NovelToon NovelToon
Hujan di Ranting

Hujan di Ranting

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Melati Lestari

Chua Yulin mengira hidupnya sudah cukup buruk setelah menemukan kekasihnya berselingkuh. Lalu dia pindah ke apartemen baru dan mendapat teman sekamar seorang cowok misterius bernama Sim Zhenyu—yang pulang tengah malam berbau bensin, menerima transfer Rp 10 juta dari orang tak dikenal, dan memiliki wajah yang terlalu tampan untuk hidup biasa.

Kesimpulan Yu: dia pasti model.

Yang tidak Yu duga? Sentuhan Zhen adalah satu-satunya yang bisa meredakan kondisi langka yang dideritanya—haus sentuhan. Sementara Zhen, si clean freak yang tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya, mulai membuat pengecualian. Hanya untuknya.

Dari kesalahpahaman yang konyol hingga pengorbanan yang tak terduga, ini adalah kisah tentang dua orang yang ditakdirkan untuk saling melengkapi—karena kadang, yang kamu butuhkan bukan payung dari hujan, tapi hujan itu sendiri.

"Kamu memang ditakdirkan kekurangan hujan—kekurangan aku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1: Pintu yang Tertutup

Kartu akses apartemen Kevin Jiang masih bisa dipakai.

Lampu kecil di samping pintu menyala hijau, bunyinya pelan sekali, tapi cukup membuat jantung Chua Yulin turun sampai ke perut. Sudah dua minggu Kevin bilang dia sibuk magang, sibuk tugas, sibuk membantu keluarganya. Sibuk sampai chat Yu hanya dibalas dengan stiker lelah dan kalimat pendek, "Nanti aku telepon."

Malam itu, Yu datang tanpa memberi kabar.

Di tangan kirinya ada paper bag berisi bubur ayam yang mulai dingin. Di tangan kanan, dia menggenggam strap tas sampai buku-buku jarinya memutih. Koridor apartemen di Jakarta Selatan itu terlalu rapi, terlalu wangi, terlalu tenang untuk sebuah firasat buruk.

Begitu pintu terbuka, suara tawa perempuan meluncur dari ruang tengah.

Yu berhenti.

Tawa itu bukan suara televisi. Bukan suara video pendek. Dia mengenal suara itu sejak SMA, suara manis yang selalu terdengar seolah tidak pernah berniat menyakiti siapa pun.

Ling Meilin.

"Kev, jangan geli-geli, nanti tumpah."

Yu berdiri di ambang pintu. Paper bag di tangannya mengayun pelan. Dari tempatnya berdiri, dia bisa melihat sepatu hak warna krem di dekat sofa, tas kecil berantai emas di atas meja, dan kemeja Kevin yang tergeletak di sandaran kursi.

Kemeja yang tadi siang Kevin bilang masih dipakai di kantor.

Kevin muncul dari arah dapur dengan gelas di tangan. Senyumnya masih ada, tapi langsung pecah begitu melihat Yu.

"Yu?"

Meilin menoleh dari sofa. Rambutnya tergerai, bibirnya merah, bahu kirinya terlihat karena blouse itu melorot sedikit. Wajahnya sempat pucat sepersekian detik, lalu ia cepat-cepat menarik kain ke atas.

"Yulin?" ucap Meilin, seakan Yu yang salah masuk rumah orang.

Yu menatap mereka bergantian. Tidak ada adegan dramatis yang selama ini ia baca di novel, tidak ada petir, tidak ada musik latar, tidak ada air mata yang langsung jatuh. Yang ada hanya bubur ayam yang masih hangat di telapak tangannya, bau parfum Meilin yang bercampur dengan aroma sabun Kevin, dan suara AC yang terlalu dingin.

"Katanya kamu lembur," kata Yu.

Kevin menaruh gelas terlalu cepat sampai airnya tumpah sedikit ke meja. "Aku bisa jelasin."

"Jelasin dari bagian mana?" Yu melangkah masuk satu langkah. Pintu di belakangnya belum tertutup, angin koridor menyentuh punggungnya. "Dari sepatu Meilin? Dari baju kamu? Atau dari chat kamu yang bilang kamu belum makan, jadi aku bela-belain datang bawa bubur?"

Meilin berdiri. Matanya mulai berkaca-kaca dengan cepat, terlalu cepat.

"Yu, kamu jangan salah paham. Aku cuma mampir karena Kevin lagi banyak pikiran."

Yu menoleh padanya.

"Dengan blouse kebuka?"

Wajah Meilin memerah. "Kamu kasar banget ngomongnya."

"Oh, maaf." Yu mengangguk pelan. "Harusnya aku lebih sopan waktu memergoki pacarku bersama perempuan lain di apartemennya."

Kevin mendekat. "Yu, dengar dulu. Ini nggak seperti yang kamu lihat."

Kalimat itu membuat sesuatu di dalam dada Yu retak dengan suara yang nyaris lucu. Ternyata orang benar-benar mengatakan kalimat setua itu ketika ketahuan.

"Aku lihat apa, Kev?"

Kevin berhenti. Ia menatap paper bag di tangan Yu, lalu wajahnya melembut seperti sedang mencari jalan paling mudah untuk keluar.

"Aku salah. Oke? Aku salah. Tapi kita bisa bicara baik-baik. Hubungan kita sudah tiga tahun, Yu. Jangan hancurkan cuma karena satu malam."

Satu malam.

Yu mengulang kata itu dalam kepalanya. Satu malam yang baginya cukup untuk merobohkan tiga tahun. Satu malam yang bagi Kevin rupanya hanya noda kecil di meja, bisa dilap dengan tisu, lalu dianggap tidak pernah ada.

"Berapa lama?" tanya Yu.

Kevin mengerutkan kening. "Apa?"

"Berapa lama kalian begini?"

Meilin membuka mulut, tapi Kevin lebih cepat menjawab, "Nggak lama."

Yu tertawa pelan. Suaranya asing bahkan untuk telinganya sendiri. "Nggak lama itu dua hari, dua minggu, atau sejak reuni SMA bulan lalu?"

Kevin diam.

Diam itu menjawab lebih jujur daripada semua penjelasan.

Yu menaruh paper bag di atas meja. Plastik beningnya berembun, mangkuk bubur di dalamnya bergeser miring. Ia pernah membayangkan memberi Kevin kejutan kecil seperti ini akan membuat mereka kembali dekat. Bodoh sekali. Ternyata yang perlu ia lihat hanya satu pintu yang terbuka.

"Kita selesai," kata Yu.

Kevin mengangkat tangan, hendak menyentuh lengannya. "Yu, jangan gini."

Yu mundur begitu cepat sampai tasnya membentur pinggir lemari sepatu.

"Jangan sentuh aku."

Kevin berhenti. Untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya benar-benar berubah.

Sentuhan orang yang salah selalu meninggalkan rasa lengket di kulit Yu. Sejak kecil, tubuhnya punya caranya sendiri untuk mengingat hal-hal yang ingin ia lupakan. Ia tidak akan membiarkan tangan Kevin menambah satu lagi bekas.

Meilin menggigit bibir. "Kalau kalian mau bicara, aku bisa pulang dulu."

"Nggak perlu," kata Yu. "Kamu sudah cukup nyaman di sini."

"Yu," Kevin menekan suaranya. "Jangan mempermalukan aku."

Yu menatapnya, lama.

Di situlah sisa rasa sayangnya jatuh, bukan karena Kevin selingkuh, melainkan karena setelah semua ini, yang ia takutkan masih rasa malunya sendiri.

"Kamu mempermalukan dirimu sendiri."

Kevin menegang.

Yu berbalik menuju kamar kecil yang selama ini menyimpan beberapa barangnya. Setiap akhir pekan ia sering menginap di sini, membawa baju ganti, beberapa buku kuliah, charger cadangan, hoodie abu-abu, dan satu mug ikan kecil yang dibelikan Lily karena katanya Yu terlalu sering lupa minum.

Tangannya bergerak cepat. Baju masuk tas. Buku masuk tote bag. Charger ia cabut dari dekat meja. Mug ikan kecil sempat ia pegang lebih lama.

Kevin berdiri di pintu kamar. "Kamu mau ke mana malam-malam begini?"

"Ke mana saja asal bukan di sini."

"Yu, ini Jakarta. Jangan keras kepala."

Yu memasukkan mug itu ke dalam tas, dibungkus hoodie agar tidak pecah. "Aku keras kepala karena belajar dari orang yang selalu bilang sibuk, padahal cuma pandai bohong."

Kevin mengusap wajahnya. "Aku minta maaf."

"Aku dengar."

"Aku serius."

"Aku juga."

Ia menarik ritsleting tas. Suaranya tajam, seperti garis terakhir yang ditarik di antara mereka.

Ketika Yu keluar kamar, Meilin masih berdiri di ruang tengah. Perempuan itu memeluk lengannya sendiri, matanya basah, tetapi Yu sudah terlalu lelah untuk memeriksa apakah itu rasa bersalah atau akting.

"Aku benar-benar nggak berniat mengambil dia darimu," bisik Meilin.

Yu berhenti di depan pintu.

"Ambil saja."

Meilin tertegun.

Yu menatap Kevin untuk terakhir kali. Laki-laki itu pernah menjadi tempat ia pulang setelah kelas panjang, pernah mengirim pesan selamat pagi, pernah menggenggam tangannya di depan bioskop karena ia tahu Yu tidak suka keramaian. Semua kenangan itu masih ada, tapi malam ini warnanya berubah kusam, seperti foto yang terlalu lama terkena matahari.

"Tapi jangan kembalikan kalau sudah rusak," lanjut Yu.

Kevin memanggil namanya sekali lagi.

Yu menutup pintu.

Kali ini dari luar.

Koridor apartemen menyambutnya dengan dingin yang sama. Yu berjalan sampai lift, menekan tombol turun, lalu baru sadar lututnya gemetar. Paper bag bubur tertinggal di meja Kevin. Bagus. Biarkan mereka makan. Biarkan malam itu punya rasa hambar yang pantas.

Di dalam lift, pantulan dirinya terlihat pucat. Rambutnya sedikit berantakan, bibirnya kering, mata bulatnya terlalu tenang. Ia ingin menangis, tapi air mata seperti tersangkut di suatu tempat yang lebih dalam.

Begitu keluar dari lobby, udara Jakarta memukul wajahnya dengan lembap. Jam hampir sebelas malam. Hujan baru berhenti, menyisakan aspal basah dan bau tanah yang naik dari pot tanaman di depan gedung.

Yu duduk di bangku dekat pos satpam. Tas besar di sebelahnya, tote bag di pangkuan, ponsel di tangan. Ia membuka chat Lily, mengetik, menghapus, mengetik lagi.

Lil, aku putus.

Ia menatap kalimat itu beberapa detik, lalu menghapusnya.

Kalau ia mengirim sekarang, Lily pasti datang, marah-marah, menyeretnya pulang, lalu membuat dunia ribut. Yu belum sanggup mendengar siapa pun mengasihani dirinya.

Ia membuka aplikasi pencari kos dan apartemen.

Harga-harga di Jakarta Selatan muncul seperti ejekan. Delapan juta. Tujuh setengah. Enam juta belum termasuk listrik. Yu menggeser layar dengan jari yang mulai dingin, sampai satu iklan membuatnya berhenti.

Apartemen share, Jakarta Selatan.

Rp 4.000.000/bulan.

Khusus perempuan. Bersih. Tenang. Tidak merokok. Tidak bawa teman sembarangan.

Foto-fotonya terlihat hampir terlalu rapi. Lantai putih mengilap, sofa abu-abu tanpa noda, dapur kecil yang seperti tidak pernah dipakai. Lokasinya hanya beberapa stasiun dari UI. Deposit masuk akal. Pemilik meminta penyewa bisa pindah cepat.

Yu menelan ludah.

Terlalu bagus untuk benar.

Ia membuka kolom komentar. Beberapa orang menulis tempatnya nyaman. Ada yang bilang pemiliknya jarang muncul. Ada yang memuji kebersihannya.

Lalu satu komentar paling bawah membuat jari Yu berhenti.

Kayaknya yang punya unit cowok deh. Aku pernah lihat ada laki-laki tinggi keluar jam dua pagi. Tapi admin bilang khusus cewek. Aneh.

Yu menatap layar lama sekali.

Di atas kepalanya, sisa hujan menetes dari kanopi lobby, jatuh satu-satu ke lantai. Malam itu, semua pintu yang ia kenal sudah tertutup. Mungkin pintu berikutnya juga berbahaya. Mungkin lebih aneh. Mungkin lebih buruk.

Tapi Yu tetap menekan tombol kirim pesan.

Halo, unitnya masih tersedia?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!