Anindya, wanita muda yang tulus dan sederhana, tanpa sengaja terjebak dalam cinta kepada Reynand — pria berwibawa yang sudah memiliki istri bernama Gisella. Di mata publik, rumah tangga mereka tampak sempurna. Namun saat kebenaran mulai terkuak satu per satu, tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di balik pintu tertutup. Akankah Anindya pergi sebelum terlambat, atau ia akan tetap bertahan — terperangkap dalam cinta yang ternyata jauh lebih rumit dari yang ia kira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
Anindya terpaku di tempatnya, pipinya masih terasa perih dan panas. Air mata mulai menggenang di matanya, namun ia menahannya agar tidak tumpah.
"Ibu... Ibu dengar dari siapa?" suaranya bergetar pelan, nyaris tak terdengar. "Reynand... dia akan menyelesaikan pernikahannya. Dia sudah memutuskan—"
"Belum selesai berarti masih terikat!" potong Ratna, suaranya meninggi namun penuh kepedihan, bukan amarah. "Apakah kamu mau dicap sebagai perusak rumah tangga orang? Apakah kamu mau semua orang menunjuk jari padamu, Anindya? Kamu anak yang baik... Ibu tidak ingin kamu hancur seperti ini!"
"Ibu, dia tidak seperti yang Ibu pikirkan..." Anindya mencoba mendekat, namun Ratna mengangkat tangan menahannya.
"Cukup!" Ratna memejamkan mata, menahan isak tangis yang hendak meledak. "Dua puluh lima tahun. Dua puluh lima tahun Ibu membesarkanmu, mendidikmu, berjuang sendirian agar kamu tumbuh menjadi wanita yang terhormat... bukan untuk menjadi penghancur rumah tangga orang, Anindya!"
Kata-kata itu menghantam dada Anindya lebih keras daripada tamparan tadi. Ia mundur selangkah, matanya membelalak, napasnya tertahan.
"Bukan... itu bukan maksudku, Bu..." isaknya pelan, air mata mengalir deras. "Aku tidak bermaksud merusak apa-apa... dia yang datang... apa salah jika aku juga mencintainya?"
Ia melangkah selangkah mendekat, napasnya tersendat namun matanya tak berpaling.
"Apa salahnya aku mencintai seseorang yang memperlakukanku dengan baik? Yang melihatku bukan sekedar staf biasa, tapi sebagai Anindya, sebagai diriku sendiri."
"Reynand tidak pernah mempermainkan perasaanku!" Suaranya meninggi, penuh kepedihan sekaligus keteguhan. "Dia jujur sejak awal. Dia kesepian, Bu... sama seperti aku. Kami saling mengisi kekosongan yang tak seorang pun tahu ada di sana. Apa salahnya kami saling menyembuhkan luka?"
Ratna terdiam, tertegun melihat ketegasan di mata putrinya.
"Tapi dia suami orang..."
"Dan dia akan menyelesaikannya!" potong Anindya, air mata kembali menetes namun tekadnya tak luntur. "Dia tidak menahanku di tempat yang kelabu. Dia berjanji akan datang dengan status yang layak. Aku hanya... aku hanya menunggu, Bu. Apa menunggu seseorang yang tulus mencintaiku itu dosa besar?"
Ratna memejamkan mata, gemetar.
"Kamu tidak tahu dunia kejam seperti apa, Anindya..."
"Aku tahu!" jawab Anindya lantang, lalu melembut perlahan. "Aku tahu aku mungkin dicap buruk. Aku tahu aku mungkin dibenci. Tapi jika aku melepaskan dia sekarang... aku tahu aku akan menyesal seumur hidupku. Dua puluh lima tahun Ibu membesarkanku agar aku jujur, kan? Agar aku tidak menyembunyikan apa yang aku rasakan? Lalu kenapa sekarang... saat aku jujur mencintai seseorang, Ibu justru meminta aku berpura-pura tidak merasakan apa-apa?"
Keheningan yang menyakitkan menyelimuti ruangan itu. Tidak ada jawaban dari Ratna, tidak ada persetujuan, tidak pula pemahaman. Wanita itu hanya berdiri mematung, air mata terus mengalir di pipinya yang pucat, matanya memandang putrinya dengan kepedihan yang tak terlukiskan.
Anindya menatap ibunya lekat-lekat, menahan isak tangis yang sesak di kerongkongan. Ia menyadari, tak ada satu kata pun yang mampu mengubah pandangan ibunya saat ini. Tak ada penjelasan yang cukup untuk menghapus ketakutan yang tertanam di hati wanita yang melahirkannya.
Perlahan ia mengangguk, bibirnya bergetar pelan.
"Baik... Ibu istirahatlah dulu," ucapnya lirih, nyaris tak terdengar. "Aku pergi dulu."
Tanpa menunggu jawaban, Anindya berbalik. Langkahnya terasa berat, seakan setiap inci tubuhnya menolak untuk melangkah pergi. Ia mendorong pintu itu terbuka, lalu melangkah keluar.
Di koridor yang sepi, ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan dada yang terasa sesak. Namun belum sempat ia melangkah jauh, suara panggilan terdengar mendekat.
"Anindya!"
Ia menoleh. Dokter Rangga berjalan cepat menghampirinya, wajahnya tampak cemas melihat wanita itu berdiri sendirian dengan matanya bengkak, dan pipinya masih memerah samar bekas tamparan tadi.
"Anindya, tunggu..." Ia menyamai langkahnya, menatapnya lekat. "Kamu... kamu baik-baik saja? Apa yang terjadi di dalam sana?"
Anindya menggeleng pelan, menyeka sisa air mata dengan punggung tangan.
"Dokter... aku sedang ingin sendiri," ucapnya lembut namun tegas, menghindari tatapan pria itu. "Tolong jangan ikuti aku."
"Tapi Anindya, lihat keadaanmu..." Rangga mengulurkan tangan hendak menyentuh lengan wanita itu, namun Anindya mundur selangkah.
"Aku mohon, Dokter," suaranya bergetar. "Biarkan aku sendirian."
Ia berbalik dan berjalan cepat menuju pintu utama. Di luar, kebetulan sebuah taksi baru saja menurunkan penumpang. Anindya melambaikan tangan, kendaraan itu berhenti tepat di hadapannya. Saat pintu tertutup dan mobil mulai melaju, ia akhirnya membiarkan dirinya menangis, menunduk, membiarkan segala kesedihan yang ditahan sejak tadi tumpah tanpa sanggup lagi dibendung.
-
-
-
Cahaya matahari sudah mulai meredup saat Reynand melangkah keluar dari gedung tempat pertemuannya berlangsung. Ia baru saja menyelesaikan urusan bisnis, pikirannya sudah tertuju sepenuhnya pada satu hal — menepati janji menemui Anindya.
Namun langkahnya terhenti seketika.
Gedung itu berdiri tepat di seberang jalan, berhadapan dengan sebuah restoran bergaya mewah. Dan dari pintu keluar restoran itulah, sesosok wanita melangkah keluar dengan langkah terburu-buru. Tubuhnya sedikit membungkuk, seakan berusaha tidak dikenali. Di hidungnya terpasang kacamata hitam besar, menutupi sebagian wajahnya agar sulit dikenali. Rambutnya terlihat sedikit berantakan, seakan diatur tergesa-gesa.
Wanita itu terus menoleh ke kiri dan kanan dengan gelisah, napasnya tampak tertahan. Di sampingnya berdiri seorang pria asing yang berbisik sesuatu di telinganya, lalu tersenyum lebar. Wanita itu tersenyum tipis, tersipu, lalu buru-buru melangkah menuju mobil yang menunggu di tepi jalan.
Reynand mengerutkan kening, matanya terpaku lekat-lekat, berusaha mengematkan wajah itu ke dalam ingatannya. Ia ingin memastikan, ingin meyakinkan diri sendiri bahwa ia tidak salah lihat.
"Tuan, mobil sudah siap."
Suara Hansen terdengar di sampingnya. Reynand menoleh sejenak. Dan saat ia kembali menatap ke seberang jalan, mobil itu sudah melaju menjauh, perlahan menghilang di keramaian lalu lintas.
Tempat itu kini kosong.
Reynand berdiri terpaku, napasnya tertahan. Dadanya terasa sesak, pikirannya berputar kacau.
Apakah tadi itu Gisella?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, tak kunjung menemukan jawaban yang pasti. Ia mengenali bentuk tubuhnya, caranya berjalan... hanya saja ia tak sempat melihat wajahnya dengan jelas.
Ia menarik napas panjang, lalu melangkah menuju mobil yang sudah menunggu.
"Ke rumah Anindya," ucapnya pelan namun tegas. "Cepat."
-
-
-
Bersambung...