NovelToon NovelToon
Babu Yang Dicintai

Babu Yang Dicintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Bad Boy
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

“Dia cuma budak. Dia harus ngerasain gimana susahnya hidup kalau nggak nurut sama gue.”~Reja Alfarizi Bagaskara

Celin Amara Kusuma tak pernah menyangka utang ayahnya akan menyeretnya ke dalam keluarga Bagaskara—bahkan membuat hidupnya terikat pada Reja, pemuda arogan yang menganggapnya hanya sebagai jaminan.

“Nggak akan ada cinta di sini, Celin. Cuma ada gue sebagai tuan lo.”

Bagi Reja, Celin adalah hukuman atas kebebasan yang dirampas ayahnya. Namun semakin ia berusaha menghancurkan gadis itu, semakin sulit ia mengabaikan keberanian dan keteguhan Celin.

Ketika kebencian perlahan berubah menjadi rasa yang tak bisa dijelaskan, siapa sebenarnya yang akan menjadi babu dari perasaan mereka sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Celin berdiri mematung di ruang tamu yang berantakan. Napasnya memburu, air mata kemarahan menggenang di pelupuk matanya namun ia paksa untuk tidak jatuh.

Ia memandangi tangannya yang tadi disiram kopi, kini kembali terasa berdenyut nyeri karena ketegangan.

"Berteriaklah sepuas lo, Reja," batin Celin sambil mengepalkan tangan. "Semakin lo marah, semakin kelihatan kalau lo sebenarnya takut sama gue."

Celin berjalan perlahan menuju kamar bawahnya. Ia tidak akan menangis malam ini. Ia akan menyimpan tenaganya, karena ia tahu, besok pagi adalah babak baru dalam neraka yang ia sebut pernikahan.

Ia mengambil ponselnya, menghapus pesan yang baru saja masuk dari ayahnya yang menanyakan uang tambahan, lalu mematikan lampu dengan sisa kekuatan yang ia miliki.

Malam itu, setelah Adrian pulang dan setelah ketegangan dirumah itu berakhir ponsel Celin dan Reja berdering secara bersamaan.

Sebuah panggilan grup dari Adrian yang ingin memastikan instruksinya didengar dengan jelas oleh keduanya.

"Celin, Reja, dengarkan Papa," suara Adrian terdengar berat dan tidak menerima bantahan melalui pengeras suara. "Kejadian malam ini tidak boleh terulang lagi. Papa sangat kecewa melihat Celin pulang larut malam sendirian dengan angkutan umum, sementara Reja asyik dengan dunianya sendiri."

Adrian terdiam sejenak sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih menekan.

"Mulai besok pagi, Papa perintahkan kalian berangkat dan pulang sekolah bersama-sama. Reja, kamu adalah suaminya. Tugasmu adalah menjaga keselamatan istri kamu, bukan membiarkannya terlunta-lunta di jalanan. Kalau Papa dengar Celin pulang sendiri lagi, motor sport itu akan Papa tarik dan semua fasilitas kamu Papa bekukan. Mengerti?"

Reja, yang sedang berdiri di kamarnya, hanya bisa mengepalkan tangan sambil menjawab singkat dengan nada malas, "Iya, Pa. Reja ngerti."

Kemudian, nada bicara Adrian melunak saat berbicara kepada Celin. "Dan untuk kamu, Celin... Papa mohon sekali lagi, berhentilah bekerja di cafe itu. Papa tahu kamu gadis yang mandiri dan berprestasi, tapi Papa tidak ingin kelelahan fisik kamu mengganggu kesehatan dan fokus belajarmu. Kamu adalah masa depan keluarga ini. Semua kebutuhanmu akan Papa penuhi berkali-kali lipat dari gaji cafe itu."

Celin terdiam, matanya menatap perban di tangannya. "Celin mengerti, Pa. Celin akan mempertimbangkannya baik-baik."

"Bagus. Pertimbangkanlah dengan bijak, Celin. Papa ingin yang terbaik untuk kamu," ucap Adrian sebelum menutup sambungan telepon.

Setelah panggilan berakhir, Reja membayangkan Celin dengan tatapan benci sebelum membanting pintu kamarnya. Celin duduk di tepi tempat tidur sambil menatap amplop berisi uang gaji terakhirnya.

Tawaran Adrian untuk berhenti bekerja sangat menggoda. Itu artinya ia tidak perlu lagi menanggung lelah fisik dan hinaan Reja karena bekerja sebagai pelayan.

Namun, pikirannya berputar:

Jika ia berhenti bekerja, ia tidak akan punya uang rahasia untuk ayahnya. Meminta uang kepada Adrian atau Reja untuk diberikan kepada ayahnya yang pemabuk adalah hal yang mustahil tanpa merendahkan harga dirinya lebih jauh.

Pekerjaan di cafe Kirei adalah satu-satunya koneksinya dengan dunia luar dan sahabatnya. Tanpa pekerjaan itu, ia akan sepenuhnya terkukung dan bergantung pada belas kasihan keluarga Bagaskara.

Jika ia terus bekerja, ia terang-terangan melanggar keinginan Adrian dan memancing kemarahan Reja yang semakin membabi buta.

Celin menghela napas panjang. Ia berada di persimpangan jalan. Satu sisi menawarkan kenyamanan materi tapi ketergantungan total, sisi lain menawarkan kemandirian tapi penuh dengan luka dan risiko.

"Kalau gue berhenti kerja, Reja akan merasa menang karena gue bergantung sama dia. Tapi kalau gue tetap kerja... Papa akan kecewa," gumamnya.

Malam itu, Celin tertidur dengan satu pikiran yang bulat, ia harus menemukan cara agar tetap memiliki uang sendiri tanpa harus membahayakan posisinya di depan Adrian.

Ia mulai mempertimbangkan untuk mencari cara lain yang lebih pintar untuk memanfaatkan kecerdasannya, sesuai dengan julukan Gadis Berprestasi yang disematkan padanya.

Pagi harinya, suasana rumah terasa seperti medan perang yang baru saja mendingin. Celin terbangun dengan tubuh yang remuk. Ia melihat ke punggung tangannya; luka lepuh itu mulai mengering, namun rasa perihnya berpindah ke dadanya setiap kali ia mengingat teriakan Reja semalam.

Ia keluar dari kamar bawah dan mendapati ruang tamu masih berantakan. Meja kopi yang ditendang Reja masih bergeser dari tempatnya, saksi bisu amarah pria itu.

Celin menghela napas, ia tidak menyentuh meja itu. Ia membiarkannya tetap di sana agar Reja melihat sendiri sisa kekacauannya.

Celin sedang menyeduh teh saat Reja turun dengan seragam sekolah yang berantakan. Wajahnya tampak kusut, sisa-sisa amarah semalam masih membekas di garis rahangnya yang kaku.

Ia melewati Celin tanpa kata, menuju kulkas untuk mengambil air dingin. "Gue mau lo bersihin ruang tamu sekarang," perintah Reja dengan suara serak, membelakangi Celin.

Celin tetap tenang, mengaduk tehnya perlahan. "Gue ada ujian jam pertama. Kalau lo mau rumah ini rapi sebelum Bi Ratna datang, lo tau kan tangan siapa yang kuat buat geser meja itu kembali?"

Reja berbalik, matanya berkilat tajam. Ia melangkah mendekati Celin, tangannya mengepal di samping tubuh. "Lo nantang gue lagi?"

Celin meletakkan sendok tehnya dengan denting yang halus. "Bukan nantang. Gue cuma bilang, gue nggak punya waktu buat jadi pelayan lo pagi ini. Papa pesen kita berangkat bareng, kan?"

Mendengar kata 'Papa', Reja terhenti. Giginya bergemeretak. Ia tahu ayahnya bisa saja menelepon sopir atau satpam kompleks untuk memastikan mereka berangkat bersama.

Dengan kasar, Reja menendang kaki meja kopi itu hingga kembali ke posisi semula dengan suara sered yang memekakkan telinga.

"Masuk ke mobil. Sekarang!" bentaknya.

Perjalanan menuju sekolah terasa begitu mencekam. Reja mengemudikan mobilnya dengan ugal-ugalan, sengaja menyalip kendaraan lain dengan kasar untuk menakuti Celin. Namun, Celin hanya menatap lurus ke depan, wajahnya sedatar es.

"Lo pikir dengan belain gue di depan Papa semalam, lo punya kartu as?" desis Reja sambil memutar kemudi dengan tajam.

"Gue nggak butuh kartu as buat ngadepin pengecut kayak lo," jawab Celin tenang.

Reja tertawa hambar, suara tawanya terdengar menyeramkan di dalam kabin mobil yang sempit. "Pengecut? Lo liat aja nanti. Gue denger cafe tempat lo kerja itu milik keluarga Kirei, kan? Sahabat tercinta lo?"

Bersambung....

1
Nelson Sihombing
semangat celin
araaself
lanjutttt
Alia Chans: siap kak🔥🔥
total 1 replies
Nelson Sihombing
cerita yang seru lagi nih....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!