Amir adalah seorang pemuda yatim piatu yang selama bertahun-tahun hidup menderita sebagai menantu yang sama sekali tidak dianggap oleh keluarga istrinya, meskipun ia sudah bekerja keras banting tulang dari pagi hingga larut malam setiap harinya. Kesabarannya diuji hingga batas maksimal ketika ibu mertua dan adik iparnya dengan kejam menendangnya ke dalam danau saat ia sedang memancing, hanya demi memaksanya menceraikan istrinya yang hendak dijodohkan dengan pria kaya. Namun, di saat Amir tenggelam dan hampir kehilangan nyawanya, ia justru membangkitkan [Sistem Check-in Memancing] yang akan mengubah jalan hidupnya yang menyedihkan menjadi seorang legenda yang bergelimang harta dan kekuatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Wanita itu menjelaskan dengan ramah sambil menunjuk daftar harga di atas meja.
Amir mengangguk dan menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan.
Sisa uang tunai di sakunya sekarang hanya tinggal sekitar tiga ratus ribu rupiah saja.
"Ini tiketnya, Kakak mendapat Lapak nomor tujuh di sebelah timur kolam."
"Semoga beruntung dan mendapatkan ikan maskot kami hari ini."
Amir menerima tiket itu beserta sebungkus pelet berwarna coklat yang terlihat sangat biasa.
Ia berjalan menyusuri pinggiran kolam menuju lapak nomor tujuh yang ditunjuk oleh resepsionis.
Sesampainya di sana, ia meletakkan kotak pancing tuanya dan joran bambu hitamnya di atas meja kecil.
Lapak di sebelahnya, yaitu nomor delapan, sudah diisi oleh seorang pria berusia awal tiga puluhan.
Pria itu memakai kacamata hitam mahal, kaos polo berkerah, dan sebuah jam tangan emas yang menyilaukan mata.
Di depannya terdapat tas pancing besar yang berisi tiga buah joran berbahan karbon fiber kelas atas.
Pria itu melirik ke arah Amir dan kotak pancing tuanya dengan tatapan meremehkan.
"Hei anak muda, kau yakin tidak salah tempat masuk?"
Pria berkacamata hitam itu tiba-tiba membuka suara dengan nada yang sangat sombong.
Amir yang sedang merakit jorannya menoleh pelan ke arah pria tersebut.
"Maksud Paman apa ya, saya sudah bayar tiket resmi di meja depan tadi."
Amir membalas dengan santai tanpa terpancing emosi sedikit pun.
Pria itu mendengus sinis dan menunjuk ke arah joran bambu milik Amir menggunakan dagunya.
"Namaku Bagas, dan asal kau tahu, ini adalah kolam elit."
"Ikan Lele dan Patin di sini beratnya bisa mencapai belasan kilogram per ekornya."
"Joran bambu murahan dan senar nilon tipismu itu pasti akan langsung hancur berkeping-keping di tarikan pertama."
Bagas tertawa mengejek melihat peralatan Amir yang memang terlihat sangat usang dibandingkan miliknya.
"Kau hanya membuang uang dua ratus ribu rupiahmu secara sia-sia, anak muda."
Amir tersenyum tipis mendengar ocehan pria bernama Bagas itu.
Ia sudah terlalu kebal dengan hinaan selama tiga tahun menjadi menantu sampah di rumah mertuanya.
"Terima kasih atas perhatiannya, Paman Bagas."
"Tapi memancing itu soal insting dan keberuntungan, bukan sekadar memamerkan alat mahal."
"Lagipula, kalau joran saya patah, itu urusan saya dan uang saya sendiri."
Amir menjawab dengan tenang namun kata-katanya sangat tajam membalikkan sindiran Bagas.
Wajah Bagas sedikit memerah mendengar balasan berani dari pemuda yang terlihat tidak punya uang itu.
"Terserah kau saja dasar keras kepala."
"Nanti kalau kau menangis karena senarmu putus terus, jangan minta umpan atau pinjam alat padaku."
Bagas kembali fokus pada pelampungnya di tengah kolam sambil menggerutu kesal.
Amir tidak mempedulikan Bagas lagi dan memilih untuk duduk santai di kursinya.
"Tempat ini sudah cukup bagus untuk menguji fitur harian Sistem."
"Sistem, lakukan Check-in di lokasi ini sekarang juga."
Amir memberikan perintah mutlak di dalam pikirannya.
Panel biru transparan segera muncul dan berkedip dengan cepat.
[Ding!]
[Proses Check-in sedang berlangsung, menganalisis kualitas lokasi pemancingan]
[Analisis selesai. Lokasi: Kolam Galatama Premium]
[Selamat, Tuan berhasil melakukan Check-in harian pertama]
[Mendapatkan Hadiah: Resep Umpan Pelet Dewa Tingkat Menengah dan 200 Poin Sistem]
[Semua pengetahuan tentang Resep Umpan Pelet Dewa telah disalurkan langsung ke dalam ingatan Tuan]
Seketika itu juga, Amir merasakan kepalanya sedikit berdenyut.
Berbagai macam informasi tentang bahan-bahan khusus, takaran air, dan teknik pengadukan umpan masuk ke dalam otaknya.
Informasi itu tercetak sangat jelas seolah ia sudah menjadi pembuat umpan profesional selama puluhan tahun.
"Luar biasa, resep umpan ini sangat detail dan bahan dasarnya ternyata menggunakan pelet biasa yang kuterima tadi."
Amir bergumam kegirangan di dalam hati.
"Aku hanya perlu menambahkan sedikit air dari kolam ini dan beberapa tetes minyak khusus."
"Tunggu, aku tidak punya minyak khusus itu, apakah Sistem menjualnya?"
Amir segera membuka Toko Sistem di panel birunya.
Benar saja, di bagian bahan umpan, terdapat sebotol kecil Minyak Ekstrak Cacing Emas seharga 50 Poin.
"Sistem, beli satu botol Minyak Ekstrak Cacing Emas."
[Terkonfirmasi, mengurangi 50 Poin. Sisa Poin Tuan adalah 650 Poin]
Cring.
Sebuah botol kaca kecil seukuran ibu jari muncul di dalam saku celana kargo Amir tanpa diketahui oleh siapa pun.
Amir segera mengambil baskom kecil dari tasnya dan menuangkan pelet gratisan dari resepsionis tadi.
Ia menimba sedikit air kolam dan mencampurkannya ke dalam pelet tersebut.
Lalu, dengan sangat hati-hati, ia meneteskan tiga tetes cairan kental berwarna keemasan dari botol kecil itu.
Wush!
Seketika itu juga, aroma harum yang sangat aneh namun sangat memikat menguar dari dalam baskom.
Aromanya seperti campuran antara amis darah segar dan manisnya madu hutan.
Amir mulai mengaduk adonan pelet itu menggunakan tangannya dengan teknik putaran yang ada di kepalanya.
Plak plak plak.
Suara adonan pelet yang dibanting pelan ke dasar baskom menarik perhatian Bagas di lapak sebelah.
Bagas menoleh dan mengernyitkan hidungnya mencium aroma umpan Amir.
"Hei anak muda, bau apa itu yang kau campurkan ke dalam peletmu?"
"Kau jangan sembarangan pakai bahan kimia beracun di kolam ini ya, nanti ikan-ikannya pada mati!"
Bagas menuduh sembarangan karena ia merasa tersaingi oleh aroma umpan yang luar biasa itu.
Umpan mahalnya yang terbuat dari esens salmon impor saja kalah harum dari umpan buatan Amir.
"Tenang saja Paman, ini cuma resep rahasia peninggalan kakek saya."
"Tidak ada bahan kimia berbahaya di dalamnya, seratus persen alami."
Amir membalas santai sambil terus membulatkan adonan pelet di telapak tangannya.
Ia tidak mungkin berkata jujur bahwa itu adalah umpan dari sistem magis.
Bagas mendecih kesal dan kembali membuang muka.
"Paling juga cuma dicampur terasi busuk biar bau."
"Lihat saja nanti, ikan di sini terlalu pintar untuk memakan umpan menjijikkan seperti itu."
Amir tidak merespon lagi.
Ia mengambil Kail Keberuntungan Tingkat Rendah dari inventarisnya dan memasangkannya ke ujung senar.
Kail itu bersinar redup namun tidak bisa dilihat oleh mata telanjang orang biasa.
Amir menempelkan gumpalan Umpan Pelet Dewa sebesar bola kelereng menutupi kail perak tersebut.
"Mari kita lihat seberapa ganas ikan di kolam elit ini merespon Umpan Dewa buatanku."
Amir berdiri di tepi lapaknya dan mengayunkan joran bambunya ke belakang.
Syuut!
Plop.
Lemparan yang sangat sempurna menempatkan pelampung Amir tepat di titik tengah kolam yang paling dalam.
Riakan air kecil menyebar di sekitar pelampungnya.
Kini, pertarungan sesungguhnya baru saja akan dimulai.