NovelToon NovelToon
Suami Salah Tuduh: Fitnah Berujung Pernikahan

Suami Salah Tuduh: Fitnah Berujung Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:641
Nilai: 5
Nama Author: Oceanluv_

Zakia tak pernah membayangkan hidupnya bisa berubah total karena fitnah yang ia dapatkan. Di usia yang masih muda yakni 22 tahun, Zakia terpaksa melewati jalan hidupnya dengan cara bekerja tanpa kenal lelah, semua itu ia lakukan demi membantu keluarganya. Bahkan, keinginannya untuk melanjutkan kuliah terpaksa ia urungkan demi membantu keluarga untuk mencicil motor.

Zakia selalu menatap langit dan berharap bisa mendapatkan setitik kebahagiaan di sela-sela kesengsaraan yang ia Terima. Namun siapa sangka, harapan kecil itu terpaksa runtuh dalam satu hari. Sebuah fitnah yang tidak pernah ia bayangkan menghancurkan nama baiknya, mulut manusia lebih cepat menyebarkan fitnah dari pada fakta, hal itu membuat hidup penuh dengan penenakan.

Akhirnya, demi menyelamatkan kehormatan kedua mempelai keluarga, Zakia dan pria itu terpaksa menjalan pernikahan. Akankah mereka akan menjadi pasangan yang penuh cinta? Atau hanya menjadi pasangan suami istri di atas kertas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oceanluv_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Tubuh Zakia lesu, matanya bengkak dan kantung matanya terlihat jelas, ia beberapa hari ini begadang lalu menangis, kenyataannya sampai detik ini Zakia masih belum bisa mengikhlaskan impian yang sudah dia bangun kini sudah tidak ada artinya.

Zakia menggunakan daster panjang dan cardigan yang menutupi tubuhnya, beberapa hari mengurung diri di dalam kamar juga membuat kepalanya terasa pusing dan tubuhnya terasa lemah.

Alhasil demi mendapatkan pasokan panas matahari, Zakia memilih untuk ke luar sebentar, minimal berjemur di bawah matahari pagi, tubuh Zakia sudah sempat terbiasa mengeluarkan keringat jadi kalau dibawa duduk maka tubuhnya akan terasa lemas dan bahkan pegal-pegal.

"Zakia, nanti kalau udah selesai masuk ya, kita sarapan bareng," kata Sinta. Tak ada jawaban apapun dari Zakia, dia hanya memegangi ujung daun sambil melamun.

"Udah ma gapapa, biar Rega liatin dari sini, entar kalau udah dirasa selesai, Rega bawa kak Zakia ke dalam," kata Rega.

Sinta mendongak, menahan supaya air matanya tak turun, hampir sama dengan keadaan Zakia, Sinta juga belum bisa menerima takdir yang tertimpa ke anak perempuan pertamanya itu.

Rega hanya bisa menghela nafas, keadaan kakaknya yang seperti ini tidak pernah terlihat olehnya, kakaknya orang yang kuat yang bahkan siap menjadi penyangga dan penopang jika mereka dilanda masalah, tapi sekarang? Bahkan untuk menyelesaikan masalah yang tertimpa ke kakaknya mereka belum mampu.

"Eh bu liat itu bukan anaknya yang katanya udah main mesum sama anak pak Jamrud itu, liat dia udah pake daster, ih kayaknya udah jadi deh," gosip salah seorang ibu-ibu yang lewat di depan rumah mereka.

"Mungkin kali ya, kalau enggak, ya ga mungkin anak gadis mukanya pucet gitu, terus make daster sama jaket juga, udah kayak hamil beneran, keknya emang udah hamil beneran deh," jawab ibu-ibu satu lagi.

"Duh mau jadi apa coba kayak gitu, setidaknya kalau tau keluarga kita hidupnya pas-pasan, harusnya bisa jaga diri ga sih, setidaknya kalau ga bisa bantu minimal jangan ngasi malu," sahut ibu-ibu satu lagi.

Zakia mendengar itu dengan jelas, ia menarik bahu cardigannya yang mulai melorot dan menutup tubuhnya dengan kedua sisi cardigan tersebut, seolah-olah ketika wanita itu berbicara maka tubuhnya ditelanjangi oleh mereka.

Telinga Zakia tidak setuli itu dan matanya juga tidak sebuta itu, bagaimana mereka berjalan sambil melihat ke arahnya dan bahkan wajah mereka mengintimidasi tubuhnya.

Zakia menunduk malu, air mata itu kembali ke luar, sakit rasanya direndahkan karena ekonomi dan juga keadaan yang sebenarnya itu adalah sebuah fitnah. Zakia tidak tahan, mentalnya semakin bermasalah, dari pada semakin sakit saat mendengar gunjingan para ibu-ibu itu lebih dia kembali masuk ke dalam kamar.

"Kak Zak," panggil Rega dan ingin memegang tangan kakaknya.

Tapi tatapan yang dilontarkan Zakia kali ini berbeda, dia terlihat ketakutan bahkan itu terhadap adiknya sendiri, Zakia menjauh perlahan dan mulai berlari masuk ke dalam kamarnya lalu mengunci pintu kamar tersebut.

Sinta diam memandangi mereka berdua, sedangkan Rega mengepalkan tangannya kuat, brengsek sekali memang pria yang berniat melecehkan kakaknya, bahkan dia yang adik kandung pun terkena imbas akibat ulah pria itu.

Tanpa banyak berbicara, Rega mengambil kunci motornya dan membawanya pergi dari sana, tapi ketika ke luar dari pintu gerbang, Rega melihat seorang pria yang berdiri di samping sebuah mobil, itu adalah Daren, pria yang menyelematkan kakaknya.

***

"Gue tau lo emosi tapi bukan gini caranya," nasihat Daren. Ia memberikan semangkok bubur ayam yang di pesan pada pagi ini.

Niat Daren tadi ingin jalan-jalan sebentar naik mobil, tapi ternyata jalan-jalan yang ia maksud membawa dirinya ke pekarangan rumah Zakia dan telinganya ikut panas mendengar gosipan ibu-ibu yang lewat di depan rumah mereka.

"Terus, gue harus gimana? Itu kakak gue, kakak kandung gue! Bang, gue rela berantem sama dia tiap hari, dipukul pake handuk sama dia tiap hari asalkan dia tetap jadi kakak gue yang gue kenal, bukan malah jadi gini, bahkan pas gue mau megang tangan dia, dia ketakutan seolah gue ini ikut mau ngelecehin dia!" kata Rega penuh emosi.

Botol sambal yang besar ia pegang dan diarahkan ke mangkok bubur ayam, sambal berwarnna merah pekat ia tuangkan begitu banyak, tak lupa dengan kecap sedikit, itu juga hanya untuk menambah kesan enak dalam makanan tersebut, ini cara dia meluapkan emosi, dari pada dirinya memukul orang lebih baik seperti ini, jadi kalaupun dia nangis ga ada yang tahu, paling mereka mikir karena kepedasan.

"Gilak! Radang usus lo kalau kayak gitu!" tegur Daren. Rega mengedikkan bahu tidak peduli, persetan dengan radang usus, emosinya sekarang yang lebih penting.

Daren diam dan ikut menikmati bubur ayamnya, tak lupa dengan melamun karena kepalanya juga terasa penuh, tapi sepertinya apa yang akan ia katakan ini sepertinya bisa sedikit mengurangi beban di kepalanya, mungkin?

"Gue udah didesak sama pak RT hampir setiap hari untuk segera menikah, tadi malam yang benar-benar paling berat banget, karena bukan cuma pak RT aja tapi bunda sama ayah gue dan kakak gue juga gitu, terlebih lagi warga, " ujarnya tiba-tiba.

Daren menarik nafas sebentar dan terdiam, netranya melihat Rega dan berdoa supaya apa yang ia katakan selanjutnya tidak membuat anak itu semakin emosi.

"Dan sekarang, gue mempertimbangkan buat nikahin kakak lo."

Bugh!

Tangan Rega mengepal kuat dan memukul meja, sejenak rasa pedas dan emosi terkumpul menjadi satu, wajahnya terlihat merah, entah itu karena pedas atau emosi, tapi bisa jadi karena keduanya bersatu.

"Maksud lo? Kakak gue bukan bahan mainan, jangan bawa dia ke masalah yang lebih besar lagi dari yang ini, sekalipun lo orang lebih tua dibanding kakak gue, gue ga takut buat baku hantam, gue ga suka kakak gue dibikin susah dan jadi bahan mainan sama orang lain!"

"Cukup dia jadi bahan mainan atas hidupnya sendiri, jangan lagi di dalam hidup orang lain!" tegasnya. Mata Rega menajam, bahkan cara dia memegang garpu pun terlihat bahwa dia benar-benar emosi.

"Kakak lo bukan bahan percobaan dan gue juga ga mau coba-coba, gue cuma mau bertanggung jawab," ujar Daren pelan.

"Bertanggung jawab buat apa? Kan bukan salah lo!"

Daren mengangguk, ia sangat setuju dengan fakta itu?!

"Memang bukan kesalahan gue, tapi orang di kampung mikir bahwa itu ulah gue, lo ga denger apa kata mereka tadi pagi?"

"Gue denger!" jawab Rega ketus.

"Sampai berapa lama Zakia bisa nahan itu semua? Itu baru tiga belum yang lain, makanya gue pertimbangin niat bukan nikahin kakak lo," jawab Daren sambil menatap Rega.

Wajah Rega sendiri tidak ada senyumnya, dia yang tadinya berapi-api saat bercerita dengan Daren kini mengeluarkan mode tenang tapi bisa menusuk.

"Sekali lagi gue bilang kalau mau main-main jangan, sekali lagi gue tekankan kakak gue bukan bahan mainan dan bukan kelinci percobaan!"

"Gue tau lo yang nyelametin kakak gue dan walaupun akhirnya nanti lo jadi suami dia, kalau terjadi apa-apa sama dia, gue bakal nyamperin lo duluan!" tegas Rega. Tidak menggunakan hentakan, tidak pakai emosi namun apa yang dibilang sudah cukup menjadi peringatan untuk Daren.

Rega meminum minuman dingin dan menatap ke jalan di luar, hanya dirinya yang boleh menyakiti kakaknya yang lain tidak bisa dan tidak punya hak sedikitpun.

Hallo semuanya, terima kasih untuk kalian yang udah setia nungguin kisah Daren dan Zakia sampai sejauh ini, terima kasih sebanyak-banyaknya karena kalian selalu baca setiap aku update.

Akunnya masih kecil dan pembacanya juga ga seberapa, tapi aku berterima kasih banget sama kalian yang ikut hadir nge-support Zakia dan Daren sejauh ini.

Dukung terus Zakia dan Daren ya hehehe.

Eh iya, satu lagi jangan lupa vote, komen sama follow akun ini ya. Terima kasih semuanya🍇🍇🍇

1
Oceanluv_
Hehehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!