Alea hidup dalam realitas kemiskinan mulai dari tagihan listrik dan kontrakan yang menunggak memaksanya berjuang keras banting tulang demi memenuhi kebutuhannya sendri.
Di sisi lain, Arka Adiwangsa hidup dalam kemewahan namun dibayangi darah, pengkhianatan, dan rahasia gelap keluarganya.
Hingga pertemuan tak terduga di tepi jembatan malam itu menjadi titik balik yang mengubah segalanya.
Dua dunia yang bertolak belakang pun berbenturan: Alea perlahan terseret ke dalam pusaran bahaya dunia mafia, sementara logika absurd gadis itu tanpa sadar menundukkan sisi gelap di dalam diri Arka.
Ketika nyawa dan uang receh dipertaruhkan di meja yang sama, akankah sang pewaris takhta akhirnya luluh dan menaklukkan hati Alea? Atau justru mereka harus kembali melangkah di jalan masing-masing?
Kisah mereka lebih dari sekadar pertemuan dua dunia yang tak seharusnya bersentuhan. Penasaran? Langsung baca saja ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Langit malam di kawasan elite itu tampak sempurna, seolah tak pernah tahu ada kepahitan yang tersembunyi di balik tembok-tembok tinggi. Di salah satu kediaman bergaya neo-klasik yang berdiri angkuh, gerbang besi berukir emas seakan menjadi perisai yang memisahkan dunia keluarga Adiwangsa dari hiruk-pikuk kota di luarnya.
Namun kemegahan lantai marmer Italia dan lampu kristal raksasa di ruang makan utama tak mampu menutupi bau kebusukan emosional yang telah mengakar puluhan tahun di rumah ini.
Arka melangkah masuk lewat pintu samping, mengabaikan para pelayan yang langsung menunduk dalam setiap kali bayangannya melintas. Ia masih mengenakan seragam sekolahnya, namun kancing atasnya sudah dibuka, menampilkan kaos polo hitam di dalamnya. Jaket kulit hitamnya dibiarkan tersampir begitu di atas bahu kanannya.
Di telinganya, sisa-sisa ocehan absurd Alea masih bergaung samar dengan suara tawa sendiri yang hampir lolos saat melihat Alea meratapi sepatu kanvasnya yang terkena bumbu kacang. Sebuah kontras yang nyaris menggelikan jika dibandingkan dengan keheningan mencekam yang kini menyambutnya di kediaman ini.
Ruangan makan yang luasnya hampir tiga kali kontrakan tempat Alea tinggal kini dipenuhi aroma hidangan mewah. Asap tipis mengepul dari mangkuk sup truffle berharga jutaan rupiah, berpadu dengan aroma bebek panggang ala Prancis yang disajikan di piring keramik impor.
Di ujung meja panjang berbahan kayu mahogany itu, Hartawan Adiwangsa duduk tegak bagai raja yang tak berpuas hati, mengenakan setelan jas rumah yang tetap rapi meski hari sudah larut malam.
Di sisi kanannya duduk Diana Adiwangsa, ibu tiri Arka, sekaligus cinta pertama ayahnya, yang kini tersenyum lembut, namun senyum itu tak pernah sampai ke matanya.
Di sebelah Diana ada Kevin, saudara tiri Arka yang usianya hanya beda satu bulan. Kevin mengenakan kemeja katun berwarna krem dengan lengan digulung rapi, dipadukan celana bahan berwarna gelap.
Arka tak berniat sama sekali bergabung. Ia melangkah menyusuri tepian ruangan, berniat langsung menuju tangga besar dan mengunci diri di kamarnya di lantai tiga, satu-satunya tempat di mansion ini yang benar-benar miliknya.
"Mau jadi apa kamu, Arka? Jam segini baru pulang!"
Suara bariton Hartawan membelah keheningan ruangan yang semula hanya terdengar bunyi sendok dan piring yang beradu. Nada itu bukan kekhawatiran, melainkan tuduhan yang sudah terpakai berulang-ulang.
Langkah Arka terhenti. Ia tidak menoleh sepenuhnya, hanya melirik sekilas lewat sudut matanya yang sedingin es.
"Mau jadi apa itu bukan urusan Papa, gak usah sok peduli, urus aja istri dan anak manja Papa itu!"
Wajah Hartawan langsung mengeras. Urat di pelipis pria paruh baya itu berdenyut menahan amarah.
"Dasar anak nggak tahu diuntung! Beraninya kamu ngomong begitu sama Papamu sendiri hah!"
Sebelum Hartawan meledak lebih jauh, Kevin buru-buru meletakkan gelas jusnya dengan suara pelan, sebuah trik yang sudah dilatihnya berulang kali.
Ia berdiri setengah membungkuk, menatap Hartawan dengan tatapan penuh perhatian yang dibuat-buat.
"Udah, Pa… jangan marah dulu, nanti tekanan darah Papa naik. Kak Arka mungkin ada urusan sekolah yang belum selesai," ujarnya dengan sok bijak.
Lalu ia menoleh ke Arka, memasang raut wajah prihatin yang dibuat-buat.
"Kak, Papa tuh cuma khawatir sama Kakak. Lagian Kakak itu Tuan Muda keluarga Adiwangsa — seharusnya bisa jaga sikap, bukan malah bikin Papa malu dengan diam-diam Pidah sekolah pinggiran!"
Diana ikut menimpali, suaranya lembut tapi menyakitkan. "Iya, Arka. Lihat adikmu Kevin, pulang sekolah langsung bantu Papa di perusahaan. Kamu juga harusnya belajar ngurus bisnis sejak dini."
Arka tetap diam di tempat. Matanya yang sehitam obsidian menatap lurus pada sandiwara menjijikkan di meja makan itu. Di rumah ini, kasih sayang hanyalah mata uang yang hanya bisa dibeli dengan kepatuhan buta dan kemampuan memanipulasi perasaan.
Diana dan Kevin tahu persis bagaimana cara memanfaatkan ego Hartawan yang rapuh, sementara Arka, yang sejak berusia dua tahun kehilangan kasih sayang seorang ibu, dibiarkan tumbuh sendirian di antara dinding-dinding dingin yang tak pernah menyimpan kasih sayang yang tulus.
Dan yang membuat kebencian di dadanya berakar begitu dalam bukan sekadar ketidakpedulian sang ayah. Melainkan rahasia kelam yang telah ia susun kepingan demi kepingan selama bertahun-tahun, menggunakan jaringan orang-orang bawah tanah yang ia bangun diam-diam sendiri, tanpa sepengetahuan anggota keluarganya.
Berdasarkan bukti-bukti yang berhasil ia dapatkan ternyata ibunya tidak meninggal karena sakit keras seperti yang diketahui publik.
Ibunya tewas dengan tragis dalam sebuah kecelakaan yang dirancang rapi, oleh seseorang.
Dari semua bukti mengarah pada orang yang tak terduga sama sekali oleh Arka. Orang itu tak lain adalah Hartawan, ayahnya sendiri yang tega membunuh istrinya demi menutup perselingkuhannya dengan Diana di masa lalu, sekaligus mengamankan seluruh aset warisan keluarga agar tak terbagi.
Ayahnya adalah seorang pembunuh berdarah dingin yang kini berdiri tegak mengenakan jas mahal, duduk terhormat di kursi dewan direksi, dan disapa hormat oleh semua orang yang tak tahu apa-apa.
Arka perlahan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyuman sinis yang sangat berbahaya namun tenang.
"Nikmati sandiwara keluarga bahagia kalian malam ini," ucapnya pelan, tapi terdengar jelas di seluruh ruangan.
"Karena nggak lama lagi… panggung ini bakal runtuh pelan-pelan. Dan gue sendiri yang bakal turunkan tirainya."
"ARKA!" bentak Hartawan, berdiri dari kursinya dengan napas memburu.
"Sopan santunmu sudah hilang semua, hah?!"
Namun Arka tak menoleh lagi. Ia melangkah pergi, menaiki tangga melingkar menuju lantai atas di mana kamarnya berada.
Di balik pintu kamarnya yang tertutup rapat, Arka melempar tas sekolahnya ke sofa kulit hitam. Ia berjalan menuju jendela besar yang menampilkan pemandangan lampu kota berkilauan di kejauhan. Angin malam sedikit menyisir rambutnya yang hitam legam.
Lalu bayangan itu kembali muncul tanpa diminta, namun kali ini tak lagi mengganggu.
Bayangan seorang gadis dengan seragam yang kadang kusut, sepatu kanvas yang ujungnya jebol, dan mulut yang tak pernah berhenti bicara dengan logika anehnya. Gadis yang hidupnya begitu sederhana namun penuh perjuangan, yang tak pernah tahu siapa dirinya sebenarnya, dan yang tak pernah menatapnya dengan rasa takut atau mengharap sesuatu dari kekayaannya.
Arka menyentuh sudut bibirnya sendiri. Jantungnya yang biasanya tenang dan terukur kini berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Untuk pertama kalinya, di tengah kehampaan mansion mewah yang terasa seperti penjara emas ini, ia mendapati dirinya tersenyum benar-benar tulus, bukan senyum tipu daya, bukan pula senyum ancaman seperti biasanya.
"Sial… kenapa gue malah kepikiran gadis absurd itu terus sih," gumamnya pelan pada keheningan kamar.
Bersambung...
udh lah jngan suka mancing2 Alea yg bar2 ini, bisa kena bogem loh buru**nya nnt 😂😂😂