Satu jalan keluar dari balik jeruji besi, namun berujung pada labirin tanpa pintu keluar.
Ketika Dorris Gate menawarkan kunci kebebasan, La Bonna De Luca tidak pernah menduga bahwa harga yang harus dibayar adalah jiwanya sendiri.
Terlempar ke dalam gemerlap remang Velvet Noir, Bonna dipaksa menari di atas benang tipis antara penyamaran dan kehancuran. Targetnya adalah Ezequiel Nolan Ashford—pria dingin bernapas racun yang tak pernah terpeleset oleh hukum.
Bonna menyadari satu hal: ini bukanlah misi penyelidikan, ini adalah eksekusi yang tertunda.
Ezequiel tidak hanya sulit dibaca; ia memegang kendali atas hidup dan mati siapa pun di wilayah kekuasaannya. Bagi Ezequiel, Bonna hanyalah mainan baru yang sewaktu-waktu bisa dihancurkan.
Untuk bertahan hidup di tangan pria yang memperlakukan manusia tak ubahnya properti, Bonna hanya punya satu senjata tersisa: memainkan sandiwara paling berbahaya. Berpura-pura menyerahkan hatinya pada sang iblis, atau menjadi bidak yang ditumbalkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#1
...Selamat membaca dan Semoga Suka. Cerita ini Murni Karangan Dan Hanya Fiktif belakang....
...***...
Malam di California tidak pernah benar-benar menjanjikan kedamaian, terutama di balik dinding beton setinggi lima belas meter yang diselimuti kawat berduri.
Tepat pukul 10:00 malam, jarum jam dinding berkarat di koridor utama Folsom Women’s Facility seolah membeku. Bau antiseptik yang tajam beradu dengan aroma lembap dari sel-sel bawah tanah, menciptakan hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang.
Suara tetesan air yang jatuh teratur dari langit-langit beton menjadi satu-satunya melodi sumbang yang menemani kesunyian yang mencekam.
Kegelapan koridor itu tiba-tiba dipecah oleh langkah kaki berat boot militer yang berdegum nyaring. Seorang sipir wanita bertubuh tegap dengan wajah dingin seperti batu granit berjalan menyusuri sel penjara, membawa tongkat besi yang sesekali ia pukulkan ke jeruji.
Langkah sipir itu berhenti di depan sebuah sel remang-remang. Matanya menatap jijik ke sudut ruangan yang gelap.
"Tahanan nomor XX026! Kau mendapatkan kunjungan!" teriak sipir penjara itu, suaranya menggema hebat di sepanjang lorong, membangunkan beberapa tahanan lain yang membalas dengan umpatan lirih.
KLEK! CEKLEK!
Sipir itu memutar kunci besi dengan kasar lalu menarik pintu sel hingga berderit nyaring. "Keluar!" teriaknya lagi.
Dari dalam kegelapan sel, seorang wanita dengan seragam tahanan bernomor XX026 melangkah lunglai. Gerakannya lambat, seolah-olah setiap pergerakan sendinya membawa beban berintal-intal besi invisibel.
Rambut kusamnya yang dulunya berkilau kini terurai berantakan, menutupi sebagian wajahnya yang pucat dan tirus. Matanya redup, kehilangan seluruh binar kehidupan yang pernah dipujakan oleh jutaan pasang mata di negeri ini.
BUGH!
Tiba-tiba, sebuah dorongan keras mendarat tepat di punggung wanita itu. Kekuatan dorongan sipir membuat tubuhnya yang kurus oleng dan hampir tersungkur ke lantai semen yang dingin.
"Jalan yang benar!" bentak sipir wanita itu tanpa rasa iba sedikit pun. "Jangan kau pikir karena kau anak mantan presiden kau bisa dapat perlakuan khusus di sini! Ayahmu mati dibunuh ibumu sendiri. Kau dipenjara karena percobaan pembunuhan terhadap kakak dan adikmu sendiri. Keluarga kalian benar-benar membuatku takjub—kalian adalah kotoran paling menjijikkan yang pernah masuk ke tempat ini!"
Wanita bertato nomor XX026 itu tidak membalas. Ia hanya menarik napas panjang yang terasa menyiksa di dadanya, lalu kembali melangkah lunglai menyusuri koridor panjang yang remang.
Hinaan seperti itu sudah menjadi makanan sehari-harinya selama bertahun-tahun. Nama besar keluarganya yang dulu dipuja-puja kini berubah menjadi kutukan paling mengerikan yang mengikat kakinya dengan rantai tak kasat mata.
Mereka tiba di depan pintu besi tebal menuju ruang kunjungan malam. Sipir penjara membukakan pintu tersebut, lalu tanpa keraguan sedikit pun, kembali mendorong tahanan itu hingga masuk ke dalam.
"20 menit! 20 menit!" teriak sipir penjara itu tegas, memperingatkan batas waktu sebelum memukulkan pintu hingga tertutup rapat.
Brak!
Suara dentuman pintu yang terkunci dari luar meninggalkan gema panjang yang perlahan menghilang.
Suasana di dalam ruang kunjungan terasa sangat kontras. Ruangan itu hanya diterangi satu lampu gantung bersinar redup yang berayun pelan, menciptakan bayangan-bayangan panjang di dinding.
Tahanan bernomor XX026 itu perlahan mendongakkan kepalanya, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan pendar cahaya. Kening wanita itu serta-merta berkerut erat ketika matanya menangkap sesosok figur yang sangat asing di tempat kumuh ini.
Seorang laki-laki duduk dengan manis di kursi kayu di balik meja pembatas. Pria itu mengenakan setelan jas kustom berwarna abu-abu gelap yang begitu rapi tanpa lipatan, dengan rambut pirang yang tersisir rapi ke belakang. Penampilannya memancarkan kemewahan dan ketenangan yang terasa begitu janggal di tengah tempat yang menebarkan bau penderitaan ini.
Laki-laki itu tersenyum manis—sebuah senyuman yang terlalu sempurna, seolah telah dilatih ribuan kali di depan cermin.
"Silakan duduk, Nona La Bonna De Luca," ucap laki-laki itu dengan suara bariton yang tenang namun berwibawa. Ia mengulurkan tangannya yang bersih dan terawat melewati meja pembatas, mengajak berjabat tangan. "Perkenalkan, aku Dorris. Detektif swasta yang akan membantumu dan ibumu bebas dari hukuman."
La Bonna De Luca—nama yang dahulu melambangkan kemewahan, kecantikan, dan kekuasaan—hanya menatap tangan yang terulur itu selama beberapa detik. Dengan ragu dan gerakan kaku, La Bonna sempat menyambut uluran tangan itu singkat sebelum akhirnya wanita tahanan dengan nomor XX026 itu dengan cepat menarik kembali tangannya.
Ia memeluk dirinya sendiri, menyandarkan punggungnya pada kursi kayu yang dingin, lalu menatap pria di hadapannya dengan tatapan penuh rasa curiga dan kelelahan yang mendalam.
"Kau itu bukan lawyer atau apapun itu, kau itu detektif," ucap Bonna dengan suara serak, nyaris berbisik namun tajam. "Lagipula, aku dan ibuku sudah terbukti bersalah di mata hukum dan publik. Aku juga tidak tahan kalau harus melewati proses persidangan lagi... menjadi bahan tontonan murah bagi media dan masyarakat lagi."
Dorris tidak langsung menjawab. Matanya yang tajam dan terlatih memindai setiap inci tubuh tahanan di hadapannya. Ia memperhatikan wajah Bonna yang pucat—terdapat jejak memar kebiruan yang mulai menguning di sudut bibirnya. Tatapan Dorris turun ke leher wanita itu, di mana bekas cengkeraman jari terlihat jelas, lalu meluncur ke pergelangan tangannya yang lecet kehitaman akibat gesekan borgol atau benturan keras.
Keadaan La Bonna De Luca adalah gambaran nyata dari kejatuhan sebuah dinasti.
Dorris menyilangkan jarinya di atas meja, menatap Bonna dengan binar mata yang sulit diartikan. "Tapi aku bisa membuatmu dan ibumu bebas dari tempat ini tanpa perlu ikut persidangan lagi," kata Dorris pelan, penuh penekanan.
"Kau pasti merasa tidak tahan berada di sini, bukan?" lanjut Dorris. "Para tahanan lain pasti menyiksa kau dan ibumu setiap hari. Mengingat latar belakang kalian dulu... kalian adalah orang nomor satu di negara ini. Ayahmu terkenal sangat dermawan, memiliki jutaan pendukung politik yang setia... hingga kau, putri keduanya, menghancurkan karir hebat ayahmu sendiri dalam semalam. Kemudian kejahatan terselubung keluargamu terbongkar satu per satu. Kau pemantiknya, La Bonna... dan keluargamu habis terbakar hingga menjadi abu."
La Bonna menarik napas berat. Seraya memutar bola matanya jengah, ia menyandarkan kepala ke sandaran kursi. Hatinya sudah terlalu kebas untuk meratapi masa lalu yang hancur.
"Sebenarnya apa maumu?" potong La Bonna dingin. "Kau ingin aku membayarmu? Aku tidak punya uang. Peninggalan ayahku semuanya jatuh ke tangan kakak dan adikku yang selamat. Kau tidak akan mendapatkan sepeser pun dariku, Detektif."
Dorris melipat tangannya di atas meja. Ia memiringkan tubuhnya, maju sedikit ke depan dengan kepala agak tertunduk, menatap penuh maksud langsung ke dalam manik mata La Bonna yang suram.
"Yang kuinginkan bukan uang," Dorris melemahkan suaranya, berbicara agak berbisik namun intonasinya begitu tegas sehingga La Bonna masih bisa mendengar setiap suku kata dengan sangat jelas. "Aku ingin kau mau melakukan sesuatu yang... mungkin nyawa taruhannya."
Dorris jeda sejenak, membiarkan kata-katanya menggantung di udara dan meresap ke dalam pikiran La Bonna.
"Tapi jika kau mau melakukannya," sambung Dorris lagi, "kau dan ibumu bisa bebas dari neraka ini saat ini juga."
Setelah mengucapkan kalimat bom tersebut, Dorris kembali memundurkan badannya. Ia bersandar rileks pada kursi kayu yang didudukinya sembari melipat kedua tangannya di depan dada, mengamati reaksi wanita di depannya dengan ketenangan seorang predator yang yakin mangsanya tidak punya pilihan lain.
"Aku tahu kau dan ibumu kerap diperlakukan dengan sangat tidak adil di tempat ini oleh orang-orang yang membenci keluargamu," lanjut Dorris dengan nada memprovokasi secara halus. "Kalau kau mau mengikuti perintahku, maka kau dan ibumu tidak perlu lagi tidur berdesak-desakan di sel yang bau dan lembap, tidak perlu diinjak-injak atau dihajar oleh tahanan lain setiap malam. Kau bisa menghirup udara bebas lagi... Dan ibumu tercinta itu tidak perlu menghabiskan masa tuanya yang berharga di dalam sel tahanan yang dingin ini."
Tawaran yang Dorris berikan memang terdengar sangat menggiurkan, bak oasis di tengah padang pasir yang mematikan. Namun, La Bonna De Luca bukan pemain baru dalam permainan kotor dunia manusia.
Lahir dan dibesarkan di tengah pusaran politik tingkat tinggi telah mengajarkannya satu hal mendasar: tidak ada bantuan yang gratis di dunia ini. Ia tahu betul, bayaran kebebasan yang sangat besar pasti membutuhkan usaha atau pengorbanan yang tak kalah berdarah-darah.
Di dalam benaknya, bayangan sang ibu yang semakin tua di sel sebelah sempat melintas. Namun, bayangan ancaman baru yang belum diketahui jauh lebih mengerikan. Bonna tidak tahu apa yang sebenarnya ingin detektif berjas rapi ini minta untuk ia lakukan, dan yang paling penting, Bonna juga tidak ingin tahu. Ia sudah cukup lelah menjadi bidak dalam permainan orang lain.
La Bonna menghela napas panjang, menghembuskannya perlahan seolah melepaskan sisa kehangatan terakhir yang ada dalam dirinya.
"Tawarkan saja kesempatan itu pada tahanan lain," ucap La Bonna datar, tanpa ada nada ragu sedikit pun. "Aku tidak tertarik."
Tanpa menunggu respon dari Dorris, La Bonna langsung berdiri dari kursinya. Kursi kayu itu berdecit nyaring menggesek lantai semen. Ia membalikkan badan dan berjalan lunglai namun mantap menuju pintu keluar ruang kunjungan.
KLEK!
Tepat pada saat itu, engsel pintu besi berbunyi. Sipir penjara wanita yang tadi membawanya membukakan pintu dari luar dengan wajah ketus. Waktu kunjungan telah berakhir.
20 menit yang menentukan itu telah terlewati, meninggalkan misteri di dalam ruangan remang yang perlahan kembali diselimuti kegelapan.
......................
Happy reading 🌷