NovelToon NovelToon
After The Last Goodbye

After The Last Goodbye

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:12.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fhatt Trah

Di balik gemerlap kariernya sebagai aktor papan atas, Ethan Voss menyimpan rahasia besar: pernikahan tanpa cinta bersama Mia Taylor. Pernikahan yang lahir dari utang budi itu terikat perjanjian ketat—dirahasiakan dari publik, tanpa keterikatan emosional, dan wajib berakhir dalam empat tahun.

Selama empat tahun, Mia bertahan hidup bagai bayangan. Ia menelan dinginnya sikap Ethan dan rasa sakit saat melihat pria itu memamerkan kemesraan bersama kekasihnya di media. Saat masa perjanjian usai, Mia pergi dengan tenang, meninggalkan Ethan yang mengira dirinya telah bebas.

Namun, kepergian Mia justru menyisakan kehampaan mendalam. Setelah menemukan rahasia pengorbanan tulus sang mantan istri, Ethan sadar ia telah membuang cinta sejatinya.

Situasi makin rumit dengan hadirnya Liam, investor besar yang selalu ada untuk Mia setelah perceraian. Dengan ketulusannya, Liam siap melindungi Mia dan menjadi saingan berat Ethan yang ingin merebut kembali hati sang mantan istri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Diantara Badai Rumor

Sementara itu, di apartemen mewah tempatnya menumpang, Mia duduk di tepi ranjang kamar utama. Suasana yang hening membiarkan pikirannya berputar tanpa henti.

Ia menatap ponselnya yang sampai detik ini masih belum dinyalakan. Jemarinya gemetar, cemas jika ponsel dinyalakan kembali, bayangan masa lalu akan kembali menghantuinya. Ia akhirnya menahan diri untuk tetap membiarkan ponsel dalam keadaan mati total. Hatinya terlalu lelah untuk kembali terjebak dalam pusaran ketidakpastian yang sama.

Tiba-tiba, suara ketukan pelan di pintu depan mengejutkannya.

Ia melangkah ragu ke arah pintu utama. Melalui lubang pengintai, ia melihat sosok Liam berdiri di luar membawa sebuah kantong kertas dari toko kelontong. Ia lalu  memutar kunci dan membuka pintu sedikit.

“Liam? Bukannya kamu tadi bilang ada urusan di kantor?” tanya Mia heran.

Liam tersenyum manis, raut wajahnya menampilkan keramahan yang sangat sempurna.

“Aku sengaja mempercepat rapatku. Aku tahu kamu pasti belum sempat membeli barang-barang kebutuhan pribadi. Jadi aku mampir sebentar untuk membawakannya.”

Liam menyerahkan kantong kertas itu. Sikap perhatiannya begitu presisi, seolah ia tahu persis apa yang dibutuhkan Mia di saat-saat paling rentan seperti ini.

“Terima kasih banyak... kamu sangat baik,” ujar Mia pelan, merasa makin tersentuh oleh kebaikan pria di hadapannya.

“Tidak masalah, Mia. Aku senang bisa membantumu,” balas Liam lembut.

Namun, di balik tatapannya yang hangat, ada kilat kalkulasi yang tersembunyi dengan rapat.

Liam tahu betul, benih kepedulian yang ia tanam hari ini akan menjadi jerat paling ampuh untuk mengunci Mia dalam genggamannya, sekaligus mematahkan Ethan hingga tak tersisa.

“Ini, terimalah,” kata Liam seraya menyodorkan kantong kertas.

Mia menerima kantong kertas itu dengan kedua tangan yang masih sedikit gemetar. Keramahan Liam terasa hangat, tetapi menimbulkan rasa bersalah yang cukup besar di dadanya disaat bersamaan.

“Liam... sebenarnya kamu tidak perlu melakukan ini,” katanya pelan, menundukkan pandangannya sejenak sebelum kembali menatap mata Liam.

“Aku sangat menghargai semua bantuanmu, tapi aku jadi merasa sangat sungkan dan tidak enak hati,” imbuhnya.

Liam menaikkan alisnya tipis, mempertahankan ekspresi hangat yang menenangkan. “Kenapa harus tidak enak hati? Aku melakukan ini dengan sukarela, Mia.”

“Justru karena itu,” potong Mia dengan nada penuh kecemasan.

“Kamu sudah memberiku tempat tinggal, dan sekarang kamu masih meluangkan waktu di tengah kesibukanmu hanya untuk mengurus hal-hal kecil seperti ini. Aku khawatir... kalau orang lain melihat atau mendengar tentang ini, mereka akan salah paham. Aku tidak ingin keberadaanku di sini malah menimbulkan rumor buruk atau menyusahkan posisimu.”

Liam terkekeh pelan, sebuah kekehan yang terdengar begitu natural dan menenangkan, seolah kekhawatiran Mia hanyalah angin lalu. Ia melangkah sedikit mendekat, menatap Mia dengan tatapan penuh pemahaman.

“Biarkan saja orang lain berpikir apa yang ingin mereka pikirkan. Yang terpenting bagiku saat ini adalah memastikan kamu aman dan tidak merasa sendirian,” ujar Liam dengan nada suara yang begitu meyakinkan.

Tanggapan itu membuat Mia terdiam. Di satu sisi, ketulusan Liam yang tampak sangat meyakinkan membuat hatinya tersentuh. Namun di sisi lain, perasaan tidak enak hati itu tetap bersarang di dadanya.

Ia menghembuskan napas pelan, berusaha mengurai pergulatan batin di dadanya.

“Tapi tetap saja, Liam... aku merasa menjadi beban. Kamu punya kehidupan dan pekerjaan yang penting, sedangkan aku—”

“Kamu bukan beban, Mia,” potong Liam cepat. Suaranya melunak, diiringi sentuhan ringan di pundak Mia yang terasa begitu menenangkan sekaligus protektif.

“Di tempat ini, kamu aman. Itu satu-satunya hal yang perlu kamu pikirkan sekarang.”

Mia mengangguk pelan. Di tengah rasa trauma dan kebingungan yang menderanya, ketegasan Liam terasa seperti satu-satunya pegangan yang kokoh. Ia melangkah mundur sedikit, memberi ruang bagi Liam untuk masuk.

“Masuklah dulu. Aku buatkan minum,” tawarnya canggung.

“Tidak perlu,” balas Liam sambil tersenyum hangat dan menunjuk jam tangannya.

“Aku harus kembali ke kantor sekarang. Masih ada dokumen yang harus aku tanda tangani. Periksa saja isi kantong itu, semoga barangnya sesuai.”

Liam kemudian berbalik, melangkah menuju lift penthouse mewah tersebut. Sebelum pintu lift tertutup rapat, ia sempat menoleh dan melemparkan senyuman terakhirnya pada Mia.

Pintu lift tertutup rapat, menyisakan Mia yang berdiri terpaku di ambang pintu apartemen. Senyuman Liam yang hangat masih membayang di ingatan, memberikan rasa aman palsu di tengah badai yang meretakkan hidupnya. Ia merapatkan kantong kertas di pelukannya, lalu melangkah kembali ke dalam dan mengunci pintu.

****

Ethan melangkah keluar dari pintu kaca lobi rumah sakit dengan rahang terkatup rapat. Kacamata hitam berbingkai tebal bertengger di pangkal hidungnya, mencoba menyembunyikan matanya yang sembap.

Di sisi kirinya, Marcus—manajernya, berjalan sigap dengan tatapan waspada, sementara empat orang bodyguard bertubuh tegap langsung membentuk barikade ketat memagari sang aktor papan atas tersebut.

Kilatan lampu kamera mendadak menyambar dari segala arah, memantul garang pada kacamata hitam Ethan. Puluhan wartawan hiburan dan infotainment yang sudah standby sejak pagi langsung menyerbu, berdesakan memajukan mikrofon dan kamera mereka.

“Ethan! Bisa minta waktunya sebentar?”

“Bagaimana kondisi Anda setelah mendadak pingsan di pinggir jalan kemarin?”

“Siapa sebenarnya sosok wanita yang Anda kejar sebelum ambruk? Apakah dia fans fanatik atau salah satu staf manajemen Anda?”

“Apakah insiden kemarin ada hubungannya dengan tekanan dari jadwal syuting yang padat?”

Media sama sekali tidak mengenal nama Mia, apalagi mencium rumor tentang kisah masa lalu sang bintang yang tersimpan rapat dari sorotan kamera.

Bagi mereka, Ethan adalah aktor papan atas dengan citra sempurna yang gerak-geriknya selalu tertata rapi, dan aksi nekatnya mengejar seorang wanita misterius di tempat umum hingga kolaps di jalanan adalah skandal panas yang sangat menjual.

Marcus pasang badan, merentangkan tangannya sembari memberi isyarat tegas pada barisan bodyguard untuk memperketat kawalan.

“Harap beri jalan! Tidak ada sesi wawancara atau press conference hari ini. Tolong berikan ruang untuk Ethan!” tegurnya keras.

Ethan sendiri tetap bungkam. Wajahnya pucat, tetapi dari balik kacamata hitamnya, tatapannya menembus kerumunan media dengan dingin.

Setiap cecaran pertanyaan wartawan tentang "wanita misterius" itu justru makin meremas dadanya. Mereka tidak tahu betapa berharganya wanita itu, dan betapa hancurnya Ethan karena gagal menggapainya kemarin hingga ambruk tak berdaya di pinggir jalan.

Dengan perlindungan penuh dari Marcus dan para bodyguard yang mendorong mundur kerumunan pemburu berita, Ethan berhasil mencapai SUV hitam berkaca gelap yang sudah menunggu dengan pintu terbuka.

Ia masuk ke dalam kabin mobil yang kedap suara, disusul Marcus yang dengan cepat menutup pintu rapat-rapat, memutus riuhnya teriakan wartawan dan kilatan flash kamera di luar.

Mobil langsung melaju meninggalkan area rumah sakit.

Di dalam mobil yang mendadak hening, Ethan melepas kacamatanya, menyandarkan kepala, dan memejamkan mata.

“Urus PR team dan manajemen, Marcus. Keluarkan klaim resmi kalau aku cuma dehidrasi parah. Jangan sampai ada spekulasi liar media yang makin melebar,” bisik Ethan dengan suara serak. Tangannya mengepal erat di atas pangkuan.

“Dan cari dia. Pakai semua koneksimu untuk temukan di mana dia berada.”

–tbc–

1
sunaryati jarum
Thank Thoor happy endingnya
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): sama²😊😊 thank you udah membersamai perjalanan cinta Liam dan Mia👌🏻😊
total 1 replies
sunaryati jarum
Nikmati kesombongan kamu Jane
sunaryati jarum
Tandingan di publik
sunaryati jarum
Benarkan Jane salah memilih lawan
Tiara Bella
otw thor hehehhe....
Tiara Bella
wow Liam aku padamu banget ini.....
Tiara Bella
penyesalan mu tak ada artinya lg Ethan.....
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): udah telat ya😊
total 1 replies
Tiara Bella
apakah mw mendekati tamat
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): seperti itu😊
total 1 replies
Tiara Bella
aneh si Jane ini kenapa ngerang Mia pdhal ada Liam ada dibelakang Mia....
Tiara Bella
bagus aku suka ceritanya....
Tiara Bella: sama² thor😍/Kiss/
total 2 replies
Tiara Bella
nh gitu cewek klu lg ngambek disun jg Bakalan lumer dia.......Pepet trs liam
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): 🤭🤭🤭 langsung melting
total 1 replies
Tiara Bella
wow Mia aku padamu...😍/Kiss/
Tiara Bella
aku Herman sm Jane Ethan yg salah kenapa yg diserang malah Mia ya.....
sunaryati jarum
Kamu yang akan hancur,Jane.Kau menyerang Mia, berarti menantang Liam.Kau terlalu sombong dan merasa lebih kuat Jane.Mia sekarang lebih kuat,dia juga banyak bukti apalagi dibantu Liam kamu sendiri yang gali lubang untuk kuburmu,ingat Mia itu korban ,selama empat tahun.Dii selama empat tahun mengalah, menerima,dan pasrah tanpa dendam,tapi kamu malah memojokkan Jane, saat ini kemenangan harus milik Mia
sunaryati jarum
Lawan pemberitaan yang dibuat Jane,itu hanya akan menghancurkanh karier Ethan Voss
sunaryati jarum
Jangan goyah , tetep keluarkan pernyataan sesuk realita dengan kemampuan intelektual kamu ,Mia.Beliau hanya menguji nyalimu
sunaryati jarum
Penampilan tenang dan jawaban jujur.Sepertinya penilaian pertemuan pertama oleh Tuan dan Ny Vance positif
sunaryati jarum
Akhirnya keraguan Mia lenyap dan menerima lamaran ,Liam.Semoga acara pernikahan berjalan lancar
sunaryati jarum
Nah ,begitu Mia.Kena provokasi Jame bikin dia makin merasa di atas.Besok berjalan berdua dengan Liam,di depan Jane, untuk membungkam mulutnya yang julid.Mia, korban dari Ethan, yang perlu kau peringatkan itu , Ethan agar jangan mengganggu kehidupan Mia
sunaryati jarum
Jika kamu pergi Jane akan betepuk tangan kemenangan, dengarkan dulu penjelasan Liam,jangan merasa insecure karena provokasi Jane.Bicara dari hati ke hati Mia, orang tua Liam sudah member restu beliau tidak memandang status sosial kamu.Dinginkan kepalamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!