Sekar tidak seharusnya hidup lagi.
Di kehidupan sebelumnya, ia dikhianati oleh keluarganya sendiri — didorong dari atap gedung oleh om dan tante-nya. Dan lelaki yang diam-diam mencintainya memilih mengakhiri hidupnya setelah membalas dendamnya.
Tapi takdir memberinya kesempatan kedua.
Sekar terbangun di hari pertama kelas 12 SMA, dengan seluruh memori kehidupan lamanya masih utuh. Kali ini, ia tahu persis siapa yang harus ia lindungi — dan siapa yang harus ia cintai sebelum terlambat.
Kevin Senja Halim. Anak nakal berambut biru dengan anting perak warisan mendiang ibunya. Semua orang menjauhinya. Tapi Sekar tahu satu hal yang tidak diketahui siapa pun: di balik tatapan dinginnya, tersembunyi hati yang sanggup mati demi seseorang.
Masalahnya? Kevin punya rahasia kelam tentang siapa ayahnya — seorang konglomerat yang menginginkan Kevin untuk tujuan yang mengerikan. Dan musuh-musuh dari kehidupan lama Sekar tidak menghilang hanya karena ia terlahir kembali.
Di antara ciuman di bawah hujan, balasan dendam yang memukau, dan cinta yang membakar segalanya — Sekar harus memastikan kali ini, mereka berdua selamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 032
Kamu Takut Dia?
Sekar berdiri kaku di tempat, sementara ponselnya masih terbuka di pesan Kevin.
Kevin datang lebih cepat dari yang ia kira.
Langkahnya memotong halaman sekolah, lurus ke arah gerbang. Pak Arief berada setengah langkah di belakangnya. Wajah guru olahraga itu tegas, dan karena ia datang bersama guru, satpam yang tadi ragu langsung berdiri lebih siaga.
Tommy melihat semuanya.
Senyumnya masih ada, tetapi tubuhnya sudah bergerak mundur ke arah motor.
"Sampai ketemu Minggu, Sepupu," katanya lagi, kali ini lebih keras, seolah ingin memastikan semua orang mendengar bahwa ia masih punya hubungan keluarga.
"Berhenti."
Suara Kevin tidak keras.
Tapi Tommy berhenti.
Sekar melihat tangan Kevin di sisi tubuhnya. Jari-jarinya mengepal sebentar, lalu membuka. Di punggung tangan kiri, bekas gigitan merah muda itu tampak ketika ia mengangkat tangan sedikit, bukan untuk memukul, melainkan untuk menunjuk batas pagar.
"Lo tadi ngomong apa ke dia?"
Tommy tertawa. "Wah, langsung interogasi? Sekolah ini punya aturan pacar boleh ngatur keluarga orang?"
Pak Arief melangkah maju. "Sekolah ini punya aturan orang luar tidak boleh menekan siswa di gerbang."
Tommy menatap Pak Arief, lalu menurunkan nada sedikit. "Saya tidak menekan, Pak. Saya keluarganya."
"Keluarga tidak otomatis boleh mengintimidasi."
Yola, yang sejak tadi berdiri di sisi Sekar, mengangkat ponselnya. "Kalau Bapak mau dengar, saya rekam tadi."
Tommy langsung menoleh.
Untuk pertama kalinya, wajah santainya retak.
"Kamu rekam?"
Yola mengangkat dagu. "Kebetulan kameraku nyala pas kamu bilang rumah Oma gampang dicari."
Beberapa siswa yang belum pulang mulai berhenti di dekat gerbang. Bisik-bisik muncul. Tommy melihat sekeliling. Ia mungkin terbiasa menekan orang di sudut sepi, tetapi gerbang sekolah dengan guru, satpam, dan siswa bukan tempat yang nyaman untuk memainkan wajah korban terlalu lama.
"Anak sekarang sensitif banget," katanya sambil tertawa pendek. "Saya cuma bercanda."
Kevin menatapnya tanpa berkedip. "Ulangi bercandanya."
"Apa?"
"Kalau bercanda, ulangi di depan Pak Arief."
Tommy diam.
Satpam berdiri di sisi gerbang. "Pak, kalau tidak ada kepentingan resmi, silakan tinggalkan area sekolah."
Tommy menaruh helm di setang motor, belum memakainya. "Saya cuma mau jemput sepupu."
"Saya tidak mau dijemput," kata Sekar.
Suaranya lebih pelan dari yang ia inginkan, tetapi jelas.
Semua mata beralih padanya.
Tommy tersenyum lagi, lebih tipis. "Kamu takut sama keluarga sendiri, Sekar?"
Sekar merasa udara di sekitarnya mengecil.
Kevin sedikit bergerak, tetapi Sekar menahan dirinya untuk tidak mundur. Jika ia mundur sekarang, Tommy akan melihatnya. Jika ia diam, Tommy juga akan melihatnya. Tidak ada pilihan yang benar-benar aman.
Maka ia memilih pilihan yang paling bisa ia pegang.
"Aku tidak mau bicara denganmu tanpa Oma tahu," katanya.
Tommy menyipitkan mata. "Sekarang semua harus izin Oma?"
"Iya."
Satu kata itu membuat rahang Tommy mengeras.
Kevin berdiri di samping Sekar, tidak menyentuhnya, tetapi kehadirannya membuat tubuh Sekar punya arah untuk bernapas.
Pak Arief berkata, "Kalau kamu memang keluarga dan punya urusan baik, hubungi wali keluarga lewat cara yang pantas. Jangan menunggu siswa di gerbang sekolah."
"Baik, Pak Guru." Tommy membuat gerakan hormat yang terlalu berlebihan. "Saya pulang. Tapi tolong sampaikan, keluarga bukan musuh."
Kevin menjawab sebelum Sekar sempat. "Orang yang pakai kata keluarga buat nakut-nakutin nenek orang, lebih rendah dari musuh."
Suasana langsung tegang.
Tommy menatap Kevin. Senyum di bibirnya hilang.
"Jaga mulut lo, anak motor."
Kevin maju setengah langkah.
Pak Arief langsung meletakkan tangan di bahunya. Bukan menarik, hanya mengingatkan.
Kevin berhenti.
Ia menatap Tommy, lalu perlahan mengangkat tangan kirinya. Bekas gigitan terlihat jelas. Sekar tidak tahu kenapa ia melakukan itu sampai Kevin berkata, "Gue lagi belajar nggak mukul orang yang pantas dipukul."
Beberapa siswa menahan napas.
Tommy tertawa sekali, tetapi kali ini tawanya terdengar kering. "Hebat. Pacar baru bikin jinak."
"Salah," kata Kevin. "Dia bikin gue mikir panjang. Jadi kalau suatu hari gue berurusan sama lo, gue pastikan bukan cuma tangan gue yang bergerak."
Pak Arief melirik Kevin, tetapi tidak menegur. Mungkin karena kalimat itu masih berada di batas. Ancaman tidak langsung, namun cukup membuat Tommy memahami bahwa Kevin tidak hanya mengandalkan pukulan.
Yola menyimpan video ke cloud kecil yang biasa ia pakai untuk tugas sekolah, lalu menunjukkan layar pada Sekar. "Sudah aman."
Sekar ingin mengucapkan terima kasih, tetapi bibirnya terasa kebas.
Pak Arief mengulurkan tangan pada Yola. "Kirim ke Bu Wati dan ke saya. Jangan kirim ke grup."
"Iya, Pak."
"Pak," Pak Arief menatap Tommy lagi, "sebutkan nama lengkap dan keperluanmu. Satpam akan mencatat."
Tommy mendecak. "Serius amat, Pak. Saya Tommy. Sepupunya Sekar. Keperluan saya keluarga."
"Keperluan keluarga tidak diselesaikan di gerbang sekolah."
"Kalau Sekar susah ditemui, saya cari ke sekolah. Salah?"
"Salah," jawab Pak Arief tanpa ragu. "Ini lingkungan sekolah. Siswa punya hak merasa aman."
Beberapa siswa yang menonton saling pandang. Kalimat itu membuat Tommy kehilangan ruang untuk tersenyum santai. Ia memandang Sekar, lalu mengganti sasaran.
"Kamu sekarang bikin guru ikut campur urusan keluarga?" tanyanya. "Oma Lien tahu cucunya mempermalukan keluarga sendiri?"
Sekar merasa tangan Yola menyentuh sikunya, memberi tahanan kecil.
Kevin berdiri satu langkah di depan Sekar. "Ngomong sama gue."
"Aku bicara sama sepupuku."
"Dia nggak mau bicara sama lo."
Tommy tersenyum miring. "Kamu siapa? Pacar? Baru pacaran sudah merasa bisa ikut warisan keluarga?"
Kata warisan membuat beberapa siswa berbisik. Sekar tahu Tommy sengaja. Ia sedang menabur kata yang bisa dipelintir nanti. Seolah semua ini hanya soal keluarga, soal harta, soal cucu yang terpengaruh pacar luar.
Sekar menarik napas.
Kevin menoleh sedikit, ingin memastikan ia baik-baik saja.
Sekar menatap Tommy.
"Jangan pakai Oma untuk minta uang," katanya.
Gerbang sekolah seolah langsung lebih sunyi.
Wajah Tommy berubah.
Pak Arief mendengar. Satpam mendengar. Yola masih merekam beberapa detik tambahan. Tommy bisa menyebutnya bercanda, bisa menyebutnya urusan keluarga, tetapi kalimat Sekar membuat bentuk ancamannya lebih jelas.
"Hati-hati bicara," kata Tommy pelan.
Sekar ingin mundur. Kakinya hampir melakukannya.
Kevin tidak menyentuhnya, tetapi tangan kirinya bergerak sedikit, cukup dekat hingga bekas gigitan di punggung tangan terlihat di sudut mata Sekar.
Jangan kabur.
Sekar menahan tubuhnya di tempat.
"Aku sudah hati-hati terlalu lama," katanya.
Tommy menatapnya seperti baru menyadari ada bagian dari Sekar yang tidak bisa ia injak semudah bayangannya.
Satpam menunduk mencatat nomor plat motor dari sisi depan. Tommy melihatnya dan wajahnya makin gelap.
"Catat saja," katanya. "Motor ini legal."
"Bagus," jawab satpam datar. "Kalau legal, tidak perlu takut dicatat."
Untuk pertama kalinya, beberapa siswa tertawa kecil. Bukan keras, tapi cukup membuat posisi Tommy makin buruk.
Ponsel Yola bergetar. Ia melirik layar, lalu berbisik pada Sekar, "Bu Wati sudah terima videonya."
Pak Arief juga melihat pesan masuk di ponselnya. Wajahnya tetap tenang, tetapi cara ia menyimpan ponsel ke saku membuat Tommy tahu rekaman itu tidak lagi hanya ada di tangan seorang siswi.
Tommy memakai helm.
Sebelum naik motor, ia menatap Sekar sekali lagi. Tatapannya tidak lagi penuh senyum. Ada perhitungan di sana, juga kesal karena kali ini permainan kecilnya tidak berjalan mulus.
"Minggu," katanya. "Jangan lupa."
Kevin berkata, "Kalau lo datang buat minta uang, bawa juga nyali buat direkam."
Tommy menyalakan motor.
Suara mesin matic kecil itu terdengar kasar di tengah gerbang sekolah. Ia pergi perlahan, seperti masih ingin terlihat santai. Setelah beberapa meter, ia menoleh sekali, lalu hilang di tikungan jalan.
Baru setelah motor itu benar-benar tidak terlihat, suara di sekitar gerbang kembali hidup.
Satpam bertanya pada Pak Arief apakah perlu mencatat nomor plat. Yola langsung menjawab bahwa ia sempat merekam bagian depan motor meski tidak terlalu jelas. Pak Arief menyuruh beberapa siswa yang menonton untuk pulang dan tidak menyebarkan video ke grup kelas.
"Ini bukan tontonan," katanya tegas. "Kalau ada yang menyebarkan, saya panggil orang tuanya."
Bisik-bisik segera mengecil.
Kevin tidak ikut bicara.
Ia melihat Sekar.
Sekar masih berdiri di tempat yang sama.
Tubuhnya tidak lagi kaku seperti saat Tommy berada di depan. Justru setelah Tommy pergi, seluruh tenaga yang ia pakai untuk bertahan seperti putus. Tangan yang menggenggam tali tas mulai bergetar. Mula-mula halus. Lalu semakin jelas.
Yola melihatnya. "Sekar?"
Sekar mencoba menggeleng. "Aku tidak apa-apa."
Kebohongan itu terlalu lemah.
Kevin mendekat.
Kali ini ia tidak langsung bertanya. Ia hanya mengambil tas dari bahu Sekar dan menyerahkannya pada Yola. Lalu ia berdiri di depannya, memotong pandangan Sekar dari jalan tempat Tommy menghilang.
"Lihat gue," katanya pelan.
Sekar mengangkat mata.
Kevin tidak menyuruhnya bernapas seperti kemarin. Mungkin ia tahu Sekar sudah bisa bernapas. Yang tidak bisa ia lakukan adalah menghentikan getaran di tangannya.
Ia menurunkan pandangan.
Tangan Sekar gemetar di sisi tubuhnya.
Kevin mengulurkan tangan kiri. Punggung tangan dengan bekas gigitan menyentuh pelan punggung tangan Sekar, lalu menutupinya. Hangat. Berat. Nyata.
Getaran Sekar tidak langsung berhenti, tetapi ia tidak menarik diri.
Kevin menatap wajahnya lama, lebih tajam daripada saat menghadapi Tommy. Bukan marah. Bukan curiga. Sesuatu yang lebih hati-hati, seolah ia baru menemukan luka yang Sekar sembunyikan terlalu dalam.
"Sekar," katanya.
Suaranya rendah.
"Kamu takut dia?"