Dua minggu sebelum pernikahan, dunia Larasati runtuh saat memergoki Arjuna, tunangan sekaligus pacar pertamanya yang ternyata sudah menghamili wanita lain.
Tanpa air mata, Larasati melempar cincin dan membatalkan pernikahan demi harga diri. Namun, pengkhianatan itu justru membawa Larasati ke pelukan Dewa Dirgantara, CEO konglomerat tempatnya bekerja yang siap pasang badan melindunginya.
Sementara itu, Arjuna menyesal bersama selingkuhannya yang tinggal di sebuah rumah kecil.
Sanggupkah Larasati menyembuhkan lukanya demi cinta Dewa? Dan bagaimanakah akhir dari penyesalan sang mantan tunangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umma Khummaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Suara deru mobil milik Dewa Dirgantara perlahan meredam saat kendaraan besar itu berhenti tepat di depan apartemen.
Sepanjang perjalanan pulang dari restoran, suasana di dalam mobil terasa begitu hangat.
Dewa melepaskan sabuk pengamannya, lalu berbalik badan untuk menatap lekat wajah cantik Larasati.
"Segeralah masuk ke dalam, Larasati. Pastikan kamu langsung membersihkan diri dan istirahat. Saya tidak mau sampai kamu kekurangan tidur untuk memimpin tim besok pagi."
Larasati mengangguk hormat dengan senyum tulus dan terasa teduh.
"Baik, Pak Dewa. Terima kasih banyak atas makan malamnya dan... terima kasih atas ketulusan Anda."
"Saya selalu menepati kata-kata saya, Larasati. Selamat malam..." balas Dewa dengan sangat lembut.
Larasati melangkah keluar dari mobil, lalu berjalan menyusuri koridor lobi apartemen menuju lift dengan langkah kaki yang terasa ringan. Jantungnya masih sedikit deg-degan.
Begitu pintu lift terbuka, ia segera melangkah masuk ke dalam ruang tamunya yang sunyi, kemudian meletakkan tas kerjanya di atas meja kaca, dan langsung menyandarkan punggungnya di balik pintu yang sudah terkunci.
Larasati memejamkan mata sejenak, mengembuskan napas panjang sambil meraba dadanya yang terasa begitu hangat. Sisa-sisa rasa takut, ragu, dan trauma setelah pengkhianatan Arjuna, malam ini perlahan terkikis oleh ketulusan sang Dewa.
Ia merasa sangat bersyukur kepada Tuhan, karena proses bangkitnya dari mimpi buruk masa lalu ternyata dituntun oleh seorang pria sejati yang sangat berwibawa.
Setelah beberapa menit menenangkan debaran di dadanya, Larasati melangkah menuju kamarnya. Ia melepaskan pakaian, menggantinya dengan daster satin lembut warna putih gading, lalu membersihkan sisa riasan di wajahnya hingga tampak bersih alami. Setelahnya, ia bergegas mandi.
Tepat pukul sepuluh malam, Larasati sudah berbaring dengan nyaman di bawah selimutnya, bersiap untuk memejamkan mata. Namun kemudian, Ting! Bunyi suara notifikasi pesan masuk memecah keheningan kamar tidur dengan cahaya lampu yang temaram.
Larasati merogoh ponselnya di atas meja nakas dengan rasa penasaran.
Begitu layar menyala, ia membuka pesan dari nomor kontak si pengirim:
Saya sudah tiba di rumah saya dengan aman, Larasati. Terima kasih untuk waktu dan kesempatan yang kamu berikan malam ini. Tidurlah yang nyenyak, hilangkan semua beban pikiranmu. Good night, Larasati.
Dewa.
Larasati tersenyum manis setelah membaca pesan dari bos besarnya itu. Ia memeluk ponselnya erat-erat di atas dada, menyembunyikan wajahnya di balik bantal dengan ekspresi yang salah tingkah.
Ia bergegas mengatur dirinya kembali, menghela napasnya perlahan. Senyum di bibirnya tak kunjung memudar.
Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia mengetik balasan singkat :
Terima kasih, Pak Dewa. Semoga istirahatnya nyenyak.
Setelah memastikan pesannya terkirim, Larasati mematikan layar ponselnya, lalu meletakkannya kembali di atas meja nakas.
Ia memandang langit-langit kamar beberapa saat sambil mengulum senyum kecil.
"Terima kasih, Tuhan..." bisiknya lirih.
Kelopak matanya lama-lama terasa berat.
Tidak lama kemudian, Larasati sudah tenggelam dalam tidurnya. Jemarinya masih menggenggam sudut selimut, tapi senyum tipis tetap menghiasi wajah cantiknya.
Sementara itu, Dewa Dirgantara baru saja selesai membersihkan diri.
Dengan memakai kaus tidur berwarna putih dan celana panjang santai, ia duduk di tepi ranjang tidur mewahnya, lalu meraih tablet pribadinya untuk meninjau kembali agenda dan jadwal rapat esok pagi.
Belum sempat membaca lebih jauh, ponselnya yang tergeletak di atas nakas bergetar pelan.
Dewa mengerutkan kening sejenak. Rupanya, itu adalah notifikasi pengingat untuk pesan yang masuk beberapa menit lalu dan belum sempat ia baca.
Ia segera meraih ponselnya.
Begitu layar menyala, sudut bibirnya perlahan terangkat.
Ternyata itu pesan balasan dari Larasati :
Terima kasih, Pak Dewa. Semoga istirahatnya nyenyak.
Kalimatnya sederhana, namun mampu menghadirkan kehangatan yang sulit dijelaskan di dalam dada Dewa.
Tanpa sadar, ia mengulum senyum tipis.
Dewa mengunci kembali layar ponselnya. Ia tidak berniat membalas lagi. Baginya, malam sudah semakin larut, dan ia ingin Larasati beristirahat dengan baik.
Setelah selesai memastikan seluruh agendanya, Dewa pun mematikan tablet di tangannya.
Ketika hendak memejamkan mata, bayangan Larasati kembali memenuhi fikirannya.
Dari cara wanita itu tersenyum, mengucapkan terima kasih, hingga rasa hormat yang dia tunjukkan, semuanya berputar begitu saja.
"Aku mencintaimu, Larasati." gumamnya lirih.
tadi diawal ngomongnya manis bet ke Selly.
sekarang ditinggal Laras ngomongnya manis ke laras. hadeuh🤭🤭
bagus lah kalian pasang yg cocok sama" bobrok