Tak memiliki apa pun selain namanya, Kenzo bertahan hidup di dunia yang kejam. Bagi orang lain, mimpi adalah sesuatu yang bisa dikejar. Baginya, mimpi hanyalah kemewahan yang selalu direnggut oleh kenyataan.
Hingga suatu hari, sebuah antarmuka emas muncul di hadapannya.
Sistem Gacha.
Jaminan 100%.
Setiap putaran selalu menghadiahkan sesuatu yang nyata. Kemampuan, artefak, teknik, bahkan kekuatan yang sanggup mengubah takdir. Dengan sistem itu, Kenzo tak lagi sekadar bermimpi. Ia akan menapaki jalan menuju puncak dan menyingkirkan siapa pun yang berani menghalangi langkahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Berderit keras pintu baja itu saat tumit Kenzo menghantamnya.
Bukan lorong gelap gulita yang menyambutnya di balik sana, melainkan tangga akses dengan pelat bordes besi yang terang benderang. Lampu neon putih steril di atasnya berkedip sekali-sekali, melempar bayangan panjang pada dinding beton.
Meniti anak tangga satu per satu, langkah kaki Kenzo tidak terdengar sama sekali.
Ia mengendalikan setiap serat ototnya. Melalui Kacamata Lensa Aether tingkat Perak miliknya, pandangan Kenzo menyapu seluruh sudut tangga.
Sepi. Tidak ada sisa energi supernatural di sepanjang jalur naik ini.
Meski begitu, tengkuknya terasa dingin. Insting jalanan yang bertahun-tahun menyelamatkan nyawanya berbisik bahwa situasi ini terlalu tenang.
Tiba di lantai 3, Kenzo memutar kenop pintu besi di depannya.
Sangat mudah. Pintu itu terbuka tanpa perlawanan sama sekali.
Mengambil langkah hati-hati ke dalam, ia menyadari dirinya telah masuk ke dalam sebuah arena yang sengaja disiapkan.
Ruangan itu menyerupai kubus raksasa yang dingin. Dinding, lantai, hingga langit-langitnya terbuat dari paduan logam abu-abu yang mengilat tanpa celah. Tidak ada tempat berlindung.
Satu-satunya hal yang menonjol adalah deretan kaca hitam tebal di bagian atas, mengelilingi ruangan layaknya mata-mata rahasia.
Itu adalah ruang observasi.
Suara dentuman keras tiba-tiba terdengar di belakangnya.
BAM!
Pintu baja menutup rapat dengan kecepatan tinggi. Desis udara dari pengunci hidrolik terdengar nyaring, menyegel ruangan itu rapat-rapat.
"Selamat datang di Fasilitas Pengujian Internal Nexus Corp," suara bariton bergema dari pelantang di langit-langit, terdengar parau akibat efek distorsi. "Subjek: Anomali Manusia Tak Dikenal. Menginisiasi Protokol Observasi."
Lampu merah berputar di 4 sudut ruangan, memancarkan warna darah.
Terdengar bunyi geser yang mekanis dari dinding logam. 12 drone tempur seukuran bola basket meluncur keluar, baling-balingnya mendengung halus saat mengapung di udara.
Moncong senjata mesin mini di bawah badan drone itu langsung berputar, membidik lurus ke arah dada Kenzo.
Dari balik celah dinding lainnya, 4 robot taktis dengan pelat baja tebal melangkah mantap. Logam pelindung mereka tampak kukuh, membuat langkah mereka terdengar berat di atas lantai besi.
Anehnya, tidak ada satu pun moncong senjata yang memuntahkan peluru.
Mereka hanya berputar mengitarinya, menembakkan sinar pemindai ke seluruh tubuh Kenzo.
"Kalian tidak berniat membunuhku dengan cepat, ya?" gumam Kenzo dingin.
"Tentu saja tidak," sahut suara dari pengeras suara itu lagi. "Kami mengamati rekaman di bawah tanah tadi. Kau tidak punya energi kinetik, sihir dimensi, atau tanda-tanda kekuatan elemen. Kau hanya manusia biasa."
Suara itu berhenti sejenak, digantikan desah napas penuh ambisi gila di ujung sana.
"Namun, senjata-senjatamu muncul begitu saja dari kehampaan tanpa memicu getaran ruang sama sekali. Kami ingin tahu bagaimana cara benda-benda itu tercipta."
"Lalu?" Kenzo memiringkan kepalanya.
"Kami akan memaksamu mengeluarkan senjata baru. Sensor kami akan merekam setiap proses kemunculannya hingga ke tingkat partikel terlarang."
Mendengar itu, Kenzo hanya tersenyum tipis di tengah kepungan besi.
Di balik kaca tebal di atas sana, para ilmuwan pasti sedang menahan napas, menatap layar monitor mereka dengan mata melebar.
Kenzo mengangkat tangan kirinya, lalu mengusap udara kosong.
[Sistem Diaktifkan.]
[Fungsi Utama: Gacha & Penyimpanan Tak Terbatas.]
[Jatah Jaminan 100% Hari Ini: 2/3.]
Layar berwarna emas itu mengambang anggun di hadapannya, menampilkan menu berkilau yang hanya bisa ia lihat sendiri.
Bagi puluhan kamera pengawas berteknologi tinggi milik Nexus Corp, Kenzo hanya terlihat seperti orang bodoh yang sedang melambaikan tangan ke udara kosong. Sistem ini berada di luar jangkauan logika dunia mereka.
"Kalian mau melihat rahasiaku?" tanya Kenzo, jarinya mengetuk tombol pada layar emas yang tidak kasat mata bagi musuh. "Sayang sekali. Pertunjukan hari ini dibatalkan."
"Subjek tidak kooperatif! Mulai fase pengujian sekarang!" perintah suara di interkom, terdengar tidak sabar.
Serentak, 4 robot taktis itu melesat maju dengan kecepatan tinggi.
Drones di udara mulai menembakkan rentetan peluru karet padat. Bunyinya bising, memantul keras di dinding logam.
Proyektil-proyektil itu memang tidak mematikan, tetapi hantamannya cukup kuat untuk meremukkan tulang manusia normal demi memaksa target mengeluarkan kemampuannya.
Bergerak cepat, Kenzo meluncur di bawah lintasan peluru karet yang beterbangan.
Tangannya merogoh sabuk taktis, mengambil sebuah tabung kecil yang terasa dingin di telapak tangannya. Kapsul Asap Termal tingkat Perunggu.
Ia membantingnya keras ke lantai logam.
Seketika, asap abu-abu pekat menyembur hebat, memenuhi ruangan kubus itu hanya dalam waktu 2 detik.
Asap ini bukan penyamaran biasa. Senyawa di dalamnya bereaksi cepat menyerap energi panas, membuat seluruh sensor inframerah dan detektor suhu milik drone menjadi kacau balau.
"Sensor visual mati! Inframerah tidak berfungsi! Cepat nyalakan pelacak suara!" teriak suara dari pengeras suara, kepanikan mulai merayap di nadanya.
Di balik kabut tebal itu, Kenzo melempar sebuah kepingan logam ke sudut terjauh ruangan yang kosong. Proyektor Suara Taktis tingkat Perunggu.
Seketika, alat kecil itu memantulkan bunyi langkah kaki yang terburu-buru, menyerupai seseorang yang sedang berlari panik menghindari kepungan.
Sistem pendengaran drone dan robot taktis tertipu sepenuhnya.
Seluruh moncong senjata mereka langsung berputar ke arah sudut ruangan yang sepi itu, memuntahkan peluru secara membabi buta ke sana.
Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Kenzo.
Mencabut Belati Frekuensi Tinggi tingkat Perak dari paha kirinya, ia menekan tombol kecil di gagangnya.
Tanpa suara, bilah belati itu bergetar dalam frekuensi ultrasonik yang amat tinggi, menciptakan distorsi tipis yang samar di udara kabur.
Ia melesat tanpa suara ke belakang robot terdekat.
Dengan sekali sentakan, belati itu menembus persendian leher robot pertama. Logam tebal itu robek semudah mengiris mentega hangat.
Menggunakan kelincahan fisiknya yang telah diperkuat, Kenzo berputar ke arah robot kedua dan ketiga, menebas sendi penopang kaki mereka dalam hitungan detik.
Mesin-mesin mahal itu tumbang, menabrak lantai besi dengan suara dentangan keras.
Sebelum asap sempat menipis, Kenzo mengangkat Pistol Taktis Phantom tingkat Perak di tangan kirinya.
Tembakan tanpa suara dilepaskan. Udara padat yang terkompresi melesat cepat, menghancurkan drone-drone yang melayang buta di udara satu per satu hingga hancur berkeping-keping.
Kurang dari 30 detik, seluruh sistem pertahanan mutakhir senilai miliaran itu telah menjadi tumpukan sampah logam yang tidak berguna.
Perlahan, sistem ventilasi ruangan menyedot habis asap abu-abu tersebut.
Pandangan para pengamat di balik kaca hitam kembali terbuka.
Namun, bukan sosok tak berdaya yang mereka temukan di sana. Kenzo berdiri tenang di tengah puing-puing mesin yang hancur, bahkan jaketnya tidak ternoda debu sedikit pun.
"Bagaimana?" tanya Kenzo, mendongak menatap kaca hitam dengan senyum meremehkan. "Data apa yang berhasil kalian rekam?"
Keheningan mencekam langsung menguasai ruang observasi di atas sana.
Para ilmuwan membeku di depan monitor mereka yang kosong tanpa data baru. Kenzo telah mengantisipasi semuanya dengan menggunakan peralatan yang sudah ia genggam sejak awal, menyembunyikan fungsi penyimpanan sistem dengan sempurna.
Tanpa menunggu tanggapan mereka, Kenzo berjalan mendekati pintu keluar yang tertutup rapat.
Ia menusukkan belati ultrasoniknya langsung ke sela-sela kunci hidrolik pintu baja seberat 2 ton tersebut. Getaran ekstrem dari belati itu menghancurkan silinder baja di dalam kunci dalam sekejap.
Dengan satu tendangan kuat, pintu tebal itu jebol dan roboh ke depan, menghantam lantai lorong berikutnya.
Kenzo melangkah keluar dengan percaya diri.
Namun, pandangan matanya seketika menyipit saat melihat melintasi Kacamata Aether miliknya.
Di ujung lorong yang baru terbuka ini, pendaran energi merah tidak lagi berupa sisa-sisa tipis. Gelombang energi supernatural yang pekat mengalir deras, memancarkan aura tekanan yang sangat berat.
Ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada robot atau drone yang menunggunya di depan sana. Kekuatan bertarung tingkat tinggi yang sesungguhnya.
Kenzo mengembuskan napas panjang, merasakan otot-ototnya mulai terasa kaku.
Esensi fisik tingkat Perak miliknya hampir mencapai batasnya setelah terus-menerus dipaksa bekerja keras menghadapi taktik beruntun dari Nexus Corp.
Ia sadar, untuk menembus dinding pertahanan utama yang sesungguhnya ini, keberuntungan biasa tidak akan cukup membantunya hidup-hidup.
Layar emas di hadapannya kembali menyala lembut, menyisakan 2 Jaminan 100% yang masih utuh.
Kenzo tersenyum dingin.
'Malam ini akan menjadi sangat panjang,' batinnya.