NovelToon NovelToon
Petualangan Mayanza

Petualangan Mayanza

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Akademi Sihir
Popularitas:677
Nilai: 5
Nama Author: Novita Tory

Berawal dari membaca buku yang ditemukan di lemari tua, Mayanza mempunyai kekuatan merapal mantra.
Kesalahan mengambil bunga teratai emas..
Menentukan nasib di Kehidupan Mayanza

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novita Tory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengalihan Serangan

Aku duduk di cafe Rumah Sakit mempelajari beberapa data.

Meminum Es Kopiku sambil serius menatap layar tab.

Aku merasakan ada angin berhembus membuat bulu kudukku merinding.

Perasaan tidak enak,

Aku segera masuk ke mobil.

Menuju ke rumah, kulihat berjejer pemadam melaju ditengah kabut asap.

Handpone ku berbunyi.

“Nona Mayanza…Rumah di kepung api” telepon dari pelayan.

Aku berusaha melaju namun kecepatan mobil di tengah kabut asap terbatas.

Aku mencoba merapalkan mantra di pikiranku, tulisan-tulisan kuno bermunculan membentuk lingkaran dan bunga teratai membentuk hologram, mataku bercahaya, aku lebih dulu sampai dari pemadam kebakaran.

Aku berlari ke halaman rumah.

Pohon pinus yang kering mulai dilalap api, Pelayan, security dan tukang kebun menyiram dengan air selang, asap dimana-mana angin bertiup kencang karena tekanan udara.

Aku berdiri berputar melihat sekitar, pemadam berdatangan memadamkan api, angin yang begitu kuat dan tekanan udara membuat terbakar semakin meluas.

Pelayan panik, “Apakah kita mengeluarkan barang-barang dari rumah nona mayanza" tanyanya.

Aku akhirnya hanya bisa duduk di lantai teras depan rumah melihat kobaran api, tiba-tiba perasaan itu muncul lagi.

Aku mengetuk tanah, merapalkan mantra, halaman rumah terlindungi dengan tudung berwarna emas, begitu api merambat ke halaman api itu mati dengan sendirinya.

Aku duduk tenang, angin menjauh.

Tudung emas ini hanya aku yang dapat melihat.

Pemadaman selesai, rumah terlindungi.

Ku ketuk tanganku ke tanah, tudung emas transparan pelindung itu menghilang.

Asap menjauh dari area rumah.

Akhirnya aku duduk di bangku depan, melihat samar-samar setelah kepergian mobil pemadam ada seorang pria berwajah pucat kebiruan berjalan di tengah kabut asap dengan menyeret pedangnya menuju kearah rumah menggunakan jubah hitam di dadanya ada motif bunga teratai emas.

Aku berlari masuk rumah, menaiki tangga,mengambil pedang ku yang sudah kumantrai sebelumnya.

“Brak…kudengar suara keras diluar halaman” kuintip dari jendela, tidak ada seorangpun.

Tiba-tiba seorang pria melompat kearahku dari jendela, jubah hitam wajah kebiruan.

Raja Yuko VII.

Aku terbangun dari mimpi.

Tubuhku basah keringat.

Terasa sangat nyata.

**

Aku menuju Kolam Teratai Emas, langit biru cerah, bunga-bunga teratai itu tumbuh dengan baik, air mancur nya masih mengalir walaupun lama tidak hujan.

Aku menaiki pelana kuda, kupandangi dua anaconda diatas melingkar di pohon besar,

Mereka penjaga hutan ini, selama aku tidak menggangu.

Mereka juga tidak mengganguku.

Aku berkuda menuju istana menikmati pemandangan Negeri Zink.

Anggaplah liburan setelah berkerja, menghirup udara sejuk di negeri zink yang tidak berkabut asap.

Gerbang istana dibuka, mereka mengenaliku dengan baik.

Aku mengikat kudaku di Istana Timur, berjalan menuju Aula Istana.

Tapi pengawal menuntunku ke ruang baca, disana ada Raja Yuko dan Swanzi.

“Akhirnya kau datang” kata Raja Yuko.

“Aku datang untuk menyelesaikan tugas” kataku.

“Baiklah, siang ini kita berangkat” kata Raja Yuko.

**

Kudaku kutinggalkan, aku ikut naik kereta.

Kulihat wajah Swanzi kecewa karena tidak diajak pergi bersama.

Kami meninggalkan istana,

“Kenapa tidak mengajak Swanzi ikut?” tanyaku.

“Berbahaya baginya” jawab Raja Yuko.

Aku mengangguk-angguk.

“Kenapa bertanya?” tanya Raja Yuko

“Biasanya dia bisa membantu” jawabku.

“Sepertinya amarahmu belum reda, bukankah prajurit sudah menjelaskan kejadiannya” kata Raja Yuko.

Rupanya dia tau aku dan Putri Rena yang memanggil prajurit.

“Aku tau, sepertinya kalian berniat membiarkanku mati” kataku

“Bukankah kau mempunyai ilmu yang melebihi aku, kenapa aku harus takut” kata Raja Yuko.

Aku menarik napas panjang..

“Kau benar, benar-benar…” kataku

“Benar….” Kata Raja Yuko menatapku di sampingnya.

“Aku benar-benar mabuk berkereta” kataku, aku keluar duduk di depan disamping kusir.

Kami tiba di sebuah lembah…

Rumput hijau terhampar, bunga berwana putih liar terlihat cantik tertiup angin.

“Apa yang kau lihat hanya ilusi” kata Raja Yuko memintaku berhati-hati.

Aku mengedipkan mata ternyata kami berada di padang yang tandus, kering dan panas.

Aku terkejut Pengawal menyerangku, aku mengeluarkan pedang dan menangkisnya, melentikan jariku di telinganya membuatnya tersadar.

Perwira meniupkan terompet nyaring, berlarian mayat hidup keluar dari sarangnya menyerang,

Raja Yuko di depan menebas kepala mereka dengan pedangnya.

Aku bertahan dengan pedang baja, akhirnya bisa menebas dua.

Aku berlari menghindari gigitan, saat berdiri di atas batu kakiku tergelincir, Raja Yuko menangkapku.

Hampir saja jatuh ke jurang.

Aku berbalik melihat sebuah kabut hitam datang menyerang di belakang Raja Yuko, Ku hunuskan pedangku ke bayangan itu.

Raja Yuko berbalik,

“Swanzi….”

Dia memeluk Swanzi yang terjatuh.

Aku mematung terkejut dengan apa yang terjadi.

Aku menusuk Swanzi.

Raja Yuko menarik kerah bajuku.

“Kenapa tidak waspada” katanya.

Menyeretku jatuh ke lantai, pengawal berkumpul.

“Sembuhkan dia!” bentaknya padaku.

Raja Yuko sepanik itu.

Aku mendongak memandangnya marah.

Kenapa aku disalahkan padahal aku menyelamatkannya.

Swanzi terbatuk darah,

Raja Yuko menyandarkan Swanzi di pangkuannya.

Menenangkan Swanzi,

Aku mencabut pedangku dari bahu Swanzi.

“Ah….” Kata Swanzi kesakitan.

Aku mengambil air menyiramkannya di luka Swanzi agar bersih dan menekan lukanya dengan saputangan Raja Yuko.

Pengawal berkuda datang buru-buru, “Kerajaan di serang”

Pengawal berbalik cepat ke Istana, Swanzi menekan tanganku ke bahunya, lebih terasa mencakar tanganku. Menatapku dengan kebencian.

Aku merapalkan mantra, pendarahannya berkurang.

Dia duduk di kereta menyandarkan kepala di bahu Raja Yuko yang cemas.

Kereta melaju dengan cepat menuju istana,

“Obati lukanya” kata Raja Yuko

“Aku tidak membawa ramuan disini” kataku

"Kapan dia datang? " kataku

Tapi Raja Yuko tidak mengindahkan perkataanku.

“Petik teratainya kehutan” katanya lagi.

“Lukanya tidak seberapa, dibasahi air sumur suci pun akan sembuh” kataku menjawab.

Bukannya dia yang melarang sedikit-sedikit memetik, teratai yang dulu saja dihilangkan Swanzi aku yang menanggungnya.

“Sakit..” kata Swanzi manja.

Rasanya muak melihat kepura-puraan ini, kami bergerak keluar istana hanya pengalihan serangan musuh.

Kereta tiba di istana angin ribut tak terkendali mengobrak-abrik bangunan istana.

“Mayanza bawa Swanzi pergi” perintah Raja Yuko meminta aku dan pengawal mengantar Swanzi ke kediamannya.

Angin kencang membuat tubuhku terasa hampir terlempar, berusaha bergerak.

Pengawal menyendok air suci menyerahkan padaku, kurapalkan mantra menyiram luka itu dengan air sumur suci.

Swanzi merintih dan lukanya sembuh.

Dia menahan tanganku, “kenapa tidak dengan teratai”, Katanya dengan wajah marah.

“Sudah kubilang, lukamu tidak seberapa”, aku tersenyum dan berlari meninggalkannya.

Kenapa memaksa menyembuhkan dengan teratai emas.

Rasanya ingin kujahit manual saja.

Membantu mengendalikan angin ribut di tengah lapangan istana.

Ternyata terkendali, pedang Raja Yuko menebas angin dan kabut itu pergi namun apa yang kulihat sekarang, Pria berwajah kebiruan berjalan dengan menyeret pedangnya muncul dari kabut.

“Arrrgh....” Pria itu menusuk Raja Yuko di perutnya. Raja Yuko tidak waspada.

Pedangnya menembus tubuh Raja Yuko.

Dari samping ku berlari seorang wanita menerjang Pria yang menusuk Raja Yuko, terhempas jatuh ke tanah.

Aku datang dengan pedangku, berlari..

“Prang…” berhasil memotong pedang yang terhunus di perut Raja Yuko,

Leherku di cengkram,

“Kita bertemu lagi Mayanza” katanya dengan suara serak.

Raja Yuko VII menatapku tersenyum dengan wajahnya yang putih kebiruan, urat-urat wajahnya biru.

Dia sebenarnya sudah mati.

Aku menarik pisau bedahku di persembunyian, dengan cepat kutebas pisau kecil tajam itu di lehernya, darah hitam muncrat ke pakaian ku yang berwarna emas.

Cengkramannya melemah, dia mundur menyentuh lehernya, aku merapalkan mantra mengeluarkan bunga teratai dari telapak tanganku bunga teratai emas berbentuk hologram, kudorong dengan telapak tanganku menuju tubuhnya yang ada dihadapanku.

Swanzi tiba-tiba menyeringai melompat melindungi Raja Yuko VII.

Tubuhnya terlempar bersama Raja Yuko VII dan lenyap diantara kabut hitam.

Lapangan istana menjadi terang, Raja Yuko setengah terbaring di tanah.

Aku jatuh dan berlutut, energiku terserap habis.

Putri Rena dan Permaisuri berlari mendekati Raja Yuko.

Menahan tubuhnya.

Pedang yang menembus perutnya hilang menjadi abu tapi perutnya berdarah banyak.

Raja Yuko dibawa ke kediamannya di Istana Selatan.

Terbaring lemah,

Ibunya mengenggam tangannya.

Prajurit diutus memetik satu buah teratai emas.

Aku meminta prajurit membuka baju atas Raja Yuko, perutnya terkoyak.

Aku menyumbatnya dengan kain agar tidak pendarahan.

“Kau harus menyembuhkanku” katanya pelan tapi masih sempat mengancam dengan tatapan matanya.

Pengawal yang diutus mengambil bunga datang, kuminta dayang menumbuk bunga teratai, beras dan mencampurnya dengan air sumur suci.

Aku mulai mengolesnya dengan merapalkan mantra,

Luka perut Raja Yuko sangat besar dan mengeluarkan banyak darah.

Teratai hanya menutupi luka tapi tidak bisa menyembuhkan dengan sempurna.

Aku berpikir sebelumnya aku pernah mengalami ini, di Istana Nebula, bedanya perutku yang tertusuk panah.

Luka luar sembuh dan luka dalam belum sepenuhnya sembuh.

Aku akan sedikit bereksperimen.

“Baginda, bisakah aku mengobati Raja Yuko sendiri” kataku memandang Permaisuri, Ibunda Raja disampingku yang memegang tangan Raja Yuko.

Permaisuri dan Putri Rena bersedia keluar bersama dayang dan pengawal berjaga diluar.

Aku menggoreskan sedikit luka pada jariku meneteskan pada luka Raja Yuko.

Tanganku gemetar untuk mencoba meneteskan darah lebih banyak dengan niat penyembuhan.

“Jangan tertidur” kataku Raja Yuko hampir menutup mata.

Tiba-tiba dia mencengkram tanganku mengerang keras, “Arrrrrrghhhhh!!” kesakitan, tubuhnya bereaksi, kejang.

Permaisuri, Putri Rena dan Pengawal mendobrak masuk karena suara erangan Raja Yuko.

Luka perutnya hilang tak berbekas.

Tanganku erat di genggam.

**

𝘽𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙗𝙪𝙣𝙜…

1
Tory Ambay Satu
Mantap👍👍
Tory Ambay Satu
👍👍
Tory Ambay Satu
Semakin seru ceritanya👍
Novita Tory: terima kasih, dukung dan baca juga ceritaku yang lainnya ya🤭
total 1 replies
Tory Ambay Satu
Seru banget ya, Raja Yuko😍
Novita Tory: /Chuckle/🙏
total 1 replies
Novita Tory
🤭Aku memikirkan nasib ayam berwarna putih😅🥲
Tory Ambay Satu
Bagus banget alur ceritanya 👍
Novita Tory: Makasih...
total 1 replies
Tory Ambay Satu
Mantapp banget ceritanya👍
Novita Tory: makasih😊selamat membaca..
baca juga karyaku yang lain ya...
total 1 replies
Novita Tory
Lanjut untuk episode selanjutnya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!