Gagal total merantau di kota, Arga terpaksa pulang kampung dengan dompet kosong dan niat setengah hati untuk bertani di lahan tua peninggalan kakeknya. Namun, nasib sialnya mendadak berbalik 180 derajat ketika sebuah layar biru hologram muncul di pagi buta, mengaktifkan "Sistem Check-in Harian" yang terus memberinya hadiah gila-gilaan setiap hari, mulai dari saldo puluhan juta rupiah, benih super ajaib, hingga barang-barang mustahil lainnya. Kini, dengan cangkul di tangan dan sistem overpower di sisinya, Arga bersiap menampar mulut julid para tetangga, menendang tengkulak serakah, dan membangun kerajaan bisnis pertaniannya sendiri untuk menjadi petani paling sultan yang pernah ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Arga langsung melesat pergi meninggalkan warung kopi itu yang kini dilanda kehebohan luar biasa.
Bu Tejo langsung berbalik dan mulai menggosip dengan kecepatan cahaya kepada ibu-ibu lainnya tentang kejadian barusan.
Sementara Pak Bowo membanting cerutunya ke tanah dan menginjaknya dengan penuh kebencian menatap punggung Arga yang menjauh.
"Lihat saja nanti anak bau kencur, aku akan membuatmu berlutut memohon di kakiku." Pak Bowo bergumam penuh dendam.
Sesampainya di rumah Arga langsung memasukkan motor barunya ke dalam ruang tamu yang kosong melompong.
Dia tidak mau mengambil risiko meninggalkan motor mahal itu di luar semalaman meski pintu pekarangannya sudah dikunci.
Arga melepaskan helm dan jaketnya lalu berjalan menuju pintu belakang untuk memeriksa kebun rahasianya.
Klak.
Dia membuka gembok besar di pintu pagar seng dan masuk ke dalam area yang kini tertutup rapat dari dunia luar tersebut.
Udara di dalam area kebun itu terasa sangat berbeda, jauh lebih sejuk dan segar dibandingkan udara di luar pagar.
Arga berjalan menghampiri dua puluh petak tanah tempat dia menanam benih Cabai Api Naga kemarin siang.
"Wah pertumbuhannya benar-benar luar biasa pesat." Arga bergumam takjub melihat tanaman cabainya.
Hanya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam tanaman cabai itu sudah tumbuh setinggi pinggangnya.
Batangnya semakin tebal dan daun-daun kecilnya kini berwarna hijau kemerahan memancarkan aura panas yang tipis.
Bahkan di sela-sela daunnya sudah mulai bermunculan kuncup bunga kecil yang siap berubah menjadi buah cabai dalam sehari lagi.
"Sistem memang tidak pernah mengecewakan soal kualitas genetik tanaman mutasinya."
Arga lalu teringat dengan hadiah misi dadakannya tadi siang yang belum sempat dia periksa.
"Sistem, buka inventaris dan keluarkan Kotak Perkakas Petani Tingkat A milikku sekarang juga."
Wush.
Sebuah kotak besi berukuran sedang berwarna perak mengkilap tiba-tiba muncul dan mendarat di atas tanah di depan Arga.
Kotak perkakas itu terlihat sangat modern dengan desain futuristik yang tidak seperti alat pertanian pada umumnya.
"Bentuknya keren sekali seperti koper penyimpanan senjata rahasia di film agen rahasia." Arga berjongkok dan membuka pengait koper tersebut.
Klak.
Tutup koper terbuka memancarkan cahaya biru lembut dari dalam.
Di dalam koper itu terdapat dua buah benda aneh yang belum pernah dilihat Arga sebelumnya.
Benda pertama adalah sepasang sarung tangan berwarna hitam legam yang terbuat dari bahan bersisik mirip kulit reptil.
Benda kedua adalah sebuah cangkul kecil berukuran setengah lengan yang gagangnya terbuat dari logam perak ringan dan ujungnya bersinar tajam.
[Kotak Perkakas Petani Tingkat A berhasil dibuka.]
[Selamat, Host mendapatkan Sarung Tangan Tenaga Badak dan Cangkul Pembelah Bumi Mini.]
Arga mengerutkan keningnya membaca nama-nama benda yang terdengar sangat berlebihan tersebut.
Dia mengambil sarung tangan hitam itu dan mencoba memakainya di kedua tangannya.
Begitu sarung tangan itu terpasang Arga merasakan sebuah energi hangat yang luar biasa mengalir deras ke seluruh otot lengannya.
[Sarung Tangan Tenaga Badak: Memberikan kekuatan fisik sepuluh kali lipat kepada lengan Host saat melakukan pekerjaan bertani.]
[Host tidak akan merasa kelelahan atau pegal meski mencangkul selama dua puluh empat jam penuh.]
"Sepuluh kali lipat tenaga? Ini sih curang namanya, aku bisa jadi manusia super hanya dengan sarung tangan ini." Arga mengepalkan tangannya dan merasakan kekuatan yang meluap-luap.
Dia lalu mengambil benda kedua yaitu cangkul mini berwarna perak tersebut.
Cangkul itu terasa seringan kapas di tangannya namun material besinya terlihat sangat keras dan tidak bisa dihancurkan.
[Cangkul Pembelah Bumi Mini: Dapat menggemburkan tanah sekeras batu hanya dengan satu ayunan ringan.]
[Cangkul ini akan otomatis menyesuaikan area galian sesuai dengan keinginan pikiran Host.]
Arga tidak sabar untuk langsung menguji kesaktian dua benda baru dari sistem tersebut.
Dia berjalan ke area tanah kosong di sudut kebun yang banyak ditumbuhi akar pohon besar dan berbatu keras.
Area itu sengaja belum dia bersihkan karena kemarin tenaganya sudah habis dan cangkul usangnya pasti akan patah jika dipaksakan.
Arga menatap tanah keras berbatu itu lalu membayangkan sebuah lubang tanam selebar setengah meter.
Dia mengayunkan cangkul perak mini itu dengan satu tangan tanpa mengerahkan tenaga sama sekali.
Jleb. Ujung cangkul itu menembus tanah berbatu itu dengan sangat mudah seolah sedang memotong sebuah agar-agar lunak.
Krakk.
Batu sebesar kepalan tangan yang tertanam di bawah tanah langsung hancur lebur menjadi pasir saat terkena ujung cangkul.
Tanah yang tadinya keras membatu kini langsung berubah menjadi gembur dan sangat subur dalam sekejap mata.
"Gila, ini luar biasa mengerikan namun juga sangat memuaskan." Arga terbelalak lebar melihat hasil ayunan pertamanya.
Hanya dalam waktu sepuluh menit Arga berhasil menggemburkan seluruh area tanah kosong tersebut tanpa mengeluarkan sebutir keringat pun.
Napasnya tetap teratur dan otot lengannya sama sekali tidak merasakan pegal sedikit pun berkat efek sarung tangan ajaibnya.
"Dengan alat-alat ini aku bisa mengurus ladang seluas satu hektar sendirian tanpa perlu menyewa tenaga orang lain."
Arga tertawa puas sambil menyimpan kembali cangkul mini itu ke dalam saku celananya.
Sarung tangannya otomatis menghilang menjadi partikel cahaya dan kembali masuk ke dalam inventaris saat dia berniat melepasnya.
Drrt drrt drrt.
Ponsel butut di saku Arga tiba-tiba bergetar memecah kesenangannya.
Arga mengambil ponselnya dan melihat sebuah nomor tidak dikenal dari luar kota memanggilnya.
"Halo, dengan siapa ini." Arga menjawab telepon itu dengan nada formal.
"Halo Mas Arga, ini saya Siska yang kemarin beli tomat kristal di pasar." Suara merdu namun tegas terdengar dari seberang telepon.
"Oh Nona Siska, ada yang bisa saya bantu, apakah tomatnya ada masalah." Arga menjawab dengan senyum mengembang menyadari pembeli VVIP-nya sudah masuk perangkap.
"Tidak ada masalah sama sekali Mas, justru sebaliknya bos besar restoran saya sangat terpukau dengan kualitas tomat Anda."
"Beliau memerintahkan saya untuk segera mengamankan pasokan tomat itu sebagai menu eksklusif restoran kami." Siska menjelaskan dengan nada yang sedikit bersemangat namun tetap profesional.
"Saya turut senang mendengarnya Nona, lalu apa rencana Nona selanjutnya."
"Saya ingin meninjau langsung lokasi kebun Mas Arga besok pagi sekitar jam sembilan."
"Saya perlu memastikan bahwa kapasitas produksi dan sanitasi kebun Anda memenuhi standar restoran bintang lima kami."
Arga terdiam sejenak otaknya berputar cepat menyusun rencana untuk menyambut kedatangan Siska besok.
Dia tidak takut dengan inspeksi kebun karena tanaman sistemnya bebas dari hama dan sangat higienis.
Namun dia harus memastikan bahwa Siska tidak terlalu banyak bertanya soal kecepatan pertumbuhan tanamannya yang tidak masuk akal ini.
"Tentu saja Nona Siska, silakan datang ke rumah saya besok pagi pintu kebun saya selalu terbuka untuk Nona."
"Terima kasih Mas Arga, saya juga akan membawa draf surat kontrak awal untuk kita pelajari bersama besok."
"Baik Nona, saya tunggu kedatangannya besok, selamat sore."
Tut.
Sambungan telepon terputus meninggalkan Arga dengan jantung yang kembali berdegup kencang karena gembira.
"Surat kontrak, ini artinya aku akan segera memegang kerja sama bernilai puluhan atau bahkan ratusan juta rupiah secara rutin."
Arga mengepalkan tangannya menatap langit sore yang mulai memerah di atas kebun seng miliknya.
"Pak Bowo si lintah darat itu pasti akan menangis darah kalau sampai dia tahu nilai kontrak yang akan kutandatangani besok."
Arga masuk kembali ke dalam rumah untuk membersihkan diri dan bersiap tidur lebih awal.
Besok adalah hari penentuan yang sangat penting bagi keberlangsungan kerajaan bisnis sayuran ajaibnya.
Dia harus tampil maksimal dan memastikan Nona Siska jatuh cinta tidak hanya pada tomatnya namun juga pada prospek pertaniannya.
Di luar rumah suara jangkrik mulai bernyanyi menyambut malam yang semakin gelap menyembunyikan keajaiban yang terus tumbuh di balik pagar seng tersebut.