NovelToon NovelToon
Bidan Cantik Di Ujung Pelosok

Bidan Cantik Di Ujung Pelosok

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Cinta Istana/Kuno / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~

Melani, seorang bidan muda yang berdedikasi, harus menelan pil pahit akibat keteguhan prinsipnya. Karena berani menolak lamaran untuk menjadi istri siri dari pejabat Dinas Kesehatan yang berkuasa, ia "dibuang" ke sebuah desa paling terpencil dan terperosok yang nyaris terisolasi dari peradaban.

~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 2

****

Langkah kaki Melani makin terasa berat. Sepatu boots khusus lapangannya kini terlapisi tanah merah yang lengket dan pekat. Hutan hujan tropis yang menyelimuti perbatasan antara Desa Karang Anjar dan Desa Hulu Rawa seolah tak berujung. Bau basah dedaunan, suara gersik serangga hutan, dan deru arus sungai yang memotong lembah menjadi satu-satunya kawan dalam kesendiriannya.

Setengah jam menembus kabut tipis yang merayap turun dari perbukitan, pemandangan hutan akhirnya mulai melonggar. Jalur setapak yang semula tertutup semak belukar berganti menjadi gapura sederhana yang terbuat dari jalinan kayu hutan utuh dan bambu hitam. Di atasnya, ukiran-ukiran khas suku setempat terpahat rapi, menyambut siapa pun yang berani melangkah melintasi batas tersebut.

Melani menghentikan langkahnya sejenak tepat di bawah gapura. Wajah cantiknya yang biasa berseri kini dipenuhi peluh halus, dengan helai-helai rambut hitamnya yang menempel lekat di dahi dan pipi. Pakaian kemejanya berbercak lumpur di bagian bawah, sementara jemarinya memerah karena terus menjinjing tas medis kulit yang berbobot cukup berat.

Saat kakinya memijak pelataran tanah keras Desa Hulu Rawa, deretan rumah panggung kayu bersatap ijuk menyambut pandangannya. Namun, hal pertama yang paling menusuk perasaan Melani bukanlah pemandangan desa yang eksotis itu, melainkan keheningan mendadak yang merayap di sekelilingnya.

Ibu-ibu yang tadinya sedang menumbuk padi di bawah kolong rumah panggung mendadak menghentikan alu mereka. Anak-anak kecil yang sedang bermain gundu menghentikan langkah, bersembunyi di balik dinding-dinding kayu sambil mengintip takut-takut. Tatapan-tatapan asing, curiga, dan penuh jarak terhunus tepat ke arah Melani.

"Lihat itu... siapa perempuan itu?" bisik seorang wanita setengah baya dengan selendang tenun terikat di kepalanya, suaranya terdengar jelas di antara keheningan.

"Perempuan kota lagi. Lihat pakaiannya... tas yang dibawanya sama seperti orang asing yang dulu," sahut wanita di sebelahnya dengan nada tidak bersahabat.

Melani berusaha menyunggingkan senyum terramahnya. Ia mengangguk sopan ke arah warga yang berdiri di pinggir jalan setapak. "Selamat siang, Bapa, Ibu... Saya Melani, bidan baru yang ditugaskan di sini—"

Belum sempat Melani menyelesaikan kalimatnya, warga yang disapanya justru memalingkan muka dan melangkah masuk ke dalam rumah, menepuk pintu kayu mereka hingga tertutup rapat. Melani menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. Penolakan yang disampaikan Paman Aris di perahu tadi rupanya bukan sekadar gertakan.

"Kalau mau melapor, jalan terus ke ujung jalan ini. Rumah panggung yang paling besar dengan patung kayu di halamannya. Itu rumah kepala Adat," cetus seorang pria tua yang sedang meraut bambu di teras tanpa memandang wajah Melani.

"Ah... terima kasih banyak, Bapa," balas Melani, mencoba menjaga nada suaranya tetap hangat meski hatinya bergetar.

Melani menguatkan genggaman tangannya pada gagang tas medis, lalu kembali melangkah menuju ujung desa. Rumah panggung yang dimaksud tampak anggun dan megah. Tiang-tiang kayunya besar berukir rumit, dan di teras depannya, beberapa tetua adat berambut perak berpakaian kain tenun gelap sedang duduk melingkar.

Saat Melani menaiki tangga kayu rumah adat yang berderit, para tetua itu mendongak. Tatapan mereka dingin, penuh selidik, dan sarat akan dominasi.

"Selamat siang, Bapak-Bapak yang terhormat," ujar Melani seraya menundukkan kepala penuh hormat. "Nama saya Melani. Saya bidan yang dikirim dari Dinas Kesehatan kabupaten untuk bertugas di Puskesmas Pembantu Hulu Rawa."

Seorang tetua berjanggut putih mengelus janggutnya pelan. "Kami tidak pernah meminta bidan baru dari kota, Nak," jawabnya datar. "Bidan yang dulu datang ke sini hanya membawa kebingungan dan merusak apa yang sudah dijaga leluhur kami ratusan tahun."

"Tapi saya datang untuk membantu, Mbah... Saya membawa obat-obatan dan—"

"Cukup, Mbah Baya," sebuah suara berat, dalam, dan penuh wibawa memotong ucapan Melani dari arah pintu utama rumah adat.

Melani menghentikan kata-katanya. Dari dalam kegelapan daun pintu, melangkah keluar seorang pria.

Melani sempat menahan napasnya selama beberapa detik. Pria itu sama sekali tidak seperti gambaran tetua adat berumur yang ada di pikirannya. Pria itu masih muda—mungkin berusia akhir dua puluhan atau awal tiga puluhan. Parasnya sangat tampan dan tegas, dengan garis rahang yang keras, kulit cokelat hangat eksotis, serta rambut hitam yang sebagian diikat rapi dengan kain tenun khas desa. Tubuhnya tinggi tegap, dibalut kemeja kain kasar berwarna gelap dan kain adat yang melilit pinggangnya.

Namun, yang paling mengintimidasi Melani adalah matanya. Manik mata pria itu sehitam malam, tajam dan menembus, seolah bisa membaca setiap ketakutan yang disembunyikan Melani di balik paras cantiknya.

"Saya Rangga Wira. Ketua Adat Hulu Rawa," ucap pria itu pelan namun suaranya bergetar penuh otoritas. Ia melangkah turun satu anak tangga, berdiri memandang Melani dari ketinggian.

Meskipun terpesona sejenak oleh ketampanan dan aura wibawa yang memancar dari pria bernama Rangga Wira itu, Melani merasakan intimidasi yang nyata. Berdiri di bawah tatapan tajam Rangga Wira membuat udara di sekitarnya mendadak terasa makin dingin dan menyesakkan.

"Selamat siang, Pak Rangga," Melani berusaha menetralkan getar di suaranya, menyodorkan amplop tugas berstempel dinas. "Saya Bidan Melani. Ini surat tugas resmi saya untuk bertugas di desa ini."

Rangga Wira tidak langsung meraih surat itu. Matanya menyapu penampilan Melani dari ujung kepala hingga ujung kaki—menilai kemeja putihnya yang kotor, tas kulit tua yang ia dekap, dan guratan kelelahan di wajah ayunya.

"Surat kertas dari kota tidak berlaku di tanah ini, Bidan Melani," kata Rangga Wira dingin. Sikapnya begitu tertutup, seolah ada dinding es tebal yang membentang di antaranya dan Melani. "Kami menghargai usahamu berjalan jauh menembus hutan sampai ke desa kami. Tapi Hulu Rawa punya hukum dan cara hidup sendiri. Masyarakat kami tidak membutuhkan pengobatan orang luar."

"Tapi Pak Rangga, kesehatan warga adalah hal dasar!" protes Melani, keteguhan hatinya kembali membakar keberaniannya. "Saya tahu bidan sebelumnya mungkin membuat kesalahan atau tidak memahami tradisi di sini, tapi berikan saya kesempatan. Saya berada di sini untuk melayani, bukan untuk menggantikan adat kalian."

Rangga Wira bersedekap dada, menatap Melani tanpa wawasan emosi. "Pilihanmu hanya satu, Bidan. Istirahatlah malam ini di rumah singgah di perbatasan Karang Anjar. Besok pagi saat matahari terbit, kembalilah ke kota. Itu keputusan kami. Para tetua sudah sepakat."

"Pak Rangga, tolong dengarkan dulu—"

"Keputusan Adat tidak bisa diganggu gugat," potong Mbah Baya, tetua berjanggut putih, dengan nada final.

Melani mengepalkan tangannya rapat-rapat. Rasa kecewa, lelah, dan rasa ketidakadilan akibat ulah Pak Pramono seolah menumpuk di dadanya. Apakah perjuangannya menembus hutan dan menolak pelecehan pejabat itu hanya akan berakhir dengan pengusiran dingin seperti ini?

Namun, tepat di saat ketegangan di teras rumah adat itu mencapai puncaknya, dari arah jalanan desa terdengar teriakan histeris seorang pria yang berlari terengah-engah.

"Ki! Ki Rangga! Tolong!" jerit pria muda itu, tubuhnya berlumur keringat dan napasnya berburu cepat. Ia hampir tersandung di tangga rumah adat.

Sikap dingin Rangga Wira seketika runtuh, berganti dengan kesiapan siaga. "Ada apa, Seno? Kenapa kamu berteriak-teriak?"

"Nyai Sunti, Ketua! Istri saya... Nyai Sunti!" pria bernama Seno itu menangis histeris, mencengkeram lutut Rangga Wira. "Bayinya... bayinya mau lahir, tapi Nyai Sunti pingsan! Darah... darahnya keluar banyak sekali! Dukun Bi Naya sudah membaca mantra dan memberi ramuan, tapi darahnya tidak berhenti! Nyai Sunti sudah tidak bernapas dengan benar!"

Raut wajah Rangga Wira berubah drastis. Matanya melotot tajam penuh kekhawatiran. "Bi Naya tidak bisa menghentikan pendarahannya?!"

"Tidak bisa, Ketua! Bi Naya bilang... Bi Naya bilang Nyai Sunti diserang roh jahat dan sudah tidak bisa ditolong lagi!" tangis Seno pecah, meratap di tanah.

Para tetua adat langsung saling pandang dengan wajah panik dan penuh kecemasan. Mbah Baya komat-kamit membaca doa, sementara warga mulai berdatangan dan berkumpul dengan raut wajah ketakutan.

Di tengah kepanikan itu, jantung Melani berdegup kencang. Naluri medisnya membunyikan alarm bahaya yang sangat nyaring. Pendarahan postpartum atau retensio plasenta! Pingsan dan syok hipovolemik! Ini bukan karena roh jahat—ini adalah kondisi gawat darurat medis yang bisa merenggut dua nyawa sekaligus dalam hitungan menit jika tidak segera ditangani!

Tanpa memikirkan status penolakannya, tanpa peduli bahwa beberapa detik lalu ia baru saja diusir secara resmi, Melani langsung mengeratkan pegangan pada tas medisnya.

"Bawa saya ke sana sekarang!" seru Melani tegas, suaranya membelah kepanikan di halaman rumah adat.

Rangga Wira menoleh cepat, menatap Melani dengan raut terkejut. "Apa yang mau kamu lakukan? Ini urusan internal desa kami!"

Melani melangkah maju, menatap lurus tepat ke dalam mata hitam Rangga Wira yang tajam. Wajah cantiknya tak lagi menunjukkan kelelahan, melainkan ketegasan seorang tenaga medis yang siap bertaruh nyawa.

"Wanita itu sedang pendarahan hebat, Pak Rangga! Kalau ditunggu sampai besok atau hanya diberi mantra, dia dan bayinya akan meninggal dalam hitungan jam!" tegas Melani tanpa nada ragu sedikit pun. "Kamu boleh mengusir saya besok pagi, kamu boleh membenci saya sebagai orang luar, tapi detik ini... biarkan saya menyelamatkan warga kalian!"

Rangga Wira terpaku. Untuk pertama kalinya, sikap dingin dan penuh kendali dari sang Ketua Adat bergoyang. Ia menatap mata Melani yang membara oleh tekad, lalu beralih menatap Seno yang meraung kesakitan memohon bantuan.

Dua dunia yang bertolak belakang kini berbenturan di bawah langit Hulu Rawa yang mulai menggelap.

Bersambung..

1
Apis
knp g di jelasin jg kejahatan pramono lainya thor kaya ke Melani dendamnya karna Melani menolak di nikah sirih jd istri ke 2 biar tambah malu sekalian jd tambah seru biar di rujak sama istrinya 😄
neng ade
akhirnya di tindak tegas juga itu pak Pramono..
Nurul Boed
ceritanya beda dgn novel yang lain,, bagus kak,,, semangat up ya kak 😍😍
kasih pelajaran lah buat Pak pramono tuuu... gemesssss
neng ade
up yang banyak dong thor 🙏
Apis
dramanya jngn berat" ya thor tipis" aj kalo manis"nya baru boleh bnyk 😄
nunik rahyuni
klo menikah aoa cuma di drsa hulu rawa sj...g ke kampung melani dlu baru di boyong je desa suami...masa melani di tinggal di hulu rawa
neng ade
menunggu acara upacara pelaminan adat Hulu Rawa
Kusii Yaati
pejabat Pramono harus di tindak lanjuti itu, laporkan saja biar di pecat 😡
neng ade
selamat untuk Rangga dan Melani karena udah dapat restu dari ayahnya Melani
neng ade
Sutan harus dihukum bersama orang yang menyuruh nya
dika edsel
keren ceritanya...,bintang lima untukmu thor🌟
Kusii Yaati
semangat pak ketua,raih restu keluarga calon Bu ketua suku...ku doa' kan lancar...💪😘
pasti lancar ya Thor 🤭
neng ade
Rangga dan Melani semoga keduanya mendapatkan restu dari kedua orang tua Melani ❤️
Kusii Yaati
dua duanya tapi yang paling berat akan berpisah dengan pak ketua suku 🤭
neng ade
Melani takut karena harus berpisah dengan mu Rangga 😊
Apis
duh pak rangga udah mulai ter ter Melaniku nich 🤣🤣🤣🤣
neng ade
manis dan romantis yang indah dan syahdu ❤️
neng ade
setelah itu akan ada pernikahan adat antara Rangga dan Melani
neng ade
Alhamdulillah.. ..🤲
neng ade
Rangga dan Melani berjodoh .. mereka berdua akhirnya bisa menangkap basah Sutan dengan barang bukti yang ada di tangan nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!