NovelToon NovelToon
Setelah Taksi Itu Berlalu

Setelah Taksi Itu Berlalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Perjodohan / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Selie Noris

Diabaikan oleh Arka—suaminya yang dingin—Kirana terbiasa menelan rasa sakit sendirian. Namun, sebuah kecelakaan tragis yang merenggut janinnya mengubah segalanya. Kirana yang manja dan cengeng mati di hari itu, berganti menjadi sosok wanita dingin dan mandiri yang membangun usahanya sendiri dari nol.

Saat Kirana mengembalikan fasilitas rumah tangga dan mengajukan perceraian, Arka baru tersadar dari kesalahannya. Pria yang dulu acuh kini harus meruntuhkan egonya dan mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan kembali maaf serta cinta dari sang istri.




#NikahPaksa
#Penyesalansuami
#WanitaMandiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 : Pesanan Besar Pertama

Malam merayap turun dengan pekat di atas kota, namun di dalam dapur belakang rumah besar keluarga Pratama, lampu *LED* putih terang menyala benderang tanpa meredup sedikit pun. Suhu di dalam ruangan terasa hangat, berpadu dengan aroma harum mentega panggang, vanila mika, dan cokelat pekat yang menguar pekat memenuhi setiap sudut ruangan.

Di atas meja *island* *stainless steel*, Kirana berdiri tegak. Mengenakan kaus hitam lengan panjang dan apron kanvas tebal, rambut pendeknya dicepol rapi, memperlihatkan garis lehernya yang tampak semakin kurus namun memancarkan ketegasan luar biasa.

Di hadapannya terbentang sebuah pencapaian penting yang menjadi titik balik perjuangannya: sebuah daftar pesanan resmi tercetak di atas selembar kertas—pesanan besar pertama untuk bisnis katering kuenya yang baru dirintis, sejumlah seratus kotak *hampers* kue kering eksklusif pesanan salah satu butik busana muslim terkemuka di pusat kota yang akan diambil esok pagi pukul delapan.

Seratus kotak. Angka yang luar biasa besar bagi seorang diri yang baru memulai usahanya dari nol dalam waktu singkat.

Bagi Kirana, angka itu bukan sekadar transaksi bisnis atau sumber pemasukan tambahan. Itu adalah tiket kebebasannya—bukti otentik bahwa ia bisa bernapas, berdiri tegak, dan menciptakan dunianya sendiri di luar sangkar emas keluarga Pratama.

Jemari Kirana bergerak dengan kecepatan tinggi namun tetap terukur. Ia menimbang adonan, mencetak kue nastar seukuran koin dengan presisi yang sama rata, menata setiap kepingannya di atas loyang besar, lalu memasukkannya ke dalam oven secara bergantian. Tidak ada waktu untuk beristirahat. Waktu terus berdetak, sementara jarum jam dinding kini telah menunjuk angka dua dini hari.

Mata Kirana mulai terasa perih, punggungnya menegang kaku, dan kedua pergelangan tangannya berdenyut nyeri akibat menahan beban loyang yang panas secara beruntun selama berjam-jam. Namun, ia tidak membiarkan rasa lelah itu melunturkan konsentrasinya. Setiap kali rasa penat menyerang, ia menarik napas dalam-dalam, meneguhkan tekadnya, dan kembali melanjutkan pekerjaannya seorang diri.

*Ceklek.*

Suara pintu dapur belakang terdorong pelan.

Kirana bahkan tidak menoleh, mengira itu hanya angin malam atau Bi Inah yang mungkin tidak sengaja lewat. Namun, langkah kaki yang mendekat terdengar sangat ragu-ragu dan berat.

Arka berdiri di ambang pintu.

Pria itu mengenakan piyama tidur dengan kancing atas terbuka, rambutnya sedikit acak-acakan, dan lingkaran hitam legam membingkai matanya. Sudah berjam-jam Arka mondar-mandir di kamar lantai atas, tidak mampu memejamkan mata sedikit pun karena tahu persis bahwa di lantai bawah, istrinya sedang bertarung seorang diri menyelesaikan pesanan raksasa.

Melihat pemandangan di dalam dapur—tumpukan kardus *packaging* kue yang belum dilipat, puluhan toples yang harus diisi, dan Kirana yang tampak berkeringat deras sambil mengangkat loyang panas—dadanya dihantam oleh rasa bersalah yang teramat pedih.

Tanpa berkata apa-apa, Arka melangkah mendekat. Ia menggulung lengan bajunya hingga siku, lalu berjalan langsung ke arah meja *island* tempat Kirana sedang bersiap menuang adonan baru ke dalam mangkuk besar.

"Kirana... biarkan aku membantu," suara Arka terdengar serak, parau, dan begitu rapuh. Tanpa menunggu persetujuan, ia mengulurkan tangannya hendak mengambil kantong tepung di sebelah Kirana. "Seratus kotak terlalu berat untuk dikerjakan sendiri dalam semalam. Biarkan aku melipat kardusnya, atau setidaknya membantu menata kue-kue itu ke dalam toples—"

Sebelum ujung jari Arka sempat menyentuh permukaan meja, Kirana menghentikan gerakannya secara mendadak.

Wanita itu menegakkan tubuhnya, memutar kepalanya perlahan, dan menatap Arka dengan sepasang mata setajam es yang memancarkan ketidaksukaan yang amat nyata.

"Jangan sentuh apa pun, Arka," ucap Kirana dengan suara datar, dingin, dan bernada menusuk yang langsung menghentikan gerakan suaminya seketika.

Arka tertegun. Tangannya menggantung kaku di udara. "Kirana... aku hanya ingin membantu. Aku tidak bisa tidur melihatmu kelelahan seperti ini—"

"Tangan Anda terlalu berharga untuk mengotori diri di dapur kotor seperti ini, Mas," potong Kirana tajam, menyematkan panggilan "Mas" dengan intonasi sarkasme paling dingin yang pernah ia ucapkan. "Tangan itu adalah tangan seorang CEO besar yang biasa memegang dokumen kontrak miliaran rupiah, menandatangani kerja sama internasional, dan menghitung keuntungan perusahaan. Jangan turun ke tempat rendahan ini hanya karena rasa bersalah yang palsu."

Skakmat.

Kalimat itu meluncur bagaikan bilah pisau bermata dua yang merobek dada Arka tanpa ampun. Pria itu terhuyung mundur selangkah, napasnya tertahan di tenggorokan.

"Itu bukan rasa bersalah yang palsu, Kirana..." rintih Arka, air mata nyaris tumpah di pelupuk matanya yang memerah. "Aku suamimu. Melihatmu berjuang sendirian hingga begadang sepanjang malam sementara aku hanya bisa menonton adalah siksaan paling kejam bagiku. Biarkan aku berbuat sesuatu... kumohon..."

Kirana mendengkus sinis—sebuah dengkusan pelan yang tidak bernyawa, mencerminkan betapa hampa dan tertutupnya hatinya kini bagi sang suami.

Ia mengambil mangkuk adonan dengan kedua tangannya, bergeser menjauh dari Arka, lalu melanjutkan pekerjaannya seolah-olah pria yang berdiri di hadapannya hanyalah udara kosong yang tak kasat mata.

"Bantuan terbaik yang bisa Anda berikan kepada saya malam ini, Arka," ucap Kirana tanpa menoleh sedikit pun, suaranya mengalir datar tanpa getaran emosi, "adalah dengan berbalik badan, keluar dari ruangan ini, dan membiarkan saya menyelesaikan pekerjaan saya dalam ketenangan mutlak. Kehadiran Anda di sini hanya membuat udara di ruangan ini terasa semakin busuk oleh kemunafikan."

Arka berdiri terpaku di tempatnya. Kata-kata itu begitu kejam, namun ia tahu persis bahwa ia tidak punya hak moral apa pun untuk membela diri. Setiap racun yang dilemparkan Kirana hari ini adalah buah dari benih kepedihan yang ia tanam sendiri di masa lalu.

Dengan dada yang sesak luar biasa, bahu yang merosot jatuh, dan air mata yang akhirnya menetes membasahi pipinya, Arka perlahan menurunkan tangannya yang tadi terulur. Ia menatap punggung istrinya yang berdiri tegak di balik meja dapur—sebuah benteng pertahanan yang begitu kokoh, di mana ia menyadari bahwa dirinya tidak akan pernah bisa masuk kembali ke dalam hidup wanita itu sampai kapan pun.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun lagi, Arka berbalik badan dengan langkah gontai. Ia berjalan keluar dari dapur belakang, meninggalkan Kirana seorang diri di tengah malam yang panjang, terus mengaduk adonan dan memanggang kue demi menjemput kebebasannya sendiri.

1
putmelyana
semangat thor 💪
Selie Noris: Kak, terima kasih ya.... ♥️
total 1 replies
Selie Noris
♥️♥️♥️
Sulicungliieee
ડɑ𝗍υ ƙɑ𝗍ɑ υ𐓣𝗍υƙოυ ɑ𝗋ƙɑ.......ડυ𝗈𝗈ƙ𝗈𝗋𝗋𝗋𝗋𝗋.....
Selie Noris: Kak, makasih sudah mampir....
total 1 replies
Yusria Mumba
seorang wanita kalau sudah sakit hatiny, susah d, obati,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 1 replies
Yusria Mumba
nyesalkan sudah terlambat,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 1 replies
Yusria Mumba
ti galon ajasumi kaya gitu,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!