Kelas Privat Maya: Di Balik Senyum CEO
Di sebuah sudut kota yang ramai, tersembunyi sebuah ruangan kecil yang penuh dengan tumpukan buku dan aroma kopi yang khas. Ruangan itu adalah 'Kelas Privat Maya', tempat di mana mimpi-mimpi sederhana diukir dan harapan-harapan baru tumbuh. Maya, seorang guru privat yang ceria dan penuh semangat, mendedikasikan hidupnya untuk membantu anak-anak dari latar belakang kurang mampu.
Suatu hari, seorang pria misterius datang ke kelas Maya. Pria itu tinggi, tampan, dan berpakaian rapi, jauh dari bayangan Maya tentang seorang ayah atau kakak yang biasa mengantar anak-anaknya les. Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, namun sorot matanya yang lelah dan senyumnya yang terpaksa menyiratkan beban yang berat.
Awalnya, Maya mengira pria itu ingin mendaftarkan anaknya. Namun, ia terkejut ketika pria itu berkata, "Aku ingin belajar, Maya. Ajari aku cara tersenyum lagi." Ternyata, di balik kesuksesannya yang gemilang, CEO
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Megahnya Takhta Cinta dan Kehadiran Tamu Agung
Beberapa bulan berlalu sejak gema tepuk tangan meriah membahana di pelataran Istano Basa Pagaruyung. Hari yang dinanti-nantikan akhirnya tiba.
Sebuah Ballroom hotel berbintang lima di pusat Jakarta disulap menjadi tempat resepsi pernikahan teragung tahun ini. Dekorasi bergaya modern-classical bertabur ribuan bunga marfisia putih, mawar impor, serta kristal gantung yang berkilauan bagai bintang malam memanjakan mata setiap tamu yang hadir. Pernikahan antara Kian , sang CEO yang kini dikenal hangat dan bijaksana, dengan Maya , putri tunggal pendiri Hartawan Holdings, menjadi sorotan utama seluruh media nasional dan korporasi.
Maya tampak bagaikan dewi dalam balutan gaun pengantin putih berpotongan A-line dengan sulaman mutiara halus, sementara Kian berdiri gagah mengenakan tuksedo hitam yang amat elegan. Di samping mereka, Rosa ibu Kian tersenyum anggun tanpa henti, memancarkan rasa bangga dan kebahagiaan yang tak terukur.
Di tengah riuhnya para petinggi negara dan pengusaha papan atas yang memberikan selamat, suasana di area karpet merah mendadak riuh rendah. Pintu utama Ballroom terbuka, menyedot perhatian seluruh kamera wartawan.
Seorang pria bertubuh tegap dengan garis wajah tegas namun karismatik melangkah masuk. Ia adalah Dion Alfajri Pratama, sepupu Kian putra tunggal dari kakak kandung Rosa. Dion merupakan CEO pendiri Montana, raksasa industri perfilman dan media entertainment berskala internasional.
Di samping Dion, berjalan sang istri yang tampak anggun luar biasa yaitu Arisa, mendampingi buah hati mereka Rizaidhan, putra kecil mereka yang tampan dan menggemaskan.
Kehadiran keluarga Montana bukan sekadar kehadiran tamu biasa. Sejarah terbentuknya Montana sendiri adalah legenda tersendiri di dunia bisnis. Puluhan tahun lalu, almarhum kakak Rosa memilih jalur yang berbeda dari bisnis keluarga . Beliau mendirikan studio produksi kecil di bawah bendera Montana. Ketika kepemimpinan beralih ke tangan Dion, pria itu melakukan revolusi besar-besaran: menggabungkan teknologi sinematografi modern, distribusi digital global, hingga akuisisi jaringan bioskop dunia. Di bawah tangan dingin Dion Alfajri Pratama, Montana bertransformasi dari studio lokal menjadi imperium perfilman bernilai triliunan rupiah yang disegani di mancanegara.
"Selamat, Kian," ujar Dion dengan suara berat nan hangat, memeluk sepupunya itu dengan erat. "Aku bangga melihat perubahan besar dalam hidupmu."
"Terima kasih sudah datang jauh-jauh di tengah kesibukan proyek film barumu, Mas Dion," balas Kian mantap.
Dion tersenyum tipis, lalu berpaling ke arah Maya. "Selamat datang di keluarga , Maya. Kian beruntung mendapatkan wanita sepertimu."
Istri Dion Arisa dan Rizaidhan pun turut memberikan ucapan selamat yang hangat, disambut pelukan haru dari Rosa yang bahagia melihat keluarga besarnya kini berkumpul utuh tanpa ada perselisihan lagi.
Belum selesai rasa haru atas kedatangan keluarga Montana, perhatian Kian dan Maya kembali teralih oleh dua sosok yang sangat familiar melangkah naik ke atas pelaminan.
Dika dan Hani.
Dika tampak begitu gagah mengenakan setelan jas rapi, sementara Hani tampil sangat anggun dengan gaun ibu hamil (maternity dress) berwarna merah muda lembut. Perut Hani yang mulai membuncah menunjukkan usia kandungannya yang sudah memasuki bulan kelima. Kebahagiaan dan ketenangan terpancar jelas dari wajah pasangan yang kini menetap di Tanah Datar tersebut.
"Maya! Kian!" sapa Hani dengan senyum ceria yang mengembang luas.
"Hani! Pak Dika!" Maya memeluk Hani dengan sangat hati-hati dan penuh rasa kasih. "Ya ampun, kalian datang dari Sumatera... dan lihat perutmu, Hani! Kamu terlihat makin bersinar!"
"Tentu saja! Pangeran kecil di perutku ini sudah sabar ingin menghadiri pernikahan tante dan pamannya di Jakarta," jawab Hani sambil terkekeh pelan.
Dika menjabat tangan Kian erat-erat, menepuk bahu sang CEO. "Selamat, Mas Kian. Akhirnya nilai sepuluh sempurna itu resmi jadi milik Mas seumur hidup."
"Terima kasih banyak, Dika. Tanpa bantuanmu di desa waktu itu, mungkin aku tidak akan berdiri di sini hari ini," sahut Kian tulus.
Saat mereka berfoto bersama, Hani mendekatkan tubuhnya ke arah Maya dan Kian. Dengan binar mata jahil dan senyum menggoda, Hani berbisik pelan tepat di antara Kian dan Maya:
"Kian, Maya... selamat atas pernikahan kalian, ya. Tapi dengar..." Hani melirik perutnya sendiri, lalu menatap Kian dan Maya bergantian. "...jangan mau kalah sama kami yang di kampung halaman! Kalian harus cepat-cepat menyusul biar anak kita nanti bisa main bareng!"
Pipi Maya seketika memerah bagai buah ceri mendengar bisikan kuis tersebut. Kian tertawa lepas, merangkul pinggang Maya lebih erat dan menatap istrinya dengan tatapan yang penuh makna dan kehangatan.
"Tenang saja, Hani.... kami tidak akan terlambat untuk kelas tambahan yang satu itu," bisik Kian balik sambil terkekeh goda, membuat Maya makin tersipu malu di pelukannya.
Di bawah naungan lampu kristal yang megah, diiringi gelak tawa, pelukan hangat keluarga, dan restu dari semua orang terkasih, pernikahan Kian dan Maya menjadi awal dari sebuah babak baru yang penuh cinta, harapan, dan kebahagiaan yang tak terhingga.