Tirta Adira selalu percaya bahwa perasaan manusia adalah hal yang paling sulit ditebak. Hari ini bisa mencintai, esok bisa memilih pergi. Karena itulah, setelah sebuah hubungan yang melelahkan meninggalkan luka, ia memutuskan untuk berhenti menggantungkan kebahagiaannya pada siapa pun.
Hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang terkenal kasar, keras kepala, dan memilih mengurung dirinya di balik masa lalu yang belum selesai. Pertemuan mereka tidak pernah berjalan mulus, tetapi di antara setiap perdebatan dan perbedaan, tumbuh sebuah chemistry yang tak mampu dijelaskan oleh logika.
Ini bukan kisah tentang cinta yang rumit. Ini adalah kisah tentang dua orang yang saling menemukan di waktu yang tak pernah mereka rencanakan, lalu perlahan belajar bahwa terkadang, cinta hadir bukan untuk mengubah seseorang, melainkan untuk mengajarkan bagaimana menerima dan menyembuhkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tr_w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
Di dalam kamar mandi, Tirta tengah mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Pikirannya berkelana jauh, bertanya-tanya apakah ada yang salah dengan otak Marchel pagi ini.
Pria itu tidak lagi terdengar berbicara kasar ataupun menatapnya dengan tajam. Bahkan saat tadi dirinya membantu membasuh tubuh Marchel, pria itu terus menatapnya dengan senyum yang tak kunjung luntur.
Apa ada yang salah dengan obat yang diberikan dokter tampan kemarin atau bagaimana?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, sementara hatinya justru dipenuhi perasaan bahagia. Entah mengapa, perubahan sikap pria itu membuatnya terus tersenyum tanpa sadar.
Hari ini dirinya juga sedang libur. Perusahaannya kini menerapkan kebijakan baru. Mereka bekerja selama sembilan jam setiap hari, tetapi mendapat libur dua hari penuh setiap akhir pekan.
Setelah selesai mandi, Tirta mengenakan atasan crop berlengan panjang dipadukan dengan celana panjang yang nyaman. Sesuai rencananya kemarin, dia akan melihat perkembangan renovasi kontrakannya sekaligus mengambil beberapa barang yang masih tertinggal di sana.
Sebelum berangkat, gadis itu menyempatkan diri mampir ke kamar Marchel untuk berpamitan.
Terlihat pria itu sedang bersandar di atas ranjang dengan sebuah laptop di pangkuannya. Tatapannya begitu serius menatap layar, sementara kacamata yang bertengger di hidungnya membuat penampilannya terlihat jauh lebih dewasa.
Oh, tidak... Lihatlah betapa tampannya pria itu. Meski rambutnya mulai panjang dan wajahnya dipenuhi brewok tipis, pesonanya justru semakin memikat. Sepertinya dia jatuh cinta melihat pemandangan itu.
Tunggu.
Jatuh cinta?
Tidak.
Jangan berharap terlalu jauh.
Batin Tirta sambil menggeleng pelan. Setelah itu dia menghampiri Marchel.
“Aku mau pergi mengambil beberapa barang di kontrakan. Nanti pas makan siang aku kembali lagi.” Gadis itu memberi tahu tanpa diminta. Marchel yang masih menatapnya dari balik kacamata yang sedikit diturunkan hanya mengembuskan napas pelan.
“Baiklah...” Jawabnya singkat sebelum kembali mengalihkan pandangan ke layar laptop. Tirta ikut tersenyum. Tangannya terangkat untuk menyentuh dahi Marchel.
“Panasmu sudah turun. Kalau nanti badanmu terasa panas lagi, pastikan kamu langsung menghubungiku, ya?” Marchel mengangguk pelan. Tadi pagi Tirta memang sudah memberikan nomor ponselnya dan berulang kali mengingatkan agar pria itu segera menghubunginya jika merasa tidak enak badan.
“Hm...”
“Baiklah, aku pergi dulu.” Tirta keluar dari kamar.
Begitu pintu tertutup, Marchel segera menggeser kursor laptopnya. Di layar tampak rekaman CCTV yang memperlihatkan Tirta berjalan keluar dari rumah.
“Dia benar-benar meninggalkanku sendiri...” gumamnya pelan.
“Kenapa badanku sudah tidak panas lagi? Apa obat dokter itu sudah tidak mempan?” Marchel mengerutkan kening. Biasanya setiap bulan dia akan demam selama tiga hari berturut-turut, bahkan terkadang lebih.
Lalu kenapa kali ini hanya semalam?
**
Sesampainya di kontrakan, Tirta hanya bisa terdiam dengan pikiran yang semakin kacau.
Lihat saja.
Renovasi itu bahkan belum dimulai. Bukan diperbaiki, justru lebih terlihat seperti sengaja dirusak. Tak ada satu pun pekerja di sana. Bahkan saat menemui pemilik kontrakan, pria paruh baya itu dengan santainya mengatakan renovasi miliknya sengaja ditunda karena kontrakan lain sudah mencapai lima puluh persen pengerjaan.
Yang lebih membuat Tirta kesal, pria itu terlihat sama sekali tidak merasa bersalah meski dirinya harus kehilangan tempat tinggal selama dua sampai tiga bulan ke depan.
Tirta sempat memprotes.
Namun pemilik kontrakan hanya menjawab santai bahwa uang sewanya akan dikembalikan selama dirinya tidak menempati kontrakan tersebut. Saat masih menatap bangunan itu dengan perasaan campur aduk, ponselnya kembali berdering.
Nama yang sama. Sepertinya ini sudah panggilan kedelapan dari pria itu dengan pertanyaan yang sama sekali tidak berbobot.
“Halo...” jawab Tirta setelah menekan tombol hijau di layar ponselnya.
“Kapan pulang?” Tanya Marchel lagi dengan nada datar.
Tirta benar-benar ingin berteriak.
“Sekarang aku pulang. Puas?” jawabnya sarkastis sambil menyibakkan rambut panjangnya ke belakang.
“Aku lapar... tapi kalau kamu memang belum bisa pulang juga tidak apa-apa.” Nada suara Marchel langsung melemah.
Nah.
Justru seperti inilah yang membuat Tirta seketika merasa bersalah. Dia sadar baru saja melampiaskan kekesalannya kepada pria yang sebenarnya hanya sedang kesepian.
“Baiklah, Marchel. Aku pulang sekarang dan akan membuatkan makan siang untukmu.” Suara Tirta kembali lembut sebelum akhirnya sambungan telepon terputus. Sepertinya hari ini pria itu memang membutuhkan seseorang untuk menemaninya.
**
Tiga puluh menit kemudian Tirta tiba kembali di rumah. Dia langsung menuju dapur, meletakkan belanjaannya tanpa sempat mengganti pakaian.
“Kamu sudah pulang?” Tanya Marchel yang kini sudah duduk di kursi rodanya.
“Iya, sudah.” Tirta tersenyum lalu menghampirinya.
“Ini kenapa? Apa kamu tadi jatuh?” tanyanya saat melihat ada goresan kecil di tangan pria itu.
“Tidak apa-apa. Tadi cuma tidak sengaja kena ujung meja.” Marchel tersenyum polos layaknya anak kecil.
Padahal kenyataannya, pria berusia tiga puluh tahun itu tadi terlalu terburu-buru saat melihat Tirta sudah pulang melalui CCTV. Saking tergesa-gesanya, dia membentur meja nakas hingga tangannya terluka tanpa disadari.
“Baiklah. Hari ini kamu mau makan apa?” Tanya Tirta sambil sedikit menundukkan tubuh agar sejajar dengan wajah pria itu.
“Apa pun yang kamu masak pasti akan kumakan.” Jawab Marchel tanpa mengalihkan pandangan dari mata bening milik Tirta. Mata yang entah kenapa selalu ingin dia tatap lebih lama Tirta mengangguk lalu berbalik menuju dapur. Selama dirinya memasak, tak satu pun gerakan gadis itu luput dari perhatian Marchel.
“Hari ini... kamu mau menonton? Aku sedang ingin melepas penat. Kalau kamu tidak mau...”
“Aku mau!”
Marchel langsung memotong ucapannya tanpa memberi kesempatan Tirta menyelesaikan kalimat. Tirta yang sedang membelakanginya menoleh sambil tersenyum. Marchel buru-buru memalingkan wajah.
Oh...
Sepertinya pria itu sedang malu.
Batin Tirta sambil terkekeh pelan.
**
Makan siang tersaji sederhana. Ada sayur hangat dan ikan sebagai lauk utama. Namun Marchel menyantap semuanya dengan sangat lahap. Melihat itu membuat Tirta merasa masakannya benar-benar dihargai. Pria itu bahkan berkali-kali mengatakan kalau masakannya enak.
Apa ini sisi lain Marchel yang selama ini tersembunyi?
Benarkah pria yang biasanya kasar dan ketus itu bisa semenggemaskan anak kecil?
Setelah makan siang, mereka berdua duduk di atas ranjang kamar Marchel sambil menikmati camilan. Tirai ditutup rapat. Pintu kamar juga tertutup. Lampu dimatikan sehingga suasananya terasa seperti berada di dalam bioskop.
Film yang mereka pilih bercerita tentang sebuah keluarga yang menggantungkan seluruh kehidupan mereka kepada anak perempuan sulung. Kedua orang tuanya tidak memiliki pekerjaan tetap sehingga gadis itu harus bekerja tanpa mengenal lelah demi menghidupi keluarganya.
Tak lama kemudian air mata Tirta mulai mengalir ketika salah satu tokoh dalam film itu meninggal dunia. Melihat itu, Marchel segera mengambil tisu di sampingnya lalu menyodorkannya kepada Tirta yang masih menangis sambil terus mengunyah camilan.
Sesekali tawa gadis itu juga pecah ketika muncul adegan-adegan lucu Semua ekspresi itu tak pernah luput dari perhatian Marchel. Sepertinya pria itu sama sekali tidak terlalu tertarik pada film yang sedang diputar. Dia justru jauh lebih tertarik memperhatikan orang yang duduk di sampingnya.
“Hiks... dia sampai membenci pernikahan karena melihat keluarganya sendiri...” ucap Tirta sambil mengusap air matanya. Marchel perlahan merangkul pundak gadis itu, memberinya ruang untuk menangis di dalam pelukannya.
“Apa kamu juga begitu?” Tanya Marchel pelan. Pertanyaan sederhana itu justru membuat air mata Tirta kembali mengalir.
Sejujurnya...
Iya.
Dia juga takut menikah. Takut memulai sebuah hubungan dengan begitu banyak harapan yang mungkin suatu hari akan hancur. Namun di sisi lain, Tirta juga sadar... Saat ini dia merasa sangat nyaman berada di samping pria yang sedang memeluknya.
...****************...
💌 Terima kasih sudah menemukan dan membaca kisah ini bersama. Sampai jumpa di halaman berikutnya. Tr_w 💜