Seorang pelayan yang dihina dan dikhianati bangkit sebagai CEO konglomerat misterius demi membalas dendam, namun takdir penyesalan dan pengorbanan mengubah rasa benci tersebut menjadi perjuangan cinta sejati yang mendewasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang atoom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Kebangkrutan di Ujung Tanduk
Kepanikan luar biasa melanda kantor pusat Pratama Karya, perusahaan tekstil dan konstruksi milik keluarga Siska dan Danang. Suara dering telepon genggam dan telepon kantor bersahutan tanpa henti, menciptakan suasana bagaikan neraka bagi para jajaran direksi.
Ayah Siska, Pak Broto, terduduk lemah di kursi kebesarannya dengan wajah pucat pasi. Napasnya memburu, sementara tangannya gemetar hebat memegang beberapa lembar surat pembatalan kerja sama dari berbagai bank nasional dan mitra bisnis utama.
"Bagaimana bisa ini terjadi dalam waktu satu jam?!" teriak Pak Broto dengan suara serak, menatap Danang dan Siska yang baru saja kembali dari gedung Menara Adhitama.
"Bank Mandiri membatalkan pinjaman modal kita! Investor asing memutus kontrak secara sepihak! Bahkan supplier bahan baku tekstil menolak mengirim barang kalau kita tidak bayar tunai hari ini juga!"
Danang menyisir rambutnya dengan kasar, wajahnya dipenuhi amarah dan ketakutan. "Pasti ada yang salah, Paman! Ini semua gara-gara CEO baru Adhitama Group itu! Dia yang menyuruh orangnya menyiram kopi ke proposal investasi kita tadi pagi!"
"Gara-gara Adhitama?!" Pak Broto membelalakkan mata, memukul meja kerjanya dengan keras.
"Danang! Adhitama itu pemegang saham terbesar di lima bank utama negara ini! Kalau mereka memberi sinyal merah untuk perusahaan kita, seluruh bisnis kita bakal gulung tikar dalam hitungan hari! Apa yang sudah kamu lakukan sampai membuat CEO Adhitama murka?!"
Danang bungkam. Ia tidak mengerti mengapa CEOAdhitama yang belum pernah ia temui secara langsung tiba-tiba menargetkan perusahaannya dengan begitu kejam.
Di sudut ruangan, Siska berdiri mematung. Tatapan mata CEO Adhitama dari panggung pesta semalam terus berputar di kepalanya. Rasa curiga yang mendalam membakar dadanya.
Tidak... ini tidak masuk akal, batin Siska. Kenapa pembalasan ini terasa sangat pribadi? Cara menyiram kopi itu... persis seperti saat aku menyiram anggur ke sepatu Rendy!
"Siska!" panggilan keras ayahnya memecah lamunan Siska.
Pak Broto berjalan mendekati putri tunggalnya itu, lalu menggenggam kedua bahu Siska dengan tatapan memohon. Air mata penyesalan mulai menggenang di mata pria paruh baya itu.
"Siska, cuma kamu satu-satunya harapan keluarga kita sekarang," bisik Pak Broto dengan suara gemetar.
"Pergilah ke Menara Adhitama. Minta waktu untuk bertemu langsung dengan Tuan Muda Rendy Adhitama. Kamu wanita yang cantik dan berpendidikan. Mohon padanya, berlututlah kalau perlu, agar beliau mau mencabut keputusan pembekuan bisnis kita!"
"A-Aku, Yah?" Siska menelan ludah dengan susah payah. Bulu kuduknya berdiri membayangkan harus berhadapan langsung dengan pria misterius itu.
"Jangan, Paman!" potong Danang tidak terima.
"Siska itu tunanganku! Kenapa harus dia yang memohon-mohon pada pria lain?!"
"Kalau kamu punya cara lain untuk menyelamatkan perusahaan ini dari kebangkrutan total, lakukan sekarang, Danang!" bentak Pak Broto murka. "Tapi kamu tidak punya, kan?! Kebombonganmu tadi pagi justru makin memperkeruh suasana!"
Danang mengepalkan tangannya, membuang muka dengan napas memburu, tak mampu membalas perkataan calon mertuanya.
Pak Broto kembali menatap Siska dengan pandangan penuh rasa iba dan keputusasaan.
"Tolong, Siska... kalau perusahaan ini bangkrut minggu ini, seluruh aset rumah dan mobil kita akan disita bank. Ayah bisa masuk penjara karena utang. Tolong temui CEO Adhitama..."
Siska mengepalkan jemarinya erat-erat, merasakan tekanan besar yang menghimpit dadanya. Firasat buruknya semakin membesar, namun melihat nasib ayahnya yang di ujung tanduk, ia tidak punya pilihan lain.
"Baik, Yah," bisik Siska pelan. "Aku akan pergi ke Menara Adhitama dan memohon untuk bertemu langsung dengan CEO mereka."
Siska merapikan pakaiannya, melangkah keluar dari ruangan dengan jantung berdebar kencang. Ia belum menyadari bahwa langkah kaki yang akan ia tempuh menuju ruang kerja CEO Adhitama adalah awal dari terbongkarnya kebenaran paling menyakitkan dalam hidupnya.