NovelToon NovelToon
Aku, Kamu Dan Sebuah Rasa

Aku, Kamu Dan Sebuah Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:507
Nilai: 5
Nama Author: Madelyn_Sa

Setelah bertahun-tahun memendam perasaan tanpa kepastian, Kiara akhirnya memilih mundur dan membuka hati hingga menerima lamaran Dimas, pria dewasa yang memberinya komitmen nyata. Namun, tepat sebulan sebelum akad nikah, sebuah rahasia masa lalu terbongkar...
Rahasia apakah itu???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 : SOP 50 Halaman, Metalcore Nyasar, dan Pengakuan Cinta Sang Penyidik

Ruang rapat berpendingin udara di kantor Harmony EO mendadak berubah atmosfernya menjadi mirip ruang sidang pembacaan tuntutan pidana.

Papan tulis putih (whiteboard) raksasa di dinding depan penuh dengan coretan diagram rantai pasok, grafik Gantt Chart, dan skema alur pergerakan tamu.

Fahri—pria yang biasanya memegang urusan administrasi dan legal dinas yang super kaku—kini berdiri di depan ruangan dengan kemeja putih tergulung hingga siku. Kacamatanya meluncur turun ke ujung hidung, dan keningnya mengkerut dalam.

Di sekeliling meja oval, anggota Geng Harmony (Bagas, Dave, Galang, Daffa, Arga, Rendra) duduk berjejer bersama Dimas dan Kiara.

Kiara yang perutnya sudah makin membuncit manis di usia lima bulan duduk bersandar nyaman di samping Dimas, sibuk mengunyah keripik tempe seraya menahan tawa.

BRUK!

Fahri menghempaskan seberkas dokumen tebal bertulisan Jilid Spiral Cover Merah tepat di tengah meja.

"Rekan-rekan sekalian," buka Fahri dengan vokal bariton yang tertata rapi khas pejabat pemeriksa.

"Acara lamaran saya kepada Widya dua minggu lagi adalah proyek taraf VVIP. Saya telah menyusun SOP & Kontingensi Plan Lamaran setebal 50 halaman. Saya menuntut zero-tolerance terhadap kesalahan teknis sekecil apa pun!"

Bagas menyambar dokumen itu, membuka halaman demi halaman dengan kening berkerut parah.

"Bentar, Fahri..." Bagas membelalak.

"Ini lu mau ngelamar Widya apa mau bikin studi kelayakan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir?! Ada Sub-bab 4.2 tentang Manajemen Risiko FMEA jika baki sesumbar miring lebih dari 15 derajat?!"

"Penting itu, Bagas!" sahut Fahri serius tanpa ada guratan humor sedikit pun di wajahnya.

"Kalau baki seserahan miring, kue lapis legit bisa merosot! Dave, lu penanggung jawab dekorasi bunga. Bunga harus mawar putih impor. Tidak boleh ada mawar merah, apalagi mawar plastik toko grosiran!"

Dave menepuk jidatnya keras-keras.

"Fahri, lu mau ngelamar pujaan hati atau mau ujian simulasi akreditasi ISO 9001?! Lu nyantai dikit napa, muka lu udah kayak kupon diskon kadaluarsa begitu!"

Kiara menyenggol lengan Dimas seraya berbisik geli.

"Mas... aku baru tahu ada orang mau melamar wanita pakai tabel analisis dampak risiko hukum."

Dimas cuma bisa menepuk bahu Fahri seraya terkekeh pelan.

"Ri, lu tenang aja. Harmony EO ini sudah berpengalaman pegang ratusan acara besar. Lu tinggal fokus mental, siapin fisik, dan hafalin pidato."

"Gimana mau tenang, Bos?!" serak Fahri panik, merogoh saputangan buat mengusap keringat dingin di dahinya yang mendadak bercucuran.

"Ini Widya! Wanita paling sempurna dan anggun dalam hidup saya! Kalau Bagas salah putar lagu atau Dave salah pasang papan bunga, saya bisa kena serangan jantung sebelum bilang 'Maukah kamu jadi istriku'!"

...***...

Kepanikan dan kekhawatiran Fahri ternyata terbukti bukan sekadar paranoid belaka. Begitu H-1 acara, pelataran rumah sederhana keluarga Widya disulap menjadi area tempur penuh kekacauan oleh Geng Harmony.

Dave, yang diserahi tugas mendesain backdrop tempat duduk utama, mendadak dirasuki "jiwa seni liar".

Bukannya membuat dekorasi rustic kayu dan mawar putih sesuai perintah ketat di SOP Fahri, Dave malah memesan tirai kain berwarna pink neon bercahaya, lengkap dengan instalasi balon berbentuk dua angsa raksasa setinggi dua meter yang saling memagut.

"DAVE! INI ANGSA APA ITIK MANIA?!" teriak Bagas begitu melihat dua angsa balon pink menyala berdiri tegap di tengah ruang tamu Widya.

"Ini acara lamaran orang dewasa, bukan acara ulang tahun anak TK tempat Rayyan sekolah!"

"Ini simbol keabadian asmara dua sejoli, Gas!" bela Dave tidak mau kalah seraya sibuk melilitkan lampu kelap-kelip warna-warni di leher angsa balon.

"Lu itu gak paham estetika seni kontemporer!"

Sementara di sudut luar halaman, Galang dan Daffa sibuk melakukan uji coba sistem suara (sound test). Daffa yang salah mencolokkan kabel amplifier mendadak memicu jeritan suara frekuensi tinggi.

Suara lengkingan pengeras suara itu begitu keras hingga membuat lima ekor ayam bangkok milik tetangga sebelah rumah Widya panik, berkokok nyaring, dan terbang melompati pagar genteng!

Tepat pada saat itu, mobil Fahri berhenti di depan rumah. Fahri yang turun dari mobil hendak mengecek kesiapan lokasi langsung memegang dadanya seketika. Matanya melotot tajam menatap tirai pink neon dan dua angsa balon menyala milik Dave.

"D-Dave..." desis Fahri dengan napas tersengal, jarinya menunjuk balon angsa dengan gemetar.

"Ini... ini melanggar Lampiran 2 Paragraf 4 SOP saya tentang batasan warna pastel..."

"Halah, SOP lu buang ke laut aja, Ri!" potong Bagas santai seraya merangkul leher Fahri dan menyeretnya masuk ke mobil.

"Tenang, besok pasti spektakuler. Lu pulang sekarang, luluran, minum jamu herbal, tidur! Jangan sampai pas ngelamar muka lu kayak orang kurang tidur!"

...***...

Rombongan keluarga besar Fahri yang didampingi seluruh jajaran Harmony EO sudah berjejer rapi di depan pintu pagar rumah Widya.

Fahri tampak sangat gagah dan berwibawa mengenakan kemeja batik tulis warna cokelat keemasan.

Namun, ketenangan fisiknya hanyalah topeng—telapak tangannya membeku dingin dan dadanya naik turun seperti orang habis maraton. Tangannya memegang kotak cincin dengan cengkeraman mati.

"Gue gemetar, Dim... tangan gue basah kuyup..." bisik Fahri parau ke arah Dimas yang berdiri gagah di sebelahnya sebagai pendamping utama.

"Tarik napas, Ri. Lu penyidik hebat di kantor dinas, masa lawan calon bapak mertua aja takut," goda Dimas seraya membetulkan tata letak kerah batik Fahri.

Arga yang bertindak sebagai komando lapangan mengacungkan HT-nya.

"Oke, rombongan keluarga pria jalan perlahan memasuki halaman. Bagas, putar lagu instrumen kecapi suling Sunda yang lembut sekarang!"

Bagas yang berada di balik meja operator audio mengacungkan jempol mantap. Pria itu mengklik tombol Play di laptopnya.

Namun, bukannya nada petikan kecapi suling Sunda yang syahdu dan mendayu-dayu, yang meluncur deras menggelegar dari dua speaker aktif raksasa justru lagu Metalcore / Heavy Metal dengan ketukan double bass drum yang menghantam dada dan teriakan vokalis yang memekik telinga:

TRETEK-TEK-TEK! DARRR! SCREAMMM!

“DESTROY ALL THE ENEMIESSSS!”

Seluruh rombongan keluarga besar Fahri seketika membeku kaku di tempat. Ibunda Fahri terperanjat memegang dada, sementara Ayah Fahri kaget hingga kacamatanya melorot ke ujung hidung.

Calon bapak mertua Widya yang sudah berdiri menyambut di pintu depan langsung terbelalak melotot.

"BAGAS! SALAH PLAYLIST, GOBLOK!" jerit Dave setengah berbisik sambil mendaratkan pukulan mentah di punggung Bagas.

Bagas panik setengah mati. Jari-jemarinya gemetar menekan-nekan tombol spacebar laptop yang mendadak hang freeze.

"Aduh! Ini playlist lagu latihan nge-gym gue semalam kagak kehapus!"

Setelah lima detik penuh kepanikan yang membuat jantung Fahri serasa mau melompat keluar dari tenggorokan, suara musik metal itu akhirnya mati total dan berganti dengan instrumen petikan gitar akustik yang lembut.

Seluruh tamu mendesah lega, sementara Bagas cuma bisa menyengir meringis seraya membungkuk-membungkuk berkali-kali meminta maaf ke arah Ayah Fahri yang menatapnya tajam.

Setelah prosesi penyerahan seserahan yang diwarnai ketegangan konyol itu selesai, acara inti digelar di dalam ruang tamu yang telah disulap hangat. Angsa pink menyala milik Dave bersyukur sudah dicopot atas ancaman pemecatan dari Arga.

Pintu samping terbuka. Widya melangkah keluar dibimbing ibundanya. Wanita itu tampak amat anggun dalam balutan kebaya warna krem lembut dengan paduan kain batik senada.

Riasan tipis di wajahnya memancarkan keindahan yang alami. Pipi Widya merona merah begitu matanya beradu pandang dengan Fahri.

Fahri berdiri dari kursinya. Dari saku jas batiknya, ia mengeluarkan lima lembar kertas pidato lamaran yang sudah ia susun dan hapalkan luar kepala selama satu minggu penuh.

Namun, ketika ia menatap binar mata Widya yang begitu tulus, lembut, dan penuh rasa percaya... jari-jemari Fahri yang memegang lembaran kertas pidato mendadak gemetar hebat.

Di luar dugaannya sendiri, Fahri perlahan melipat lembaran kertas 5 halaman itu, lalu memasukannya kembali ke dalam saku jasnya. Ia memutuskan untuk tidak membaca satu kata pun dari pidato kaku yang telah disiapkannya.

"Widya..." buka Fahri. Vokalnya yang biasanya tegas dan terstruktur di ruang sidang kini terdengar pelan, bergetar, dan amat serak menahan keharuan.

Seisi ruangan mendadak hening total.

"Saya ini pria kaku..." tutur Fahri tulus seraya menatap lurus mata Widya.

"Saya tidak pandai merangkai kata-kata manis seperti pujangga, dan saya sering membuat kamu pusing dengan semua kerumitan dan aturan saya. Tapi di hadapan Bapak, Ibu, dan seluruh sahabat-sahabat saya malam ini..."

Fahri mengambil napas panjang, air mata bening tampak menggenang di sudut matanya.

"...saya mau berjanji. Saya akan menjaga, melindungi kehormatan dan menjadikan kamu satu-satunya ratu dalam hidup saya sampai napas terakhir yang saya miliki."

Fahri perlahan berlutut di hadapan Widya, membuka kotak bludru merah berisi cincin emas berhias permata mungil.

"Widya... maukah kamu menerima segala kelebihan dan seluruh kekurangan saya... untuk berjalan bersama saya menuju rida-Nya?"

Suasana ruangan berubah haru luar biasa. Kiara yang menyaksikan momen itu meneteskan air mata bahagia, menyandarkan kepalanya di dada bidang Dimas. Dimas merangkul bahu istrinya erat-erat, ikut terharu melihat sahabat kakunya akhirnya menemukan keberanian cinta.

Widya mengangguk pelan, air mata kebahagiaan mengalir mulus di pipinya.

"Bismillah... dengan izin Bapak dan Ibu... saya menerima lamaran Mas Fahri."

Sorak-sorai dan tepuk tangan meriah spontan pecah mengguncang rumah!

Bagas yang terlalu bersemangat langsung menembakkan tabung confetti popper kertas warna-warni... yang sayangnya, karena jarak tembaknya terlalu dekat, potongan kertas warna-warninya meluncur deras tepat menembak wajah Fahri yang sedang tersenyum lebar!

POK!

"Bagas! Uhuk-uhuk! Kertasnya masuk ke mulut gue!" batuk Fahri seraya mengeluarkan potongan kertas merah emas dari dalam mulutnya.

Gelak tawa riuh seketika pecah membelah keharuan ruangan.

Sore harinya, acara formal berganti menjadi pesta makan-makan santai di pelataran rumah. Suasana hangat menyelimuti semua orang.

Bagas dan Dave sibuk membagikan sate ayam dan es buah ke tamu-tamu komplek. Rayyan berlarian ke sana kemari membawa sisa balon buatan Dave.

Dimas berdiri merangkul pinggang Kiara di bawah naungan tenda taman.

"Lihat tuh, Ra... Fahri akhirnya menemukan pelabuhan bahagianya," bisik Dimas lembut seraya mendaratkan kecupan hangat di pelipis Kiara.

Kiara tersenyum manis, jemarinya mengusap perutnya yang makin membuncit.

"Iya, Mas. Dulu kita yang berjuang melewati badai dan fitnah... sekarang kita bisa menyaksikan satu per satu sahabat kita menemukan kebahagiaannya sendiri."

Fahri dan Widya melangkah mendekati Dimas dan Kiara seraya membawa piring berisi tumpeng. Fahri mengulurkan tangannya, menjabat tangan Dimas dengan cengkeraman erat penuh rasa terima kasih.

"Dim... Kiara..." kata Fahri tulus.

"Terima kasih banyak. Tanpa dorongan dan teladan dari rumah tangga kalian berdua, saya tidak akan pernah punya keberanian untuk melangkah sejauh ini."

Dimas menepuk-nepuk bahu Fahri dengan bangga.

"Selamat ya, Ri. Selamat datang di kehidupan sebagai seorang pelindung keluarga sejati."

Di bawah pendar sinar matahari sore Kota Sukabumi yang bersinar keemasan, tawa konyol Geng Harmony, senyuman tulus Fahri dan Widya, serta kehangatan dekapan Dimas untuk Kiara menyatu sempurna—sebuah bukti bahwa setelah segala badai terhebat berlalu, cinta yang tulus akan selalu menemukan jalannya untuk pulang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!