perkenalkan namaku Jasmine. Usiaku 34 tahun. aku sudah menikah dan mempunyai dua orang anak yang berusia 7 tahun dan 4 tahun. Kegiatanku hanya seorang Ibu rumah tangga.
Suamiku bekerja sebagai PNS di kelurahan desa.
Simak kisahku yang begitu berat aku jalani . Hanya karena ingin mendapatkan surga dari ridho suamiku.
Tapi ternyata aku tak lebih hanya dijadikan seorang babu berkedok istri.
Simak kisah lengkapku ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirly Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mengambil kendali
Rasanya satu persatu jalan mulai terbuka di hadapanku. Namun masih ada satu hal yang harus kupastikan sebelum benar-benar menjemput Ibu. Aku menoleh kepada Mas Rama.
" O,iya, Mas. Satu lagi. Kalau untuk Ibu, boleh tidak aku membuat peraturan?" tanyaku kepada Mas Rama yang fokus mengemudi.
" Peraturan apa, yang?"
" Peraturannya tidak macam-macam kok, Mas Rama tidak perlu khawatir. Peraturan yang kubuat justru untuk kebaikan kita bersama."
" Katakan saja, yang." Kata Mas Rama.
" Aku tidak mau kalau Ibu terlalu mencampuri urusan rumah tangga kita, Mas."
" Iya, yang. Kamu ngomong aja sama Ibu. Aku yakin Ibu pasti akan mengerti."
" Tapi kalau seandainya Ibu marah dan tidak setuju dengan peraturanku gimana, Mas?" Tanyaku manja.
" Gampang, biar nanti aku yang bicara sama Ibu. Kamu tidak perlu terlalu memikirkannya." Jawab Mas Rama.
" Beneran, mas? Janji lho ya."
" Iya, sayang. Aku janji."
Aku pun tersenyum manis. Dalam hati aku merasa lega. Setidaknya sekarang aku sudah mendapatkan persetujuan dari Mas Rama. Selama ini aku merasa Ibu mertuaku terlalu ikut campur dengan urusan rumah tanggaku. Mulai sekarang aku tidak mau seperti itu lagi. Rumah tanggaku adalah rumah tanggaku. Aku yang berhak menentukan bagaimana aku ingin menjalani hidup didalamnya.
Tak lama kemudian, mobil yang kami tumpangi memasuki area sekolah Aldi. Mas Rama memperlambat laju mobilnya sebelum akhirnya berhenti di tempat yang tidak terlalu jauh dari gerbang sekolah.
" Adik tunggu di mobil dulu sama papa, ya?" Pesanku kepada Aira.
Aira tersenyum ke arahku dengan menganggukkan kepalanya. Kemudian tanganku hendak membuka pintu mobil, tiba-tiba terdengar ponsel Mas Rama berdering. Dia merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel. Hanya menatap ke arah layar tanpa menjawab panggilan itu.
" Telepon dari siapa, Mas? Kenapa tidak diangkat?" Tanyaku iseng.
" Oh, ini bukan siapa-siapa. Biasalah orang kantor. Biarin aja." Jawab Mas Rama terlihat gugup.
Aku sudah tau siapa penelepon itu. Pasti Vanessa, si wanita jalang . wanita itu pasti kebingungan karena Mas Rama seharian ini tidak menemui nya.
" Di angkat saja, Mas. Siapa tau penting. Aku mau nyamperin Aldi dulu." Ucapku, kemudian meninggalkan Mas Rama dan Aira di dalam mobil.
Tunggu saja, aku akan membalas permainan kotor kalian. Aku bisa lebih jahat dari apa yang sudah kalian lakukan padaku. Karena aku bukan wanita yang bisa di bodohi lagi. Aku yang akan menentukan kapan permainan kalian akan berakhir dengan rasa penuh penyesalan.
Aku mempercepat langkah menuju halaman sekolah. Karena aku sudah terlambat menjemput Aldi. Anak itu pasti sudah menungguku dari tadi. Biasanya aku selalu datang tepat waktu , terkadang malah sebelum bel berbunyi aku sudah tiba di sekolahnya.
Di sebuah gazebo yang berada tidak jauh dari gerbang sekolah, Aldi sedang bersama seorang Bapak-bapak.
" Abang...!!!" Seru ku memanggil Aldi.
" Mama..!!" Jawab Aldi sambil berlari ke arahku.
Aku baru menyadari laki-laki yang tadi duduk bersama Aldi juga ikut berdiri dari gazebo. Aku memperhatikannya beberapa saat. Ternyata aku mengenalnya.
Beliau merupakan kepala sekolah Aldi. Seorang duda yang sudah cukup lama, istrinya sudah lama meninggal dikarenakan sakit sekitar 3 tahun yang lalu. Beliau dan dan Almarhumah istrinya memiliki satu anak laki-laki. Dan sampai sekarang Pak Arif masih betah dengan status dudanya. Padahal kalau di lihat-lihat beliau masih terlihat gagah, usianya juga belum terlalu tua. Memiliki pekerjaan yang mapan pula. pasti banyak wanita yang mau menjadi istrinya. Namun, mungkin Pak Arif memang belum menemukan seseorang yang bisa membuka hatinya kembali.
" Pak Arif?"
" Iya, Ibu Jasmine."
" Terimakasih sudah menemani Aldi, Pak." Ucapku.
" Sama-sama, Bu. Kebetulan saya masih ada urusan di sekolah, jadi saya temani Aldi sebentar. Tadi malah saya tawarkan untuk saya antar pulang, tapi Aldi tidak mau." Jawab Pak Arif.
" Saya memang setiap hari selalu berpesan kepada Aldi supaya menolak tawaran apapun dan dari siapapun. Saya cuma khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Maafkan anak saya, Pak."
" Tidak apa-apa, Bu. Menurut saya itu justru bagus. Anak memang harus di ajarkan berhati-hati. Karena kita tidak tahu keadaan diluar seperti apa."
Aku tersenyum.
" Kalau begitu kami pamit dulu, Pak. Permisi. Assalamualaikum." Ucapku.
" Baik, Bu. Hati-hati dijalan. Walaikumsaalam."
Setelah Aldi salim dengan Pak Arif. Kemudian aku menggandeng tangan Aldi berjalan menuju parkir mobil. Pak Arif masih terus berdiri ditempatnya sambil mengawasiku dan Aldi.
" Mama.. Adik mana?" Tanya Aldi.
" Adik ada di mobil sama Papa."
" Papa? Jadi Papa jemput Abang juga? Horeeee." Seru aldi sambil berlari ke arah mobil Papa nya.
Begitu senangnya Aldi karena di jemput oleh Papa nya. Selama ini Mas Rama tidak pernah menjemput Anaknya di sekolah. Apalagi dengan menggunakan mobil.
Begitu Aldi masuk kedalam mobil, aku pun menyusul duduk disamping Mas Rama. Anak-anak terlihat begitu senang karena hari ini mereka bisa pulang bersama Papa nya.
Kemudian Mas Rama menyalakan mesin mobilnya. Mobilpun perlahan meninggalkan halaman sekolah dan melaju di jalan raya dengan kecepatan sedang.
Sepanjang perjalanan, Mas Rama hanya diam , tak banyak bicara. Padahal sebelumnya dia begitu bersemangat.
Mungkin karena dia mengangkat telepon dari wanita jalang itu sewaktu aku keluar dari mobil. Pasti wanita itu marah-marah karena Mas Rama seharian tidak menemuinya.
Yang penting sekarang aku sudah tidak bisa lagi percaya seratus persen dengan Mas Rama. Sebesar apapun perhatiannya kepadaku, semanis apapun perkataannya. Aku tidak boleh lupa bahwa laki-laki yang duduk di sampingku ini adalah laki-laki yang sudah mengkhianatiku. Kepercayaan yang sudah hancur tidak bisa kembali hanya karena beberapa kalimat manis.
Bagiku, pria yang sudah berselingkuh, maka hidupnya akan terus seperti itu tanpa sepengetahuan kita. Sekarang memang dia bucin denganku, tidak ingin jauh dariku. Tali di lain waktu dia pasti akan berusaha mencuri kesempatan untuk bisa bertemu dengan wanita itu. Apa lagi ditambah wanita itu sekarang sedang berbadan dua.
Rasa jijik begitu terasa. Namun aku harus tetap mempertahankan apa yang menjadi miliku dan anak-anak ku. Sekarang mereka boleh menikmati yang telah mereka dapatkan. Tapi kupastikan, aku akan merebutnya kembali.
Untuk sekarang, aku tidak perlu membuktikan apapun dulu. Karena permainan ini belum selesai. Aku akan menunggu dan mengamati sampai nanti waktunya tiba.
...****************...
Terimakasih sudah membaca 🙏😘