"Aku minta maaf, Diandra. Aku benar-benar menyesal."
"Penyesalanmu datang terlambat, Bastian. Aku sudah terlalu lelah."
Dulu, Bastian menganggap Diandra akan selalu berada di sisinya. Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri hingga tidak menyadari betapa seringnya sang istri terluka oleh sikapnya.
Diandra bertahan selama bertahun-tahun, berharap suaminya suatu hari akan menghargai keberadaannya. Namun ketika kesabarannya habis, Diandra memilih berhenti berharap.
Barulah saat itu Bastian menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah ia hargai.
Ia hampir kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya.
Seandainya waktu dapat diputar kembali, Bastian ingin memperbaiki semua kesalahannya. Ia ingin mengganti setiap air mata Diandra dengan kebahagiaan, setiap luka dengan kasih sayang, dan setiap hari yang dipenuhi kesepian dengan kehadirannya.
Namun Diandra sudah terlanjur terluka.
Hatinya masih mencintai Bastian, tetapi rasa sakit membuatnya takut untuk kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Khumairah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Diandra
“Ck, kurang ajar sekali Bastian.”
Abian menatap layar ponselnya dengan rahang mengeras. Panggilan baru saja diputus sepihak oleh Bastian setelah pria itu berbicara dengan nada tegas, bahkan nyaris mengancam.
Sejak dulu, Abian memang tidak pernah menyukai Bastian. Bahkan ketika Bastian masih menjadi menantunya, hubungan mereka tidak pernah benar-benar baik. Menurut Abian, Bastian terlalu keras kepala, sulit dikendalikan, dan tidak pernah mau tunduk hanya karena berhadapan dengan orang yang lebih tua.
“Kenapa, Pa?”
Margaretha masuk ke kamar setelah sebelumnya menemani putrinya. Tatapannya langsung tertuju pada Abian yang berdiri di dekat balkon.
“Bastian menelepon,” jawab Abian singkat.
“Bastian?”Abian mengangguk pelan.
“Dia menyuruh Papa meminta maaf kepada Diandra.”
Margaretha justru terkekeh kecil. Tidak ada sedikit pun rasa bersalah di wajahnya.
“Meminta maaf? Untuk apa?”
“Katanya Papa harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi.”
“Papa tidak perlu merasa bersalah.” Margaretha berjalan mendekat. “Apa yang Papa lakukan tadi memang berlebihan, tapi Papa melakukannya karena membela Serly.”
Abian terdiam.
Margaretha kemudian menatapnya dengan ekspresi dingin.
“Aku juga marah kepada Diandra. Dia sudah membuat Serly berada dalam kondisi seperti itu. Kalau tadi aku tidak sibuk menemani Serly, mungkin aku sendiri sudah kehilangan kendali.”
Abian kembali memandang keluar balkon.
Angin malam berembus melewati ruangan yang pintunya sengaja dibiarkan terbuka. Namun, udara sejuk itu sama sekali tidak mampu meredakan pikirannya.
Abian bukan orang yang mudah meminta maaf.
Selama bertahun-tahun, dia terbiasa menyelesaikan masalah dengan kekuasaan, uang, atau tekanan. Orang-orang biasanya memilih mengalah ketika berhadapan dengannya.
Tetapi Bastian berbeda.
Bastian tidak membutuhkan uang Abian.
Bahkan ancaman kehilangan harta pun tidak akan membuat pria itu mundur jika menyangkut Diandra.
“Papa kelihatan ragu,” ujar Margaretha.
“Aku tidak ragu.”
“Lalu?”
Abian menghela napas panjang.
“Bastian bilang kalau aku tidak meminta maaf kepada Diandra, dia akan membawa masalah ini ke jalur hukum.”
Margaretha langsung terdiam.
“Dia serius?”
“Bastian tidak pernah main-main kalau sudah mengancam seperti itu.”
Margaretha mengepalkan tangan.
Belakangan ini memang ada sesuatu yang berubah pada Bastian. Pria itu semakin sulit didekati. Perhatiannya terhadap Serly perlahan berkurang, sementara sikapnya kepada Diandra justru semakin jelas.
Bastian yang dulu mudah dipengaruhi kini mulai berani mengambil keputusan sendiri.
Aretha tidak tahu apa yang dilakukan Diandra hingga Bastian berubah sejauh itu.
Selama ini dia memilih menyerang Diandra secara perlahan—melalui tekanan, sindiran, dan permainan mental. Namun jika Diandra terus menjadi penghalang hubungannya dengan Bastian, Aretha mulai mempertimbangkan cara yang jauh lebih keras.
“Jadi bagaimana?” tanya Aretha. “Papa akan meminta maaf kepada Diandra?”
Abian menoleh.
Tatapannya penuh penolakan.
“Tidak.”
“Papa yakin?”
“Aku tidak akan meminta maaf.”
Aretha tersenyum tipis.
“Bagus. Jangan sampai Bastian berpikir dia bisa mengatur keluarga kita sesuka hatinya.”
Namun mereka berdua tidak menyadari satu hal.
Di luar kamar, seseorang berdiri diam.
Dan sejak beberapa saat lalu, seluruh
percakapan mereka telah terdengar jelas.
Aretha tersenyum mendengar jawaban suaminya.
“Jujur, Papa sebenarnya malas berurusan dengan Bastian. Dari dulu dia memang keras kepala dan sulit diajak bicara. Tapi Papa juga heran, kenapa Serly masih terus dianggap ingin kembali kepada Bastian?”
“Serly tidak ingin merebut Bastian, Pa.” Aretha menggeleng. “Dia hanya ingin memiliki lebih banyak waktu bersama anak-anaknya, Azzam dan Azzura.”
Nada suara Aretha berubah sendu.
“Tapi Diandra justru menganggap Serly ingin menghancurkan rumah tangganya. Bahkan Serly sampai disuruh mengakhiri hidupnya sendiri. Sebagai seorang ibu, bagaimana mungkin Serly tidak terluka?”
Abian terdiam.
“Papa juga melihat sendiri bagaimana sikap Azzam sekarang. Anak itu semakin mudah marah dan sering membangkang. Aku takut Diandra sudah membuat Azzam membenci Serly.”
Air mata Aretha perlahan jatuh.
“Aku sebenarnya tidak ingin menangis, Pa. Tapi setiap memikirkan putri kita, rasanya hati ini sakit sekali.”
Abian menatap istrinya.
“Aku cuma ingin Serly bahagia. Setelah kehilangan begitu banyak hal dalam hidupnya, setidaknya aku ingin melihat dia bisa tersenyum.”
Abian kemudian menarik Aretha ke dalam pelukannya.
“Aku mengerti.”
Aretha menyandarkan kepala di dada suaminya.
Abian mengusap punggungnya perlahan. Di dalam pikirannya, kenangan lama kembali bermunculan.
Dulu Aretha juga pernah mengalami masa sulit. Setelah kehilangan suaminya, hidup perempuan itu seolah runtuh. Abian dan Ayunda menjadi orang-orang yang berada di sisinya ketika dia tidak memiliki siapa-siapa.
Perlahan, Aretha berhasil bangkit.
Namun, kehidupan Abian justru menyimpan luka yang belum pernah benar-benar sembuh.
Dia kehilangan Ayunda.
Istri yang dicintainya menghilang secara misterius bersama anak mereka. Bertahun-tahun berlalu, tetapi Abian masih belum mendapatkan jawaban tentang keberadaan keduanya.
Pernah ada masa ketika Abian hampir kehilangan harapan.
Setiap hari dia mencari Ayunda. Setiap kabar kecil selalu membuatnya berharap, tetapi berkali-kali pula harapan itu berakhir dengan kekecewaan.
Dia tidak pernah benar-benar berniat menikah lagi.
Pernikahannya dengan Aretha terjadi karena keadaan yang tidak pernah direncanakan. Hubungan mereka berkembang setelah sebuah kejadian yang membuat Aretha mengandung.
Abian memilih bertanggung jawab dan menikahinya.
Namun, pernikahan itu tidak pernah membuat cintanya kepada Ayunda hilang.
Sampai hari ini, jauh di dalam hatinya, Abian masih berharap suatu keajaiban terjadi.
Dia ingin Ayunda dan anak mereka kembali.
“Papa?”
Suara Aretha membuyarkan lamunannya.
Abian menatap istrinya.
“Sudah malam. Jangan pikirkan terlalu banyak hal.”
Aretha mengangguk pelan.
“Iya.”
Abian menggenggam tangannya.
“Sekarang kita tidur. Besok masih banyak yang harus kita hadapi.”
Aretha tersenyum tipis, lalu mengikuti Abian meninggalkan balkon.
Namun malam itu, tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar tahu bahwa masa lalu yang selama ini mereka coba kubur perlahan mulai kembali ke permukaan.
“Iya, Pa. Tapi Mama keluar sebentar, ya. Mama mau melihat keadaan Serly.”
Abian mengangguk.
“Iya, Ma.”
Aretha pun meninggalkan kamar.
Begitu pintu tertutup, ekspresi Abian berubah. Dia mengambil ponselnya, memastikan tidak ada siapa pun di sekitar, lalu membuka sebuah folder yang sengaja disembunyikan jauh di dalam ponselnya.
Folder rahasia.
Di dalamnya tersimpan foto-foto lama dirinya bersama Ayunda.
Ada foto ketika mereka tersenyum bersama, foto saat Ayunda tertawa, hingga beberapa foto sederhana yang justru menjadi kenangan paling berharga bagi Abian.
Dia tidak pernah menunjukkan folder itu kepada Aretha.
Bukan karena ingin menyakiti istrinya, tetapi karena Abian tahu setiap kenangan tentang Ayunda bisa menjadi luka bagi Aretha.
Jari Abian berhenti pada sebuah foto.
Foto Ayunda sedang tersenyum ke arah kamera.
“Bertahun-tahun berlalu, tapi aku masih belum bisa melupakanmu.”
Abian tersenyum getir.
“Tadi untuk pertama kalinya aku melihat seseorang yang sorot matanya mengingatkanku padamu.”
Tatapannya terpaku pada layar.
“Entah karena aku terlalu merindukanmu atau memang ada sesuatu yang tidak bisa kujelaskan.”
Abian menggenggam ponselnya erat.
Seandainya saja waktu bisa diputar kembali, mungkin dia tidak akan membiarkan Ayunda pergi sendirian.
Alasan Aretha mengatakan ingin melihat kondisi Serly hanyalah sebuah dalih.
Sebenarnya, perempuan itu menuju perpustakaan.
Sejak kedatangan Serly kemarin, Aretha terpaksa meninggalkan tempat itu dalam keadaan tergesa-gesa. Dia bahkan tidak sempat memastikan rak buku yang menjadi pintu masuk menuju ruang rahasianya benar-benar terkunci.
Malam ini dia ingin memastikannya sendiri.
Aretha berjalan perlahan hingga tiba di depan rak tersebut.
Tangannya menyentuh bagian samping rak.
Terkunci.
“Syukurlah.”
Aretha mengembuskan napas lega.
Namun baru saja dia hendak berbalik, terdengar suara dari belakang.
“Mama?”
Aretha tersentak.
Dia langsung berbalik dan mendapati Sean berdiri beberapa langkah darinya.
“Sean!” serunya kesal.
Sean mengernyit.
“Kenapa Mama kaget begitu? Seolah-olah baru melihat hantu.”
Aretha segera memasang wajah tenang.
“Memangnya kamu kenapa tiba-tiba muncul di perpustakaan tengah malam?”
Sean mengangkat sebuah buku yang sejak tadi berada di tangannya.
“Aku nggak bisa tidur.”
Dia menunjukkan buku tersebut.
“Biasanya kalau baca buku sebentar, aku jadi mengantuk.”
Tatapan Sean kemudian beralih pada ibunya.
“Tapi Mama sendiri ngapain di sini?”
Aretha sedikit gugup.
“Cuma lewat.”
“Lewat?”
“Iya.”
Sean menyipitkan mata.
“Perpustakaan ada di ujung rumah. Memangnya Mama sedang jalan-jalan tengah malam?”
Aretha terdiam sesaat.
“Jangan banyak bertanya. Mama memang cuma mau memastikan sesuatu.”
Sean semakin penasaran.
“Memastikan apa?”
Aretha tersenyum kaku.
“Tidak ada apa-apa.”
Dia segera berjalan melewati Sean.
“Sudah, kamu juga kembali ke kamar. Besok jangan sampai terlambat ke kantor .”
Sean menatap punggung ibunya yang semakin menjauh.
Entah kenapa, malam itu sikap Aretha terasa sangat mencurigakan.
Dan Sean mulai bertanya-tanya, sebenarnya rahasia apa yang disembunyikan keluarganya di balik rak perpustakaan tersebut.
“Lewat, tapi sampai masuk ke perpustakaan?” Sean menggeleng sambil mengikuti ibunya. “Jangan-jangan Mama menyembunyikan sesuatu di sini. Ayo, ngaku.”
Aretha menepis tangan putranya yang terus mengusik lengannya.
“Apaan, sih? Mama tidak menyembunyikan apa pun. Jangan asal menuduh.”
Sean justru tersenyum jahil.
“Kalau begitu, kenapa Mama kelihatan gugup?”
“Mama tidak gugup.”
“Terus kenapa Mama ada di sini? Bukannya Sean dengar Mama menyuruh Sean tinggal di apartemen?”
Aretha mendelik.
“Oh, jadi sekarang Sean diusir makanya kesini?”
“Jangan drama.”
“Tega sekali Mama. Anak sendiri diusir.”
Aretha menghela napas panjang.
Berbicara dengan Sean benar-benar menguras kesabarannya. Untung saja putranya itu belum mengetahui keberadaan ruang rahasia di balik rak perpustakaan. Kalau sampai Sean tahu, pertanyaan pria itu pasti tidak akan berhenti hanya sampai di sini.
“Sudahlah. Terserah kamu mau melakukan apa.”
Aretha langsung meninggalkan perpustakaan.
Daripada terus berdebat dengan Sean dan tanpa sengaja membocorkan sesuatu, lebih baik dia kembali ke kamar.
Sean memperhatikan punggung ibunya sampai menghilang di balik pintu.
“Benar-benar mencurigakan.”
Dia menyilangkan kedua tangan di dada.
“Kalau Mama memang tidak menyembunyikan apa-apa, kenapa tingkahnya seperti orang yang baru ketahuan menyimpan rahasia?”
Sean kemudian tertawa kecil.
“Punya mama galak begini, kalau bisa tukar tambah di pusat perbelanjaan, mungkin aku sudah cari mama baru.”
Dia menggeleng-gelengkan kepala sebelum kembali melihat sekeliling.
“Tapi sebenarnya apa yang Mama sembunyikan?"
Rasa penasaran mulai menguasainya.
Di tempat lain, Bastian sedang berada di dapur bersama Azzam.
Di hadapannya terdapat semangkuk bubur yang baru saja selesai dibuat.
Bastian mengambil sedikit suwiran ayam dan hendak menaburkannya di atas bubur.
“Daddy, jangan pakai ayam.”
Tangan Bastian berhenti.
“Kenapa?”
“Mommy nggak suka bubur pakai ayam.”
Bastian mengangkat alis.
“Kamu yakin?”
Azzam mengangguk mantap.
“Yakin.”
Bastian tetap tidak percaya.
“Setahu Daddy, Mommy kamu suka ayam.”
“Mommy memang suka ayam. Tapi Mommy nggak suka kalau ayamnya dicampur ke bubur.”
Bastian masih terlihat ragu.
“Daddy sudah mengenal Mommy kamu selama bertahun-tahun. Kamu baru mengenalnya sejak lahir.”
Azzam cemberut.
“Tapi Azzam tahu.”
Bastian terkekeh kecil.
“Memangnya dari mana kamu tahu?”
“Azzam pernah makan bubur sama Mommy.”
Azzam menunjuk mangkuk di tangan ayahnya.
“Waktu itu Mommy nggak mau makan karena ada suwiran ayamnya. Buburnya malah diberikan ke Bi Lastri.”
Bastian terdiam.
Kali ini wajah Azzam terlihat terlalu serius untuk dianggap sedang mengarang cerita.
“Kalau Daddy nggak percaya, tanya Bi Lastri.”
Bastian akhirnya menghela napas.
“Baiklah.”
Dia menoleh ke arah pintu dapur.
“Bi Lastri!”
Tak lama kemudian, Bi Lastri datang tergesa-gesa.
“Iya, Tuan?”
Bastian mengangkat mangkuk bubur.
“Benar Diandra tidak suka bubur yang diberi suwiran ayam?”
Bi Lastri tampak berpikir sejenak, lalu mengangguk.
“Benar, Tuan. Nyonya memang kurang suka bubur seperti itu.”
Azzam langsung tersenyum bangga.
“Tuh, kan! Azzam benar.”
Bastian menatap putranya, lalu menggeleng sambil tersenyum.
“Baiklah. Kali ini Daddy mengaku kalah.”
Dia mengambil kembali suwiran ayam dari atas bubur.
“Kalau begitu, bubur Mommy harus sesuai selera Mommy.”
Azzam tersenyum puas.
“Karena Azzam lebih tahu Mommy.”
Bastian terkekeh.
“Jangan sombong dulu, Bos kecil.”
Azzam malah semakin bangga.
“Yang penting Mommy senang.”
“Iya, Tuan. Nyonya Diandra memang tidak suka bubur yang dicampur suwiran ayam.”
Azzam langsung menatap ayahnya dengan wajah penuh kemenangan.
“Tuh, kan! Apa kata Azzam? Daddy kalau dibilangin suka ngeyel.”
Bastian mencibir kecil.
“Baru tahu sedikit sudah banyak gaya.”
Azzam justru semakin percaya diri.
“Azzam lebih tahu tentang Mommy. Kalau Daddy mau tahu apa pun tentang Mommy, tanya saja sama Azzam.”
“Pede sekali kamu.”
Bastian mengacak rambut putranya.
Karena tadi sudah terlanjur mencampurkan ayam ke bubur, Bastian akhirnya membuat mangkuk baru. Bi Lastri membantu menyiapkan bahan-bahannya, sementara Azzam terus mengawasi agar tidak ada satu pun suwiran ayam yang masuk ke bubur untuk Diandra.
Setelah bubur selesai, Bastian membawanya menuju kamar.
Azzam langsung mengikuti dari belakang.
“Kamu mau ikut?”
“Azzam mau menemani Mommy sarapan.”
“Tidak perlu. Daddy saja yang menemani Mommy. Kamu kembali ke kamar dan bermain dengan Azzura.”
Hari itu akhir pekan. Tidak ada sekolah maupun kegiatan lain yang mengharuskan Azzam keluar rumah.
Namun anak itu tetap menggeleng.
“Tidak mau. Azzam mau menemani Mommy.”
Sebelum Bastian sempat melarang, Azzam sudah berlari masuk ke kamar Diandra.
Bastian menghela napas.
Padahal sejak pagi dia ingin memiliki sedikit waktu berdua dengan istrinya. Namun setiap kali kesempatan itu datang, selalu saja ada Azzam yang ikut menyusul.
Inilah salah satu konsekuensi menjadi seorang ayah dengan anak kecil.
Momen romantis bersama istri harus pintar-pintar dicuri.
Bastian kemudian masuk sambil membawa nampan.
“Pagi-pagi sudah ada yang pesan sarapan.”
Diandra sudah terbangun. Dia duduk bersandar pada kepala ranjang dengan wajah yang masih terlihat pucat.
Bastian sempat terdiam.
Tatapannya jatuh pada pipi Diandra.
Bengkaknya justru terlihat lebih jelas pagi ini.
Kemarin malam, Bastian sempat menghubungi dokter yang dikenalnya. Dari penjelasan dokter, luka akibat benturan memang bisa mengalami pembengkakan yang lebih parah pada hari berikutnya sebelum perlahan membaik.
Namun Bastian tahu, luka yang terlihat di wajah Diandra bukanlah satu-satunya luka yang harus disembuhkan.
Perkataan Diandra sebelumnya terus terngiang di kepalanya.
Luka fisik mungkin bisa sembuh.
Tetapi luka di hati membutuhkan waktu jauh lebih lama.
Karena itu, Bastian berharap permintaan maaf Abian benar-benar diberikan.
Setidaknya, Diandra berhak mendapatkan pengakuan bahwa apa yang dilakukan kepadanya adalah sebuah kesalahan.
Bastian meletakkan nampan di meja kecil.
“Sayang, aku buatkan bubur khusus untukmu.”
Azzam langsung menyela dengan bangga.
“Bukan Daddy saja yang buat. Azzam sama Bi Lastri juga bantu!”
Diandra tersenyum tipis melihat tingkah putranya.
“Benarkah?”
Azzam mengangguk cepat.
“Iya. Azzam yang memastikan buburnya nggak dikasih ayam.”
Bastian terkekeh.
“Sekarang anak ini sudah seperti koki pribadi Mommy.”
Bastian kemudian hendak duduk di sisi ranjang.
“Azzam, minggir sebentar. Daddy mau duduk di sebelah Mommy.”
Azzam langsung menggeleng.
“Nggak mau.”
Dia bahkan merapatkan tubuhnya ke sisi Diandra.
“Azzam mau duduk sama Mommy.”
Bastian menatap putranya dengan tatapan tidak percaya.
“Kamu sengaja, ya?”
Azzam hanya tersenyum polos.
Diandra yang melihat persaingan kecil antara ayah dan anak itu akhirnya tertawa pelan.
Untuk pertama kalinya sejak kejadian kemarin, senyum tulus terlihat di wajahnya.
Dan melihat senyum itu, Bastian merasa sedikit lega.
Setidaknya pagi ini, dia berhasil membuat istrinya tersenyum.
“Terus Daddy di mana?” Bastian menunjuk dirinya sendiri. “Daddy juga mau menyuapi Mommy.”
Azzam langsung menggeleng.
“Kalau begitu Azzam saja yang suapi Mommy.”
Bastian menghela napas.
Daripada Diandra harus menunggu terlalu lama, akhirnya Bastian mengalah. Dia meletakkan mangkuk bubur di pangkuan Azzam dan membiarkan putranya menyuapi Diandra.
Azzam mengambil satu sendok kecil.
“Mommy, buka mulut.”
Diandra mencoba membuka mulut, tetapi baru sedikit terbuka, wajahnya langsung berubah.
“Ahh...”
Rasa nyeri menusuk pipinya.
Diandra refleks menutup mulut dan menggeleng pelan.
Dia benar-benar kesulitan makan. Luka di wajahnya membuat setiap gerakan rahang terasa menyakitkan.
Bastian dan Azzam langsung terdiam.
Tatapan keduanya berubah sendu.
“Mommy nggak mau makan?” tanya Azzam lirih.
Diandra menggeleng.
“Mulut Mommy sakit.”
Wajah Azzam langsung murung.
“Kalau Mommy nggak makan, nanti Mommy minum obat bagaimana?”
Dia menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca.
“Kalau nggak minum obat, Mommy kapan sembuh?”
Pertanyaan sederhana itu membuat hati Diandra mencelos.
Dia tidak ingin membuat putranya semakin sedih.
Diandra menarik napas perlahan.
Aku bisa.
Diandra, kamu harus kuat.
Demi Azzam.
Dia kemudian tersenyum meski rasa sakit masih terasa.
“Ya sudah. Sini, Azzam suapi Mommy.”
Wajah Azzam langsung cerah.
“Benaran?”
Diandra mengangguk.
“Ayo.”
Azzam mengambil sedikit bubur.
“Pesawat bubur datang!”
Sendok itu digerakkannya seperti pesawat kecil sebelum perlahan diarahkan ke mulut Diandra.
Diandra membuka mulut hati-hati.
Rasa perih langsung terasa.
Namun dia menahannya.
Dia mengunyah perlahan sambil tetap tersenyum kepada putranya.
“Enak?”
Azzam mengangguk antusias.
“Enak! Mommy harus habisin semuanya.”
Bastian hanya diam memperhatikan.
Tatapannya tidak pernah lepas dari Diandra.
Sekarang dia mulai menyadari sesuatu yang selama ini luput dari perhatiannya.
Diandra selalu seperti ini.
Ketika terluka, perempuan itu memilih tersenyum.
Ketika sedih, dia memilih diam.
Bahkan ketika kesakitan, dia tetap berusaha terlihat baik-baik saja di depan anak-anaknya.
Selama ini Bastian terlalu sibuk dengan dunianya sendiri sampai tidak pernah benar-benar memperhatikan istrinya.
“Daddy.”
Suara Azzura membuat Bastian tersadar.
Diandra dan Azzam juga menoleh.
Azzam menunjuk adiknya sambil tersenyum.
“Nah, itu Si Manja datang. Pasti mau minta diantar ke rumah Mama Serly lagi.”
Azzura langsung mengerucutkan bibir.
“Aku nggak mau ke rumah Mama Serly.”
Dia berjalan mendekati Bastian.
“Aku mau jenguk Mommy.”
Bastian tersenyum lembut.
“Sini, Sayang.”
Dia mengangkat tubuh Azzura lalu mendudukkannya di pangkuannya.
Diandra menatap putrinya.
“Azzura sudah sarapan?”
Azzura menggeleng.
“Belum lapar.”
“Kok belum lapar?”
Azzura justru menunjuk pipi Diandra.
“Pipi Mommy sakit?”
Diandra tersenyum.
“Nggak kok. Mommy sudah nggak sakit.”
Bastian yang mendengar jawaban itu hanya diam.
Dia tahu Diandra sedang berbohong.
Rasa sakit itu masih ada.
Terlihat jelas dari cara Diandra berbicara dan menahan gerakan wajahnya.
Namun perempuan itu tetap memilih tersenyum agar kedua anaknya tidak khawatir.
Belum sempat Bastian mengatakan apa-apa, terdengar ketukan dari pintu.
“Permisi, Tuan, Nyonya.”
Bi Lastri muncul di ambang pintu.
Bastian menoleh.
“Iya, Bi. Ada apa?”
Bi Lastri menunduk sopan.
“Di ruang tamu ada Pak Abian, Bu Aretha, dan Nona Serly.”
Begitu mendengar nama-nama itu, Azzam langsung meletakkan mangkuk buburnya di nakas.
“Azzam mau lihat!”
Dia berlari keluar kamar, disusul Azzura.
Bastian menghela napas sebelum membantu Diandra bangkit dari tempat tidur.
Begitu sampai di ruang tamu, suara Azzam langsung menggema.
“Kenapa kalian datang pagi-pagi?!”
Anak itu berdiri dengan kedua tangan di pinggang.
“Pulang!”
Abian, Aretha, dan Serly sontak menoleh.
“Kalian pasti datang untuk membuat Mommy sedih lagi, kan?”
Azzam menunjuk mereka satu per satu.
“Azzam nggak akan membiarkan siapa pun menyakiti Mommy!”
Ketiganya jelas terkejut melihat keberanian Azzam.
Namun sebelum suasana semakin tegang, terdengar tepuk tangan dari arah pintu.
“Wah, jagoan Mama memang hebat!”
Sean baru saja masuk.
Sebenarnya pagi itu Sean berniat kembali ke apartemennya. Namun secara tidak sengaja dia melihat Abian, Aretha, dan kakaknya bersiap pergi.
Ketika mengetahui bahwa Abian berniat meminta maaf kepada Diandra, Sean tentu saja tidak ingin melewatkan kesempatan langka tersebut.
Seumur hidupnya, kapan lagi dia bisa melihat ayahnya menurunkan ego dan meminta maaf kepada orang lain?
Selain penasaran dengan kejadian itu, Sean juga ingin tahu alasan Abian tiba-tiba berubah pikiran.
“Mama Serly!”
Azzura yang baru datang bersama Bastian langsung berlari menghampiri Serly.
Serly tersenyum dan membuka kedua tangannya.
“Hai, Sayang.”
Azzura langsung memeluknya.
Serly mencium puncak kepala gadis kecil itu dengan penuh kasih sayang.
Sementara itu, Bastian membantu Diandra duduk dengan hati-hati.
Sebenarnya Diandra tidak ingin bertemu dengan mereka pagi ini. Kepalanya masih terasa berat dan pipinya masih terasa nyeri.
Namun Bastian mengatakan bahwa Abian datang untuk meminta maaf.
Hal itu membuat Diandra terkejut.
Di satu sisi dia tidak ingin melihat Abian.
Tetapi di sisi lain, ada bagian dalam dirinya yang ingin mengetahui apakah pria itu benar-benar memiliki keberanian untuk mengakui kesalahannya.
Begitu melihat wajah Diandra, Serly langsung menunjukkan ekspresi prihatin.
“Ya ampun, Diandra... pipimu masih bengkak sekali. Pasti sakit, ya?”
“Ya iyalah sakit,” sahut Sean santai. “Nggak perlu pakai acara bertanya juga.”
Aretha langsung melirik tajam ke arah Sean.
Inilah alasan sebenarnya dia tidak ingin membawa Sean.
Setiap kali Aretha dan Serly mencoba membangun suasana seolah-olah mereka adalah pihak yang paling peduli, Sean selalu saja datang dengan komentar yang merusaknya.
Sean hanya mengangkat bahu.
“Aku cuma menjawab sesuai kenyataan.”
Aretha memilih diam.
Sementara Azzam sudah kembali mendekati Diandra dan duduk rapat di samping ibunya.
Dia memandang Abian dan Aretha dengan tatapan serius.
“Opa, Oma, Mama Serly datang ke sini sebenarnya mau apa?”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Azzam melanjutkan dengan nada tegas.
“Kalau memang ada yang mau dibicarakan, langsung saja. Mommy sedang sakit dan butuh banyak istirahat.”
Aretha menghela napas.
“Azzam, Mama Serly juga sedang tidak baik-baik saja. Dia baru saja melewati masa sulit dan masih membutuhkan perhatian.”
Azzam menatap neneknya.
“Terus?”
“Serly tetap menyempatkan diri datang menjenguk Mommy kamu. Kenapa kamu masih berpikir buruk tentang Mama Serly?”
Aretha berusaha terdengar lembut.
“Kamu bisa sangat perhatian kepada Mommy Diandra. Tapi kenapa kamu tidak mau melakukan hal yang sama kepada Mama Serly?”
Azzam terdiam.
Namun tatapannya tetap tidak berubah.
Dia tidak mengerti mengapa dirinya harus memilih antara mencintai Mommy dan menyayangi Mama Serly.
Baginya, satu hal yang paling penting adalah memastikan tidak ada seorang pun yang kembali membuat Diandra terluka.
Azzam hendak membalas ucapan Aretha, tetapi Diandra segera menepuk pelan tangannya.
“Sudah, Sayang.”
Diandra menggeleng kecil, memberi isyarat agar Azzam tidak memperpanjang perdebatan.
Azzam akhirnya mengurungkan niatnya.
Bastian kemudian menatap Abian.
“Langsung saja, Om. Katakan apa tujuan Om datang ke sini.”
Abian mengalihkan pandangan kepada Diandra.
Sebenarnya dia sendiri tidak sepenuhnya ingin datang meminta maaf.
Namun sejak kemarin, ada sesuatu yang terus mengganggu pikirannya.
Sorot mata Diandra.
Entah mengapa tatapan perempuan itu mengingatkannya kepada Ayunda.
Abian bahkan sempat bertanya-tanya apakah mungkin keduanya memiliki hubungan tertentu. Tetapi dia segera membuang pikiran tersebut. Terlalu banyak orang di dunia ini yang memiliki kemiripan wajah maupun sorot mata.
Dan tentang luka di wajah Diandra, Abian tahu tamparannya memang terlalu keras.
“Saya datang untuk meminta maaf.”
Ruangan mendadak hening.
“Saya terbawa emosi ketika menampar kamu,” lanjut Abian dengan suara berat.
Azzam langsung membelalak.
“Jadi Opa yang memukul Mommy?”
Anak itu menoleh tajam kepada Abian.
“Kenapa Opa sampai memukul Mommy?”
“Azzam,” tegur Aretha. “Opa kamu sudah bilang dia terbawa emosi.”
“Tapi pipi Mommy sampai bengkak!”
Azzam menunjuk wajah Diandra.
“Itu bukan namanya tidak sengaja!”
Abian menghela napas.
“Opa mengakui Opa salah.”
Sebenarnya Aretha sendiri tidak sepenuhnya menyukai keputusan suaminya untuk meminta maaf.
Namun Abian memiliki alasan tersendiri.
Dia berharap hubungannya dengan Bastian bisa membaik. Jika suatu hari Bastian dan Serly kembali bersama, Abian tidak ingin hubungan mereka semakin buruk.
Karena itu Aretha memilih mendampingi suaminya.
“Sudah, Azzam. Jangan bertengkar,” ujar Serly lembut.
Kemudian Serly menatap Diandra.
“Diandra, kamu sudah memaafkan Papa?”
Diandra diam.
Serly melanjutkan dengan suara lembut.
“Papa sebenarnya tidak bermaksud menyakitimu. Dia hanya terbawa emosi. Aku juga ingin meminta maaf karena waktu itu aku terlalu terbawa perasaan setelah mendengar ucapanmu.”
Aretha segera tersenyum.
“Lihat? Serly memang anak yang baik. Hatinya begitu lembut.”
Sean yang sejak tadi menahan diri akhirnya berkomentar.
“Wah, Mama sama Serly cocok banget jadi pemain sinetron.”
Aretha langsung menatapnya tajam.
Sean tersenyum santai.
“Serius. Aktingnya bagus sekali.”
Azzam dan Azzura menahan tawa.
Sean melanjutkan dengan wajah polos.
“Kalau ada casting tokoh antagonis, Mama sama Serly pasti langsung lolos.”
“Sean!” bentak Aretha.
Sean terkekeh.
“Bercanda.”
Dia kemudian memegang perutnya.
“Sudah, aku ke belakang dulu.”
Sean berbalik meninggalkan ruang tamu, membuat Azzam dan Azzura kembali terkikik.
Bastian mengabaikan tingkah Sean dan kembali memperhatikan istrinya.
Tangannya menggenggam tangan Diandra dengan hati-hati.
“Sayang, bagaimana? Kamu sudah bisa memaafkan Om Abian?”
Diandra menarik napas perlahan.
Dia tidak ingin masalah ini semakin panjang.
“Iya. Aku sudah memaafkan Om Abian.”
Bastian mengangguk lega.
“Terima kasih.”
Diandra tidak mengatakan apa-apa lagi.
Namun jauh di dalam hatinya, dia masih merasa takut setiap mengingat sorot mata Abian dan kejadian yang menimpanya.
Dia hanya berharap, jika ayahnya masih hidup, pria itu tidak akan pernah memperlakukannya seperti Abian.
Serly tersenyum melihat suasana yang mulai mencair.
“Syukurlah kalau semuanya sudah selesai.”
Dia kemudian mengalihkan perhatian kepada Azzura.
“Azzura sudah sarapan belum?”
Azzura menggeleng kecil.
“Belum.”
“Kenapa belum?”
Azzura menunjuk Diandra.
“Aku mau temani Mommy dulu.”
Serly tersenyum tipis.
Sementara Diandra memandangi putrinya dengan tatapan hangat.
Untuk sesaat, suasana rumah itu terasa lebih tenang.
Namun tidak seorang pun menyadari bahwa di balik ketenangan tersebut, masih ada banyak rahasia yang belum terbongkar.
“Kalau begitu, ayo kita ke ruang makan. Mama, Papa, ikut juga. Kita sarapan bersama saja. Sudah lama kalian tidak sarapan di rumah ini.”
Aretha langsung berdiri.
“Iya. Mama memang sudah lama tidak sarapan di sini. Sekalian nostalgia.”
Abian hanya mengangguk dan mengikuti istrinya.
Serly kemudian menoleh kepada Bastian.
“Kamu juga belum sarapan, kan? Ayo ikut ke ruang makan.”
Azzam yang mendengar ajakan itu langsung berdiri.
“Memangnya kalian nggak punya rumah sendiri sampai harus sarapan di rumah orang?”
Suasana mendadak hening.
“Azzam,” tegur Diandra pelan.
Dia mengusap pundak putranya.
“Sudah, Sayang.”
Diandra sebenarnya merasa sedih melihat Azzam terus membelanya.
Anak sekecil itu seharusnya tidak perlu memikirkan bagaimana cara melindungi ibunya dari orang-orang dewasa.
Diandra menatap putranya dengan penuh kasih.
“Mommy tidak apa-apa.”
Azzam masih terlihat tidak rela, tetapi akhirnya diam.
Di sisi lain, Serly menyentuh pundak Azzura dan memberikan isyarat kecil dengan gerakan bibir.
Azzura memahami maksud ibunya.
Dia kemudian mendekati Bastian dan menarik tangannya.
“Daddy, ayo. Azzura sudah lapar.”
Bastian menatap putrinya.
“Kamu ke ruang makan dulu, ya. Daddy menyusul.”
Azzura langsung menggeleng.
“Nggak mau.”
Bibirnya mulai bergetar.
“Azzura mau sekarang.”
Bastian baru hendak menjawab ketika tangis kecil terdengar.
“Aku mau sekarang... hiks...”
Air mata Azzura mengalir.
Bastian langsung menghela napas dan menggendong putrinya.
“Iya, iya. Jangan menangis.”
Azzura memeluk leher ayahnya.
Bastian kemudian menoleh kepada Diandra.
“Sayang, kamu mau ikut sarapan?”
Diandra hanya menatapnya sebentar.
Dia melihat ke arah ruang makan, lalu menggeleng.
Tanpa mengatakan apa pun, Diandra berbalik dan berjalan menuju tangga.
Tubuhnya masih terasa lemah. Kepalanya berdenyut dan setiap langkah terasa berat.
Saat menaiki anak tangga kedua, tubuhnya sempat kehilangan keseimbangan.
“Mommy!”
Azzam langsung berlari menghampiri dan menggenggam tangan ibunya erat-erat.
“Hati-hati.”
Diandra menoleh.
Senyum kecil muncul di wajahnya.
“Azzam nggak ikut sarapan?”
Azzam menggeleng.
“Nggak.”
Dia menggenggam tangan Diandra semakin erat.
“Azzam ikut Mommy saja.”
“Kamu tidak lapar?”
“Sedikit.”
Azzam tersenyum.
“Tapi Mommy lebih penting.”
Hati Diandra terasa hangat sekaligus perih.
Dia mengusap kepala putranya.
“Terima kasih, Nak.”
Azzam tersenyum.
“Sama-sama, Mommy.”
Keduanya kemudian berjalan perlahan menuju kamar.
Diandra tidak tahu sampai kapan Azzam akan terus menjadi pelindung kecilnya.
Namun untuk saat ini, dia hanya ingin membawa putranya menjauh dari suasana yang membuat hatinya semakin lelah.
Bastian sebenarnya ingin menyusul Diandra.
Namun tangisan Azzura membuat langkahnya tertahan.
“Ayo, Daddy,” rengek Azzura sambil mengusap air matanya. “Azzura mau sarapan.”
Bastian akhirnya menghela napas.
“Iya, Sayang. Kita sarapan.”
Serly segera meraih lengan Bastian.
“Ayo, Mas. Kasihan Azzura sudah lapar.”
Sementara itu, Aretha menarik tangan Abian dan ikut berjalan bersama mereka menuju ruang makan.
Di tengah perjalanan, langkah Diandra terhenti.
Perlahan dia menoleh.
Tatapannya tertuju pada punggung Bastian yang semakin menjauh.
Jangan pergi.
Tetaplah di sampingku.
Namun semua kalimat itu hanya mampu berputar di dalam kepalanya.
Diandra terlalu terluka untuk mengucapkannya.
“Mommy?”
Azzam mendongak dengan wajah khawatir.
“Mommy kenapa?”
Diandra segera menghapus kesedihan dari wajahnya.
“Mommy tidak apa-apa.”
Dia tersenyum.
“Ayo, kita lanjut.”
Azzam menggenggam tangan ibunya lebih erat.
Keduanya pun melanjutkan langkah menuju lantai atas.
Sean baru saja keluar dari kamar mandi.
Dia mengernyit ketika melihat ruang tamu sudah kosong.
“Lho, kok semuanya menghilang?”
Matanya kemudian menangkap Diandra dan Azzam yang berada di lantai dua.
Sean segera menaiki tangga.
Diandra membawa Azzam menuju balkon lantai dua.
“Kenapa kalian di sini?” tanya Sean. “Yang lain ke mana?”
Diandra menoleh.
Ada sedikit kelegaan di wajahnya ketika melihat Sean.
“Syukurlah kamu belum pulang.”
Sean mengernyit.
“Memangnya kenapa?”
“Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu.”
Diandra menatapnya serius.
“Sean, ikut aku sebentar.”
“Bicara apa, Mommy?”
Azzam langsung menggenggam tangan Diandra ketika ibunya hendak pergi.
Diandra menunduk menatap putranya.
“Mommy cuma pergi sebentar.”
Dia mengusap rambut Azzam.
“Kamu tunggu di sini, ya. Jangan ikut.”
Azzam terlihat ragu.
“Iya, Mommy.”
Dia kemudian menunjuk sofa di balkon.
“Azzam tunggu di sini.”
Diandra tersenyum.
“Jangan lama-lama bermain.”
“Iya.”
Azzam akhirnya duduk di sofa sambil menunggu.
Sesampainya di dekat kamar, Sean menatap Diandra dengan penasaran.
“Mau bicara apa?”
“Tunggu di sini sebentar.”
Diandra membuka pintu kamar.
Dia masuk, kemudian mengambil sebuah map yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
Saat kembali, Diandra menyerahkan map tersebut kepada Sean.
Sean menerima dengan wajah bingung.
“Ini apa?”
“Berkas perceraian.”
Sean langsung terdiam.
Diandra menatapnya serius.
“Aku ingin kamu membantuku membawa buku nikah dan dokumen-dokumen lain yang diperlukan untuk proses pengajuan gugatan.”
“Kenapa harus aku?”
Diandra menarik napas panjang.
“Aku khawatir Bastian kembali menghancurkan atau membakar dokumen-dokumen itu.”
Sean menatap map di tangannya.
Dia mulai memahami keseriusan permintaan Diandra.
Namun sebelum dia sempat bertanya lebih jauh—
“Sedang apa kalian?”
Suara itu terdengar dari belakang.
Tubuh Diandra langsung menegang.
Sean perlahan menoleh.
Seseorang berdiri di ambang pintu.
Dan suasana seketika berubah jadi tegang.