𝐇𝐈𝐀𝐓𝐔𝐒‼️‼️‼️‼️‼️‼️‼️
Di siang hari, Rania adalah sekretaris magang yang paling menyedihkan. Berkacamata bulat, rambut di Cepol asal dan baju yang kedodoran selalu menjadi makanan empuk sang CEO perusahaan yang tampann namun berdarah dingin, perfeksionis dan tak memiliki belas kasihan.
Namun, demi melunasi hutang ibunya yang menumpuk, Rania dengan ikhlas menjalani hidupnya di bawah tekanan bahkan Rania rela melakukan pekerjaan lainnya yang cukup ekstrem di malam hari.
Dengan berubah menjadi sosok gadis bernama "milky" bermata abu-abu yang imut dan kostum gotik yang menggemaskan di sebuah Dark Moon Maid Cafe.
Petaka berawal ketika seorang pelanggan VVIP misterius bermasker hitam datang dan memesan tempat khusus bersamanya.
Begitu pria itu membuka suara, Rania nyaris terkena serangan jantung.
Pria yang meminta pelayanan imut bermantra 'Moe-moe Kyun' tidak lain adalah bosnya sendiri di kantor yang paling dia benci !
Untungnya, Arkan bosnya sama sekali tidak mengenalinya.
bac
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Mata Abu-abu
...Keesokan malamnya. Ruangan VVIP itu mendadak terasa begitu sempit bagi Rania. ...
..."Milky," panggil Arkan dengan suara yang sangat pelan, hampir seperti bisikan....
...Rania berusaha mempertahankan senyumnya, meski otot-otot wajahnya mulai terasa kaku....
... "Ya, Tuan Besar? Ada yang bisa Milky bantu lagi?"...
...Arkan tidak menjawab. ...
...Ia justru mengamati detail wajah gadis di depannya dengan sangat saksama....
... Ia memperhatikan bentuk kelopak mata Milky yang lentur, cara gadis itu berkedip dengan ritme yang lambat, hingga titik kecil berwarna kecokelatan yang samar tepat di dekat pelipisnya....
...Mata Arkan menyipit....
... Detik itu juga, sebuah ingatan muncul di kepalanya. ...
...Ingatan tentang sekretarisnya yang selalu menunduk di kantor. ...
...Arkan ingat betul tahi lalat kecil di pelipis Rania, yang sering ia lihat saat gadis itu sedang merapikan poni di depan mejanya....
..."Kenapa Tuan melihat Milky seperti itu?" tanya Rania, berusaha agar suaranya tetap terdengar stabil....
... "Apa ada sesuatu di wajah Milky?"...
...Arkan tidak menanggapi pertanyaan itu. ...
...Ia justru mengulurkan tangannya, seolah ingin menyentuh pelipis Rania, namun ia menghentikannya tepat beberapa sentimeter dari kulit gadis itu....
..."Tahi lalat ini," gumam Arkan pelan....
... "Aku selalu melihatnya setiap kali aku memarahi sekretarisku. Bentuknya, posisinya... persis sekali dengan milikmu."...
...Rania merasa detak jantungnya seakan berhenti sejenak. ...
...Sial, umpatnya dalam hati....
... Ia benar-benar melupakan detail kecil itu. Ia mengira penggunaan lensa kontak abu-abu dan wig cokelat sudah cukup untuk menyamarkan identitasnya, namun ia lupa bahwa ada tanda lahir yang tidak bisa ia tutupi dengan makeup....
..."Itu hanya kebetulan, Tuan," jawab Rania cepat, berusaha tertawa kecil....
... "Banyak orang punya tahi lalat di tempat yang sama, kan?"...
...Arkan tidak memalingkan pandangannya. ...
...Ia justru menatap mata abu-abu itu lebih dalam....
... "Mungkin. Tapi, bukan cuma tahi lalat itu. Cara kamu berkedip, cara kamu menarik napas saat merasa tertekan... semuanya terasa sangat familiar."...
...Rania merasakan keringat dingin mulai mengalir di tengkuknya....
... Ia harus segera pergi. "Tuan, Milky rasa Tuan terlalu lelah. Mungkin sebaiknya Tuan istirahat. Milky akan mengambilkan teh hangat lagi."...
...Arkan tidak membiarkan Rania bergerak sedikit pun. ...
...Ia menahan lengan kursi di samping tubuh Rania, mengunci posisi gadis itu agar tidak bisa melarikan diri....
... "Jangan mengalihkan pembicaraan, Milky."...
...Rania menatap mata tajam Arkan. Ia berusaha memusatkan seluruh sisa keberaniannya agar tidak terlihat gemetar. Ia harus tetap menjadi Milky, bukan Rania yang penakut....
..."Tuan Besar, apa Tuan sedang mabuk? Milky hanya pelayan di sini. Apa yang Tuan cari sebenarnya?" tanya Rania dengan nada yang sedikit lebih berani, sengaja menggunakan karakter Milky yang sedikit manja untuk memecah kecurigaan....
...Arkan menarik napas panjang, lalu menatap Rania tepat di kedua bola mata abu-abunya....
... "Aku mencari kebenaran. Kamu tahu, semakin lama aku menatap matamu, semakin aku merasa kalau aku sedang melihat orang yang sama di dua tempat yang berbeda."...
..."Itu adalah imajinasi Tuan saja," jawab Rania sambil mencoba tersenyum, meski hatinya sudah sangat takut. ...
..."Mungkin Tuan sudah terlalu sering melihat wajah Rania di kantor, sampai-sampai Tuan melihat wajahnya di mana-mana."...
...Arkan terdiam sejenak. ...
...Kalimat Rania tadi justru terdengar seperti sebuah pengakuan secara tidak langsung. Arkan tersenyum miring, senyum yang membuat Rania merasa benar-benar terpojok....
..."Menarik," ujar Arkan dengan nada rendah....
... "Kamu tahu nama sekretarisku. Padahal, aku tidak pernah menyebutkan nama Rania di depanmu, bukan?"...
...Rania tersentak. ...
...Ia baru saja melakukan kesalahan fatal....
... "Milky... Milky pernah dengar Tuan memanggilnya dari meja depan saat Tuan marah-marah tadi pagi."...
..."Begitu ya?" Arkan tidak melepaskan tatapannya. ...
...Ia tampak sangat menikmati permainan kucing dan tikus ini....
... "Atau jangan-jangan, kamu memang mendengar langsung karena kamu ada di sana?"...
...Rania memaksakan diri untuk tetap tenang. ...
..."Tuan benar-benar sedang melantur. Milky harus kembali ke bar sekarang."...
...Rania mencoba bergerak menjauh, namun Arkan masih menghalangi jalannya. ...
...Arkan menunduk sedikit, hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter saja. ...
...Aroma parfum maskulin Arkan memenuhi indra penciuman Rania....
..."Katakan padaku," bisik Arkan tepat di depan wajah Rania....
... "Siapa kamu sebenarnya, Milky?"...
...Rania menelan ludah. Ia tahu ia harus menjawab dengan tepat, atau semuanya akan terbongkar malam ini juga. ...
...Ia menatap mata Arkan dengan tatapan yang ia buat seolah-olah terluka oleh tuduhan tersebut....
..."Milky hanyalah Milky, Tuan," jawab Rania dengan suara yang sedikit parau....
... "Seorang gadis biasa yang hanya ingin bekerja untuk membantu keluarganya. Kalau Tuan tidak percaya, silakan pecat Milky. Silakan cek CCTV. Silakan lakukan apa pun yang Tuan mau. Tapi tolong, jangan buat Milky merasa seperti seorang kriminal hanya karena Tuan sedang bingung dengan perasaan Tuan sendiri."...
...Arkan tertegun. ...
...Kalimat itu diucapkan dengan begitu tulus dan dramatis, persis seperti gaya bicara seorang pelayan yang merasa harga dirinya direndahkan. ...
...Arkan terdiam cukup lama, menatap Rania yang kini mulai berkaca-kaca....
...Perlahan, Arkan menarik diri....
... Ia melepaskan kuncian lengannya dari samping tubuh Rania....
..."Maaf," ucap Arkan singkat, suaranya kembali ke nada datarnya yang biasa....
... "Mungkin aku memang terlalu lelah."...
...Rania segera memanfaatkan kesempatan itu untuk melangkah mundur....
... "Tidak apa-apa, Tuan. Milky mengerti."...
...Rania langsung memutar tubuh dan melangkah cepat menuju pintu keluar....
... Ia tidak menoleh lagi. Ia tidak peduli dengan apa pun yang terjadi di belakangnya....
... Ia hanya ingin segera keluar dari ruangan itu dan menarik napas lega....
...Begitu pintu VVIP tertutup, Rania menyandarkan punggungnya di dinding luar, memejamkan mata erat-erat....
... Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa bisa pingsan kapan saja. Ia baru saja melewati ujian terberat dalam hidupnya....
...Arkan di dalam ruangan masih berdiri di tempat yang sama. Ia menatap pintu yang baru saja tertutup itu dengan pikiran yang sangat kacau....
... Ia tahu ia tidak salah lihat. Tahi lalat itu, bentuk mata itu, dan cara gadis itu berbicara... semuanya terlalu mirip....
...Namun, pengakuan Milky tadi juga terasa begitu nyata. ...
...Ia merasa bersalah karena telah membuat gadis itu menangis....
...Apakah aku benar-benar salah? pikir Arkan. ...
...Atau apakah dia memang pemain sandiwara yang sangat hebat?...
...Arkan mengambil ponselnya, namun ia mengurungkan niatnya untuk menghubungi asistennya. ...
...Ia tahu, jika ia mencari tahu lebih dalam tentang Rania, ia akan menemukan jawaban yang sebenarnya. ...
...Dan untuk saat ini, ia merasa belum siap untuk mengetahui jawaban tersebut....
...Ia belum siap jika ternyata tebakannya benar, dan ia juga belum siap jika ternyata tebakannya salah....
...Arkan keluar dari ruang VVIP dengan wajah yang tampak lelah. Ia tidak lagi memperhatikan Milky yang sedang sibuk di bar. ...
...Ia berjalan keluar kafe tanpa mengucapkan sepatah kata pun....
...Rania, yang sedang mencuci gelas dari balik bar, melihat punggung Arkan menjauh. ...
...Ia menghela napas panjang, merasa beban yang sangat berat terangkat dari pundaknya....
...Dia belum tahu, pikir Rania....
yang banyak update nya 😉😉😉