Hubungan Serena dan Heeseung selalu berada di antara lembut dan mencekik.
Setiap kali badai berlalu, Heeseung datang membawa janji dan ketenangan yang membuat Serena ingin percaya lagi. Tapi di balik perhatian dan perlindungan itu, ada rasa memiliki yang terlalu kuat untuk diabaikan.
Serena terjebak antara takut kehilangan dan takut tinggal.
Cinta yang awalnya terasa aman, perlahan berubah menjadi sesuatu yang sulit untuk dilepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
nafsu
Malam itu Revan kembali ke rumahnya, sementara Serena seperti biasa berada di apartemen.
Serena baru saja selesai mandi. Ia mengganti pakaian dengan dress pendek berwarna pink pucat. Bahannya lembut, bertali tipis di bahu, dengan motif hati-hati kecil berwarna merah muda. Bagian bawahnya dihiasi renda, dan ada sedikit serutan di sisi pinggang yang membuat dress itu pas di tubuhnya. Rambutnya ia gulung ke atas. Ia berniat memasak makan malam untuk dirinya sendiri.
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Revan melakukan panggilan video. Serena mengangkatnya seperti biasa.
Dari layar terlihat Revan bersandar di atas ranjang. Wajahnya tampak lelah karena seharian bekerja di kantor. Sementara Serena tampak berseri-seri dan manis seperti biasa.
"lagi apa?" tanya Revan.
Serena menjawab sambil berjalan ke arah dapur, "lagi mau masak kak."
Serena menyandarkan ponselnya di meja dekat wastafel agar tetap berdiri dan panggilan video bisa terus berlangsung.
Tiba-tiba Revan terdiam. Ia tercengang saat Serena selesai meletakkan ponselnya dan berdiri tegak menghadap layar. Dress pink itu jatuh tepat selutut, mengikuti lekuk tubuhnya. Renda di ujung bawahnya bergerak pelan tiap kali Serena melangkah. Tidak lupa, ia selalu menampilkan senyum manisnya.
Revan berkata, "kok lo pakai baju itu?"
Serena yang tadinya sedang memotong sayur langsung menoleh ke kamera.
"hmm, kenapa kak, Ada yang salah, atau aku ganti baju dulu?"
Revan langsung mencegah, suaranya agak serak, "nggak-nggak, hei jangan, maksud gue, tumben banget."
Serena tersenyum sambil melanjutkan pekerjaannya, "iya soalnya kan gak ada kak Revan di sini, jadi aku mau agak bebas dikit."
Revan tersenyum, tapi matanya tidak ikut tersenyum. "tapi Lo vc sama gue, sama aja bohong."
Pipi Serena memerah. "kan kak Revan yang vc."
Serena masih fokus pada pekerjaannya. Ia memotong bawang, merebus air untuk telur, sambil sesekali tertawa bersama Revan.
Tanpa sadar, Revan terus menatapnya tanpa berkedip. Ada sesuatu yang membuat Revan terpesona. Tidak seperti biasanya, posisi kamera diletakkan sedikit lebih rendah dari arah hadapannya. Dari sudut itu, dress pink Serena terlihat jelas. Garis tali tipis di bahunya, renda di ujung dress, sampai lekuk tubuhnya.
Darah Revan berdesir. Rahangnya mengeras dan tangannya mengepal kuat.
Dalam hati ia mengumpat, "bangsat."
Sepanjang memasak, Serena hanya membicarakan hal-hal tidak penting kepada Revan. Revan pun hanya diam sambil mendengarkan. Sesekali Serena tampak menarik tali dress-nya yang melorot dari bahu.
Tiba-tiba Serena bertanya, "kak Revan mau aku masakin apa kalau kemari?"
Tidak ada jawaban.
Serena menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah kamera. Revan masih ada di layar, tapi ia hanya diam mengamati Serena.
"kak?" panggil Serena.
Revan langsung tersadar dan menyahut, "eh iya?"
Serena mendekat ke layar. "kamu melamun ya?"
Revan mengusap wajahnya, napasnya berat. "Enggak, Rena. Ka Revan matiin dulu ya, ada hal penting."
Serena mengangguk sambil tersenyum kecil. "okey kak, baybay."
Panggilan ditutup.
Di sisi lain, Revan melempar ponselnya ke kasur. Ia duduk di tepi ranjang, kedua tangannya menelusup ke rambut.
"Bangsat. Kenapa harus pake baju itu. Kenapa harus senyum kayak gitu pas gue gak ada."
10 menit berlalu. Ia mencoba menyalakan TV. Gagal fokus.
Ia mencoba ke kamar mandi, membasuh muka. Tetap tetap tidak tenang.
Bayangan Serena di dapur dengan dress pink dan tali yang terus melorot itu terus berputar di kepalanya.
Akhirnya ia meraih kunci mobil.
"Gue cuma mau mastiin dia aman di sana"
Itu alasan yang ia ucapkan pada dirinya sendiri.
Perjalanan 20 menit menuju apartemen Serena terasa seperti 1 jam. Tangan Revan beberapa kali mengepal di setir. Rahangnya kembali mengeras.
Di apartemen, Serena kembali melanjutkan aktivitasnya. Sambil menunggu masakan matang, ia menyalakan musik di dapur. Tidak lupa ia mencicipi masakannya.
Tiba-tiba terdengar suara klik dari pintu apartemennya. Akses masuk.
Serena mengerutkan kening dan langsung mematikan kompor. Ia berjalan ke arah depan.
Dan betapa terkejutnya ia saat melihat Revan sudah berdiri di hadapannya.
Dress pink yang tadi ia pakai masih melekat di tubuhnya. Rambutnya masih digulung ke atas. Sementara Revan... masih dengan kemeja kantor yang kusut, dasinya sudah dilepas, keringat tipis di pelipis, dan matanya menatap Serena dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Keheningan menggantung di antara mereka.
Serena masih berdiri diam di tempat. Suaranya pelan, nyaris berbisik.
"Kak... kamu kok tiba-tiba udah ke sini?"
Revan tidak menjawab. Ia hanya menatap Serena dengan mata sayu. Tatapannya turun naik, dari wajah Serena sampai ke dress pink yang masih ia kenakan.
Selangkah.
Dua langkah.
Revan maju perlahan, lalu entah kenapa langkahnya berubah jadi tergesa.
Sebelum Serena sempat mundur, tangan Revan sudah menarik tengkuknya. Kepala Serena terangkat.
Dan dalam sedetik, bibir Revan menyambar bibirnya.
Serena membeku. Matanya membulat.
Kedua tangannya langsung mendorong dada Revan sekuat tenaga. "Lepas..." bisiknya tertahan di antara mereka.
Tapi Revan tidak mendengar. Matanya terpejam. Tangannya yang satu menahan pipi Serena, satunya lagi masih mencengkeram tengkuknya, seakan takut kalau Serena menghilang.
Serena menepuk pundak Revan. Berulang. Panik. Nafasnya tersengal.
Sampai akhirnya...
Revan tersentak. Matanya terbuka.
Seperti baru sadar ia ada di mana.
Ia melepaskan ciuman itu secepat ia memulainya.
Udara dingin masuk ke paru-paru Serena. Nafasnya memburu. Dadanya naik turun. Ia menatap Revan tidak percaya.
Dan Revan...
Ia menatap tangannya sendiri, lalu menatap Serena. Wajahnya pucat. Tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan.
Keheningan. Hanya terdengar suara musik dari dapur dan detak jantung mereka berdua.
Nafas Serena masih belum stabil. Beberapa helai rambut yang tadi rapi digulung kini menjuntai ke bawah, menutupi sebagian wajahnya. Matanya berkaca-kaca.
Revan mengusap wajahnya kasar. Suaranya serak.
"Rena, gue minta maaf. Gue gak bermaksud buat lo jadi takut."
Serena menunduk. Isaknya mulai terdengar pelan.
Revan semakin merasa bersalah. Dadanya sesak melihat Serena seperti itu.
"sini"
Ia menarik lengan Serena pelan, lalu menarik tubuh itu ke dalam pelukannya. Memeluknya erat.
Serena tidak menolak. Tubuhnya kaku. Ia hanya diam, masih mencerna apa yang baru saja terjadi. Otaknya kosong.
"maafin gue" bisik Revan di telinganya. Napas Revan hangat dan tidak beraturan.
Revan mengusap punggung Serena berulang, lalu membenamkan wajahnya di ceruk leher Serena.
"Sorry baby..."
Hening.
Hanya ada suara isakan Serena dan suara musik dari dapur yang masih menyala.