NovelToon NovelToon
DIPAKSA MENIKAHI CEO DUDA

DIPAKSA MENIKAHI CEO DUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / BTS
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: MHKaylid_

Di sebuah hotel mewah, Alyssa dipaksa menunggu "pembelinya".

"Aku sudah bayar mahal! Mana gadisnya?"

bentak pria bertubuh tambun sambil membanting gelas.

Mariska tersenyum licik.

"Tenang saja, Tuan. Dia memang keras kepala, tapi malam ini dia pasti jadi milik Anda."

"Aku tidak mau! Lepaskan aku!" teriak Alyssa sambil berusaha melepaskan diri.

"Diam!" hardik Mariska sembari menampar pipi Alyssa. "Kalau bukan karena aku membesarkanmu, kau sudah mati kelaparan! Sekarang giliranmu membalas budi."

Air mata Alyssa jatuh, tetapi keberaniannya tidak ikut runtuh.

Saat para pria lengah, ia mendorong salah seorang dari mereka hingga terjatuh, lalu berlari sekuat tenaga menyusuri lorong hotel.

"Kejar dia!" teriak pria hidung belang itu murka.

"Jangan sampai gadis itu lolos!"

Suara langkah kaki bergema di sepanjang koridor.

Dengan napas memburu, Alyssa membuka pintu sebuah kamar yang tidak terkunci dan segera menguncinya dari dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MHKaylid_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32

Ia tetap tenang.

Perintah-perintahnya singkat.

Jelas.

Tidak ada kepanikan sedikit pun.

Lucas lalu menekan sebuah panel kecil di dinding.

Beberapa detik kemudian...

Klik.

Lampu darurat tambahan di koridor menyala.

Meski tidak seterang biasanya, kini jalur evakuasi terlihat lebih jelas.

Adrian berkata kagum,

"Sistem cadangan berhasil aktif."

Lucas mengangguk.

"Kita tidak boleh bergantung pada listrik utama."

Ia segera berbicara melalui alat komunikasi.

"Seluruh tim dengarkan."

Suaranya terdengar tegas di radio.

"Prioritas pertama."

"Evakuasi seluruh anggota keluarga menuju ruang perlindungan bawah tanah."

"Pastikan setiap jalur telah diperiksa."

"Tidak ada yang bergerak sendirian."

Beberapa suara langsung menjawab hampir bersamaan.

"Siap."

"Dimengerti."

"Tim Delta bergerak."

Mansion Laurent memang memiliki ruang perlindungan khusus yang dibangun bertahun-tahun sebelumnya.

Ruangan itu berada jauh di bawah bangunan utama, dirancang sebagai tempat perlindungan darurat dengan struktur yang diperkuat, sistem ventilasi mandiri, cadangan listrik, dan jalur komunikasi internal.

Lucas menoleh kepada Alyssa.

"Kita menuju ke sana."

Alyssa mengangguk.

Mereka mulai berjalan.

Koridor dipenuhi suara langkah kaki para pengawal.

Di depan...

Claire sedang dipandu menuju lift khusus.

Leonardo yang memegang tangan neneknya menoleh.

"Daddy!"

Lucas menjawab singkat.

"Masuk ke bunker bersama Nenek."

Leonardo tampak ingin berkata sesuatu, tetapi Claire menggenggam tangannya.

"Ayo, Sayang."

"Iya, Nenek..."

Lucas merasa sedikit lega melihat keduanya telah diamankan.

Kini tinggal Alyssa dan beberapa anggota tim yang masih berada di lantai atas.

Saat mereka hampir mencapai persimpangan koridor...

Lucas tiba-tiba berhenti.

Alyssa yang masih memegang bajunya ikut berhenti.

"Ada apa?"

Lucas mengangkat tangan sebagai isyarat agar semua diam.

Koridor mendadak sunyi.

Hanya terdengar suara hujan dari luar.

Lalu...

Pecah!

Salah satu kaca jendela di ujung lorong retak akibat benturan dari luar.

Beberapa pengawal langsung mengambil posisi perlindungan.

"Tetap waspada!"

Alyssa refleks menoleh ke arah suara itu.

Pada saat yang sama...

Terdengar bunyi tajam dari arah luar.

Lucas langsung mengenali bahaya itu.

Dengan gerakan spontan ia meraih bahu Alyssa dan menariknya turun.

"Tiarap!"

Alyssa bahkan belum sempat bertanya.

Tubuhnya sudah ikut merendah bersama Lucas di balik dinding koridor.

Hampir bersamaan...

Sebuah proyektil menembus kaca jendela dan melintas melewati tempat Alyssa berdiri beberapa saat sebelumnya.

Prang!

Pecahan kaca berhamburan ke lantai.

Beberapa pelayan berteriak kaget.

"Semua berlindung!" seru Adrian.

Lucas tetap berada di depan Alyssa, memastikan ia berada di posisi yang lebih terlindungi.

"Apa kau terluka?" tanyanya cepat.

Alyssa menggeleng dengan napas memburu.

"Tidak..."

Lucas mengembuskan napas singkat.

"Bagus."

Ia menoleh kepada timnya.

"Amankan jalur ini."

"Evakuasi tetap dilanjutkan."

"Jangan berhenti."

"Siap!"

Di tengah suara alarm, hujan, dan kepanikan yang mulai menyebar...

Lucas tetap memimpin dengan kepala dingin.

Sementara Alyssa yang masih berjongkok di belakangnya mulai menyadari satu hal.

Malam itu baru saja dimulai.

Dan ancaman yang datang ke Mansion Laurent ternyata jauh lebih besar daripada yang mereka bayangkan.

Suara alarm darurat masih menggema di setiap sudut Mansion Laurent.

Lampu merah berkedip pelan di sepanjang koridor, memantulkan bayangan para pengawal yang terus bergerak cepat mengamankan setiap jalur.

Melalui alat komunikasi, suara Adrian terdengar jelas.

"Tim Delta melapor."

"Seluruh pelayan wanita sudah berhasil dievakuasi ke ruang perlindungan."

"Status Nyonya Claire dan Tuan Kecil Leonardo aman."

Lucas menjawab singkat.

"Bagus."

"Lakukan pemeriksaan ulang."

"Pastikan pintu bunker terkunci sesuai prosedur."

"Siap."

Lucas mengembuskan napas pelan.

Sedikit beban di dadanya berkurang.

Setidaknya Claire, Leonardo, dan para pelayan telah berada di tempat yang aman.

Kini...

Yang masih berada di luar bunker hanyalah dirinya, Adrian, beberapa anggota tim elite, dan Alyssa.

Lucas menoleh.

Alyssa masih berdiri beberapa langkah di belakangnya.

Wajah gadis itu terlihat pucat, tetapi ia berusaha tetap tenang.

Lucas berkata lembut namun tegas,

"Alyssa."

"Iya..."

"Kita tinggal sedikit lagi."

"Setelah melewati koridor ini, kita akan turun ke lift darurat."

Alyssa mengangguk.

"Baik."

Namun Adrian mengangkat tangan, memberi isyarat agar semua berhenti.

"Tuan."

"Ada pergerakan di sisi taman utara."

Lucas menyipitkan mata.

"Berapa orang?"

"Belum bisa dipastikan."

"Mereka memanfaatkan gelap dan hujan."

Lucas berpikir cepat.

"Mereka memang datang untuk mengacaukan konsentrasi."

Adrian mengangguk.

"Target utama mereka kemungkinan tetap Nona Alyssa."

Lucas menoleh kepada Alyssa.

"Mulai sekarang."

"Jangan lepaskan bajuku."

"Teruslah memegangnya erat"

"Jika ingin lebih kuat kau boleh berpegangan pada bahuku Alyysa."

Alyssa menggenggam bagian belakang baju Lucas lebih erat.

"Iya."

Dia menatap bahu lebar dan lengan berortot itu, tidak pernah dia sangka pria ini sedang melindunginya.

Padahal bisa saja saat dia berusaha kabur dari Ibu tirinya mendapatkan kamar pria yang sama hidung belangnya.

Tapi Tuhan benar-benar berpihak kepada Alyssa, karena yang dia temui adalah Pria yang tulus menolongnya.

Kini mereka kembali bergerak.

Koridor panjang itu terasa jauh lebih sunyi dibanding beberapa menit sebelumnya.

Suara hujan kini bercampur dengan bunyi langkah kaki para pengawal.

Sesekali terdengar suara benturan dari luar gedung.

Semua orang tetap waspada.

Alyssa berusaha mengatur napas.

Namun jantungnya tetap berdegup sangat cepat.

Ia belum pernah berada di situasi seperti ini.

Lucas yang berjalan di depan sesekali menoleh memastikan Alyssa masih mengikutinya.

"Masih kuat?"

Alyssa memaksakan senyum.

"Aku masih bisa."

"Tapi masih ada rasa takut, tapi aku lega karena Leonardo sudah aman"

Lucas mengangguk.

"Kalau merasa lelah, katakan."

Alyssa baru hendak menjawab.

Tiba-tiba—

PRANG!

Suara kaca pecah terdengar dari sisi kanan koridor.

Beberapa pengawal langsung mengambil posisi perlindungan.

"Kontak!"

"Semua merunduk!"

Alyssa refleks memejamkan mata.

Lucas segera mengangkat tangan ke belakang.

"Di belakangku."

Tanpa berpikir panjang, Alyssa bergerak mendekat.

Ia berdiri membelakangi dinding koridor.

Lucas langsung mengambil posisi di depannya, tubuhnya menjadi penghalang antara Alyssa dan arah datangnya ancaman.

Dari luar kembali terdengar suara benturan keras.

Beberapa pecahan kaca jatuh berhamburan ke lantai.

Adrian memberi aba-aba kepada tim.

"Periksa sisi jendela!"

"Dua orang ikut saya!"

"Yang lain tetap lindungi Tuan!"

"Siap!"

Koridor kembali dipenuhi ketegangan.

Alyssa tanpa sadar menggenggam ujung lengan baju Lucas.

"Lucas..."

"Aku di sini."

Suara Lucas tetap tenang.

"Tetaplah disana"

"Itu yang penting."

Alyssa menarik napas perlahan.

Meski situasinya mencekam, kehadiran Lucas membuatnya sedikit lebih tenang.

Lucas memiringkan kepala sedikit, berusaha mendengar kondisi di luar.

"Sepertinya mereka sedang mencoba mengalihkan perhatian."

Adrian menjawab pelan.

"Kemungkinan begitu."

"Kita tetap bergerak sesuai rencana."

Lucas mengangguk.

"Tidak ada yang bergerak sendiri."

"Perhatikan keselamatan masing-masing"

Beberapa detik kemudian keadaan terasa sedikit lebih tenang.

Lucas menoleh ke belakang untuk memastikan kondisi Alyssa.

Pada saat yang hampir bersamaan...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!