NovelToon NovelToon
BANGKITNYA PENDEKAR TERKUAT

BANGKITNYA PENDEKAR TERKUAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: GEELANG

aku akan mengguncang dunia persilatan, aku yang memiliki ingatan masa depan memiliki keunggulan yang akan menghacurkan segala yang merebut waktu dan duniaku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 - Pukulan Penghancur Gunung

Lima ekor kuda melompat keluar dari rimbunnya semak belukar, menggerus pasir basah di tepi sungai. Para penjaga budak menarik tali kekang hingga kuda-kuda mereka meringkik keras, memercikkan air dangkal ke udara.

Mata pemimpin penjaga menyipit saat menatap jejak-jejak basah di atas pasir, lalu pandangannya terkunci rapat pada sosok Sun Chen yang duduk di samping seorang pria tua berjubah abu-abu lusuh.

"Ternyata ada satu yang selamat," cetus pemimpin penjaga sambil menyeringai kasar. Ia mengibaskan cambuk kulit di tangannya, menimbulkan suara lecutan nyaring yang membelah keheningan sungai.

Ia mengamati pria tua yang bersila santai di atas batu datar. Pria itu tampak seperti pengemis tua berpenampilan berantakan dengan pakaian penuh tambalan.

"Hei, Tua Renta!" bentak sang pemimpin penjaga dari atas kudanya. "Serahkan bocah itu sekarang! Dia adalah barang dagangan kami yang hanyut dari gerobak!"

Sun Chen tetap bergeming di tempatnya. Ia sama sekali tidak menangis atau menjerit meminta pertolongan. Pikirannya melayang jauh, mengamati setiap detail kecil dari pria tua di sisinya.

Napas pria tua itu teratur tanpa celah, seirama dengan deru angin malam yang berembus pelan. Postur duduknya sangat stabil, dengan pusat berat yang menghujam dalam ke bumi. Ketenangan ekstrem di tengah ancaman lima pria bersenjata ini membuat Sun Chen semakin yakin bahwa pria tua ini adalah seorang ahli tingkat tinggi.

Sun Chen memutar ingatan masa lalunya. Sebagai mantan Jenderal Demonic berusia lima puluh empat tahun, ia menyimpan perpustakaan pengetahuan yang sangat luas di kepalanya. Puncak tenaga dalam murni bertipe berat, gerakan tangan yang minim namun sarat getaran, dan aura menghancurkan yang terselubung rapat.

Sebuah ingatan puluhan tahun lalu mendadak melintas di benak Sun Chen. Di masa lalu, ada sebuah legenda tentang seorang pendekar tinju pengembara yang dijuluki Setan Tinju. Orang itu menghilang secara misterius dari persilatan puluhan tahun lalu setelah mengguncang benua dengan kekuatannya.

Apakah pria tua lusuh ini adalah orang yang sama?

"Kenapa kau diam saja, Tua Renta?!" teriak salah satu penjaga yang bertubuh kerdil dengan wajah dipenuhi bekas luka. Ia memutar kudanya mendekat, mengacungkan parang tajam ke arah wajah pria tua itu. "Kau tuli, ya? Jika kau ikut campur urusan kami, parang ini akan memisahkan kepalamu dari lehermu!"

Sun Chen sengaja terus menyembunyikan suaranya. Ia menatap telapak kakinya yang mungil, membiarkan situasi memanas untuk menguji reaksi pria tua itu secara langsung.

Pria tua itu perlahan mendongak. Matanya yang suram menatap kelima penjaga dengan sangat tenang, seolah sedang melihat tumpukan kayu bakar.

"Anak ini sudah hanyut dan hampir mati di sungai," ucap pria tua itu dengan suara serak yang datar. "Tinggalkan dia dan pergilah dari sini. Jangan membuatku mengotori tanganku."

Kelima penjaga itu saling pandang sejenak sebelum meledak dalam tawa terbahak-bahak.

"Dengar pengemis tua ini bicara!" seru penjaga berkulit gelap sambil tertawa kegirangan. "Dia pikir dia siapa?!"

"Cari mati!" bentak penjaga berwajah bekas luka. Tanpa membuang waktu lagi, ia melompat turun dari kudanya, memutar parang di udara, lalu menebaskannya lurus ke arah leher pria tua itu dengan kekuatan penuh.

Pria tua itu tidak melompat. Ia bahkan tidak berdiri dari posisinya yang bersila.

Ia hanya menggeser tubuh bagian atasnya setengah langkah ke kiri.

Angin tebasan parang meleset hanya beberapa milimeter dari bahunya. Di saat yang bersamaan, pria tua itu melayangkan satu pukulan lurus yang sangat sederhana dengan tangan kanannya. Kepalan tangannya menghantam tepat di tengah-tengah bilah besi parang lawan.

Brak!

Udara di sekitar mereka bergetar hebat. Gelombang tenaga dalam yang sangat padat meledak secara kasat mata. Parang besi yang tebal itu hancur berkeping-keping menjadi puluhan serpihan kecil.

Belum sempat penjaga itu menyadari apa yang terjadi, gelombang kejutan dari pukulan tersebut menembus dadanya. Pria itu menjerit pendek, tubuhnya terpental sejauh lima meter ke belakang, menghantam pohon cemara hingga tumbang, sebelum akhirnya tergeletak tak sadarkan diri dengan mulut berdarah.

Sun Chen menahan napasnya. Matanya yang kecil melebar penuh keterkejutan.

Tinju Penghancur Gunung!

Itu adalah jurus legendaris yang memadukan getaran fisik dan Qi murni untuk menghancurkan pertahanan terkeras dari dalam. Teknik ini telah lama punah dari dunia persilatan setelah hilangnya Sang Setan Tinju.

Keempat penjaga lainnya membeku di atas kuda masing-masing. Wajah mereka pucat pasi dalam hitungan detik.

"S-Setan!" teriak sang pemimpin penjaga dengan suara gemetar. "Serang! Serang dia bersama-sama!"

Empat pria itu langsung melompat turun dari kuda, menghunus senjata mereka dan menyerang secara bersamaan dari empat penjuru angin.

Pria tua itu akhirnya berdiri pelan. Jubah lusuhnya berkibar pelan tertiup angin yang tercipta dari gerakan tenaganya sendiri. Langkah kakinya begitu santai, mengelak dari tebasan pedang dan tusukan tombak secara presisi tanpa ada satu gerakan pun yang terbuang sia-sia.

Ia tidak berniat membunuh.

Plak! Plak!

Dua sentuhan ringan dari telapak tangannya menghantam pergelangan tangan dua penyerang, mematahkan tulang mereka seketika. Di saat yang sama, ia menghentakkan kaki kanannya ke atas tanah.

Brak!

Getaran tanah membuat dua penjaga sisanya kehilangan keseimbangan dan jatuh telentang. Sebelum mereka sempat bangkit, ujung sepatu lusuh pria tua itu sudah menutuk titik saraf vital di leher mereka.

Hanya dalam waktu kurang dari lima hitungan napas, empat penjaga itu telah lumpuh di atas pasir. Mereka merayap ketakutan dengan tubuh berdarah, merangkak cepat menuju kuda-kuda mereka yang panik.

"Lari! Lari!" jerit sang pemimpin penjaga yang bahunya terkulai patah. Mereka memaksakan diri naik ke atas kuda lalu memacu hewan-hewan itu pergi secepat mungkin, meninggalkan debu yang membumbung tinggi di sepanjang tepi sungai.

Suasana tepi sungai kembali hening. Hanya ada suara deburan air sungai dan desir angin malam.

Pria tua itu mendengus pelan, menepuk-nepuk debu yang menempel di jubahnya, lalu berbalik hendak berjalan meninggalkan tepi sungai.

Sun Chen sadar, inilah momen yang akan menentukan jalan hidupnya. Di kehidupan sebelumnya, ia tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk mempelajari seni bela diri sejati dari seorang guru yang hebat. Ia hanya dipaksa menjadi mesin pembunuh Kultus Demonic melalui latihan neraka yang merusak fondasinya.

Tanpa ragu sedikit pun, Sun Chen berlutut di atas pasir basah. Ia membungkukkan tubuh mungilnya, menempelkan dahi kecilnya ke tanah.

"Senior! Tolong terima saya sebagai murid Anda!" seru Sun Chen dengan suara yang bulat dan mantap, sama sekali tidak terdengar seperti suara anak kecil berusia empat tahun.

Pria tua itu menghentikan langkahnya. Ia menoleh sedikit, menatap Sun Chen dari balik bahunya dengan tatapan dingin.

"Bangunlah, Bocah," ujar pria tua itu datar. "Aku tidak tertarik memiliki murid. Latihan dariku hanya akan membunuh anak kecil yang lemah sepertimu. Pergilah ke kota dan carilah kehidupan yang normal."

Pria tua itu kembali melangkah menjauh.

Sun Chen tidak bergeming dari posisinya yang berlutut. Ia mendongak, menatap punggung pria tua itu dengan mata yang tajam.

"Satu pukulan lurus, mengandalkan getaran ulu hati untuk memecah ketahanan besi," ujar Sun Chen dengan suara tenang dan jernih. "Gerakan kaki mengunci tiga titik bumi, memanfaatkan sudut gravitasi untuk melipatgandakan bobot tubuh."

Langkah pria tua itu terhenti seketika.

Sun Chen melanjutkan kalimatnya tanpa jeda. "Teknik yang Senior gunakan adalah Tinju Penghancur Gunung. Namun..."

Sun Chen memberi jeda satu detik. "...aliran tenaga dalam Senior terlalu kaku dan keras. Setiap kali Senior menghentakkan Qi murni untuk menghancurkan pertahanan lawan, ada sepuluh persen getaran balik yang tertahan di saluran meridian dada kanan Senior. Jika saya tidak salah, setiap malam saat bulan purnama, Senior pasti merasakan nyeri membakar di ulu hati."

Pria tua itu berbalik dengan kecepatan yang tak kasat mata. Dalam sekejap mata, ia sudah berdiri tepat di depan Sun Chen. Hawa panas yang luar biasa memancar dari tubuhnya, menekan udara di sekitar mereka hingga terasa sesak.

Mata pria tua itu menyipit tajam, menatap lurus ke dalam sepasang mata Sun Chen. Rahasia nyeri meridian di dada kanannya adalah cedera lama yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapapun di dunia ini. Bahkan tabib terbaik pun tidak akan bisa mengetahuinya hanya dari melihat satu pertarungan singkat.

Untuk pertama kalinya, pria tua itu benar-benar memperhatikan anak kecil berusia empat tahun yang berlutut di hadapannya. Ia tidak melihat ketakutan atau kepanikan di mata anak itu. Yang ada hanyalah ketenangan mutlak dan kedalaman pengetahuan yang mustahil dimiliki oleh seorang balita.

"Bagaimana kau bisa tahu hal itu?" tanya pria tua itu dengan suara berat dan dalam.

"Saya hanya mengamati aliran tenaga dalam Senior saat bertarung tadi," jawab Sun Chen jujur, mempertahankan tatapan matanya tanpa rasa gentar sedikit pun.

Pria tua itu diam seribu bahasa. Ia mengelus janggut putihnya yang berantakan, menimbang-nimbang situasi gila ini dalam pikirannya.

Setelah beberapa saat yang terasa sangat lama, pria tua itu melangkah ke tepi sungai. Ia membungkuk dan mengangkat sebuat batu kali berukuran raksasa—hampir tiga kali lebih besar dari tubuh mungil Sun Chen. Dengan satu sentakan tangan, ia melempar batu itu ke kaki bukit kecil di dekat mereka.

Brak!

Batu besar itu tertancap dalam di atas tanah.

"Aku masih belum percaya padamu, Bocah," kata pria tua itu sambil bersedekap tangan. "Jika kau ingin menjadi muridku, dorong batu itu sampai ke puncak bukit sebelum matahari benar-benar tenggelam."

Sun Chen menatap batu raksasa itu, lalu menatap bukit kecil yang curam di hadapannya.

Secara logika fisik, anak berusia empat tahun tidak akan pernah sanggup memindahkan batu sebesar itu. Namun Sun Chen mengerti betul maksud di balik perintah ini. Pria tua ini tidak sedang menguji kekuatan fisiknya, melainkan sedang menguji tekad dan ketahanan jiwanya.

"Baik, Guru," jawab Sun Chen pendek.

Tanpa mengeluh sepatah kata pun, Sun Chen bangkit berdiri dengan kakinya yang masih gemetaran. Ia melangkah mendekati batu raksasa tersebut, menempelkan kedua telapak tangan mungilnya ke permukaan batu yang kasar dan dingin, lalu mulai mengerahkan seluruh beban tubuhnya untuk mendorong.

Ugh!

Batu itu tidak bergeser satu milimeter pun. Otot-otot kecil di lengan Sun Chen terasa tegang dan menyakitkan.

Namun Sun Chen tidak berhenti. Ia mengertakkan giginya rapat-rapat, menancapkan kedua kaki telanjangnya ke dalam tanah, dan terus mendorong dengan seluruh tekad yang tersisa dari jiwa lima puluh empat tahunnya.

Satu jam berlalu. Dua jam berlalu.

Matahari perlahan mulai tenggelam di garis ufuk barat, memancarkan warna jingga keemasan yang membakar langit malam.

Kulit di kedua telapak tangan mungil Sun Chen telah terkelupas. Darah segar mengalir membasahi permukaan batu kasar yang didorongnya. Napasnya berbunyi serak dan berat, dadanya naik turun dengan kasar, dan kakinya sudah gemetaran hingga nyaris roboh.

Namun, batu raksasa itu telah berpindah sejauh belasan meter, merayap perlahan menaiki lereng bukit kecil tersebut. Sun Chen tidak mengeluh. Ia tidak menangis. Matanya tetap memancarkan tekad yang tak tergoyahkan.

Pria tua yang berdiri di atas dahan pohon tak jauh dari sana memperhatikan setiap tetes keringat dan darah anak itu.

Untuk pertama kalinya, sebuah senyuman tipis muncul di wajah pria tua yang kaku itu.

Ia melompat turun dari dahan tanpa menimbulkan suara sedikit pun, mendarat tepat di samping Sun Chen yang masih terus mendorong batu tanpa henti.

"Cukup, Nak," ujar pria tua itu pelan.

Sun Chen menghentikan dorongannya. Tubuh mungilnya hampir ambruk ke atas tanah karena kelelahan ekstrem, tetapi ia menyangga fisiknya dengan menempelkan punggung ke batu.

Pria tua itu menatap lurus ke dalam mata Sun Chen yang bernyala-nyala di tengah kegelapan malam yang mulai turun.

"Nak..." tanya pria tua itu dengan nada heran sekaligus kagum. "Siapa sebenarnya dirimu?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!