Di balik senyum ceria Nadia, tersimpan ketangguhan luar biasa. Meski ia tidak bisa bicara dan berasal dari keluarga sederhana, kecerdasannya membawa Nadia meraih beasiswa di universitas swasta ternama.
Namun, dunianya yang begitu sempurna seketika runtuh saat kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan tragis. Demi masa depannya, Nadia membalut lukanya dengan senyuman. Sayangnya, badai kembali datang seolah tidak membiarkan Nadia hidup dengan tenang, hingga ia bertemu dengan seorang pria yang membantunya dari kejamnya dunia.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang terjadi pada Nadia? Siapakah pria yang membantu Nadia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Sore harinya, matahari perlahan-lahan condong ke barat dan memancarkan bias cahaya keemasan yang menghangatkan langit ibu kota. Mobil Rolls-Royce Phantom hitam yang dikemudikan oleh sopir pribadi keluarga Mahendra meluncur tenang dan membawa rombongan kecil itu kembali ke kediaman utama.
Suasana di dalam kabin mobil terasa begitu tenang, diisi oleh obrolan ringan antara Mama Bella dan Nadia yang sesekali merespons lewat tulisan atau senyuman manis. Sementara Aksa, pria itu lebih banyak diam, meski sesekali ekor matanya melirik ke arah Nadia yang duduk di samping Mama Bella, memerhatikan pantulan wajah gadis itu di jendela mobil.
Setibanya di rumah, hari sudah mulai senja. Udara sore berembus sepoi-sepoi, membawa kesejukan dari taman belakang rumah yang tertata sangat asri, dipenuhi oleh deretan bunga mawar putih dan kolam ikan koi yang jernih.
Karena hari masih cukup terang dan melelahkan setelah berjam-jam mengurus gaun pengantin serta konsep pernikahan, Mama Bella mengajak Nadia untuk bersantai di area gazebo belakang.
"Ayo, Nadia. Kita duduk-duduk dulu di taman belakang sambil minum teh hangat. Biar Bi Nita siapkan camilan sore," ajak Mama Bella dengan penuh kehangatan, merangkul pundak Nadia berjalan menuju area halaman belakang.
Papa Mahendra yang baru saja melepaskan jas kerjanya menyusul dari belakang, sementara Aksa berjalan di urutan paling akhir dengan langkah tenang, kedua tangannya terselip di saku celana bahan formalnya.
Area gazebo belakang kediaman Mahendra sangat luas, dilengkapi dengan sofa empuk bergaya klasik modern berwana putih tulang serta meja kayu mahoni di tengahnya.
Nadia melangkah masuk dan berniat duduk di sudut sofa panjang yang menghadap langsung ke kolam ikan. Namun, sebelum Nadia sempat mendaratkan duduknya, Mama Bella dengan gerakan gesit dan senyuman penuh arti langsung menduduki bagian tengah sofa tersebut, tepat di sebelah tempat Nadia berdiri.
"Nah, Nadia, duduk di sini sebelah Tante. Kita bisa ngobrol banyak soal dekorasi resepsi nanti," kata Mama Bella ramah, sambil menepuk-nepuk bantal sofa di sampingnya.
Nadia tersenyum patuh dan langsung duduk di samping calon ibu mertuanya. Di sisi lain, Aksa yang sejak tadi melangkah dengan niat pasti untuk menduduki kursi di sebelah Nadia seketika menghentikan langkahnya. Pria itu berdiri tegak di depan meja dan menatap sang mama dengan sorot mata datar yang menyiratkan protes tanpa suara, niat awalnya yang ingin duduk tepat di samping gadis itu mendadak buyar total.
Papa Mahendra yang melihat ekspresi wajah putranya langsung terkekeh geli, pria paruh baya itu menepuk-nepuk kursi kosong di sebelah kanannya dengan sengaja.
"Kenapa berdiri terus, Aksa? Sini, duduk di samping Papa," tanya Papa Mahendra dengan nada setengah menggoda.
"Atau kamu mau berdiri terus menjaga pintu seperti satpam?" sambung Papa Mahendra diiringi tawa kecil.
Mama Bella ikut menoleh dan menatap putranya dengan senyuman penuh kemenangan, "Iya, Aksa. Jangan diam saja di situ, duduk sini dekat Papa kamu! Temani Papa kamu ngobrol soal bisnis atau biarkan Papa yang ambil alih perhatian calon isterimu sebentar," ujar Mama Bella usil.
Aksa menarik napas perlahan, menelan rasa gemas di dadanya. Dengan wajah dingin tanpa ekspresi, ia akhirnya melangkah mendekat dan melabuhkan duduknya di sofa sebelah Papa Mahendra, tepat berhadap-hadapan dengan posisi tempat duduk Nadia.
Meskipun terhalang oleh meja kayu mahoni dan cangkir teh porselen, jarak itu tetap membuat pandangan mata Aksa terkunci lurus ke arah Nadia.
Nadia yang menyadari sorot mata pekat Aksa menatapnya dari seberang meja langsung merona malu, ia menundukkan wajahnya dan pura-pura fokus merapikan lipatan roknya atau mendengarkan ocehan semangat Mama Bella yang sedang menunjukkan brosur katalog bunga hydrangea putih.
"Kamu suka bunga hydrangea warna putih atau biru muda, Nadia?" tanya Mama Bella lembut dan menyodorkan katalog tersebut.
Nadia mendongak dan tersenyum sopan, lalu meraih buku kecilnya dan menuliskan jawaban.
[Nadia suka warna putih, Tante. Terlihat bersih dan menenangkan.]
"Pilihan yang bagus! Sama persis seperti gaunmu tadi," puji Mama Bella antusias.
Di seberang meja, Aksa menyesap teh hitam hangat di cangkirnya dengan gerakan tenang, namun matanya sama sekali tidak lepas dari gerak-gerik jemari Nadia yang sedang menulis. Ada getaran aneh yang kembali merayap di dalam dadanya, rasa asing yang mendefinisikan bahwa kehadiran gadis pendiam itu kini perlahan-lahan mulai mengambil alih ruang kosong di dalam hari-harinya yang semula monoton.
Mentari sore kian tenggelam di ufuk barat, memancarkan bias jingga kemerahan yang memantul indah di permukaan air kolam, menciptakan kedamaian yang kontras dengan badai masa lalu yang sempat menghancurkan hidup Nadia.
"Oh ya sayang, mulai sekarang jangan anggap Mama, Tante lagi ya. Sekarang Tante ini Mama kamu juga," ucap Mama Bella.
[Terima kasih... Mama.]
Nadia menuliskan kalimat tersebut dengan jemari yang sedikit bergetar, bukan karena rasa takut seperti hari-hari pertamanya menginjakkan kaki di rumah ini, melainkan karena gelombang kehangatan yang begitu masif menerpa relung hatinya yang paling dalam. Semenjak kepergian sang ibu tercinta, tidak pernah ada lagi yang memperlakukannya dengan penuh kasih.
Air mata haru yang sempat tertahan akhirnya menetes setetes di atas kertas buku catatan kecilnya. Nadia dengan cepat menghapusnya menggunakan punggung tangan, lalu mendongak dengan senyuman paling indah yang pernah ia ukir di wajahnya.
Mama Bella yang melihat tulisan itu langsung tersenyum lebar. Tanpa ragu, wanita berkelas itu merengkuh tubuh Nadia ke dalam pelukannya, mendekap pundak gadis itu erat-erat seolah menyalurkan seluruh perlindungan dan kasih sayang seorang ibu kandung.
"Anak pintar," ucap Mama Bella lembut di telinga Nadia, mengelus rambut panjang gadis itu dengan penuh kelembutan.
Papa Mahendra yang duduk di seberang turut tersenyum hangat, menyaksikan pemandangan mengharukan tersebut dengan sorot mata penuh rasa syukur. Sementara itu, Aksa yang duduk di sebelah papanya terdiam seribu bahasa. Pria itu mengalihkan pandangannya menatap langit senja yang mulai berubah warna menjadi gelap gulita, namun sudut bibirnya yang biasa tergaris kaku kini melunak sekian derajat, bayangan sosok Nadia yang rapuh namun memiliki ketulusan luar biasa kini benar-benar telah berakar di dalam benaknya.
Obrolan hangat di gazebo belakang terus berlanjut tanpa terasa, topik pembicaraan yang awalnya seputar konsep dekorasi pernikahan perlahan bergeser menjadi cerita-cerita ringan masa kecil Aksa yang diungkapkan langsung oleh Mama Bella dan membuat Nadia beberapa kali tersenyum geli hingga menutup mulutnya dengan buku kecil. Aksa yang menjadi bahan lelucon sang mama hanya bisa memutar bola matanya malas, meskipun ia sama sekali tidak berniat menghentikan kebahagiaan yang sedang dirasakan oleh gadis di hadapannya.
.
.
.
Bersambung.....