NovelToon NovelToon
Tang Clan : Blood Poison Sovereign

Tang Clan : Blood Poison Sovereign

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:378
Nilai: 5
Nama Author: Chandra Arbara

Gu Cheol mati sebagai pengemis tanpa bisa meraih 3 Bunga Jianghu.

Dia bangkit sebagai Tang Hyun dari Klan Tang, menempa tubuhnya dengan racun, untuk bertahan hidup, membalas dendam, dan akhirnya merasakan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11. Kembali ke Sarang Ular

Perjalanan pulang dari Gunung Hua ke Sichuan memakan waktu dua puluh tiga hari, dan bagi Tang Hyun, dua puluh tiga hari itu terasa lebih panjang daripada satu tahun penuh, bukan karena jalannya berat atau karena kereta Klan Tang terlalu sempit, melainkan karena setiap kali mereka berhenti di sebuah kota, setiap kali mereka melewati sebuah kedai teh, setiap kali ada murid sekte lain yang melihat lambang bunga plum di jubah mereka, bisikan-bisikan itu akan mengikuti mereka seperti bayangan, "Itu dia, Anak Racun", "Dia yang mengalahkan Nangong Yeon dan Baek Seolhwa", "Dia hampir membunuh Jang Mu-won", dan bisikan itu membuat punggung Tang Hyun terasa terbakar karena dia tahu bahwa di dunia murim, ketenaran adalah racun yang lebih lambat tetapi lebih mematikan daripada racun apa pun yang dia buat sendiri.

Setibanya di gerbang utama Klan Tang, suasana yang menyambut mereka sama sekali tidak seperti yang dibayangkan Tang Hyun, tidak ada perayaan, tidak ada spanduk, tidak ada murid luar yang bersorak, yang ada hanya keheningan yang berat dan tatapan dari para penjaga gerbang yang setengah hormat dan setengah takut, karena dalam waktu tiga minggu, anak yang dulu mereka anggap sebagai sampah dari murid luar sekarang sudah kembali sebagai murid inti yang namanya sudah disebut di depan Pemimpin Aliansi Murim.

Tetua Kedua memimpin rombongan langsung ke Aula Racun Utama, tempat semua Tetua dan kepala cabang Klan Tang sudah menunggu, dan begitu Tang Hyun melangkah masuk, dia bisa merasakan setidaknya dua puluh pasang mata menatapnya, beberapa dengan bangga, beberapa dengan iri, dan beberapa dengan niat membunuh yang disamarkan dengan senyum.

"Duduk," kata Tetua Ketiga singkat, dan Tang Hyun duduk di kursi paling ujung, kursi untuk murid inti baru, sebuah kursi yang tiga bulan lalu bahkan tidak berani dia impikan.

"Turnamen sudah selesai," lanjut Tetua Ketiga, suaranya datar tetapi menggema ke seluruh aula, "dan Klan Tang tidak memenangkan juara pertama, tetapi kita memenangkan sesuatu yang lebih penting, rasa takut. Mulai hari ini, tidak ada sekte yang berani memandang rendah kita hanya karena kita menggunakan racun."

Beberapa Tetua mengangguk, tetapi Tetua Kelima, seorang pria tua kurus dengan jari yang semuanya berwarna hitam karena percobaan racun, mendengus pelan, "Rasa takut tidak bisa memberi kita pil, tidak bisa memberi kita uang, dan tidak bisa membuat sekte ortodoks berhenti membenci kita. Anak ini mungkin kuat, tetapi dia juga membuat kita menjadi sasaran."

Aula langsung menjadi tegang, karena semua orang tahu bahwa Tetua Kelima selalu membenci siapa pun yang naik terlalu cepat, dan dia sudah lama tidak suka pada Tang Hyun sejak anak itu dipilih oleh Tetua Ketiga.

"Kalau kau punya masalah dengan muridku," kata Tetua Ketiga dengan suara rendah yang berbahaya, "katakan langsung padaku, jangan menusuk dari belakang."

"Aku tidak menusuk," jawab Tetua Kelima sambil tersenyum, "aku hanya mengingatkan. Anak ini sekarang terkenal, dan ketenaran nya menarik perhatian. Bagaimana kalau Sekte Pedang Langit mengirim pembunuh lagi? Bagaimana kalau Emei menuntut Klan kita karena dia melukai Baek Seolhwa?"

Tang Hyun tetap diam, karena dia sudah belajar bahwa di Klan Tang, berbicara tanpa diminta sama dengan bunuh diri, tetapi tangannya mengepal di bawah meja, karena dia tahu bahwa semua ini bukan tentang turnamen, ini tentang kekuasaan.

Rapat itu berakhir tanpa keputusan, tetapi sebelum bubar, Tetua Ketiga menatap Tang Hyun dan berkata, "Mulai besok, kau akan pindah ke Paviliun Racun Dalam. Kau akan berlatih langsung di bawahku, dan juga di bawah pengawasan Nona So-yeon."

Tang So-yeon yang duduk di sebelah kanan aula hanya mengangguk, tetapi ada banyak murid inti lain yang langsung menunduk karena iri, karena Paviliun Racun Dalam adalah tempat yang hanya boleh dimasuki oleh penerus kepala klan.

Malam itu, ketika Tang Hyun memindahkan barang-barangnya ke paviliun baru, dia diserang.

Bukan serangan terang-terangan, melainkan racun halus yang dicampur ke dalam air minumnya, racun yang tidak akan membunuh tetapi akan membuat Qi-nya kacau selama sebulan, cukup untuk membuatnya gagal dalam ujian kenaikan berikutnya.

Tang Hyun meminumnya, karena dia tidak punya pilihan, dan dua jam kemudian dia muntah darah dan jatuh di lantai, tubuhnya kejang dan penglihatannya kabur.

Orang pertama yang menemukannya adalah Tang Ling, yang langsung berteriak dan memanggil tabib, dan orang kedua yang datang adalah Tang So-yeon, yang masuk tanpa mengetuk dan langsung memeriksa nadi Tang Hyun dengan wajah sedingin es.

"Racun Pengacau Qi," gumam Tang So-yeon sambil mengeluarkan pil dari kantongnya dan memaksanya masuk ke mulut Tang Hyun, "seseorang di dalam klan ini mencoba membunuhnya."

Berita itu menyebar ke seluruh Klan Tang dalam satu malam, dan pagi harinya Tetua Ketiga memerintahkan penguncian paviliun dan interogasi semua pelayan, tetapi tidak ada yang mengaku, karena di Klan Tang, pengkhianatan adalah seni, dan tidak ada seniman yang bodoh sampai meninggalkan bukti.

Selama seminggu, Tang Hyun terbaring lemah, dan setiap hari Tang So-yeon datang dua kali untuk memeriksa kondisinya, membawakan obat, dan duduk diam di samping tempat tidurnya selama satu jam tanpa mengatakan apa-apa.

"Kenapa Nona melakukan ini?" tanya Tang Hyun suatu malam ketika demamnya sudah turun.

"Karena kau masih berguna," jawab Tang So-yeon datar, "dan juga karena... aku tidak suka melihat orang yang aku latih mati karena hal bodoh seperti ini."

Tang Hyun tersenyum lemah, "Terima kasih."

Tang So-yeon tidak menjawab, dia hanya menuangkan teh dan meletakkannya di meja.

Setelah sembuh, kehidupan Tang Hyun di Paviliun Racun Dalam jauh lebih keras daripada di Gunung Hua, karena sekarang dia tidak hanya harus bertarung dengan musuh dari luar, tetapi juga dengan ular di dalam sarangnya sendiri.

Setiap pagi dia harus menguji seratus jenis racun baru, setiap siang dia harus berdebat dengan murid inti lain tentang teori racun, dan setiap malam dia harus berjaga-jaga karena dia tidak pernah tahu kapan serangan berikutnya akan datang.

Namun di tengah semua itu, ada satu hal yang berubah, orang-orang mulai menghormatinya, bukan karena dia kuat, tetapi karena dia tidak mati, dan di Klan Tang, orang yang tidak mati adalah orang yang layak untuk diikuti.

Suatu hari, sebulan setelah dia kembali, Tetua Ketiga memanggilnya ke ruang rahasia di bawah tanah, sebuah ruangan yang dindingnya dilapisi timah hitam agar Qi dan racun tidak bisa keluar.

"Duduk," kata Tetua Ketiga sambil melemparkan sebuah buku tebal ke meja, "ini Catatan Racun Darah Sembilan Bunga, teknik yang kau gunakan di Gunung Hua. Teknik itu terlarang, karena bisa membunuh penggunanya."

Tang Hyun membuka buku itu dan melihat tulisan tangan yang sudah lusuh, "Lalu kenapa Tetua memberikannya padaku?"

"Karena kau satu-satunya orang dalam seratus tahun terakhir yang bisa menggunakannya dan masih hidup," jawab Tetua Ketiga, "dan juga karena... aku melihat sesuatu di dalam dirimu. Sesuatu yang tidak dimiliki oleh siapa pun di Klan Tang."

"Apa?"

"Kemauan untuk hidup," kata Tetua Ketiga pelan, "semua orang di sini hidup untuk membunuh. Kau hidup agar tidak dibunuh. Itu berbeda."

Tang Hyun menutup buku itu, "Tetua ingin aku menjadi apa?"

"Aku ingin kau menjadi pedang Klan Tang," jawab Tetua Ketiga, "pedang yang tidak hanya membunuh, tetapi juga melindungi. Dan untuk itu, kau harus belajar sesuatu yang tidak diajarkan di turnamen."

"Apa?"

"Politik," kata Tetua Ketiga sambil tersenyum tipis, "karena di Klan Tang, racun paling mematikan bukan yang ada di botol, tetapi yang ada di lidah manusia."

Dua minggu kemudian, sebuah undangan datang dari Klan Nangong, undangan untuk menghadiri jamuan teh di kota Chengdu, dan di dalam undangan itu secara khusus tertulis nama Tang Hyun, karena Nangong Yeon ingin "bertemu kembali dengan lawan lamanya".

Tetua Kedua menolak, karena itu terlalu berbahaya, tetapi Tetua Ketiga justru setuju, "Biarkan dia pergi. Kalau dia mati, berarti dia lemah. Kalau dia hidup, berarti dia layak."

Jadi Tang Hyun berangkat, hanya ditemani oleh Tang Ling dan dua pengawal, dan di sepanjang jalan dia terus berpikir tentang apa yang akan dikatakan Nangong Yeon.

Jamuan itu diadakan di sebuah paviliun di tepi danau, indah, tenang, dan penuh dengan murid-murid dari sekte netral yang datang untuk melihat "Anak Racun" secara langsung.

Nangong Yeon menyambutnya dengan senyum, mengenakan gaun biru muda yang sama seperti di turnamen, "Senang bertemu denganmu lagi, Tuan Tang."

"Saya juga, Nona Nangong," jawab Tang Hyun sambil memberi hormat.

Mereka berbicara tentang cuaca, tentang teh, tentang puisi, selama satu jam, seolah pertarungan mereka di Gunung Hua tidak pernah terjadi, sampai akhirnya Nangong Yeon berkata pelan, "Kau tahu, banyak orang di Klan ku ingin membunuhmu."

"Aku tahu," jawab Tang Hyun.

"Tapi aku menghentikan mereka," lanjut Nangong Yeon, "karena aku penasaran. Aku ingin tahu sejauh mana kau bisa melangkah."

Tang Hyun menatap danau, "Saya juga penasaran, Nona."

Nangong Yeon tertawa kecil, "Hati-hati, Tang Hyun. Klan Tang bukan tempat yang aman untuk orang sepertimu. Dan dunia ini lebih kejam daripada yang kau kira."

Sebelum pergi, Nangong Yeon menyelipkan sebuah surat kecil ke tangan Tang Hyun, "Baca ini ketika kau sendirian."

Malam itu di penginapan, Tang Hyun membuka surat itu, dan di dalamnya hanya ada empat kata: "Jangan percaya siapa pun."

Dia membakar surat itu dan menatap api, karena dia sudah tahu itu sejak lama.

Kembali di Klan Tang, suasana semakin tegang, karena desas-desus mulai menyebar bahwa Tetua Kelima sedang mengumpulkan dukungan untuk menggulingkan Tetua Ketiga, dengan alasan bahwa Tetua Ketiga terlalu lunak dan terlalu memanjakan "anak luar".

Tang Hyun tahu bahwa dia adalah alasan utama konflik itu, dan dia tahu bahwa jika dia tidak melakukan sesuatu, maka orang yang paling dia hormati akan jatuh karena dia.

Suatu malam, dia menemui Tang So-yeon di halaman latihan, "Nona, ajari aku cara membunuh tanpa meninggalkan jejak."

Tang So-yeon menatapnya lama, "Kenapa?"

"Karena kalau aku tidak membunuh lebih dulu, maka aku yang akan dibunuh," jawab Tang Hyun, dan di matanya tidak ada keraguan.

Tang So-yeon menghela napas, "Baiklah. Tapi ingat, sekali kau melangkah ke jalan itu, tidak ada jalan kembali."

Latihan dimulai malam itu juga, dan selama sebulan, Tang Hyun belajar bagaimana membuat racun yang tidak berbau, tidak berwarna, dan bekerja selama tujuh hari sebelum akhirnya membunuh korbannya, sebuah racun yang disebut "Senandung Kematian".

Di akhir bulan itu, Tetua Kelima tiba-tiba jatuh sakit, dokter mengatakan itu karena terlalu banyak menguji racun, dan dia meninggal dalam tidurnya tujuh hari kemudian, tanpa ada yang mencurigai siapa pun.

Di pemakamannya, Tang Hyun berdiri di baris paling belakang, wajahnya tanpa ekspresi, dan di sakunya ada botol kecil yang sudah kosong.

Tang So-yeon berdiri di sampingnya dan berbisik, "Kau melakukannya?"

Tang Hyun tidak menjawab, dia hanya menatap ke depan.

"Bagus," kata Tang So-yeon pelan, "sekarang kau benar-benar bagian dari Klan Tang."

Malam itu, Tang Hyun duduk sendirian di atap Paviliun Racun Dalam, dan dia menatap bulan, memikirkan Gu Cheol yang dulu, memikirkan semua orang yang pernah dia bunuh, dan memikirkan semua orang yang masih harus dia bunuh agar bisa bertahan hidup.

Dia mengeluarkan surat terakhir dari Nangong Yeon dan membacanya lagi, lalu dia meremasnya dan membuangnya ke angin.

"Jangan percaya siapa pun," gumamnya, "termasuk diriku sendiri."

Di kejauhan, suara seruling terdengar pelan, lagu yang sama yang pernah dia dengar di Gunung Hua, dan dia tahu bahwa perang sesungguhnya baru saja dimulai.

Bukan perang dengan pedang, tetapi perang dengan bayangan, dan di perang itu, Tang Hyun berniat untuk menjadi bayangan yang paling gelap.

1
Oppojaya
👍👍👍
Oppojaya
Mengesankan... 🤗
Oppojaya
👍👍👍👍
Arni Arlinawati Pratiwi💃
punya banyak dendam thor.. mc nya di bikin kesiksa dulu, lanjutan nya balas dendam.. kebiasaan author urban nih, sekali kali ada cinta cinta an nya thor kasian mc nya taku metong gak ngerasaain mencintai seseorang.. kan sian. /Facepalm/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
baru aja masuk thor.. tiba tiba nyesek, /Facepalm/
Chandra Arbara
seorang pemuda yang terlehir kembali, untuk menjadi seseorang yang layak berdiri didunia murim
the virtuso
saling support thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!