NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Konglomerat: Cinta Gila yang Tak Bisa Kulepaskan

Obsesi Sang Konglomerat: Cinta Gila yang Tak Bisa Kulepaskan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Transmigrasi ke Dalam Novel / Dark Romance
Popularitas:17.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Kiara terbangun di dunia yang bukan miliknya.

Satu detik sebelumnya, dia gadis biasa yang membaca novel romansa di ponselnya. Detik berikutnya, dia terperangkap di tubuh Kiara Tanuwijaya — aktris muda yang diperlakukan bagai sampah oleh keluarganya sendiri, difitnah oleh industri, dan ditakdirkan berakhir tragis dalam cerita.

Tapi yang paling menakutkan bukan keluarga yang membencinya, bukan pula musuh yang ingin menghancurkannya.

Yang paling menakutkan adalah Rayhan Purnawan.

Dalam novel, dia adalah villain — konglomerat kejam yang menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Tapi saat menatap Kiara, matanya yang dingin meleleh. Suaranya yang tajam melunak. Tangannya yang bisa menghancurkan kerajaan bisnis justru dengan lembut membelai rambutnya.

"Sayang, kamu kembali."

Kembali? Kiara baru saja tiba.

Atau... benarkah?

Di balik kelembutan Rayhan tersembunyi rahasia yang lebih gelap dari mimpi terburuknya: altar tempat dia berdoa 2352 hari, sketsa-sketsa yang tak seharusnya ada, dan sebuah obsesi yang melampaui batas dunia.

"Aku sudah menunggumu. Di dunia ini, di dunia mana pun — aku akan selalu menemukanmu."

Kiara tahu dia harus takut.

Tapi kenapa, saat dia bersembunyi di pelukan pria ini, justru rasa aman yang dia temukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 003

Dia Terus Memperhatikanku

"Lebih lama dari yang kamu kira."

Kalimat itu jatuh begitu pelan, tapi Kiara merasa seolah seluruh ballroom ikut mendengarnya.

Ia menatap Rayhan, berusaha mencari jejak candaan di wajah pria itu. Tidak ada. Mata gelap itu terlalu tenang, terlalu serius, dan justru karena itu membuat bulu kuduknya meremang.

"Pak Rayhan," panggil Adi dari belakang, kali ini sedikit lebih tegas. "Om Gunawan sudah menunggu."

Rayhan masih melihat Kiara beberapa detik lagi sebelum akhirnya menarik kembali tangannya.

"Jangan berdiri terlalu lama," ucapnya.

Kiara belum sempat bertanya bagaimana pria itu tahu ia tidak kuat berdiri lama. Rayhan sudah berbalik, berjalan menuju ruang VIP dengan langkah yang membuat orang-orang otomatis menyingkir.

Begitu punggungnya menjauh, udara di sekitar Kiara seperti kembali bergerak.

Wenny tersenyum lebih dulu. "Wah, Kiara. Kamu kenal Pak Rayhan?"

Nada itu ringan, tapi matanya menempel pada wajah Kiara seperti jarum.

"Tidak," jawab Kiara.

"Tapi beliau kelihatan sangat mengenalmu."

Kiara memasang kembali antingnya dengan jari yang masih dingin. "Mungkin Pak Rayhan memang sopan pada semua orang."

Di sebelah Wenny, Lina tampak tidak percaya. Bagaimana mungkin pewaris Purnawan Group berhenti di depan Kiara, mengembalikan antingnya sendiri, lalu memintanya memanggil nama depan? Untuk keluarga Tanuwijaya yang selama ini lebih suka menyembunyikan Kiara, perhatian sekecil itu sudah cukup membuat wajah mereka berubah.

Ci Lucy segera menarik Kiara ke sisi lain ballroom.

"Kamu yakin tidak kenal dia?" bisiknya cepat.

"Tidak."

"Kiara, orang seperti Rayhan Purnawan tidak mengambil anting artis kecil dari lantai hanya karena sopan."

Kiara menatap gelas-gelas champagne yang disusun di meja bundar. Pantulan lampu di permukaannya bergetar seperti pecahan emas. Dadanya masih berdebar, bukan hanya karena gugup, tapi karena kalimat terakhir Rayhan terus berputar di kepala.

Lebih lama dari yang kamu kira.

Dalam novel, Rayhan Purnawan baru benar-benar terlibat setelah banyak kekacauan terjadi. Ia tidak seharusnya menatap Kiara seperti itu malam ini. Apalagi dengan kelembutan yang hampir membuatnya lupa bahwa pria itu adalah villain.

"Jangan bengong." Ci Lucy menyerahkan segelas air putih, bukan champagne. "Minum ini."

Kiara baru menyentuh gelas ketika seorang produser paruh baya mendekat. Senyumnya ramah, tapi tatapannya berhenti terlalu lama pada wajah Kiara.

"Kiara Tanuwijaya, ya? Saya sering lihat namamu di berita."

Kalimat itu tidak terdengar seperti pujian.

Ci Lucy langsung tersenyum profesional. "Pak, Kiara baru saja menyelesaikan workshop akting untuk proyek period drama. Kalau ada casting yang cocok, kami sangat terbuka."

Produser paruh baya itu tertawa kecil. "Untuk period drama, citra publik penting. Sekarang penonton cepat sekali menilai. Kalau ada isu rebutan kontrak dengan keluarga sendiri, produser jadi pikir-pikir."

Tangan Kiara yang memegang gelas mengencang.

Sebelum ia menjawab, Wenny muncul di belakang produser itu dengan ekspresi cemas yang pas sekali.

"Pak, jangan begitu. Kiara sebenarnya anak baik, cuma memang kadang belum bisa mengontrol emosi."

Satu kalimat.

Lembut di telinga, busuk di dalam.

Beberapa orang di dekat mereka mulai menoleh. Kiara bisa melihat mata-mata yang sedang menilai, menghitung, lalu memutuskan cerita versi mana yang lebih menarik untuk dibawa pulang.

Kiara meletakkan gelasnya di meja.

"Terima kasih sudah membelaku, Wenny," katanya pelan. "Tapi kalau membela berarti memberi kesan aku memang bersalah, sebaiknya tidak usah."

Wenny membeku.

Ci Lucy hampir tersedak.

Produser itu mengangkat alis, seperti baru pertama kali melihat Kiara benar-benar punya suara.

"Saya tidak merebut kontrak siapa pun," lanjut Kiara. "Kalau ada brand yang memilih Wenny, silakan. Kalau ada yang ingin menilai kemampuan saya, saya siap audisi. Saya hanya tidak mau karier saya diputuskan dari gosip meja makan."

Sunyi tipis menyebar.

Tidak lama, seorang staf hotel mendekat dengan langkah sopan.

"Nona Kiara, kami sudah menyiapkan tempat duduk untuk Anda di area depan. Silakan."

Ci Lucy menoleh, kaget. "Area depan?"

Staf itu mengangguk. "Atas instruksi panitia."

Kiara tidak perlu menoleh untuk tahu ada sesuatu yang berubah. Beberapa tamu yang tadi memandangnya dengan sinis mulai menahan ekspresi. Area depan berarti kamera bisa menangkap wajahnya dengan jelas. Berarti panitia tidak sedang memperlakukan dia sebagai tamu tambahan.

Wenny tersenyum kaku. "Mungkin ada salah paham. Kursi keluarga Tanuwijaya ada di sebelah sana."

Staf tetap sopan. "Maaf, Nona Wenny. Yang diminta adalah Nona Kiara."

Kali ini, Kiara benar-benar menoleh.

Di balkon kecil lantai atas yang menghadap ballroom, Rayhan berdiri di balik pagar kaca. Satu tangannya masuk ke saku celana. Di sampingnya, Adi berbicara pelan sambil memegang tablet.

Rayhan tidak sedang melihat panggung.

Ia melihat Kiara.

Seolah sejak tadi, bahkan saat Kiara berdebat dengan Wenny, bahkan saat produser itu menyindir kariernya, tatapan itu tidak pernah pergi.

Dada Kiara kembali terasa sesak.

"Kiara?" Ci Lucy menyentuh sikunya. "Kamu pucat."

"Aku tidak apa-apa."

Tapi ia tahu ia tidak sepenuhnya baik-baik saja.

Selama satu jam berikutnya, Kiara mulai menyadari hal-hal kecil.

Saat seorang pelayan hendak memberinya champagne, pelayan lain datang mengganti gelas itu dengan teh hangat. Saat wartawan mencoba mendekat untuk menanyakan skandal kontrak, petugas keamanan tiba-tiba meminta mereka kembali ke area media. Saat seorang aktris senior dengan sengaja menyebut nama Wenny sebagai "putri kesayangan Tanuwijaya" di depan kamera, pembawa acara langsung mengalihkan topik ke nominasi film malam itu.

Semuanya terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Dan setiap kali Kiara menoleh, ia selalu menemukan Rayhan di tempat yang sama.

Melihatnya.

Tidak tersenyum. Tidak mendekat. Hanya memperhatikan, dengan kesabaran yang membuat Kiara makin gelisah.

Di lantai atas, Adi menutup tablet.

"Bos, berita tentang Nona Kiara pagi ini didorong oleh tiga akun gosip besar. Dua terhubung ke agensi yang bekerja sama dengan Nona Wenny. Satu lagi memakai buzzer bayaran."

Rayhan tidak mengalihkan pandangan dari Kiara yang duduk di area depan. Gadis itu memegang cangkir teh dengan dua tangan, tubuhnya kecil di antara orang-orang yang jauh lebih siap bertarung di dunia ini. Tapi ketika Wenny berbicara padanya, dagu Kiara tetap terangkat.

Berani.

Jauh lebih berani dari bayangan yang ia peluk ribuan malam.

"Hapus perlahan," kata Rayhan.

Adi terdiam sepersekian detik. "Perlahan?"

"Jangan buat dia takut."

Kali ini, Adi benar-benar menatap bosnya.

Selama bertahun-tahun bekerja untuk Rayhan Purnawan, ia pernah melihat pria itu menghancurkan perusahaan hanya dengan tiga panggilan telepon. Pernah melihat orang memohon di depan meja rapat dan Rayhan bahkan tidak mengangkat mata. Kata hati-hati hampir tidak pernah ada jika menyangkut musuh.

Tapi malam ini, karena seorang aktris kecil bernama Kiara Tanuwijaya, Rayhan meminta sesuatu dilakukan perlahan.

"Baik, Bos."

Rayhan menurunkan pandangan ke gelas di meja, lalu kembali melihat Kiara.

"Mulai malam ini, semua yang menyangkut dia, laporkan langsung padaku."

Adi mengangguk. "Termasuk jadwal kerja?"

"Semua."

Di bawah sana, Kiara tiba-tiba menoleh lagi.

Mata mereka bertemu melintasi cahaya ballroom, musik lembut, kamera, dan semua orang yang tidak tahu apa-apa.

Kiara menggenggam cangkir tehnya lebih erat.

Untuk sesaat, ia merasa bukan sedang diperhatikan.

Ia merasa sedang dijaga.

Dan entah kenapa, pikiran itu jauh lebih berbahaya daripada rasa takut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!