NovelToon NovelToon
LINGKARAN TAKDIR YANG KEMBALI

LINGKARAN TAKDIR YANG KEMBALI

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:405
Nilai: 5
Nama Author: Anggi Septianti

Kisah ini mengikuti perjalanan jiwa seorang wanita yang terjebak dalam siklus reinkarnasi lintas zaman demi mengejar satu cinta sejati yang selalu berujung tragis.
Pada kehidupan pertama (Era Romawi), ia adalah wanita dari kasta rendah yang mencintai seorang putra mahkota. Cinta mereka terhalang status sosial dan berakhir tragis dengan kematian.
Terlahir kembali di era kolonial (kehidupan kedua) sebagai putri gangster kaya raya, ia membawa ingatan masa lalunya dan berhasil menemukan kembali cinta pertamanya. Namun, takdir kembali merenggut kebahagiaan mereka akibat permusuhan darah antar keluarga besar.
Merasa lelah dengan takdir yang selalu menyakitkan, pada kehidupan ketiga (Era Modern) ia terlahir di keluarga biasa yang harmonis dan bertekad untuk menyerah serta menghindari cinta masa lalunya. Sialnya, semesta mempertemukannya kembali dengan pria tersebut yang kini menjadi CEO dingin di perusahaannya. Terikat kontrak kerja tiga tahun dengan penalti besar, ia mati-matian menghindar. Namun, tingkah lucunya justru meluluhkan hati sang CEO. Seiring berjalannya waktu, sang pria juga mulai mengingat kembali memori masa lalu mereka. Dan badai tidak di restu itu kembali menghatam cinta mereka, akan mereka kembali berpisah ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24 : Pertemuan Rahasia

Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat Batavia tahun 1928, menyisakan bias warna jingga kemerahan yang memantul di atas permukaan air laut Teluk Jakarta. Pelabuhan Sunda Kelapa tampak mulai lengang dari aktivitas bongkar muat barang harian, digantikan oleh kesunyian malam yang pekat serta deburan ombak kecil yang menghantam lambung kapal-kapal kayu bertiang tinggi. Di balik tumpukan peti kemas besar dan gudang-gudang logistik tua yang berbau amis air laut dan karung goni, sebuah pertemuan rahasia yang mempertaruhkan nyawa tengah dipersiapkan.

Clara van der Berg melangkah hati-hati menembus kegelapan dermaga timur. Ia mengenakan mantel beludru gelap dengan tudung kepala yang ditarik rendah untuk menutupi wajahnya, memastikan tidak ada satu pun anak buah ayahnya ataupun mata-mata dari kompeni Belanda yang mengenali keberadaannya di kawasan terlarang ini. Jantungnya berdegup kencang, memompa darah ke seluruh tubuh dengan kecepatan luar biasa. Setiap langkah kakinya di atas lantai kayu dermaga yang basah terasa begitu berat, dibebani oleh risiko besar yang sedang ia ambil. Di dalam saku mantelnya, Clara menggenggam erat secarik catatan penting berisi petunjuk lokasi brankas rahasia yang menyimpan dokumen perjanjian damai masa lalu—bukti otentik yang ia yakini mampu meredam perang darah antara keluarga Liem dan keluarga Van Houten.

Di ujung dermaga yang agak menjorok ke laut, sesosok pria tinggi tegap berbalut jas panjang berwarna hitam berdiri membelakangi arah angin malam. Siluet tubuh itu tampak begitu kokoh dan akrab di mata Clara. Begitu mendengar derap langkah kaki ringan mendekat, pria tersebut membalikkan tubuhnya dengan cepat.

Manik mata hazel yang tajam itu langsung menangkap sosok Clara di balik bayangan temaram lampu dermaga. Julian van Houten—pewaris imperium bisnis keluarga Van Houten—seketika menghela napas lega. Tanpa memedulikan jarak atau bahaya yang mengintai, Julian melangkah cepat mendekati Clara, lalu langsung merengkuh tubuh gadis itu ke dalam dekapannya yang hangat dan erat.

"Kau benar-benar datang, Clara..." bisik Julian tertahan, suaranya terdengar bergetar hebat di dekat telinga gadis itu. Aroma parfum kayu cedar bercampur udara laut malam menguar kuat, memberikan ketenangan instan di tengah badai kecemasan yang melanda jiwa mereka. "Aku sudah menunggu berjam-jam di sini, dihantui rasa cemas kalau ayahmu atau pengawalnya berhasil menemukan jejakmu."

Clara memejamkan matanya, membiarkan dirinya tenggelam sejenak di dalam pelukan pria yang merupakan belahan jiwanya di setiap reinkarnasi. Ia mengangkat kedua tangannya, membalas pelukan Julian dengan sama eratnya.

"Aku harus datang, Julian," jawab Clara dengan suara parau namun penuh ketegasan. Ia melepaskan pelukan itu perlahan, lalu menatap lurus ke dalam manik mata hazel Julian dengan sorot mata yang menyala penuh tekad. "Kita tidak bisa terus-menerus lari atau menunggu takdir menghancurkan kita. Ayahku sudah mengetahui hubungan kita, dan faksi keluargamu sedang mempersiapkan serangan besar-besaran ke wilayah sindikat kita. Jika kita tidak melakukan sesuatu sekarang, pertumpahan darah besar tidak akan bisa dihindarkan lagi."

Julian mengernyitkan keningnya, ekspresinya berubah menjadi serius. Ia meraih kedua tangan Clara yang terasa dingin, lalu menggenggamnya erat-erat untuk menyalurkan kehangatan.

"Aku tahu, Clara," ucap Julian dengan nada suara yang berat dan dingin. "Para tetua di dewan keluargaku mendesakku untuk segera merebut seluruh jalur pelabuhan dari genggaman Tuan Besar Ho. Mereka ingin melenyapkan sindikat keluargamu demi memonopoli seluruh perdagangan di tanah Jawa. Tapi aku tidak peduli pada ambisi klan keluargaku. Sumpahku di hadapanmu jauh lebih penting daripada kekuasaan apa pun di dunia kolonial ini."

Clara tersenyum tipis, merasakan keharuan yang luar biasa memenuhi dadanya. Ia kemudian merogoh saku mantelnya, mengeluarkan secarik kertas catatan rahasia yang telah ia persiapkan, lalu menyerahkannya kepada Julian.

"Baca ini, Julian," kata Clara serius. "Ini adalah petunjuk yang kuambil dari arsip tersembunyi di ruang kerja ayahku. Dokumen ini membuktikan bahwa permusuhan darah antara keluarga Liem dan keluarga Van Houten puluhan tahun lalu sebenarnya direkayasa oleh para pejabat tinggi pemerintah kolonial Belanda. Mereka sengaja menciptakan konflik dan adu domba agar kedua belah pihak saling menghancurkan, sementara kompeni bisa merampas seluruh kendali atas pelabuhan dan perkebunan."

Julian membuka lipatan kertas tersebut, membaca setiap baris tulisan tangan di bawah temaram cahaya lampu minyak kecil yang dibawanya. Manik mata hazelnya melebar perlahan, memancarkan keterkejutan yang mendalam sekaligus amarah yang membara. Rahangnya mengeras. Selama bertahun-tahun, ia dan keluarganya diyakinkan bahwa keluarga Liem adalah musuh bebuyutan yang harus dibasmi demi kehormatan marga Van Houten. Ternyata, seluruh kebencian itu hanyalah sebuah kebohongan besar yang diciptakan oleh tangan-tangan kotor penguasa kolonial.

"Bangsat..." gumam Julian dengan suara tertahan penuh amarah. "Mereka mempermainkan darah kedua keluarga kita demi kepentingan politik mereka sendiri."

"Tepat sekali," sahut Clara cepat. "Jika kita bisa mendapatkan dokumen asli perjanjian damai yang disimpan di brankas pusat kantor administrasi kolonial di Weltevreden, kita bisa membuktikannya kepada ayahku dan ayahmu. Kita bisa menghentikan perang ini sebelum terlambat."

Namun, di tengah keseriusan mereka merencanakan langkah penyelamatan tersebut, sebuah suara bentakan keras tiba-tiba memecah kesunyian malam di pelabuhan.

"JANGAN BERGERAK!"

Suara letusan senjata api menggelegar ke udara, memecah keheningan malam dan membuat burung-burung camar beterbangan ketiadaan. Dari balik tumpukan peti kemas di sisi kiri dan kanan dermaga, selusin anak buah bersenjata lengkap yang dipimpin langsung oleh Bang Jafar dan beberapa algojo bayaran tiba-tiba muncul mengepung area tersebut. Lampu senter sorot bertenaga kuat langsung dinyalakan, menerangi tubuh Clara dan Julian secara membabi buta.

"Nona Clara! Menjauhlah dari bajingan itu!" teriak Bang Jafar dengan suara menggelegar penuh amarah, sementara moncong pistol di tangannya terarah tepat ke arah dada Julian van Houten.

Clara terkesiap ngeri. Darahnya mendesir dingin. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa pergerakan mereka telah begitu cepat dilacak oleh anak buah ayahnya.

Julian bergerak sigap dalam hitungan detik. Dengan refleks seorang pria yang terlatih menghadapi bahaya, ia langsung menarik tubuh Clara ke belakang punggungnya, lalu mencabut pistol dari balik jasnya dan mengarahkannya balik ke arah Bang Jafar untuk melindungi gadis yang dicintainya.

"Jangan berani-berani mendekat, atau peluru ini akan menembus kepala kalian!" seru Julian dengan suara dingin dan penuh ancaman mematikan.

Suasana di dermaga Sunda Kelapa malam itu mendadak berubah menjadi medan perang yang sangat mencekam. Angin laut bertiup kencang, membawa aroma mesiu dan ketegangan yang siap meledak kapan saja. Di bawah terjangan sorot lampu senter dan ancaman moncong senjata api, takdir cinta Clara dan Julian kembali diuji di ujung tanduk—memaksa mereka membuat pilihan paling ekstrem antara menyerah pada takdir klan atau melawan dunia demi mempertahankan nyawa dan cinta abadi mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!