NovelToon NovelToon
Dijual Anak, Dinikahi CEO Dingin

Dijual Anak, Dinikahi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Lari Saat Hamil / One Night Stand / Anak Genius / Cinta Lansia / Mandul
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Di usia lima puluh, Maya diceraikan karena dianggap mandul dan dijual oleh anaknya sendiri demi ambisi. Saat hidupnya hancur, ia justru mengetahui dirinya hamil dan dinikahi Raka Wijaya, CEO dingin dari keluarga terpandang. Namun pernikahan itu menyeret Maya ke pusaran warisan, rahasia kelahiran, mantan suami yang kembali, anak yang penuh penyesalan, dan wanita licik yang ingin merebut segalanya. Ketika ingatan, cinta, dan nyawanya dipertaruhkan, Maya harus memilih: tetap menjadi korban, atau merebut kembali hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17

“Aku akan membalasnya,” kata Maya.

Raka langsung menatap.

“Untuk apa?”

“Dia menawarkan bukti.”

“Bima bisa mendapatkan bukti.”

“Tapi Yudha sudah punya.”

“Itu alasan dia menghubungimu.”

Maya menghela napas. “Mas Raka, tidak semua laki-laki yang menghubungi saya berniat merebut saya.”

“Aku tidak mengatakan semua.”

“Tapi wajah Mas mengatakan Yudha termasuk.”

Raka tidak membantah.

Maya duduk di sofa. Perasaannya yang tadi hangat karena penerimaan Bu Laksmi mulai digantikan lelah. Sejak menikah dengan Raka, hidupnya memang lebih aman, tapi juga seperti semua hal kecil bisa berubah menjadi medan perang.

Ia mengetik balasan.

`Terima kasih, Yudha. Tolong kirimkan ke email pengacara Mas Raka saja. Saya tidak ingin bertemu langsung.`

Ia menunjukkan layar kepada Raka sebelum mengirim.

“Begini cukup?”

Raka membaca, lalu mengangguk singkat.

Maya menekan kirim.

Beberapa menit kemudian, Yudha membalas.

`Baik. Aku hormati keputusanmu. Tapi Maya, kalau suatu hari kamu butuh teman yang mengenalmu sebelum semua ini, aku ada.`

Maya belum sempat bereaksi ketika Raka mengambil ponselnya.

“Mas Raka!”

Ia menatap pesan itu, wajahnya tanpa ekspresi.

“Aku tidak memeriksa ponsel istriku,” katanya.

“Mas sedang memegang ponsel saya.”

“Karena kamu menunjukkannya tadi.”

“Saya tidak menunjukkan pesan baru.”

Raka mengembalikan ponsel, tapi wajahnya tetap dingin.

“Jangan balas.”

Maya juga mulai kesal. “Saya memang tidak berniat membalas.”

“Bagus.”

“Tapi cara Mas bicara membuat saya ingin membalas.”

Raka menatapnya tajam.

Maya menatap balik.

Untuk beberapa detik, mereka seperti dua orang keras kepala yang lupa salah satunya sedang hamil dan satunya lagi terlalu terbiasa menang.

Akhirnya Raka berkata, “Kamu menikmati membuatku marah?”

“Tidak. Tapi saya tidak suka diperlakukan seperti anak kecil.”

“Aku memperlakukanmu seperti istriku.”

“Istri bukan tahanan.”

Kata itu keluar lebih keras dari niat Maya.

Raka diam.

Udara berubah.

Maya langsung menyesal, tapi kali ini ia tidak ingin menarik seluruh kalimatnya.

“Saya tahu Mas melindungi saya. Saya tahu Yudha mungkin punya perasaan lama. Tapi kalau setiap keputusan saya harus disetujui Mas, saya akan kembali menjadi orang yang hidupnya diatur orang lain. Bedanya hanya rumahnya lebih mahal.”

Raka menatapnya lama.

Kemarahan di matanya perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih sulit dibaca.

“Kamu mengira aku sama seperti mereka?”

“Tidak.”

“Tapi kamu takut aku menjadi seperti mereka.”

Maya tidak bisa menjawab.

Itu benar.

Raka menunduk sedikit, lalu mengambil jas dari sandaran kursi.

“Aku ada rapat.”

“Sekarang?”

“Ya.”

Ia berjalan menuju pintu.

Maya berdiri. “Mas Raka.”

Raka berhenti, tapi tidak berbalik.

“Saya tidak bermaksud menyamakan.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa pergi?”

“Karena kalau aku tetap di sini, aku akan mengatakan sesuatu yang membuatmu makin takut.”

Pintu tertutup.

Maya berdiri di ruang tamu, menggenggam ponsel.

Pertengkaran pertama mereka yang benar-benar terasa seperti pertengkaran suami istri terjadi hanya karena pesan dari teman lama.

Wati keluar dari dapur dengan wajah hati-hati.

“Bu… mau teh hangat?”

Maya duduk pelan. “Mau.”

Raka tidak pulang sampai malam.

Ia mengirim pesan lewat Bima bahwa rapat diperpanjang dan Maya harus makan malam tepat waktu. Bukan pesan langsung. Bukan panggilan. Hanya instruksi lewat orang lain.

Maya makan sedikit, lalu berhenti.

Wati tidak berani memaksa terlalu keras, tapi akhirnya berkata, “Bu, kalau Pak Raka tahu…”

“Saya kenyang.”

“Bu baru makan empat sendok.”

Maya menatap piringnya. Ia merasa seperti anak remaja yang sedang mogok, lalu malu sendiri.

Ia memaksa makan beberapa suap lagi.

Pukul sembilan, ponselnya berbunyi.

Bukan Raka.

Sari.

“May, kamu baik-baik saja?”

“Iya.”

“Suaramu tidak iya.”

Maya tersenyum lemah. “Aku bertengkar dengan Mas Raka.”

“Soal apa?”

“Yudha.”

Sari di seberang diam sebentar, lalu berkata, “Aku sudah menduga.”

“Apa maksudmu?”

“Yudha dulu memang suka padamu.”

Maya terdiam.

“Tidak.”

“May, satu kelas tahu. Cuma kamu yang tidak tahu karena sibuk belajar dan pulang cepat bantu ibumu.”

Maya duduk lebih tegak.

Sari melanjutkan, “Dia pernah mau menyatakan perasaan sebelum kelulusan, tapi ayahmu… maksudku suamimu waktu itu, Hendra, datang melamarmu lebih dulu. Setelah itu Yudha pergi kuliah ke luar kota.”

Maya tidak tahu harus berkata apa.

Yudha hanyalah kenangan buram dari masa sekolah. Anak laki-laki yang membantunya meminjam buku, yang kadang membagi bekal, yang tidak ikut menertawakan sepatunya yang rusak. Ia tidak pernah memikirkan lebih jauh karena hidupnya dulu terlalu sempit untuk cinta-cintaan.

“Aku tidak tahu,” bisiknya.

“Aku tahu. Karena itu aku bilang hati-hati. Bukan karena Yudha jahat. Justru karena dia mungkin masih menyimpan masa lalu yang tidak pernah selesai.”

Maya memejamkan mata.

Raka benar.

Dan itu membuatnya kesal karena Raka benar dengan cara yang menyebalkan.

Setelah menutup telepon, Maya duduk lama. Akhirnya ia mengambil ponsel dan menulis pesan untuk Raka.

`Mas sudah makan?`

Ia menatap pesan itu. Terlalu biasa. Terlalu seperti istri yang menunggu.

Ia hampir menghapusnya, lalu memaksa diri mengirim.

Centang dua muncul.

Tidak dibalas.

Setengah jam kemudian, ia mengirim lagi.

`Saya sudah makan. Lebih dari empat sendok. Mbak Wati bisa jadi saksi.`

Kali ini balasan datang setelah lima menit.

`Berapa sendok?`

Maya menatap layar, antara ingin tertawa dan ingin menangis.

`Delapan.`

`Minimal dua belas.`

`Mas Raka sedang marah atau sedang menghitung nasi?`

Tidak ada balasan beberapa saat.

Lalu:

`Dua-duanya.`

Maya tertawa kecil.

Ketegangan di dadanya sedikit mencair.

Ia mengetik perlahan.

`Saya minta maaf soal tadi. Saya tidak takut Mas sama seperti mereka. Saya hanya belum terbiasa ada orang yang melarang karena peduli, bukan karena ingin mengambil sesuatu.`

Pesan itu terkirim.

Raka tidak membalas lama.

Maya menunggu sampai matanya berat.

Pukul hampir sebelas, pintu apartemen terbuka.

Maya yang tertidur di sofa terbangun. Raka masuk dengan jas di tangan, wajah lelah.

Mereka saling menatap.

“Kenapa tidur di sini?” tanya Raka.

“Menunggu.”

“Menunggu siapa?”

Maya mengantuk, jadi jawabannya terlalu jujur.

“Suami saya.”

Raka membeku.

Maya baru sadar setelah kata itu keluar. Ia langsung duduk tegak.

“Maksud saya—”

Raka berjalan mendekat, menaruh jas di kursi, lalu berlutut di depan sofa.

“Ulangi.”

Wajah Maya memanas. “Tidak.”

“Maya.”

“Mas Raka jangan memaksa.”

“Aku ingin mendengar.”

Maya menatapnya. Mata Raka tidak lagi marah. Hanya lelah, dalam, dan entah kenapa membuat hati Maya lunak.

“Saya menunggu suami saya,” ucapnya pelan.

Raka menutup mata sesaat.

Ketika membukanya, suaranya rendah.

“Aku juga minta maaf. Aku tidak akan mengaturmu seperti tahanan.”

Maya mengangguk.

“Tapi aku tetap tidak suka Yudha.”

Maya tertawa.

Raka mengangkat tangan, menyentuh pipinya.

Tawa Maya berhenti.

Jarak mereka terlalu dekat.

“Mas Raka…”

“Hmm.”

“Saya belum sikat gigi.”

Raka diam.

Lalu untuk pertama kalinya, ia tertawa benar-benar terdengar.

Maya ikut tertawa, malu dan lega.

Malam itu mereka tidak berciuman. Tidak melewati batas apa pun.

Tapi ketika Raka membantu Maya berdiri dan mengantarnya ke kamar, tangannya tidak lepas dari punggung Maya.

Dan di depan pintu kamar, sebelum pergi ke ruang kerja, ia berkata, “Besok aku libur setengah hari. Kita jalan pagi.”

“Ke mana?”

“Ke taman bawah. Dokter bilang kamu perlu bergerak.”

Maya mengangguk.

Saat pintu tertutup, ponsel Raka bergetar.

Email dari Bima masuk.

Subjeknya: `Rekaman Reuni - Pengirim Video Teridentifikasi`.

Nama pengirim itu bukan Ratna.

Melainkan Vina.

1
naira
lanjutkan thor
jangan lama² UP nya,penasaran dengan cerita nya👍👍👍
naira
cerita nya bagus,tapi kenapa bisa sepi pembaca yaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!