WARNING!! HANYA UNTUK DEWASA!!
Cecilia tidak menyangka, baru saja pindah jiwa ke tubuh wanita lain malah terjebak jadi simpanan Tuan Douglas yang dingin.
Cecilia pun berpikir untuk bisa kabur dari jeratan Tuan Douglas, semakin Cecilia menjauh maka semakin kuat juga Tuan Douglas ingin memilikinya.
"Kau hanya milikku sayang, sampai kapanpun akan tetap menjadi milik ku!" Douglas
"Enak saja! Lebih baik aku mati saja daripada jadi simpanan!" Cecilia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meninggalkan Kemewahan Haram!
Waktu terus berputar, dan bagi Cecilia, tidak ada waktu banyak untuk sekadar duduk termenung meratapi nasib. Untuk berpikir berlama-lama saja rasanya tidak ada kesempatan. Setelah asisten menyebalkan bernama Logan itu pergi meninggalkan unit apartemen, Cecilia langsung melesat menuju kamar tidur utama bak kesetanan.
Di dalam kamar, ia membuka pintu lemari pakaian walk-in closet yang luar biasa besar. Matanya membelalak melihat deretan pakaian bermerek yang harganya mungkin bisa untuk membeli sebuah ginjal.
"Ya ampun, baju macam apa ini semua? Kenapa kebanyakan kurang bahan begini?!" omel Cecilia pada dirinya sendiri sambil menyingkirkan beberapa gaun malam berpotongan dada rendah dan lingerie berbahan renda transparan yang membuatnya bergidik ngeri.
"Tidak sudi aku memakai baju-baju kurang bahan ini lagi! Ingat, Cecilia, kau sekarang akan kembali ke jalan yang benar!"
Cecilia dengan cekatan mengambil sebuah koper besar dari sudut ruangan. Ia hanya memilah dan memasukkan baju-baju yang menurutnya tertutup, sopan, dan layak pakai untuk keseharian seorang wanita biasa. Kaus berlengan panjang, beberapa celana kain panjang, kemeja sederhana, dan beberapa potong gaun rumahan. Semua pakaian terbuka dan gaun pesta malam yang menjijikkan itu ia biarkan menggantung tak tersentuh di dalam lemari.
Setelah urusan pakaian selesai, Cecilia berjongkok dan menggeledah laci lemari paling bawah. Tangannya meraba-raba ke bagian terdalam hingga ia menemukan sebuah map plastik. Matanya berbinar lega saat melihat isinya.
"Bagus! kartu identitas, paspor, ijazah, dan akta kelahiran. Untung saja pemilik tubuh ini tidak sebodoh yang aku kira sampai menghilangkan identitas aslinya," gumamnya lega, langsung memasukkan map berisi berkas pribadi itu ke dalam tas tangannya.
Untuk alas kaki, dari sekian banyak deretan sepatu hak tinggi bermerek Louboutin atau Jimmy Choo yang berjajar rapi, Cecilia hanya mengambil dua pasang flatshoes yang terlihat nyaman. Untuk saat ini, ia hanya mengenakan sepasang sandal jepit biasa yang terasa jauh lebih membumi. Ia juga memasukkan ponsel pintarnya dan beberapa lembar uang cash yang ia temukan di dalam dompet. Ia menghitungnya sejenak, jumlahnya tidak terlalu banyak, tapi cukup untuk bertahan hidup selama beberapa minggu ke depan jika ia sangat berhemat.
Di atas meja rias, Cecilia meletakkan kunci mobil sport mewah, deretan kartu kredit black card pemberian Douglas, dan beberapa perhiasan berlian yang menurutnya sama sekali tidak layak ia bawa. Barang-barang itu dibeli dari uang hasil menjadi wanita simpanan, dan Cecilia sama sekali tidak sudi memanfaatkannya.
Setelah merasa semuanya cukup, barulah Cecilia mengganti jubah mandinya dengan sebuah dress panjang berwarna biru pastel yang sangat sopan dan tertutup hingga ke mata kaki. Lengan dress itu panjang, menutupi bahu dan lengannya dengan sempurna. Rambut cokelat panjangnya ia ikat kuda dengan rapi.
Cecilia menatap pantulan dirinya di cermin. Kini, ia tidak lagi terlihat seperti sugar baby murahan, melainkan seperti wanita baik-baik pada umumnya.
"Mulai hari ini, detik ini juga, aku akan menjalani kehidupanku sebagai wanita biasa. Bekerja banting tulang memeras keringat sendiri jauh lebih baik, lebih terhormat, dan lebih mulia daripada harus bekerja berkeringat di atas tubuh Tuan Douglas!" deklamasi Cecilia dengan berapi-api di depan cermin, mengangkat tangannya membentuk kepalan semangat.
"Aku ini anti pelakor! Aku tidak sudi menjadi benalu dalam hubungan orang lain!"
Dengan langkah mantap, Cecilia menyeret kopernya keluar dari kamar, melewati ruang tamu, dan akhirnya keluar dari apartemen mewah itu tanpa menoleh ke belakang lagi.
Langkah kaki Cecilia menggema di lobi apartemen yang sepi. Saat ia melewati meja resepsionis, beberapa petugas keamanan menatapnya dengan pandangan sedikit heran. Mereka terbiasa melihat Nona Cecilia mengenakan pakaian ketat, make-up tebal, dan kacamata hitam besar, bukan dress panjang sederhana dengan rambut diikat seadanya sambil menyeret koper.
"Selamat pagi, Nona Cecilia. Mau ke mana bawa koper besar begini?" sapa salah satu satpam dengan sopan.
Cecilia berhenti sejenak, lalu memamerkan senyumnya yang paling ramah dan cerah, senyum khas seorang mantan kasir minimarket yang terbiasa melayani pelanggan.
"Pagi, Pak! Saya mau pindah, Pak. Mulai hari ini saya tidak tinggal di sini lagi. Terima kasih ya Pak atas kerja kerasnya menjaga keamanan gedung ini selama ini. Mari, Pak, saya pamit dulu!" jawab Cecilia cerewet dan penuh semangat.
Satpam itu hanya bisa melongo kebingungan saat Cecilia melambaikan tangannya dan melangkah keluar dari pintu kaca lobi utama.
Begitu udara luar menerpa wajahnya, Cecilia menghentikan langkahnya. Ia memutar tubuhnya sejenak, melirik ke arah gedung apartemen pencakar langit yang menjulang tinggi di belakangnya. Apartemen itu adalah simbol kemewahan, dosa, sekaligus sangkar emas yang membelenggu pemilik tubuh sebelumnya.
Kini, langkahnya terasa jauh lebih ringan. Ada beban tak kasat mata yang terangkat dari pundaknya saat menyadari bahwa ia akhirnya bisa lepas dari jeratan kelam menjadi seorang selingkuhan.
Di kepalanya, ingatan tentang Douglas dan tunangannya kembali berputar. Cecilia mendecakkan lidahnya, menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
"Ckckck... Tuan Douglas itu benar-benar pria yang tidak tahu diuntung. Kasihan sekali tunangannya itu," gumam Cecilia berbicara sendiri.
"Menurut gosip dan ingatan ini, Adara itu wanita yang luar biasa. Cantik, elegan, dari keluarga terpandang. Ya... walaupun kudengar dia itu manja, sangat angkuh tapi tetap saja dia tunangan sahnya! Harusnya Douglas bersyukur memiliki tunangan selevel Adara yang rela melakukan apa saja untuknya, bukan malah memelihara jalang murahan seperti pemilik tubuhku ini untuk pelampiasan! Dasar pria kulkas tidak tahu diri!"
Sambil terus mengomel tentang moralitas Tuan Douglas, Cecilia menyeret kopernya menuju sebuah halte bus yang terletak tidak jauh dari gedung apartemen. Mencari tempat Berlindung
Cuaca pagi itu cukup terik. Cecilia duduk di bangku halte yang terbuat dari besi, mengipas-ngipas wajahnya dengan tangannya sendiri. Ia membuka ponsel pintarnya, bersyukur benda itu tidak ikut disita oleh Logan karena terdaftar atas nama pribadinya.
Jari-jemarinya dengan lincah mengetikkan kata kunci di mesin pencari internet, 'Kos-kosan murah, aman, fasilitas standar, khusus wanita'.
Matanya menelusuri layar ponsel dengan teliti, menggeser iklan-iklan apartemen mahal yang langsung ia abaikan.
"Ayo dong, masa di kota sebesar ini tidak ada kos-kosan yang sesuai dengan budget?" gerutunya.
Hingga akhirnya, ibu jarinya berhenti pada sebuah listing penyewaan kamar kos bernama 'Kos Lavender'. Kamarnya terlihat bersih, ukurannya pas untuk satu orang, ada kamar mandi dalam, dan yang paling penting, harganya sangat masuk akal dengan sisa uang tunai yang ia bawa.
Tanpa berpikir dua kali, Cecilia menekan nomor yang tertera di sana. Nada sambung berbunyi beberapa kali sebelum sebuah suara keibuan menyapanya dari seberang telepon.
"Halo? Dengan siapa ini?"
"Halo, selamat pagi, Ibu! Ini dengan Kos Lavender, benar?" sapa Cecilia dengan nada suaranya yang riang dan cerewet.
"Iya, benar. Ada yang bisa dibantu?"
"Begini, Bu. Saya Cecilia, saya baru saja lihat iklan kos-kosan Ibu di internet. Saya kebetulan lagi butuh tempat tinggal urgent hari ini juga. Kira-kira kamar yang di lantai dua itu masih kosong tidak ya, Bu?" tanya Cecilia penuh harap, meremas ujung dress-nya.
"Wah, kebetulan sekali Cecilia! Kamar nomor empat baru saja kosong kemarin sore karena penghuninya pulang kampung. Rencananya siang ini mau dibersihkan."
Mata Cecilia langsung berbinar terang. Ia nyaris melompat dari tempat duduknya di halte.
"Ya ampun! Itu namanya kamar itu memang berjodoh dengan saya, Bu! Tolong jangan disewakan ke orang lain ya, Bu. Saya ambil kamar itu! Siang ini juga saya langsung meluncur ke sana. Saya bawa koper dan langsung bayar cash untuk bulan pertama, bagaimana?" cerocos Cecilia tanpa jeda, antusiasmenya meluap-luap.
Terdengar kekehan renyah dari seberang sana. "Boleh. Ibu suka yang gercep begini. Nanti alamat lengkapnya Ibu kirimkan lewat pesan ya. Hati-hati di jalan,"
"Siap! Terima kasih banyak ya, Bu. Sampai ketemu nanti siang!"
Cecilia menutup sambungan telepon dengan perasaan lega yang tak terkira. Sambil tersenyum lebar, ia membaca pesan masuk yang berisi alamat lengkap kos tersebut. Ternyata lokasinya tidak terlalu jauh, hanya berbeda distrik dari kawasan elit tempatnya berada sekarang.
Mengingat ia membawa koper yang cukup besar dan tidak tahu rute angkutan umum di dunia ini, Cecilia memutuskan untuk menyisihkan sedikit uangnya demi memanggil taksi yang kebetulan melintas di depan halte. Ia melambaikan tangannya tinggi-tinggi.
Sebuah taksi berwarna biru berhenti tepat di depannya. Sang sopir yang ramah segera turun dan membantu memasukkan koper besar Cecilia ke dalam bagasi.
"Silakan masuk, Nona. Mau ke mana kita hari ini?" sapa sopir taksi itu dengan ramah saat Cecilia sudah duduk manis di kursi belakang.
"Ke alamat ini ya, Pak," ucap Cecilia sambil menyodorkan layar ponselnya yang menampilkan alamat Kos Lavender.
"Bapak tahu kan daerah situ? Tolong lewat jalan yang tidak terlalu macet ya, Pak. Saya tidak sabar ingin cepat-cepat sampai."
Sopir itu mengangguk paham sambil tersenyum melihat tingkah penumpangnya yang terlihat sangat bersemangat.
"Siap, Nona! Daerah situ mah saya hafal di luar kepala. Tenang saja, jam segini biasanya jalan tembusannya lancar jaya."
Taksi pun mulai melaju membelah padatnya jalan raya kota metropolitan. Cecilia menyandarkan punggungnya di jok mobil. Ia menoleh ke arah jendela, menatap gedung-gedung tinggi yang berlalu dengan cepat.
Kehidupannya benar-benar berputar seratus delapan puluh derajat hanya dalam kurun waktu beberapa jam. Pagi tadi ia terbangun sebagai wanita simpanan dengan skandal menjijikkan, dan siang ini ia dalam perjalanan menuju kehidupan barunya yang sederhana namun bebas.
Di dalam keheningan kabin taksi yang hanya diisi oleh alunan musik radio bervolume rendah, Cecilia memejamkan kedua matanya. Ia menautkan kedua tangannya di atas pangkuan, berdoa dengan sungguh-sungguh di dalam hatinya.
"Tuhan Yang Maha Baik... tolong lancarkanlah hariku hari ini, dan hari-hari ke depannya di dunia yang aneh ini. Aku berjanji akan menjadi manusia yang rajin bekerja, bayar pajak, dan tidak mengeluh saat mencari uang. Tapi kumohon dengan sangat, jauhkanlah hamba dari pria kulkas mengerikan bernama Douglas Michael Essen itu. Jauhkan juga hamba dari asistennya yang sombong, dan tunangannya yang menakutkan itu. Biarkan mereka berdua hidup bahagia di dunia mereka yang rumit, dan biarkan aku hidup tenang di duniaku yang damai ini. Amin."
Cecilia membuka matanya, menghembuskan napas pelan. Perasaannya kini benar-benar mantap. Apapun rintangan yang akan ia hadapi sebagai wanita mandiri ke depannya, ia siap menghadapinya, asalkan predikat pelakor dan wanita simpanan itu sirna selama-lamanya dari riwayat hidupnya.
Bersambung...
ati2 cecil🤭🤭🤭
ati2 doughlas klo cecilia kabur🤣🤣🤣🤣
thor plis kasih doughlas pelajaran dong,jdi gemes nih🤣🤣🤣🤣
mungkin methong kedua kali cil baru bebas