Bagi Cinta (24 tahun), moralitas tidak ada harganya jika dibandingkan dengan uang. Menggunakan paras cantik dan tubuh indahnya, penipu ulung ini selalu berhasil meloloskan diri setelah mengeruk harta korbannya.
Hingga suatu hari, sebuah tawaran senilai 10 Miliar Rupiah datang dari Nyonya Valen, seorang wanita kalangan elit. Misinya terdengar mudah: goda Tuan Maxim, jadilah selingkuhannya, dan buat pria itu setuju untuk bercerai.
Cinta mengira ini hanyalah pekerjaan biasa di mana dia yang memegang kendali penuh sebagai pemburu. Namun, dia keliru. Begitu terjebak di dalam mansion mewah Maxim, Cinta baru menyadari bahwa dia bukan sedang memburu, melainkan sedang masuk ke dalam sangkar emas. Nyonya Valen tidak sedang menyewanya, melainkan menumbalkannya untuk melepaskan diri dari jeratan seorang pria posesif yang sangat berbahaya.
Ketika semua jalan keluar telah tertutup, akankah Cinta berhasil meloloskan diri, atau justru terbakar oleh api permainan yang dia nyalakan sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERMAIN API DENGAN CINTA BAB 17_BATASAN HASRAT YANG DI BUAT
BERMAIN API DENGAN CINTA
BAB 17_BATASAN HASRAT YANG DI BUAT
Keheningan kembali merayap di dalam ruangan luas itu, menyisakan suara deru napas mereka yang masih saling memburu. Pergelangan tangan Cinta masih terkunci rapat di bawah cengkeraman tangan kekar Maxim, tepat di atas dadanya yang bidang.
Tatapan mata Cinta sudah sepenuhnya sayu, sayap gairah yang sempat melesat tinggi menyisakan binar yang begitu memikat di sepasang manik matanya.
Cinta mengerutkan alisnya samar, menatap bingung pada rahang tegas Maxim yang mengeras kencang. Mengapa pria ini mendadak menarik rem di saat benteng pertahanannya jelas-jelas sudah hancur lebur?
"Kenapa berhenti?" tanya Cinta polos, suaranya terdengar serak, mendayu, dan sarat akan kekecewaan yang manis.
Dia sengaja mencondongkan tubuh rampingnya sedikit lebih dekat, membiarkan dadanya bergesekan samar dengan dada liat Maxim yang terbuka.
"Bukankah kamu juga menginginkanku, Tuan Maxim?"
Pertanyaan yang keluar dengan nada begitu polos itu menghantam ego Maxim laksana gada besi.
Sepasang mata hitam sang CEO menggelap total, menatap lekat-lekat pada bibir merah Cinta yang tampak sedikit bengkak dan basah akibat lumatan brutalnya beberapa saat lalu. Jantungnya berdentang begitu keras hingga terasa menyakitkan di dada.
Benar. Aku menginginkanmu. Aku sangat menginginkanmu sampai rasanya mau gila, Cinta, jerit batin Maxim penuh frustrasi.
Namun, getaran di wajah Cinta justru menyalakan alarm bahaya di otak Maxim. Pria berusia dua puluh seis tahun itu menyadari satu hal yang mengerikan:
jika dia melanjutkan tindakan ini sekarang, dia tidak hanya akan kehilangan wewenangnya sebagai bos di kantor ini, tetapi dia juga akan menyerahkan seluruh kendali dirinya kepada wanita di hadapannya.
Cinta akan tahu betapa besarnya kuasa pesona wanita itu atas dirinya, dan Maxim menolak keras menjadi pihak yang dikendalikan oleh umpan sensual semata.
Dengan sisa kewarasan yang dia kumpulkan mati-matian dari balik dadanya yang memburu, Maxim memejamkan matanya selama satu detik penuh.
Saat dia membukanya kembali, kilat gairah pekat itu telah dia tekan dalam-dalam, digantikan oleh dinding es yang kembali membeku, kokoh, dan tak tersentuh.
Perlahan namun pasti, Maxim melepaskan cengkeraman tangannya di pergelangan tangan Cinta. Dia mengambil langkah mundur, menjauhkan tubuh tegapnya dari kehangatan tubuh Cinta yang memabukkan.
"Saya menginginkan sekretaris yang profesional, Nona Cinta. Bukan wanita yang tidak bisa menahan dirinya di dalam ruang kerja formal," ucap Maxim dengan suara beratnya yang mendadak kembali menjadi sangat datar, dingin, dan sedingin es, seolah-olah kejadian panas beberapa detik lalu murni hanyalah sebuah ilusi.
Pria itu berbalik membelakangi Cinta, melangkah dengan tenang menuju sudut ruangan tempat jas mahalnya tergeletak mengenaskan di lantai marmer.
Dia memungut jas tersebut, mengibaskan debunya dengan gerakan elegan yang sangat terkendali, lalu menyampirkannya kembali di sandaran kursi eksekutifnya.
Tangan kokohnya bergerak dengan teliti, mengancingkan kembali tiga kancing kemeja abu-abu gelapnya yang sempat dilepas paksa oleh jemari lentik Cinta tadi.
Cinta terpaku di tempatnya berdiri, menatap punggung tegap Maxim dengan rasa kesal dan tidak percaya yang mendadak membakar dadanya. Ego pemburunya merasa terhantam telak.
Pria gila ini baru saja menciumnya dengan begitu brutal dan posesif, tapi sekarang dia bertingkah seolah-olah Cintalah satu-satunya pihak yang bertindak murahan dan tidak bisa menahan diri!
"Bawa barang-barangmu dan duduk di mejamu yang baru," perintah Maxim mutlak tanpa berbalik, suaranya menggema dingin di dalam ruangan tertutup itu.
"Selesaikan seluruh sisa laporan pekerjaanmu hari ini tanpa ada satu pun alasan lagi. Batasanmu di dalam ruangan ini murni hanya sebagai sekretaris pribadi, Nona Cinta."
Cinta mengepalkan kedua tangan lentiknya di samping tubuh, menahan jengkel yang teramat sangat. Dia merapikan kembali kemeja sutra putih gadingnya yang sedikit berantakan dengan gerakan kasar.
Jual mahal sekali kamu, Tuan Maxim, batin Cinta menggeram penuh dendam, menatap tajam ke arah kursi kebesaran sang bos sebelum akhirnya mengambil kotak barang pribadinya. Kamu boleh memasang kembali topeng esmu hari ini.
Tapi ciuman tadi sudah membuktikan kalau kamu sudah jatuh ke dalam perangkapku. Kita lihat saja, seberapa lama kamu bisa terus bertahan di dalam sangkar yang kamu buat sendiri ini.
Sepanjang sore hari itu, suasana di dalam ruangan eksekutif tersebut berubah menjadi sangat canggung dan tegang.
Hanya ada suara ketukan jemari Cinta di atas papan ketik komputer dan gesekan kertas laporan yang sesekali dibalik oleh Maxim.
Jarak meja baru Cinta yang hanya beberapa meter dari meja kebesaran sang CEO membuat atmosfer terasa semakin mencekik.
Cinta duduk di kursinya dengan punggung tegak, matanya menatap tajam ke arah layar monitor dengan dahi berkerut dalam.
Di dalam hatinya, dia masih merasa sangat dongkol. Setiap kali dia melirik ke arah Maxim yang sedang membaca berkas dengan wajah sekaku pualam, rasa jengkel di dadanya kembali menyengat.
Cinta merutuki kemunafikan pria itu. Bagaimana bisa seorang pria yang hampir menelanjanginya beberapa jam lalu kini bisa bersikap seolah-olah mereka adalah orang asing yang tidak pernah bersentuhan?
Maxim sendiri bukannya tidak terpengaruh. Di balik tumpukan dokumen bisnisnya, sepasang mata hitam sang CEO sesekali melirik ke arah meja kerja baru sekretarisnya.
maxim bisa merasakan gelombang kekesalan dan rasa dongkol yang memancar kuat dari tubuh Cinta. Namun, Maxim sengaja membiarkannya.
Dia justru menikmati ketegangan ini, membiarkan Cinta tenggelam dalam emosinya sendiri sembari memastikan wanita itu tetap berada di bawah pengawasannya yang ketat, terkurung di dalam ruangan yang sama sepanjang hari.