NovelToon NovelToon
Perjalanan Dewa Alkemis Di Alam Primordial

Perjalanan Dewa Alkemis Di Alam Primordial

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Perperangan
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

*𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘼𝙡𝙠𝙚𝙢𝙞𝙨 𝙎𝙚𝙢𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣 𝘽𝙚𝙣𝙪𝙖 𝙎𝙚𝙖𝙨𝙤𝙣 𝘿𝙪𝙖*

Ini adalah kisah Lin Xuan Sang Dewa Alkemis yang tidak sengaja bertemu dengan musuh terkuatnya Mo Xie, dua orang dari alam bawah yang tanpa sengaja terjerumus ke alam semesta yang jauh lebih tinggi.

Namun, mereka segera menyadari bahwa gelar agung, bahkan kekuasaan yang dianugerahkan oleh para Dewa dan Iblis Kuno bukanlah berkah, melainkan umpan untuk memelihara tubuh mereka hingga matang sebelum akhirnya dijadikan santapan.

Alih-alih terus saling membunuh, dua anomali ini akhirnya mengesampingkan permusuhan mereka untuk sementara.

Sebab sebelum menentukan siapa yang akan mati di tangan siapa, mereka sepakat melakukan satu hal terlebih dahulu...

Membantai para dewa serta iblis munafik dan membuat seluruh Alam Tinggi berlumuran darah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Teror Tubuh Mutlak

Langit Alam Tanpa Nama terbelah oleh sesosok bayangan yang melesat turun dengan kecepatan mengerikan.

Di alam dengan tekanan langit dan bumi puluhan ribu kali lebih berat daripada Sembilan Benua, batu raksasa sekalipun akan hancur sebelum mencapai tanah.

Namun yang jatuh bukanlah batu ataupun puing bintang.

Itu adalah Lin Xuan.

Tubuhnya menembus badai abu dan racun. Gesekan dengan udara membuat sekelilingnya memerah seperti meteor yang jatuh dari langit.

Sementara itu, jutaan makhluk purba di bawah sana masih tenggelam dalam peperangan, sama sekali tidak menyadari apa yang sedang turun ke tengah medan tempur.

Di pusat lembah berdiri sebuah kristal raksasa sebesar bukit kecil.

Tak jauh di depannya, seorang Komandan Ksatria Emas tengah mengangkat pedang untuk melancarkan tebasan terakhir, sementara di hadapannya berdiri Jenderal Monster Tulang setinggi belasan meter dengan cakar terulur.

Kedua pemimpin itu hendak menentukan kemenangan.

Namun pada saat itulah...

Boom!

Lin Xuan menghantam tanah dengan kekuatan tubuh.

Tanah retak dan terangkat seperti gelombang lautan. Gelombang kejut menyapu ke segala arah, melemparkan ribuan ksatria emas dan monster tulang.

Bahkan Komandan Ksatria Emas dan Jenderal Monster Tulang pun terpaksa menghentikan serangan mereka. Pedang dan cakar mereka menancap ke tanah untuk menahan tubuh dari sapuan badai debu.

Medan perang yang semula dipenuhi raungan mendadak sunyi.

Jutaan pasang mata tertuju pada kawah raksasa yang terbentuk di depan kristal.

Debu perlahan mengendap.

Di dasar kawah berdiri seorang pria berjubah abu-abu.

Rambut peraknya berkibar tertiup angin. Dengan santai, Lin Xuan menepuk debu di bahunya, seolah ia baru saja turun dari sebuah bukit kecil.

Komandan Ksatria Emas menatapnya dengan mata keemasan.

Indra ilahinya menyapu tubuh Lin Xuan, mencoba mencari jejak kekuatan.

Namun tidak ada apa pun.

Tidak ada aura hukum.

Tidak ada gejolak Qi.

Bahkan tidak ada sedikit pun tekanan kekuatan.

Jenderal Monster Tulang yang berkepala tiga juga mencoba merasakan aura kematian dari tubuh manusia itu.

Hasilnya tetap sama.

“Makhluk dari alam bawah?”

Suara Komandan Ksatria Emas menggema di seluruh lembah.

“Tekanan alam ini seharusnya telah menghancurkan tubuhmu sebelum kau menyentuh tanah. Namun kau malah berani mengotori tanah suci kami.”

Jenderal Monster Tulang tertawa. Suaranya terdengar seperti ribuan tulang yang saling bergesekan.

“Manusia, menyingkirlah. Kristal itu milik kami.”

Lin Xuan tidak memedulikan keduanya.

Tatapannya hanya tertuju pada kristal raksasa di belakang mereka.

Energi di dalamnya terus berdenyut, seolah memanggil Tungku Daging Kesembilan di dalam tubuhnya.

Pada saat itu, Lin Xuan memahami satu hal tentang alam ini.

Yang kuat mengambil.

Yang lemah menyerah.

Kalau begitu, tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan.

“Aku akan mengambilnya.”

Ucapan sederhana itu langsung membangkitkan amarah Jenderal Monster Tulang.

“Berani sekali!”

Tubuh raksasanya menerjang seperti gunung yang runtuh.

Cakar hitamnya menyapu ke arah leher Lin Xuan, membawa hawa kematian yang bahkan mampu mengikis sebuah gunung.

Namun Lin Xuan tetap berdiri. Ia tidak menghindar. Bahkan matanya tidak berkedip.

Kraang!

Cakar itu menghantam bahunya. Tetapi yang hancur bukanlah tubuh Lin Xuan.

Cakar tulang hitam itu justru pecah berkeping-keping.

Jenderal Monster Tulang membelalakkan mata.

“Apa...?” Ia menatap lengannya yang telah kehilangan cakar. “Tubuhmu...”

Lin Xuan mengusap bahunya dengan tenang. Bahkan tidak ada bekas luka.

“Tulangmu terlalu rapuh.”

Wajah ketiga kepala monster itu berubah.

Namun sebelum sempat bereaksi, Lin Xuan telah menghilang.

Bukan karena teknik perpindahan ruang.

Melainkan murni karena kekuatan tubuhnya yang telah melampaui batas penglihatan.

Dalam sekejap, ia sudah berdiri di depan kepala tengah monster tersebut.

Tinju kanannya terangkat.

Boom!

Tinju itu menghantam kepala monster dengan kekuatan yang mengguncang langit dan bumi.

Ketiga tengkoraknya pecah bersamaan.

Tubuh raksasa itu terlempar ke belakang, menabrak pasukannya sendiri dan membelah tanah sejauh puluhan li. Sebuah jurang panjang terbentuk di tengah pasukan tulang.

Jenderal Monster Tulang jatuh. Dan tidak pernah bangkit lagi.

Seluruh lembah membeku.

Jutaan makhluk menatap mayat sang jenderal dengan rasa takut yang perlahan berubah menjadi kengerian.

Hanya satu pukulan.

Komandan Ksatria Emas memucat.

“Mustahil...”

Lin Xuan perlahan menggerakkan pergelangan tangannya. Lalu ia menatap sang komandan.

“Sekarang giliranmu.”

Komandan itu menggertakkan gigi. “Semua pasukan! Bunuh dia!”

Puluhan ribu Ksatria Emas segera mengangkat senjata.

“Gunakan Cahaya Pemusnah!”

Langit seketika dipenuhi tombak-tombak cahaya.

Pada saat yang sama, pasukan Monster Tulang juga melepaskan kekuatan kematian mereka.

Untuk pertama kalinya, dua ras yang saling bermusuhan menyerang musuh yang sama.

Puluhan ribu serangan cahaya dan kematian turun bersamaan.

Boom!

Ledakan dahsyat mengguncang seluruh lembah. Tanah meleleh menjadi lautan api.

Semua prajurit menahan napas dan menatap pusat ledakan.

Tak ada makhluk yang seharusnya mampu bertahan dari serangan seperti itu.

Namun dari dalam kobaran api—

Tap... Tap... Tap.

Suara langkah kaki terdengar perlahan.

Sesosok tubuh berjalan keluar dari lautan api.

Jubahnya telah lenyap, memperlihatkan tubuh bagian atas yang memancarkan cahaya perak samar seperti bintang di langit malam.

Lin Xuan menepuk dadanya. “Hanya terasa sedikit gatal.”

Seluruh medan perang terdiam.

Komandan Ksatria Emas gemetar. “Makhluk apa kau sebenarnya?”

Lin Xuan tidak menjawab. Ia hanya sedikit merendahkan tubuhnya.

Otot paha dan betisnya menegang.

Dalam sekejap...

Wussh!

Sosoknya menghilang.

Saat muncul kembali, Lin Xuan telah berada di bawah tunggangan singa bercahaya milik sang komandan.

Tangannya meraih kaki binatang itu. Lalu ia mengayunkannya.

Boom!

Singa dan komandannya dibanting ke tanah.

Zirah emas mereka pecah, dan Tanah kembali retak.

Komandan Ksatria Emas memuntahkan darah emas sebelum kehilangan kesadaran.

Hanya dalam beberapa tarikan napas, dua pemimpin pasukan telah tumbang di tangan Lin Xuan.

Pasukan kedua ras mulai mundur. Tak seorang pun berani mendekat.

Di dalam jiwanya, Hun Yuan tertawa pelan. “Tubuhmu masih mengerikan seperti biasanya, Tuanku.”

“Diam dan tetap bersembunyi.”

Lin Xuan berjalan menuju kristal. Tak ada lagi yang berani menghalangi jalannya.

Ia berdiri di hadapan kristal raksasa itu lalu menempelkan telapak tangannya pada permukaannya.

Seketika, energi purba yang sangat pekat mengalir ke dalam tubuhnya.

Energi itu liar dan ganas. Begitu memasuki meridian, rasanya seolah hendak merobek tubuhnya dari dalam.

Namun Lin Xuan justru tersenyum.

Inilah energi yang selama seratus tahun ia cari. Energi yang cukup kuat untuk mendorong Tungku Daging Kesembilan menuju batas berikutnya.

“Bagus.”

Matanya perlahan terpejam.

Tubuh Lin Xuan mulai berdenyut.

Sumsum, tulang, darah, dan meridiannya perlahan menyerap energi kristal.

Di tengah medan perang yang dipenuhi mayat, dua pasukan purba hanya mampu menyaksikan dengan rasa takut.

1
Raju
jossssss
Raju
alankah terjadi perang besar dan menghancurkan kota atau awal dri sebuah aliansi ??
Raju
lin xuan sang kaisar obat jadi pegawai dadakan ....😁😁
Celestial Quill: hahahah, mungkin cape jadi kaisar terus😄
total 1 replies
Raju
hm... lin xuan... keanya serba bisa ni org... dri kultivator, pemusnah massal, pembuat drama terbaik, hingga jadi tukang bengkel pun bisa keanya ...🤣🤣🤣
Celestial Quill: hahaha😄😄
total 1 replies
Raju
poin yg q kumpulkan selama ribuan tahun Meluncur Thor....!! 😁😁
Raju
ternyata pendatang lbih ganas dri pada penunggu....🤣🤣🤣
Raju
perebutan kristal dimulai...
Raju
vote meluncur buat karyamu Thor...!!
Celestial Quill: Terimakasih, semoga karya baru dapat menghibur. Selamat membaca
total 1 replies
Green Boy
Mantap Thor
Celestial Quill: Terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!