Selama lima tahun, Vincent Huang tidak pernah berhenti mengejar Stella Mo.
Namun, Stella selalu menolaknya dan memilih menjaga jarak tanpa pernah menjelaskan alasannya.
Ketika rahasia masa lalu Stella akhirnya terungkap, Vincent harus menghadapi pilihan sulit. Tetap menggenggam tangan wanita yang dicintainya, atau menjauh setelah mengetahui luka yang selama ini Stella sembunyikan.
Apakah cinta Vincent cukup kuat untuk menerima seluruh masa lalu Stella?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab6
“Selamat pagi, Tuan Huang,” sapa Direktur Fung sambil mengulurkan tangan.
Vincent berdiri dan membalas jabat tangan tersebut.
“Selamat pagi, Direktur Fung.”
Direktur Fung kemudian menoleh ke arah Stella.
“Tuan Huang, izinkan saya memperkenalkan arsitek yang bertanggung jawab atas proyek Vanguard International Group. Dia adalah Nona Stella Mo, salah satu arsitek terbaik di Mingyuan Architecture. Seluruh konsep desain proyek ini merupakan hasil rancangan Nona Mo.”
Stella mengangguk sopan.
“Senang bertemu dengan Anda, Tuan Huang.”
Vincent menatap Stella beberapa saat sebelum tersenyum tipis.
“Direktur Fung, sepertinya Anda tidak perlu memperkenalkan kami lagi.”
Direktur Fung tampak heran.
“Apakah Tuan Huang dan Nona Mo sudah saling mengenal?”
“Ya,” jawab Vincent tenang. “Kami sudah saling mengenal sejak lama.”
Stella tetap menjaga sikap profesional.
“Sudah lama tidak bertemu, Tuan Huang.”
“Benar, Nona Mo,” balas Vincent. “Sudah lama.”
Suasana di ruang VIP seketika menjadi sedikit canggung, sementara Direktur Fung sama sekali tidak mengetahui hubungan mereka di masa lalu.
Setelah semua orang duduk, seorang pelayan datang membawa buku menu.
Vincent menutup buku menu yang baru saja dibukanya.
Pelayan membungkuk hormat.
“Tuan Huang, apakah Anda sudah siap memesan?”
“Mulai dengan sup sarang burung. Lalu abalon Australia rebus saus tiram, kerapu macan kukus Hong Kong, lobster saus keju, daging wagyu tumis lada hitam, asparagus putih dengan jamur matsutake, dan nasi goreng Yangzhou.”
“Untuk hidangan penutup, sajikan mango sago dan teh Longjing.”
“Baik, Tuan Huang.”
Pelayan segera mencatat seluruh pesanan sebelum meninggalkan ruangan.
Direktur Fung tersenyum.
“Tuan Huang benar-benar tahu cara menjamu tamunya.”
Vincent hanya mengangguk tipis.
Di sisi lain, Stella sedikit terdiam.
Dari semua hidangan yang dipesan...
Kerapu kukus Hong Kong, lobster, dan mango sago adalah makanan yang paling ia sukai.
Stella segera mengalihkan pandangannya agar tidak ada yang menyadari perubahan ekspresinya.
Sementara Vincent tetap terlihat tenang, seolah semua itu hanyalah kebetulan.
“Stella, jelaskan rancanganmu kepada Tuan Huang,” titah Direktur Fung.
“Baik, Direktur.”
Stella berdiri, lalu membuka map berisi gambar desain. Dengan tenang, ia meletakkan beberapa lembar rancangan di atas meja.
“Tuan Huang, konsep yang saya gunakan mengusung desain modern dengan sentuhan arsitektur kontemporer. Bagian depan gedung didominasi kaca berlapis rendah emisi untuk memaksimalkan pencahayaan alami sekaligus mengurangi panas.”
Tangannya menunjuk gambar denah.
“Area lobi dibuat lebih luas agar memberikan kesan megah saat tamu memasuki gedung. Sementara ruang kantor dirancang menggunakan konsep terbuka sehingga memudahkan komunikasi antardivisi tanpa mengurangi privasi setiap departemen.”
Stella kemudian membuka lembar berikutnya.
“Di sisi timur gedung saya menambahkan taman terbuka sebagai area istirahat karyawan. Selain meningkatkan kenyamanan, ruang hijau ini juga membantu sirkulasi udara dan mengurangi suhu di sekitar bangunan.”
Vincent tidak menyela sedikit pun.
Tatapannya tertuju pada Stella, memperhatikan setiap penjelasan yang disampaikannya.
“Untuk material utama, saya memilih kombinasi baja berkekuatan tinggi, batu alam, dan kaca premium. Dengan begitu, gedung akan terlihat elegan, memiliki daya tahan yang baik, sekaligus lebih hemat energi.”
Setelah selesai menjelaskan, Stella menutup mapnya.
“Itulah konsep yang saya rancang, Tuan Huang. Jika ada bagian yang ingin diubah, saya siap mendengarkan masukan Anda.”
Vincent tidak langsung menjawab.
Dia kembali membuka gambar rancangan di hadapannya, memperhatikan setiap detail dengan saksama.
Beberapa saat kemudian, dia menutup map itu.
“Rancangannya sangat baik,” ujar Vincent.
Direktur Fung tersenyum lega.
“Terima kasih atas pujian Tuan Huang.”
Vincent menggeleng pelan.
“Direktur Fung, pujian ini bukan untuk Anda.”
Tatapannya beralih kepada Stella.
“Melainkan untuk Nona Mo.”
Stella tetap tenang.
“Terima kasih, Tuan Huang.”
“Ada satu hal yang ingin saya tanyakan,” lanjut Vincent. “Mengapa Anda memilih konsep taman terbuka di sisi timur gedung?”
Stella menjawab tanpa melihat catatan.
“Karena cahaya matahari pagi lebih lembut dibanding sore hari. Area itu dapat dimanfaatkan karyawan untuk beristirahat tanpa terkena panas yang berlebihan. Selain itu, keberadaan ruang hijau juga dapat mengurangi suhu di sekitar bangunan dan menciptakan lingkungan kerja yang lebih nyaman.”
Vincent mengangguk pelan.
“Jawaban yang bagus.”
Direktur Fung tersenyum bangga melihat bawahannya.
“Stella memang arsitek terbaik di perusahaan kami. Sebagian besar proyek besar yang kami tangani merupakan hasil rancangannya.”
Vincent menatap Stella beberapa saat.
“Kalau begitu, saya berharap proyek Vanguard International Group juga ditangani langsung oleh Nona Mo hingga selesai.”
Direktur Fung menjawab lebih dulu.
“Tentu, Tuan Huang. Sejak awal saya memang menunjuk Stella sebagai penanggung jawab utama proyek ini.”
“Bagus.”
Vincent menutup map di depannya.
“Kalau begitu, saya tidak memiliki keberatan. Saya harap kerja sama kita berjalan lancar.”
“Terima kasih atas kepercayaan Anda, Tuan Huang,” ujar Direktur Fung sambil mengulurkan tangan.
Vincent membalas jabat tangan itu.
Di sampingnya, Stella hanya duduk diam.
Baginya, pertemuan ini hanyalah urusan pekerjaan.
Beberapa saat kemudian.
Stella yang berada di toilet wanita sedang mencuci tangannya di depan wastafel. Tatapannya menatap pantulan dirinya sendiri di cermin.
“Stella, ini adalah proyek besar. Setidaknya dia tidak membencimu. Singkirkan pikiran yang mengganggumu dan tetap fokus pada pekerjaanmu,” batinnya.
Dia menarik napas pelan, berusaha menenangkan pikirannya.
Tiba-tiba...
Pintu toilet terbuka.
Stella yang masih menatap cermin langsung menyadari ada seseorang masuk. Namun ketika melihat pantulan pria itu, ekspresinya berubah.
Vincent Huang.
Dalam sekejap, Stella berbalik.
“Tuan Huang?” tanyanya terkejut. “Kenapa Anda bisa berada di sini? Ini adalah toilet wanita.”
Vincent tidak menjawab. Dia hanya melangkah mendekat.
Stella mundur satu langkah, tetapi Vincent berhenti di depannya.
Kedua tangannya bertumpu di sisi wastafel, membuat Stella tidak bisa melewatinya.
“Tuan Huang...” panggil Stella dengan nada memperingatkan.
Vincent menatapnya.
“Sekian lama tidak bertemu, bahkan cara kau memanggilku sudah berubah.”
Stella menahan emosinya.
“Anda adalah klien kami. Tidak ada salahnya saya memanggil Anda Tuan Huang.”
“Apa kabarmu selama ini?”
Pertanyaan sederhana itu membuat Stella terdiam.