“Jadi ini wanita yang akan menjadi istri ku?” Suara nya rendah penuh cemooh. “Ayah benar benar berhasil menemukan wanita yang paling membosankan untuk ku”
Dreven Orsley Dastan, pewaris keluarga Dastan, dikenal sebagai pria kasar, pengacau, sekaligus cassanova yang tak pernah serius pada wanita mana pun. Namun, sebuah kecelakaan membuatnya harus duduk di kursi roda—tanpa sedikit pun mengubah sifat liarnya.
Sampai akhirnya, sang ayah menjodohkannya dengan Elnara Sevana, gadis dingin dan cerdik yang terkenal mampu membungkam siapa pun dengan tatapan dan kata-katanya. Ia bukan wanita yang mudah dipermainkan. Setiap serangan lawan selalu dipatahkan sebelum sempat menjadi ancaman.
Elara diminta untuk melahirkan pewaris untuk keluarga Dastan , dan sebagai gantinya Saham perusahaan.
Elara terkekeh sinis, "Sepertinya tidak adil. Bagaimana jika kesepakatannya begini. Aku rubah putramu menjadi anak anjing penurut dan hadiahnya adalah perceraian untukku. Ini terdengar menguntungkan bagiku"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Elara terdiam sejenak lalu tersenyum, akhirnya dia merasa sedikit aman dan mempunyai tempat berlindung sekarang.
Hingga saat berada di mobil, Elara merasa aneh.
"Kita tak pergi ke rumah sakit?"
Raviel tersenyum tipis, "Biarkan anak itu diurus para medis, kau istirahat saja dirumah. Dan kenapa kau keluar rumah bukankah kau tahu saat ini banyak mata yang sedang mengintai?"
Elara menghela nafas, dia tak ingin menceritakan jika ini karena Dreven. Pria itu sudah melindunginya dari tembakan meskipun kakinya lumpuh, jadi tak mungkin dia membuatnya menanggung kesalahan ini.
Elara menatap lurus ke luar jendela, lalu menjawab, "ada sedikit urusan. Tapi mungkin ini hari sialku."
Raviel menghela nafas, "aku sudah membayar banyak untuk menempatkan aparat keamanan untuk menjagamu dan menangkap siapapun yang mencurigakan. Lebih baik saat ini kita ke mansion utama, sepertinya mansion yang lama tak terlalu aman."
Elara mengangguk, dia hanya butuh kurang dari satu tahun untuk berusia dua puluh lima tahun. Saat umurnya menginjak usia itu, siapapun tak akan berani mengincar nyawanya karena hukum yang berlaku di negara ini—warisan Astreo Group akan sepenuhnya menjadi miliknya tanpa bisa diganggu gugat.
"Ayah, aku percaya padamu," kata Elara dengan yakin dan mantap.
Raviel menoleh sekilas ke arah Elara, ada sesuatu dalam sorot matanya yang sulit diartikan—entah bangga, lega, atau justru sesuatu yang lebih dalam dari itu. Namun, pria itu hanya tersenyum kecil sebelum kembali fokus pada jalan di depannya.
"Aku akan memastikan kau tetap hidup hingga saat itu tiba," katanya, suaranya tegas dan penuh keyakinan.
Elara menggenggam tangannya sendiri di atas pangkuannya. Kata-kata Raviel seharusnya menenangkan, tapi entah kenapa, ia merasa seperti sedang berjalan di atas seutas tali tipis yang bisa putus kapan saja.
Mobil mereka melaju cepat, melewati jalanan kota sebelum akhirnya memasuki wilayah yang lebih tenang—jalan berbatu menuju mansion utama keluarga Dastan.
Begitu mobil berhenti di depan pintu besar yang dijaga ketat oleh beberapa pria bersenjata, Elara menghela napas pelan.
Ia turun dari mobil, menatap ke arah gedung megah itu. Ini akan menjadi perlindunganku... atau justru kandang yang mengurungku?
Raviel turun di sisi lain mobil, melirik ke arahnya. "Masuklah. Ini rumahmu sekarang."
Elara mengangguk, lalu melangkah masuk, tanpa tahu bahwa sejak saat ini, setiap langkahnya akan diawasi lebih ketat dari sebelumnya.
---
"Ada tiga peluru yang menancap ke tubuh tuan Dreven, tapi untungnya semua itu tak mengenai alat vitalnya," kata dokter pada Tony selaku asisten pria itu dan satu-satunya orang yang menunggunya sampai operasi selesai.
Begitu dokter mengatakan hal itu, Dreven yang telah selesai dioperasi dibawa ke ruang rawat inap dengan kursi roda khusus yang telah dimodifikasi. Tony hanya diam dan mengikuti kemana perawat membawa tubuh Dreven yang masih dalam pengaruh obat bius tersebut.
Beberapa jam berlalu, Dreven mulai sadar dan melihat Tony yang sedang duduk dengan tegap di sampingnya.
"Kau merusak pemandangan pertamaku saat sadar," gumamnya dengan kesal dari atas ranjang.
Namun, Tony tak tersinggung sama sekali.
"Dimana istriku?"
"Maksud anda nyonya Elara?"
Dreven melirik tajam ke arah Tony. "Kau pikir aku punya istri lain?"
Tony tersenyum kecil, terbiasa dengan sikap tajam majikannya. "Nyonya Elara ada di mansion utama. Tuan Raviel membawanya ke sana untuk perlindungan."
Dreven mencoba bangkit, tapi rasa nyeri di tubuhnya membuatnya mengerang pelan. Terlebih dengan kakinya yang lumpuh, dia tidak bisa bergerak bebas. Ia mengepalkan tangan, frustrasi dengan keadaan tubuhnya yang lemah.
"Berapa lama aku harus terjebak di tempat ini?" tanyanya dengan nada tidak sabar.
"Dokter bilang setidaknya dua minggu untuk pemulihan sebelum anda bisa bergerak bebas," jawab Tony dengan nada formalnya.
Dreven mendecak pelan. Dua minggu? Terlalu lama.
"Siapkan mobil, aku akan kembali ke mansion."
Tony terbelalak. "Tapi, Tuan—"
"Aku ingin dirawat istriku dibandingkan dengan batangan seperti kamu. Cepat bilang pada dokter."
Tony menghela napas panjang, menyadari bahwa membujuk Dreven untuk tetap di rumah sakit adalah hal yang mustahil.
"Tuan, jika anda memaksakan diri dan luka anda terbuka lagi, jangan salahkan saya," gumamnya sambil berdiri dan berjalan keluar untuk berbicara dengan dokter.
Dreven hanya menyeringai tipis. "Aku lebih memilih mati di tangan istriku daripada mati karena kebosanan di rumah sakit ini."
Beberapa menit kemudian, dokter masuk dengan ekspresi tak senang. "Tuan Dreven, anda baru saja menjalani operasi besar. Anda butuh istirahat total. Terlebih dengan kondisi kaki anda yang lumpuh, proses pemulihan akan lebih rumit."
"Aku bisa istirahat di mansion." Dreven menatap dokter dengan tegas, menunjukkan bahwa keputusannya sudah bulat.
Dokter mendesah. "Baiklah, tapi saya tidak bertanggung jawab jika terjadi komplikasi. Dan anda harus tetap menggunakan kursi roda sampai luka anda benar-benar sembuh."
Dreven hanya mengangguk puas. Ia tahu dirinya keras kepala, tapi itu bukan masalah. Yang lebih penting, dia harus segera menemui Elara.
Tak lama kemudian, Tony kembali dengan kursi roda khusus untuk Dreven. "Baiklah, tuan. Kita pulang."
Dreven tersenyum sinis. "Bagus. Sekarang antar aku ke istriku."
Dan saat berada di mobil, Dreven mulai bertanya, "kau sudah menyelidiki siapa yang menginginkan nyawa Elara?"
Tony menggeleng, "saya tak menemukan siapa yang melakukannya, tuan. Tapi saya rasa ini masih ada hubungannya dengan latar belakang nyonya."
Dreven menatap serius ke arah jalan. Pria-pria tadi seperti benar-benar menginginkan nyawa Elara.
"Apa karena itu dia tadi berpakaian sangat tertutup saat keluar?" gumamnya dengan penasaran lalu kembali menatap ke arah Tony dengan raut wajah serius.
"Sewa detektif mahal, aku ingin tahu latar belakang Elara yang sebenarnya! Ini benar-benar keterlaluan karena seseorang ingin membunuhnya."
Tony menatap Dreven dengan ragu. "Tuan, apakah benar ini waktu yang tepat untuk mencari tahu lebih dalam tentang latar belakang Nyonya Elara? Anda baru saja sembuh dari luka-luka serius dan saat ini nyonya juga sedang sangat tertekan. Terlebih anda tidak bisa bergerak bebas dengan kondisi kaki anda."
Dreven mengerutkan kening, matanya tetap tertuju pada jalan yang sepi di luar mobil. "Aku tak peduli. Jika ada yang berani mengincarnya, aku harus tahu siapa yang berada di balik itu. Elara bukan hanya istri, dia lebih dari itu—dan aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti dia."
Tony terkejut, masih tak terbiasa dengan perubahan yang terlalu signifikan dari Dreven.
"Tuan, Apa.. anda mulai mencintai nyonya?"
Tatapan Dreven masih fokus pada jalan dan tak menjawab, "Bukan urusanmu."
Bersambung...
🤭🤭🤣🤣🤣