NovelToon NovelToon
Serving The Ruthless Boss

Serving The Ruthless Boss

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Fantasi
Popularitas:367
Nilai: 5
Nama Author: seasoulune

Alesia Fiore mengira hidupnya di Korea Selatan sudah berada di titik paling damai. Demi memperbaiki ekonomi keluarga yang ironisnya hanya peduli pada uang kirimannya Alesia rela bekerja keras bagai kuda selama satu tahun sebagai admin pemasaran di Aetheris Games. Biarpun sering lembur, ia bahagia karena memiliki lingkungan kerja yang sehat dan sahabat-sahabat yang suportif.

Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat takdir membawa Dante Luca Alessio masuk ke hidupnya.

Dimulailah hari-hari penuh kesialan, kejengkelan, dan kesalahpahaman kocak bagi Alesia yang harus melayani segala tuntutan ajaib dari bos barunya yang ruthless. Sanggupkah Alesia bertahan demi pundi-pundi won, atau justru benci di antara mereka berubah menjadi benih-benih cinta yang tak terduga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 8

Keesokan harinya, pukul 10.00 pagi, suasana di ruang rapat utama lantai teratas berubah menjadi sangat mencekam. Dante mendadak mengadakan rapat pleno evaluasi mendadak.

Seluruh petinggi divisi pemasaran dikumpulkan, dan Alesia Fiore berdiri di depan panggung ruang rapat, memegang kendali clicker presentasi dengan telapak tangan yang basah oleh keringat dingin.

Di ujung meja marmer yang panjang, Dante duduk dengan angkuh. Tatapan matanya lurus, tajam, dan tidak bersahabat, seolah siap menguliti siapa saja yang melakukan kesalahan sekecil apa pun.

"Silakan dimulai, Fiore. Saya tidak punya waktu seharian untuk melihat Anda berdiri mematung di sana," ucap Dante dingin, memecah keheningan ruang rapat.

Alesia menelan ludah dengan susah payah. Ia mengangguk sekali, lalu menekan tombol clicker. Layar proyektor besar di belakangnya menampilkan logo baru dan konsep iklan digital yang interaktif.

"Baik. Terima kasih atas waktunya, Pak Dante dan seluruh jajaran manajemen," buka Alesia, berusaha membuat suaranya terdengar seprofesional mungkin meskipun lututnya terasa lemas.

"Konsep kampanye digital yang kami usung untuk bulan ini berjudul 'Aetheris Universe: Your Second Life'. Kami tidak lagi menggunakan metode iklan konvensional satu arah. Ide utamanya adalah membuat sebuah mini-game interaktif berbasis web yang langsung terhubung ke media sosial para calon pemain."

Alesia mulai menjelaskan dengan detail. Konsepnya benar-benar unik dan segar. Alih-alih hanya menampilkan potongan video grafis game yang membosankan di iklan YouTube atau Instagram, pengguna akan diajak bermain petualangan singkat berdurasi 30 detik di dalam iklan tersebut.

Jika mereka menang, mereka akan mendapatkan kode voucher khusus yang bisa ditukarkan dengan item langka saat game resmi diluncurkan.

Beberapa kepala divisi di dalam ruangan tampak mengangguk-angguk setuju. Ide tersebut sangat brilian, memanfaatkan tren psikologi audiens zaman sekarang yang lebih menyukai interaksi langsung.

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Begitu Alesia menyelesaikan slide terakhirnya, Dante langsung mengetuk meja rapat dengan pulpennya. Suara ketukan itu terdengar seperti vonis hakim yang mengerikan.

"Konsep yang sangat teoritis, Fiore," cecar Dante langsung tanpa basa-basi, membuat senyum di wajah Alesia memudar.

"Ide iklan interaktif ini memang unik secara kreatif. Tapi mari kita bicara tentang angka dan realita. Anda bilang target audiens kita akan meningkat secara signifikan. Pertanyaan saya, dari data riset yang Anda tampilkan pada halaman lima, berapa persentase konversi pasti yang bisa Anda jamin untuk menaikkan pendapatan satu persen dalam sisa waktu tiga minggu?"

Alesia menarik napas dalam-dalam, berusaha menstabilkan detak jantungnya yang menggila. Ia membuka kembali halaman lima yang dimaksud Dante.

"Berdasarkan metrik dari kampanye serupa yang dilakukan oleh kompetitor tahun lalu, Pak, perkiraan konversi berada di angka 0,8 hingga 1,2 persen. Mengingat jumlah database pendaftar awal kita yang sudah besar, angka satu persen sangat realistis untuk dicapai dalam waktu tiga minggu."

"Perusahaan ini tidak bergerak berdasarkan 'perkiraan' atau 'kemungkinan dari kompetitor', Nona Fiore!" potong Dante tajam, suaranya meninggi satu oktav membuat beberapa kepala divisi di sampingnya ikut memperbaiki posisi duduk karena tegang.

"Aetheris Games adalah pemimpin pasar. Jika Anda salah mengeksekusi ide ini pada minggu pertama karena masalah teknis web yang lambat atau sistem klaim kode yang eror, kita akan kehilangan momentum emas. Apakah otak Anda yang mandiri itu sudah memikirkan rencana cadangannya?"

Alesia mengepalkan tangannya di balik punggung. Dicecar habis-habisan di depan banyak orang seperti ini benar-benar menguji batas kekuatan mentalnya.

Namun, bayangan tentang masa depannya, tentang kepedulian teman-temannya yang sudah membantunya, membuat Alesia menolak untuk tumbang. Ia mendongak, menatap langsung ke dalam mata abu-abu Dante yang mengintimidasi.

"Jika terjadi kendala teknis pada sistem web pada minggu pertama, Pak, kami sudah menyiapkan rencana cadangan berupa pengalihan kampanye manual menggunakan sistem kode unik melalui platform obrolan resmi seperti KakaoTalk dan Line yang servernya jauh lebih stabil. Kami sudah berkoordinasi dengan divisi IT untuk menyiagakan customer service otomatis selama 24 jam," jawab Alesia tegas, tanpa ada keraguan sedikit pun dalam suaranya.

Dante tertegun sejenak mendengarnya. Di dalam hatinya, ia benar-benar kagum. Ide yang dipaparkan Alesia sebenarnya sama sekali tidak buruk, bahkan bisa dibilang sangat luar biasa matang untuk ukuran seorang karyawan tingkat admin.

Dante sengaja menekannya dengan pertanyaan-pertanyaan sulit hanya untuk melihat sejauh mana determinasi dan kesiapan mental gadis itu di bawah tekanan tinggi.

Sebagai seorang CEO yang berwibawa, Dante tentu tidak akan langsung memuji Alesia di depan umum. Ia mengetuk meja sekali lagi, lalu memajukan tubuhnya, menopang dagu dengan kedua tangannya.

"Rencana cadangan yang lumayan. Tapi alur eksekusinya masih terlalu boros di bagian media sosial," ujar Dante, mulai memberikan solusi tak terduga sebagai seorang atasan yang visioner.

"Anda mengalokasikan anggaran terlalu besar untuk menyewa artis papan atas sebagai duta iklan. Itu salah besar. Untuk game interaktif seperti ini, audiens lebih percaya pada ulasan organik. Ubah alokasi anggaran itu."

Dante melirik Rey, yang langsung dengan cepat menampilkan tabel rekomendasi baru di layar proyektor samping.

"Fokuskan seluruh budget pemasaran digital Anda pada influencer tier-dua dan para streamer game komunitas yang memiliki tingkat engagement lebih organik dan intim dengan pengikut mereka. Itu akan menghemat pengeluaran operasional iklan hingga tiga puluh persen, dan secara otomatis mendongkrak margin keuntungan bersih kita menjadi lebih tinggi. Perbaiki struktur anggaran itu berdasarkan arahan saya, dan serahkan proposal finalnya ke meja saya besok pagi pukul delapan."

Dante berdiri dari kursinya, merapikan kancing jasnya dengan elegan. "Rapat selesai."

Alesia terpaku di tempatnya berdiri, mengembuskan napas panjang yang terasa sangat melegakan setelah Dante keluar dari ruangan.

Meskipun sang bos mencecarnya habis-habisan, Alesia sadar bahwa solusi dan kritik yang diberikan Dante justru menyempurnakan semua celah dari ide yang ia miliki. Pria itu mungkin kejam, tetapi kejeniusannya sebagai seorang pemimpin tidak bisa dibantah.

Sejak rapat evaluasi yang menegangkan hari itu, dinamika hidup Alesia berubah total. Ia menjadi jauh lebih gencar dan ambisius. Ego dan tekad di dalam dadanya telah tersulut sepenuhnya oleh tantangan Dante.

Ia tidak peduli lagi dengan amarah, sindiran, atau tatapan mengintimidasi dari sang bos singa. Fokus utamanya sekarang hanya satu: membuktikan bahwa dirinya mampu menaklukkan target satu persen itu dan mempertahankan posisinya di perusahaan ini.

Namun, obsesi besar ini mulai membawa dampak buruk bagi kesehatan Alesia. Demi mengejar tenggat waktu revisi anggaran yang diminta Dante dan mempersiapkan peluncuran kampanye iklan digital yang kini sudah memasuki minggu kedua, Alesia mulai mengabaikan kondisi tubuhnya sendiri.

"Al, ini sudah jam satu siang. Kamu tidak ikut ke kantin? Hari ini menunya ada sup iga sapi kesukaanmu, lho," ajak Min-ji sambil menggoyang-goyangkan lengan baju Alesia yang sedang sibuk mengetik di kubikelnya.

"Kalian duluan saja, Min-ji, Hana. Tanggung banget, aku harus menyelesaikan verifikasi kontak dengan para streamer game ini sebelum jam dua siang. Nanti aku menyusul kalau sudah selesai," jawab Alesia tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer.

Namun, kata 'menyusul' dari mulut Alesia adalah kebohongan besar. Pada akhirnya, ia melewatkan jam makan siangnya begitu saja.

Perutnya yang kosong hanya diganjal dengan sepotong roti lapis instan dingin yang ia beli dari minimarket di lobi bawah kantor, ditemani sekaleng kopi hitam instan untuk mengusir rasa kantuknya.

Tidak hanya jam makan yang berantakan, waktu tidurnya pun menjadi sangat tidak teratur. Pola hidupnya selama satu minggu terakhir benar-benar hancur.

Alesia sering kali baru bisa memejamkan mata pada pukul tiga atau empat pagi di atas sofa apartemennya yang sempit, hanya untuk terbangun kembali pada pukul enam pagi dengan kepala yang berdenyut pening agar tidak terlambat datang ke kantor.

Perubahan fisik pada tubuh Alesia mulai terlihat jelas dan disadari oleh orang-orang di sekitarnya. Lingkaran hitam yang samar namun pekat mulai menghiasi bagian bawah matanya yang lelah, membuat wajahnya yang biasa ceria tampak sedikit pucat. Pipinya pun terlihat agak tirus karena berat badannya yang menyusut akibat jarang makan dengan benar.

"Fiore, kamu kelihatan pucat sekali hari ini. Apa kamu sakit?" tanya Kepala Divisi Pemasaran suatu sore saat menyerahkan berkas persetujuan iklan.

"Kalau kamu butuh istirahat, pulanglah lebih awal. Jangan terlalu memaksakan diri."

Alesia menggelengkan kepalanya cepat dengan senyum tipis yang dipaksakan.

"Saya tidak apa-apa, Timjang-nim. Hanya kurang tidur sedikit saja. Saya jamin performa kerja saya tidak akan menurun."

Di balik tubuhnya yang kelelahan dan langkah kakinya yang mulai melambat karena lemas, ada satu hal yang tidak berubah dari diri Alesia Fiore: sepasang mata bulatnya yang masih memancarkan kilatan ambisi yang sangat keras kepala. Ia menolak untuk menyerah pada rasa sakit atau kelelahan sebelum target dari Dante tercapai.

Sementara itu, di lantai teratas gedung pencakar langit Aetheris Games, sepasang mata abu-abu yang dingin diam-diam tidak pernah berhenti mengawasi perkembangan dari lantai 35.

Dante Luca Alessio sedang berdiri di depan dinding kaca besar ruang kerjanya yang mewah, menatap pemandangan kota Seoul yang mulai dipenuhi lampu-lampu malam. Di tangannya, terdapat sebuah dokumen laporan absensi bulanan dan log aktivitas harian karyawan yang baru saja diserahkan oleh Rey.

"Bagaimana perkembangan kampanye digital dari divisi pemasaran untuk minggu ini, Rey?" tanya Dante, suaranya terdengar datar namun ada nada ketertarikan tersembunyi di dalamnya.

Rey yang sedang merapikan beberapa berkas di meja sofa langsung mendongak.

"Sangat luar biasa, Pak Dante. Sejak strategi pengalihan anggaran ke influencer komunitas dieksekusi tiga hari yang lalu, grafik penjualan item pre-order pada game baru kita menunjukkan tren kenaikan yang sangat positif. Saat ini, dalam waktu sepuluh hari, pendapatan kita sudah merangkak naik sekitar 0,4 persen dari target satu persen yang Bapak berikan."

Dante membalikkan badannya perlahan, menatap Rey dengan alis yang terangkat sebelah.

"Baru 0,4 persen. Masih jauh dari target awal."

"Memang belum mencapai target, Pak. Tapi untuk ukuran kampanye yang digarap dalam waktu sesingkat ini oleh seorang admin pemasaran, hasil ini sudah di luar ekspektasi seluruh direksi," sahut Rey dengan senyum tipis.

Ia berjalan mendekati meja kerja Dante dan meletakkan sebuah berkas tambahan.

"Tapi... ada satu hal yang perlu Bapak ketahui terkait penanggung jawab proyek ini."

"Apa?"

"Nona Alesia. Menurut laporan dari kepala divisinya, kondisi kesehatannya akhir-akhir ini sangat mengkhawatirkan. Dia hampir selalu melewatkan jam makan siangnya, hanya mengonsumsi kopi instan, dan jam lemburnya di kantor ini sudah melewati batas wajar bagi karyawan biasa. Wajahnya sangat pucat belakangan ini, Pak."

Dante terdiam mendengar penuturan Rey. Matanya perlahan beralih menatap monitor kecil di sudut mejanya yang menampilkan sistem CCTV internal gedung. Ia mengklik ikon kamera lantai 35.

Di layar monitor itu, terlihat sosok Alesia yang sedang duduk sendirian di kubikelnya yang sunyi. Gadis itu tampak sedang memijat pelipisnya sendiri dengan mata terpejam, wajahnya yang terekam kamera memang terlihat jauh lebih tirus dan lelah dibandingkan dengan hari pertama ia menumpahkan kopi di lift.

Namun, beberapa detik kemudian, gadis itu kembali membuka matanya, menepuk kedua pipinya sendiri dengan keras seolah sedang menyemangati dirinya sendiri, lalu kembali fokus mengetik di papan ketik komputer.

Melihat pemandangan itu melalui layar kaca, ada rasa sesak yang aneh mendadak mencubit dada Dante. Rasa iba, bersalah, dan kekaguman bercampur menjadi satu di dalam benaknya.

Ia tidak menyangka bahwa gadis ceroboh yang semula ia anggap remeh itu memiliki jiwa pejuang yang begitu keras kepala, bahkan sampai mengorbankan kesehatannya sendiri demi memenuhi tuntutan mustahil yang sengaja ia berikan untuk mengujinya.

Dante mematikan layar monitor CCTV itu dengan sentakan kasar, lalu mengembuskan napas panjang. Ia berjalan kembali ke kursi kebesarannya dengan wajah yang mendadak gusar.

"Gadis bodoh yang keras kepala," gumam Dante pelan, suaranya kali ini tidak lagi terdengar sedingin biasanya.

Ada nada kecemasan yang samar-samar terselip di sana sebuah tanda bahwa sang bos singa yang terkenal kejam kini mulai benar-benar takluk oleh keteguhan hati seorang Alesia Fiore.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!