NovelToon NovelToon
Bertemu di Puncak: Skandal Cinta Sang Bintang

Bertemu di Puncak: Skandal Cinta Sang Bintang

Status: tamat
Genre:Showbiz / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aruna Senja

"Bukan Laknat, namaku Rahmat."

Di usia 9 tahun, seorang anak laki-laki bernama Laknat — "Si Terkutuk" — bertemu dengan seorang gadis kecil di lokasi syuting. Gadis itu memberinya kotak bekalnya, sebuah gelang persahabatan, dan sebuah nama baru: Rahmat, yang artinya "anugerah dari Tuhan."

15 tahun kemudian, Rahmat telah menjadi REYN — penyanyi nomor satu Indonesia, dijuluki "Ice Prince" yang tak pernah melirik wanita mana pun. Gadis kecil itu telah menjadi Wenny Santoso — aktris nasional dengan lesung pipi yang memikat jutaan penggemar.

Ketika sebuah insiden di red carpet memaksa mereka berdua masuk ke reality show kencan Skandal Cinta, REYN tahu: ini adalah kesempatan yang telah ia tunggu selama 15 tahun. Tapi Wenny tidak tahu bahwa pria di hadapannya adalah anak laki-laki yang pernah ia selamatkan.

Di bawah sorotan kamera dan tatapan 50 juta penonton, rahasia demi rahasia mulai terungkap. Identitas masa kecil. Konspirasi berbahaya. Penculikan. Dan sebuah nama yang tersembunyi di balik gemerlapnya panggung.

Apakah cinta yang tertunda 15 tahun cukup kuat untuk menghadapi kebenaran yang menyakitkan?

"Bertemu di Puncak" — janji dua anak kecil yang akhirnya terwujud di panggung terbesar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15: Kembali ke Jakarta

"Idolaku..." bisiknya, lalu mengoreksi dirinya sendiri dengan suara yang lebih pelan, "bukan. Rahasiaku."

Keesokan harinya, rahasia itu hampir terbaca di wajah Wenny saat ia kembali ke lokasi syuting `Legenda Ikan Koi`.

Jakarta terasa jauh dari Bali. Tidak ada suara ombak, tidak ada angin laut yang membuat percakapan terasa aman. Yang ada hanya studio besar, lampu panas, properti kerajaan, dan asisten sutradara yang berteriak meminta semua pemain siap di posisi.

Wenny memakai kostum drama kolosal berwarna merah tua. Rambutnya dihias tusuk emas, wajahnya dipoles lebih tegas dari biasanya. Di depan kamera, ia harus menjadi putri yang menyamar sebagai pelayan kuil. Di belakang kamera, ia adalah perempuan yang semalaman memeluk boneka REYN lalu pura-pura tidak melakukan itu.

"Wenny, fokus," bisik Lilian dari sisi monitor.

"Aku fokus."

"Kamu barusan tersenyum sendiri ke arah pilar."

Wenny langsung meluruskan wajah. "Aku memikirkan dialog."

"Dialognya sedih. Senyummu tidak."

Wenny mengambil naskah dari meja kecil dan pura-pura membaca. Lilian tidak tertipu. Manajernya berdiri di sampingnya dengan tablet di tangan, mata tajam seperti sedang memeriksa laporan keuangan.

"Apa REYN mengirim pesan?"

"Tidak."

"Kamu berharap dia mengirim pesan?"

"Tidak."

"Jawabanmu terlalu cepat."

Wenny menutup naskah. "Lilian."

"Aku hanya memastikan artis yang kutangani tidak kehilangan konsentrasi karena penyanyi yang cuma follow satu orang."

Pipi Wenny panas. "Kamu juga tahu?"

"Seluruh Indonesia tahu."

Sutradara memanggil dari set. Wenny segera berdiri, bersyukur punya alasan untuk kabur. Namun saat kamera mulai menyala dan ia harus mengucapkan dialog tentang menunggu seseorang pulang, suaranya sempat tertahan.

Karena kata `menunggu` kini punya wajah.

Wajah REYN saat matahari tenggelam di Bali.

Adegan itu selesai dalam tiga take. Sutradara puas, Lilian tidak berkomentar, tetapi saat Wenny kembali ke kursi, manajernya hanya menyodorkan air minum dan berkata pelan, "Kalau kamu mulai benar-benar suka, jangan bohong pada dirimu sendiri. Bohong pada publik sudah cukup melelahkan."

Wenny memegang botol itu.

Untuk pertama kalinya, ia tidak punya bantahan cepat.

Saat jeda makan siang, ia membuka tas untuk mengambil lip balm. Ujung jarinya menyentuh sesuatu yang kering. Wenny berhenti, lalu mengeluarkan sehelai kamboja putih dari buku naskahnya.

Bunga dari Bali.

Ia sengaja menyelipkannya di sana sebelum pulang, berpikir akan membuangnya begitu sampai Jakarta. Nyatanya, bunga itu ikut ke lokasi syuting, mengering di antara halaman naskah yang penuh dialog tentang takdir dan pertemuan ulang.

Lilian melihatnya.

"Itu dari dia?"

Wenny ingin bilang bukan. Tapi bunga itu terlalu jelas, dan Lilian terlalu mengenalnya.

"Cuma bunga," jawab Wenny.

"Orang yang tidak penting tidak membuatmu menyimpan bunga kering di naskah kerja."

Wenny menatap kelopak yang mulai rapuh. "Aku tidak tahu dia penting atau tidak."

"Kalau begitu cari tahu. Tapi pelan-pelan. Kamera bisa mengejar, perasaan tidak harus ikut berlari."

Kalimat itu tinggal lebih lama daripada yang Wenny inginkan.

Di tempat lain di Jakarta, REYN juga tidak punya bantahan untuk Jay.

Studio musiknya gelap, hanya diterangi lampu meja dan layar komputer yang menampilkan file demo baru. REYN duduk di depan keyboard, tetapi sejak satu jam lalu, ia belum menekan satu nada pun. Di atas meja ada kertas kosong dengan judul sementara: `Takdir Terbaik`.

Jay masuk membawa dua gelas kopi dan langsung berhenti.

"Lo menulis lagu atau memandangi judul sampai judulnya kasihan?"

REYN mengambil satu gelas tanpa melihatnya. "Berisik."

"Itu jawaban standar kalau lo ketahuan."

Jay duduk di sofa, melempar topinya ke meja kecil. "Bandung tiga hari lagi. Lo siap?"

"Ya."

"Wenny siap?"

Jari REYN berhenti di atas gelas.

Jay menunjuknya. "Nah. Itu reaksi orang yang tidak cuma kerja."

REYN menatap layar komputer. "Sejak kapan kamu jadi pengamat cinta?"

"Sejak sahabat gue ikut reality show kencan dan hampir menyentuh pipi perempuan di depan jutaan orang."

"Aku tidak menyentuh."

"Justru itu masalahnya. Kalau lo sentuh, penonton selesai. Karena lo tidak sentuh, mereka memutar ulang seratus kali."

REYN tidak menjawab.

Jay mencondongkan tubuh, kali ini tanpa nada bercanda. "Reyn, lo serius sama Wenny?"

Studio menjadi lebih sunyi.

Di luar kaca, teknisi sudah pulang. Kota bergerak di kejauhan, tetapi ruangan itu terasa terpisah dari semuanya.

REYN menurunkan pandangan ke tangan kirinya. Lengan hoodie yang tadi menutupi pergelangan sedikit tersingkap. Gelang anyaman tua terlihat di sana. Warnanya sudah pudar, benangnya tidak lagi rapi, tetapi simpulnya masih kuat.

"Bukan cuma serius," katanya pelan.

Jay tidak menyela.

"Dan bukan cuma naksir."

"Lalu?"

REYN menyentuh gelang itu dengan ibu jari. Gerakannya hati-hati, seperti menyentuh sesuatu yang bisa rusak jika ditekan terlalu kuat.

"Sudah bertahun-tahun."

Jay menghela napas, meski ia jelas tidak terkejut sepenuhnya. "Gue tahu lama. Tapi lo tidak pernah bilang seberapa lama."

Matanya turun ke pergelangan REYN. "Dan lo juga tidak pernah menjelaskan kenapa gelang tua itu selalu lebih penting daripada jam mahal mana pun."

REYN menatap gelang itu.

Di benaknya, suara anak perempuan kecil tertawa samar di tempat yang sangat jauh.

Jay bertanya lebih pelan, "Berapa tahun?"

REYN tidak menjawab.

Ia hanya memandangi gelang persahabatan yang sudah lima belas tahun tidak pernah ia lepas, seolah semua jawaban tersimpan di simpul yang mulai usang itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!