NovelToon NovelToon
Sang Predator Cinta: Menjinakkan Suami yang Membenciku

Sang Predator Cinta: Menjinakkan Suami yang Membenciku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Reinkarnasi / Sistem
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Lim Meiran terbangun dengan ingatan tentang kematiannya sendiri — dan sebuah sistem misterius yang memberinya satu peluang terakhir.

"Nilai Cinta target: -80. Naikkan ke 100, atau mati."

Target-nya? Lo Hafeng. Pewaris konglomerat yang paling membencinya di dunia ini.

Di kehidupan sebelumnya, Meiran adalah "wanita jahat" yang dihancurkan oleh takdir. Kali ini, dengan Sistem Predator di tangannya, dia memilih jalan yang berbeda — bukan mengemis cinta, tapi menaklukkan pria yang seharusnya menjadi musuhnya.

Dimulai dari taruhan bodoh, dilanjutkan dengan satu bulan menjadi "majikan"-nya, Meiran perlahan mengubah kebencian Lo Hafeng menjadi obsesi yang tak bisa dia kendalikan sendiri.

Tapi Kekuatan Takdir tidak tinggal diam. Setiap kali Nilai Cinta naik, takdir membalas — krisis bisnis, kecelakaan, bahkan hilangnya ingatan.

Dan di tengah semua itu, dua pria lain datang memperebutkan hatinya.

Siapa yang akan menang — sang predator, atau takdir yang ingin menghancurkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 001

Aku pernah mati di hari ketika hujan tidak berhenti sejak pagi.

Saat itu, Jakarta terlihat seperti kota yang menolak membersihkan darahku. Lampu-lampu mobil pecah di atas aspal basah. Bau bensin, bau besi, dan bau obat dari ambulans bercampur menjadi satu. Aku terbaring di pinggir jalan dengan gaun yang robek di bagian lutut, sementara ponselku bergetar tanpa henti di dekat telapak tangan.

Nama di layar itu bukan Papa.

Bukan Mama.

Bukan siapa pun yang akan menangis untukku.

Lo Hafeng.

Aku masih ingat bagaimana suaranya terdengar di ujung panggilan yang akhirnya tersambung. Dingin. Jauh. Seperti seluruh hidupku hanya kesalahan kecil yang tidak sempat dia hapus dari daftar.

"Lim Meiran, berhenti membuat masalah."

Kalimat itu menjadi suara terakhir yang kudengar sebelum dunia gelap.

Lalu sekarang, suara yang sama menghantamku sekali lagi.

"Minggir."

Bahu Lim Meiran terbentur keras. Tubuhnya kehilangan keseimbangan, buku catatan di pelukannya terlepas, lembar-lembar sketsa berhamburan di lantai marmer koridor Universitas Prestasi.

Suara langkah mahasiswa berhenti. Beberapa orang menoleh. Ada yang menahan tawa, ada yang langsung mengangkat ponsel, seolah kejatuhan seorang Lim Meiran di tengah gedung fakultas seni adalah tontonan pagi yang lebih menarik daripada kuliah pertama.

Meiran terduduk di lantai.

Telapak tangannya perih karena menahan tubuh. Di hadapannya, sepatu kulit hitam seorang pria berhenti tepat di atas salah satu sketsanya. Ujung sepatu itu menginjak garis wajah yang baru saja ia gambar beberapa jam lalu.

Wajah Lo Hafeng.

Pria itu menunduk sedikit. Rambut hitamnya rapi, kemeja putihnya bersih, dan sorot matanya sedingin kaca gedung di luar koridor. Tinggi, tenang, terlalu tampan untuk seseorang yang sejak awal sudah terlihat seperti masalah.

Meiran menatapnya.

Sesaat, dua kehidupan bertabrakan di dalam kepalanya.

Di kehidupan ini, ia baru mahasiswa tahun pertama. Putri tunggal Lim Group yang terkenal cantik, sombong, dan suka mengejar Lo Hafeng tanpa tahu malu. Ia baru saja datang ke kampus dengan mobil dari rumah besar Lim di Menteng, membawa sketsa yang sebenarnya hanya alasan untuk melewati koridor tempat Hafeng biasa lewat.

Di kehidupan sebelumnya, ia mengejar pria itu sampai keluarganya hancur, sampai Papa jatuh sakit, sampai Mama tidak lagi berani menyebut namanya di depan tamu, sampai Lim Group menjadi bahan tertawaan. Ia percaya semua orang berbohong kecuali cintanya sendiri.

Ternyata cinta bisa menjadi tali.

Dan ia sendiri yang mengikatkannya di leher.

"Kamu tuli?" Hafeng bertanya.

Koridor menjadi lebih sunyi.

Meiran berkedip pelan. Rasa sakit di telapak tangannya nyata. Dinginnya lantai marmer menembus rok seragam kampusnya. Aroma kopi dari gelas plastik yang tumpah di dekat dinding bercampur dengan parfum mahal mahasiswa lain. Semua terlalu jelas untuk disebut mimpi.

Ia hidup lagi.

Hidup, di titik paling bodoh dari seluruh hidupnya.

"Lim Meiran jatuh lagi gara-gara mengejar Hafeng," bisik seseorang.

"Kasihan juga, tapi dia sendiri yang cari malu."

"Lihat, sketsanya Hafeng semua."

Tawa kecil menyebar seperti api di rumput kering.

Hafeng melirik lembaran yang berhamburan. Rahangnya mengeras ketika melihat wajahnya digambar berulang kali di sana. Satu, dua, lima, bahkan satu halaman penuh hanya berisi garis profilnya.

Di kehidupan sebelumnya, Meiran pasti akan panik. Ia akan buru-buru memungut kertas itu sambil menjelaskan bahwa ia tidak sengaja, bahwa ia hanya kebetulan menggambar, bahwa ia tidak bermaksud membuat Hafeng tidak nyaman.

Lalu Hafeng akan pergi tanpa melihatnya lagi.

Dan ia akan menangis di kamar mandi, menyalahkan semua orang kecuali dirinya sendiri.

Kali ini Meiran tidak bergerak.

Ia hanya menunduk, melihat ujung sepatu Hafeng yang masih menginjak sketsanya.

"Kakimu," ucapnya.

Hafeng mengerutkan kening.

"Apa?"

"Angkat."

Satu kata itu jatuh begitu datar sampai beberapa mahasiswa di sekitar mereka saling melirik.

Hafeng menatapnya lebih tajam. "Kamu sedang memerintahku?"

Meiran tersenyum tipis.

Aneh. Bibirnya bisa tersenyum ketika dadanya masih menyimpan rasa sakit dari kematian yang baru ia ingat. Mungkin karena rasa takutnya sudah mati lebih dulu di kehidupan sebelumnya.

"Aku sedang menyelamatkan sepatumu," katanya. "Kalau sketsa itu robek, aku mungkin akan menagih ganti rugi dengan harga yang membuatmu harus menjual motor kesayanganmu."

Bisik-bisik langsung berubah nada.

Hafeng membeku sepersekian detik. Motor itu bukan informasi yang seharusnya diketahui Meiran sedetail itu. Di masa ini, mereka bahkan belum benar-benar saling mengenal.

Tapi di masa depan, Meiran tahu terlalu banyak.

Ia tahu Hafeng tidak suka makanan terlalu manis. Ia tahu pria itu akan memilih arsitektur daripada bisnis keluarga. Ia tahu Hafeng akan memegang pergelangan tangan orang dengan tekanan yang terlalu kuat ketika marah. Ia tahu pria itu akan memandangnya seperti sampah, bahkan ketika ia sudah berdiri di tepi kehancuran.

Dan ia tahu, orang yang paling ia cintai di kehidupan sebelumnya adalah orang yang paling mudah digunakan takdir untuk membunuhnya.

Hafeng akhirnya mengangkat kaki.

Meiran mengambil sketsa itu. Kertasnya kusut, sudutnya kotor, tetapi tidak robek. Ia menepuk-nepuknya sekali, lalu berdiri tanpa menerima tangan siapa pun.

Seorang mahasiswi berambut pendek mendekat setengah langkah. "Meiran, tanganmu berdarah."

Meiran melirik telapak tangannya. Ada goresan kecil di pangkal ibu jari. Tidak dalam, hanya cukup untuk membuat merah menyala di kulit putihnya.

Di kehidupan sebelumnya, luka sekecil itu cukup untuk ia jadikan alasan mendekat ke Hafeng.

Sekarang ia malah merasa lucu.

"Tidak apa-apa," jawab Meiran.

Mahasiswi itu ragu. "Perlu ke klinik?"

"Tidak. Aku belum selemah itu."

Kalimat itu membuat beberapa orang kembali diam.

Hafeng masih berdiri di depannya. "Kamu sengaja menabrakku?"

"Kamu yang berjalan sambil melihat ponsel."

"Koridor ini luas."

"Benar. Tapi egomu lebih luas."

Seseorang tersedak tawa. Ada ponsel yang diturunkan cepat-cepat ketika Hafeng menoleh.

Mata Hafeng semakin dingin. "Lim Meiran, permainan apa lagi ini?"

Permainan.

Kata itu menusuk tepat ke tempat lama yang belum sempat sembuh. Dulu, seluruh hidupnya memang seperti permainan yang aturannya tidak pernah ia baca. Ia pikir ia adalah tokoh utama dari cinta yang menyedihkan. Ia tidak tahu bahwa ia hanya perempuan jahat yang disiapkan untuk kalah.

Detik berikutnya, suara asing meledak di dalam kepalanya.

**【Sistem Predator】Aktivasi berhasil.**

Meiran berhenti bernapas.

Koridor, tawa, langkah, parfum, semua terdorong jauh ke belakang. Di depan matanya, sebuah panel transparan muncul seperti pantulan cahaya di udara.

Target: Lo Hafeng.

Nilai Cinta: -80.

Nilai Kehancuran: 12.

Status Host: Lim Meiran, hidup kembali.

Misi Utama: Naikkan Nilai Cinta target hingga 100.

Kegagalan: Nilai Kehancuran mencapai 100, Host mati permanen.

Jari Meiran mengepal di sisi tubuhnya.

Mati permanen.

Jadi kematian di jalan basah itu bukan akhir. Ia diberi kesempatan, tetapi kesempatan itu dipasang dengan pisau di leher. Bukan cukup dengan menjauh dari Hafeng. Bukan cukup dengan berhenti mencintainya. Ia harus membuat pria yang membencinya ini mencintainya sampai angka penuh.

Lucu.

Takdir benar-benar punya selera humor yang busuk.

"Lim Meiran." Suara Hafeng menariknya kembali.

Meiran mengangkat wajah.

Hafeng menatapnya dengan curiga. "Kenapa diam?"

Panel itu masih melayang di samping kepala Hafeng. Angka -80 menyala merah, seolah mengejeknya. Di bawah angka itu, ada garis kecil yang berdenyut pelan seperti nadi.

Pria ini membencinya.

Belum sampai ke titik paling parah, tetapi cukup dalam untuk membuat sistem menyebutnya target.

Meiran memiringkan kepala. "Aku sedang berpikir."

"Berpikir bagaimana cara menggangguku lagi?"

"Bukan."

Ia melangkah maju.

Gerakan kecil itu membuat Hafeng otomatis mundur setengah langkah. Reaksi tubuhnya jujur, lebih jujur daripada wajah dinginnya. Meiran melihatnya dan menyimpan informasi itu.

Di belakang mereka, seseorang berbisik, "Kok Lim Meiran hari ini beda?"

Soe Wanyu baru muncul di ujung koridor saat bisikan itu terdengar.

Perempuan itu berjalan dengan buku gambar di dada, rambutnya jatuh rapi di bahu, ekspresinya lembut seperti air yang tidak pernah mengakui bisa menenggelamkan orang. Di kehidupan sebelumnya, Wanyu selalu datang di momen yang tepat, menawarkan tisu, menawarkan simpati, lalu meninggalkan Meiran sebagai orang jahat di mata semua orang.

"Ko Hafeng," panggil Wanyu.

Nada suaranya langsung membuat beberapa mahasiswa menoleh. Manis, akrab, penuh hak yang tidak pernah ia sebutkan terang-terangan.

Hafeng menoleh. Ekspresinya sedikit melunak, hanya sedikit, tetapi cukup untuk membuat dada Meiran di kehidupan lama hancur berkali-kali.

Sekarang, Meiran hanya menghitung.

Satu musuh utama.

Satu perempuan yang pandai berpura-pura.

Satu sistem gila.

Dan satu kesempatan untuk tidak mati sebagai bahan cerita orang lain.

Wanyu mendekat, matanya turun ke kertas-kertas di tangan Meiran. "Meiran, kamu jatuh? Kamu tidak apa-apa?"

Pertanyaan itu terdengar peduli. Tetapi mata Wanyu berhenti terlalu lama pada sketsa wajah Hafeng.

Meiran menyelipkan sketsa itu ke mapnya.

"Aku baik-baik saja."

Wanyu tersenyum kecil. "Syukurlah. Aku khawatir kamu salah paham lagi. Ko Hafeng memang kadang terlihat dingin, tapi dia tidak bermaksud menyakitimu."

Kalimat itu halus.

Tapi semua orang mendengarnya sebagai pengumuman: Wanyu mengenal Hafeng lebih baik. Wanyu punya posisi untuk menjelaskan Hafeng. Meiran hanya perempuan luar yang berlebihan.

Di kehidupan sebelumnya, Meiran akan terbakar. Ia akan berkata kasar, lalu Wanyu akan menunduk terluka, Hafeng akan berdiri di depan Wanyu, dan seluruh koridor akan punya bahan gosip baru.

Kali ini Meiran tertawa pelan.

Tidak keras. Tidak manis. Cukup pendek untuk membuat Wanyu berhenti tersenyum.

"Khawatir?" Meiran mengulang. "Kamu bahkan baru datang."

Wanyu terdiam.

Hafeng menatap Meiran. "Jangan menyeret orang lain."

"Aku tidak menyeret." Meiran menatap Hafeng, lalu Wanyu. "Aku hanya membersihkan tempatku berdiri."

Ia berjongkok, memungut sisa kertas satu per satu. Mahasiswi berambut pendek tadi ikut membantu, kali ini tanpa banyak bicara. Dua mahasiswa lain yang semula menonton juga ikut mengambil lembaran yang terbang dekat dinding, mungkin karena aura Meiran terlalu tenang untuk dijadikan bahan ejekan.

Wanyu tampak canggung karena tidak punya peran.

Hafeng juga tidak bergerak.

Ketika semua kertas sudah kembali ke map, Meiran menatap Hafeng sekali lagi. Panel sistem masih menggantung di udara. Nilai Cinta -80. Nilai Kehancuran 12.

"Lo Hafeng," katanya.

Nama itu keluar dari mulutnya dengan rasa yang berbeda. Dulu ia menyebut nama itu seperti doa. Sekarang seperti nama lawan di papan permainan.

Hafeng menyipitkan mata.

"Mulai hari ini," lanjut Meiran, "aku tidak akan mengejarmu dengan cara lama."

Wanyu hampir tidak terlihat bernapas.

Hafeng mencibir. "Bagus. Pertahankan itu."

"Tentu."

Meiran melangkah melewatinya. Bahunya hampir menyentuh lengan Hafeng, tetapi kali ini ia menghindar tepat pada jarak terakhir, membuat pria itu tidak punya alasan untuk marah dan tidak punya kepuasan karena ditakuti.

Namun tepat saat ia berada di sampingnya, panel sistem kembali berkedip.

**【Sistem Predator】Peringatan awal: Target memiliki resistensi kebencian tinggi. Kontak emosional negatif dapat menurunkan Nilai Cinta lebih jauh.**

Meiran berhenti satu detik.

Ia menoleh sedikit. Hafeng masih menatapnya, dingin dan penuh curiga. Wanyu berdiri di belakangnya dengan wajah lembut yang mulai retak di bagian mata.

Di kehidupan sebelumnya, dua orang itu adalah pintu menuju neraka.

Di kehidupan ini, pintu itu masih ada.

Bedanya, Meiran tidak lagi datang sebagai korban yang mengetuk dari luar.

Ia akan menjadi orang yang memegang kuncinya.

"Sisi," bisiknya dalam hati, mencoba nama yang muncul begitu saja bersama sistem itu. "Kalau aku harus membuat dia mencintaiku, setidaknya beri tahu aku satu hal."

**【Sistem Predator】Silakan bertanya, Host.**

"Apa yang terjadi kalau aku gagal menjinakkannya?"

Panel itu berkedip merah.

**【Sistem Predator】Kekuatan Takdir akan mengembalikan alur asli. Keluarga Lim hancur, Lo Hafeng tetap membencimu, dan Host mati untuk kedua kalinya.**

Darah di telapak tangan Meiran belum kering.

Ia menutup jari-jarinya, membiarkan perih itu menggigit kulitnya sampai ia benar-benar yakin sedang hidup.

Lalu ia tersenyum.

Baiklah.

Kalau takdir ingin ia menjadi perempuan jahat, ia akan menjadi lebih jahat dari yang pernah ditulis siapa pun.

Tapi kali ini, Lo Hafeng harus jatuh cinta padanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!