak kecil berwarna putih.
Livia yang melihatnya langsung mengangkat alis.
“Itu cheesecake yang kemarin?”
Elara mengangguk singkat. “Aku sengaja masih menyimpan satu lagi.”
“Untuk nanti?” tanya Livia.
“Bukan.”
Elara berjalan mendekati meja makan, lalu meletakkan kotak tersebut di tengah meja.
“Aku ingin semuanya mencoba.”
Untuk beberapa detik, ruang makan mendadak sunyi.
Lionel bahkan sampai berkedip beberapa kali sambil menatap kotak tersebut.
“Kamu... mau berbagi?” tanyanya memastikan sambil menunjuk kotak itu.
“Iya.”
“Tapi kemarin kamu bilang itu hanya untuk Mama,” ujar Lionel, terdengar sedikit kecewa.
Elara menatapnya sebentar. “Memang. Yang itu khusus untuk Mama.”
Ia kemudian membuka kotak tersebut perlahan.
“Yang ini masih satu lagi. Sebenarnya aku ingin memakannya sendiri. Tapi...” Elara berhenti sejenak, lalu menatap Livia. “Mama pernah bilang, makanan akan terasa lebih enak kalau dimakan bersama keluarga.”
Livia sontak menutup mulutnya. Senyum di wajahnya semakin lebar.
Lucas yang mendengar itu ikut tersenyum kecil.
Sementara Danendra hanya menggeleng pelan sambil menatap putri angkatnya dengan tatapan penuh kehangatan.
Lionel tiba-tiba menepuk bahu Leonard pelan. “Aku terharu.”
Leonard menoleh malas. “Padahal cuma dikasih cheesecake.”
“Tetap saja, aku terharu.”
Leonard mendengus geli, lalu segera menepis tangan Lionel yang masih berada di pundaknya.
“Berlebihan.”
“Biarkan aku menikmati momen ini sebentar saja.” Lionel tersenyum puas, sementara Leonard hanya menggelengkan kepala.
Livia segera mengambil pisau kecil.
“Kalau begitu Mama potong kecil-kecil, ya. Biar semuanya kebagian.”
Elara mengangguk puas. Senyum kecil terukir di sudut bibirnya.
Beberapa menit kemudian, masing-masing sudah memegang sepotong cheesecake.
Lionel diam-diam melirik potongan milik Elara. Kemudian beralih pada potongan milik Mamanya. Setelah itu, matanya berhenti pada potongan miliknya sendiri.
Ia mengerutkan kening.“Punya Elara kenapa lebih besar?”
Livia menjawab santai sambil mulai menyantap cheesecake miliknya.
“Karena dia yang beli.”
Lionel justru langsung menunjuk Faresta. “Kan yang bayar Kak Faresta.”
“Memang.”
“Berarti yang paling besar harus Kak Faresta.”
Faresta yang sejak tadi hanya menikmati kopinya menjawab tanpa mengangkat kepala.
“Aku tidak suka cheesecake.”
Mendengar itu, Lionel langsung mengambil piring Faresta.
“Kalau begitu, biar aku yang menggantikanmu makan.”
Plak!
Tangan Lionel segera ditepis Livia.
“Duduk.”
Lionel kembali ke tempatnya sambil mengerucutkan bibir. “Iya, Ma...”
Leonard yang melihat tingkah saudara kembarnya hanya bisa menahan tawa.
“Kamu memang tidak pernah menyerah.”
“Ini namanya tidak menyia-nyiakan makanan.”
“Alasan saja.”
“Diam.”
Livia menggeleng sambil tersenyum. Untuk beberapa saat, ruang makan kembali dipenuhi percakapan ringan.
Namun, suasana itu tidak bertahan lama.
Faresta perlahan meletakkan gelasnya di atas meja.
“Sebenarnya ada hal yang ingin aku bicarakan.”
Seketika perhatian semua orang beralih kepadanya. Senyum di wajah mereka perlahan memudar.
Danendra menatap putra sulungnya. “Apa?”
Lionel justru kembali bersuara lebih dulu. “Kak Faresta mau menikah?”
Dalam sedetik, Faresta langsung memberikan tatapan tajam kepadanya.
“Jangan asal bicara, Lio.”
“Aku kan hanya menebak.”
“Dan tebakanmu tidak ada hubungannya.”
Lionel mengangkat kedua tangannya, menyerah. “Iya, iya.”
Faresta menghela napas pelan sebelum kembali menatap keluarganya.
“Kemarin, saat aku membawa Elara ke pusat perbelanjaan, kami melihat seseorang.”
Elara yang sejak tadi menikmati cheesecake perlahan menghentikan gerakan tangannya.
“Seorang pria,” lanjut Faresta. “Dia mengikuti kami dari kejauhan dan mengambil beberapa foto.”
Kali ini tidak ada yang menyela.
Danendra langsung mengernyit. “Siapa?”
"Anak buah Adrian..."
terbiasa hidup sendiri dia...jadi belum dieksplor emosinya🤔