Kiara terbangun di dunia yang bukan miliknya.
Satu detik sebelumnya, dia gadis biasa yang membaca novel romansa di ponselnya. Detik berikutnya, dia terperangkap di tubuh Kiara Tanuwijaya — aktris muda yang diperlakukan bagai sampah oleh keluarganya sendiri, difitnah oleh industri, dan ditakdirkan berakhir tragis dalam cerita.
Tapi yang paling menakutkan bukan keluarga yang membencinya, bukan pula musuh yang ingin menghancurkannya.
Yang paling menakutkan adalah Rayhan Purnawan.
Dalam novel, dia adalah villain — konglomerat kejam yang menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Tapi saat menatap Kiara, matanya yang dingin meleleh. Suaranya yang tajam melunak. Tangannya yang bisa menghancurkan kerajaan bisnis justru dengan lembut membelai rambutnya.
"Sayang, kamu kembali."
Kembali? Kiara baru saja tiba.
Atau... benarkah?
Di balik kelembutan Rayhan tersembunyi rahasia yang lebih gelap dari mimpi terburuknya: altar tempat dia berdoa 2352 hari, sketsa-sketsa yang tak seharusnya ada, dan sebuah obsesi yang melampaui batas dunia.
"Aku sudah menunggumu. Di dunia ini, di dunia mana pun — aku akan selalu menemukanmu."
Kiara tahu dia harus takut.
Tapi kenapa, saat dia bersembunyi di pelukan pria ini, justru rasa aman yang dia temukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 035
Jangan Kunci Semua Pintu
Di dalam mobil, Kiara mulai memahami bahwa bagi Rayhan, cinta berarti memastikan semua pintu yang mengarah padanya hanya bisa dibuka olehnya.
Pemahaman itu tidak langsung membuatnya ingin pergi.
Justru karena tidak ingin pergi, ia merasa lebih takut.
Mobil melaju melewati jalan basah Menteng. Lampu kota pecah di kaca, memanjang seperti garis-garis emas yang dingin. Rayhan masih menggenggam tangan Kiara, tetapi genggamannya tidak rapat. Seolah ia siap melepas kapan pun Kiara menarik diri.
Kiara tidak menarik diri.
Ia hanya diam sampai mobil masuk ke basement apartemen servis.
Rayhan turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuknya. Gerakannya sama hati-hatinya seperti biasa. Satu tangan berada di atas bingkai pintu agar kepala Kiara tidak terbentur. Tangan lain menunggu di dekat siku, tidak menyentuh sebelum Kiara mengizinkan.
Malam ini, semua kelembutan itu terasa lebih jelas.
Dan lebih menyakitkan.
"Aku bisa jalan," kata Kiara pelan.
Rayhan menurunkan tangannya. "Baik."
Ia berjalan di samping Kiara tanpa menyentuhnya sampai mereka masuk lift. Di ruang sempit itu, bayangan mereka berdiri berdampingan di pintu stainless. Kiara melihat wajahnya sendiri yang pucat, lalu wajah Rayhan yang terlalu tenang.
"Koko takut aku marah?" tanyanya.
Rayhan menatap pantulan mereka. "Aku takut kamu takut."
Jawaban itu membuat dada Kiara mengencang.
Lift terbuka.
Di dalam apartemen, Santi sudah menyiapkan air hangat dan obat malam sebelum mundur ke kamar kecilnya. Ruang tamu tinggal mereka berdua. Tidak ada musik. Tidak ada suara kota kecuali hujan yang masih menempel di jendela.
Kiara duduk di sofa.
Rayhan tidak duduk di sampingnya. Ia berdiri beberapa langkah di depan, seperti orang yang sedang menunggu putusan.
Kiara menatapnya lama.
"Aku tidak mau pura-pura tidak melihat apa yang terjadi malam ini."
"Aku tahu."
"Aku juga tidak mau Koko pura-pura menjadi orang baik yang tidak pernah membuat orang takut."
Mata Rayhan bergerak sedikit.
Kalimat itu mungkin seharusnya menyakitkan. Namun di wajahnya, yang muncul justru semacam lega yang muram. Seperti akhirnya ada orang yang menyebut sesuatu yang sudah lama ia simpan.
"Aku bukan orang baik," katanya.
Kiara menggenggam ujung selimut di sofa. "Aku mulai tahu."
"Kalau itu membuatmu ingin berhenti..."
"Jangan selesaikan kalimat itu untukku."
Rayhan langsung diam.
Kiara menarik napas pelan. "Aku takut melihat caramu menutup semua pintu untuk Yolanda. Aku takut karena kamu bisa melakukan itu tanpa terlihat marah. Tapi aku juga tahu kalau kamu tidak menghentikannya, dia akan terus mencari cara menyakitiku."
Rayhan mendengarkan tanpa memotong.
"Dua hal itu bisa benar bersamaan," lanjut Kiara. "Dia salah. Kamu melindungiku. Tapi caramu tetap membuatku takut."
Rayhan menunduk sedikit. "Aku tidak tahu cara melindungi yang setengah-setengah."
"Belajar."
Satu kata itu keluar lebih tegas daripada yang Kiara kira.
Rayhan mengangkat mata.
Kiara berdiri. Kepalanya sedikit ringan, tetapi ia tidak duduk lagi. Ia ingin kalimatnya sampai dari posisi yang sejajar, bukan dari sofa seperti orang yang sedang dirawat.
"Kalau sesuatu menyangkut pekerjaanku, reputasiku, tubuhku, atau keselamatanku, beri tahu aku. Jangan biarkan aku mengetahui semuanya dari pintu yang tiba-tiba tertutup. Jangan pakai fotoku, namaku, atau tubuhku untuk menghukum orang tanpa aku tahu."
"Aku tidak akan."
"Dan jangan sentuh orang yang tidak terlibat."
"Aku sudah memberi batas itu."
"Aku mau mendengarnya dari Koko, bukan dari laporan Adi."
Rayhan terdiam sebentar. Lalu ia berkata, "Aku janji."
Kiara menatapnya. "Janji yang mana?"
"Aku tidak akan memakai namamu tanpa memberitahumu. Aku tidak akan menyentuh orang yang tidak terlibat. Kalau ada sesuatu yang langsung menyangkutmu, aku akan memberitahumu sebelum kamu mendengarnya dari orang lain."
Kiara baru merasa napasnya sedikit turun.
Namun Rayhan melanjutkan, suaranya lebih rendah, "Tapi kalau ada orang yang benar-benar ingin menyakitimu, aku tetap tidak bisa berjanji akan menjadi lembut."
Kiara memejamkan mata sebentar.
Itulah Rayhan.
Ia bisa belajar berhenti di tepi, tetapi ia tidak akan berpura-pura tidak punya jurang di dalam dirinya.
Ketika Kiara membuka mata, Rayhan masih berdiri di sana, menunggu.
"Aku tidak meminta Koko menjadi orang lain dalam satu malam," katanya. "Aku cuma minta jangan kunci semua pintu sampai aku sendiri tidak tahu jalan keluarnya."
Wajah Rayhan berubah.
Untuk sesaat, pria itu tampak seperti seseorang yang ditarik kembali dari tempat sangat jauh.
"Aku pernah melakukan itu," katanya, sangat pelan.
Kiara hampir tidak mendengar. "Apa?"
Rayhan menggeleng. "Bukan sekarang."
Jantung Kiara berdetak lebih cepat.
Ada sesuatu di balik kalimat itu. Sesuatu yang berhubungan dengan mimpi, kamar terkunci, rantai di pergelangan tangan, dan Rayhan muda yang menatapnya seperti ia akan hilang kalau pintu dibuka sedikit saja.
Kiara melangkah mendekat.
"Koko."
Rayhan mengangkat tangan, lalu berhenti lagi seperti di mobil.
Kali ini Kiara yang mengambil tangannya dan menaruhnya di pipinya sendiri.
Telapak tangan Rayhan dingin.
"Aku masih di sini," kata Kiara.
Napas Rayhan bergetar sangat halus.
"Malam ini," balasnya.
"Besok juga, kalau Koko tidak membuatku kehabisan udara."
Rayhan menatapnya dengan mata yang perlahan memerah di tepinya. Bukan menangis keras. Hanya retak kecil yang cepat ia tahan.
"Aku akan belajar," katanya.
Kiara mengangguk.
Itu belum cukup untuk menghapus rasa takut. Belum cukup untuk membuat semua pertanyaan selesai. Tapi untuk malam ini, itu cukup agar ia tidak mundur.
Rayhan akhirnya duduk di sofa, tidak menarik Kiara ke pangkuannya seperti biasanya. Ia hanya duduk di samping, memberi jarak satu telapak tangan.
Kiara melihat jarak itu, lalu dengan sengaja bersandar sedikit ke bahunya.
Tubuh Rayhan menegang.
"Jangan bergerak," gumam Kiara. "Aku yang memilih."
Rayhan tidak bergerak sama sekali.
Di luar, hujan makin pelan. Di dalam, napas mereka perlahan menemukan ritme yang sama.
Malam itu, Kiara tidur di sofa dengan kepala di bahu Rayhan. Rayhan tidak membawanya ke kamar sampai ia benar-benar terlelap. Ia hanya menyelimuti tubuhnya, menahan bahunya tetap stabil, seolah sedikit gerakan saja bisa membuat kepercayaan yang baru diletakkan Kiara di sana jatuh.
Ponselnya bergetar sekali di meja.
Nama Adi muncul dengan laporan lanjutan.
Rayhan melihat layar itu, lalu melihat Kiara yang tertidur di bahunya. Biasanya, ia akan membaca semuanya saat itu juga. Menutup ancaman sebelum ancaman sempat bernapas adalah kebiasaan yang sudah menempel di tulangnya.
Namun malam ini, suara Kiara masih tertinggal di telinganya.
Jangan kunci semua pintu.
Rayhan mengambil ponsel, mengetik satu kalimat pendek.
Besok pagi. Tidak malam ini.
Setelah itu ia membalik ponsel menghadap meja.
Ketika Kiara akhirnya tertidur, ia bermimpi lagi.
Kali ini bukan ballroom, bukan studio, bukan mobil di bawah hujan.
Ia berada di sebuah kamar yang sangat sunyi.
Jendela tertutup rapat.
Di pergelangan tangannya, ada rantai tipis berwarna hitam.
Dan di depan pintu, Rayhan muda berdiri dengan mata merah, berbisik, "Kalau aku membuka pintu, kamu akan pergi lagi."