NovelToon NovelToon
AKU MENIKAH DENGAN PRIA YANG AKAN MEMENJARAKAN AYAHKU

AKU MENIKAH DENGAN PRIA YANG AKAN MEMENJARAKAN AYAHKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Misteri / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Seranovelle

Hari itu seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Alea. Namun, sebelum ijab kabul dimulai, calon suaminya menghilang bersama uang mahar dan meninggalkan utang miliaran rupiah atas nama keluarga Alea. Di tengah kekacauan itu, muncul seorang pria asing bernama Raka Arvin. Dengan tenang ia menawarkan bantuan. "Aku akan menikahimu. Sebagai gantinya, kau harus menandatangani satu perjanjian." Tak punya pilihan lain, Alea menerima. Selama setahun, mereka hidup sebagai suami istri tanpa cinta. Raka terlihat seperti pria biasa yang bekerja sebagai konsultan hukum. Padahal... Ia adalah penyidik khusus yang sedang menyamar untuk membongkar kasus korupsi dan pencucian uang terbesar dalam satu dekade. Target utamanya? Ayah Alea. Semakin lama tinggal serumah, Raka justru menemukan sisi Alea yang berbeda dari bayangannya. Perempuan itu tidak pernah menikmati harta keluarganya. Ia bahkan diam-diam membantu para korban perusahaan milik ayahnya. Saat cinta mulai tumbuh, sebuah bukti baru muncul. Semua kejahatan yang dituduhkan kepada ayah Alea ternyata hanyalah lapisan pertama. Dalang sebenarnya justru seseorang yang selama ini paling dipercaya Alea. Kini Raka harus memilih. Menjalankan tugasnya sebagai penyidik... atau melindungi wanita yang telah mengubah hidupnya. Dan Alea harus menentukan satu keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya. Menyelamatkan ayahnya... atau membantu suaminya mengungkap kebenaran

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33 - Pengakuan Seorang Pendusta

"Lama tidak bertemu... Anakku."

Kalimat itu menggema di ruang arsip bawah tanah.

Semua membeku.

Raka menatap pria tua di depannya tanpa berkedip.

Jantungnya berdetak begitu keras hingga napasnya terasa sesak.

"Apa yang baru saja kau katakan?"

Pria itu tersenyum tipis.

"Aku bilang..."

"...kau anakku."

Alea spontan melangkah ke depan.

"Jangan dengarkan dia."

Tatapannya tajam mengarah kepada pria tua itu.

"Kalian sengaja mengacak-acak hidup Raka sejak kecil."

"Sekarang kalian mencoba menghancurkan pikirannya."

Pria itu justru tertawa pelan.

"Perempuan yang cerdas."

"Tidak heran Melati menyukaimu."

Mendengar nama ibunya disebut begitu santai membuat emosi Raka memuncak.

"Jangan bawa nama ibuku!"

Suara Raka menggema.

Pria itu tidak sedikit pun terlihat takut.

Ia hanya memutar tongkatnya perlahan.

"Kalau begitu..."

"...panggil saja aku dengan nama yang sebenarnya."

Ia melepas topi dan kacamata tipis yang dikenakannya.

"Aku Ardi Mahendra."

Nama itu membuat Adrian dan Kirana saling berpandangan.

Nama yang selama ini tercantum sebagai ayah kandung Raka.

Nama yang muncul dalam akta kelahiran—meski diberi cap **dokumen palsu**.

Namun Darma pernah mengatakan bahwa Ardi telah meninggal lebih dari dua puluh tahun lalu.

"Lalu siapa yang mati waktu itu?" tanya Raka.

Pria itu menghela napas.

"Adik kembarku."

Semua terdiam.

"Aku mempunyai saudara kembar identik."

"Namanya Ardian."

"Mayat yang ditemukan setelah kebakaran adalah dirinya."

"Sejak saat itu..."

"...dunia mengira aku telah mati."

---

Adrian menggeleng.

"Kalau memang kau ayah Raka..."

"Kenapa membiarkan istri dan anakmu hidup dalam pelarian?"

Pria itu memejamkan mata sejenak.

"Karena aku pengecut."

Jawaban itu membuat semua orang terdiam.

"Aku percaya Leonard bisa kuhentikan."

"Ternyata aku salah."

"Saat rumah terbakar..."

"...aku terlambat."

"Terlalu terlambat."

Suara pria itu mulai bergetar.

"Aku melihat rumahku terbakar."

"Aku mendengar Melati berteriak."

"Aku melihat Raka dibawa keluar oleh Darma."

"Dan aku..."

"...tidak mampu menyelamatkan keluargaku."

Air mata menetes di pipinya.

Namun Raka tidak tersentuh.

"Dua puluh tahun."

"Dua puluh tahun kau menghilang."

"Kau tidak pernah mencariku."

"Aku mencari."

Pria itu mengeluarkan sebuah map tua dari balik jasnya.

"Setiap tahun."

"Setiap bulan."

"Tapi setiap kali aku mendekat..."

"...orang-orang Leonard lebih dulu menemukanku."

---

Kirana memperhatikan pria itu tanpa berkedip.

"Tunggu."

"Kalau benar kau ayah kami..."

"Kenapa Ibu tidak pernah mengatakan kau masih hidup?"

Pria itu tersenyum pahit.

"Karena Melati juga percaya aku sudah mati."

Kalimat itu membuat Alea mengernyit.

"Jadi selama ini..."

"Kalian sama-sama hidup..."

"...dan sama-sama mengira pasangannya telah meninggal?"

Pria itu mengangguk pelan.

"Itulah permainan Leonard."

"Ia memisahkan kami."

"Menghapus identitas."

"Mengubah dokumen."

"Dan membuat kami saling kehilangan."

---

Raka masih berdiri tanpa ekspresi.

Terlalu banyak kebohongan yang baru terungkap.

Ia sudah lelah mempercayai siapa pun.

"Aku tidak peduli siapa dirimu."

"Aku hanya ingin satu hal."

Pria itu mengangkat kepala.

"Apa?"

"Siapa Direktur Bayangan?"

Ruangan kembali sunyi.

Untuk pertama kalinya sejak kemunculannya, senyum pria tua itu menghilang.

Tatapannya berubah tajam.

"Kalau aku menyebut namanya..."

"...tidak ada seorang pun dari kita yang akan keluar hidup-hidup."

Belum sempat ada yang menjawab...

**Bip... Bip... Bip...**

Suara kecil terdengar dari bawah rak arsip.

Kirana langsung menoleh.

Wajahnya memucat.

"Itu..."

"Bukan alarm."

Adrian mengikuti arah suaranya.

Di bawah lemari besi terdapat sebuah benda kecil dengan lampu merah berkedip.

Bom.

"Semua mundur!" teriak Adrian.

Namun pria tua itu justru melangkah cepat ke arah bom.

"Tidak!"

teriak Raka.

Pria itu berbalik untuk terakhir kalinya.

Tatapannya lembut.

Senyum tipis menghiasi wajahnya.

"Kalau aku benar ayahmu..."

"...izinkan aku sekali saja menjadi seorang ayah."

Ia mengangkat bom itu dengan kedua tangan.

Lalu berlari menuju lorong samping yang mengarah ke ruang kosong.

"Jangan ikut!"

**Brak!**

Pintu besi ditutup dari dalam.

Raka langsung menghantam pintu itu.

"Ayah!"

Untuk pertama kalinya...

Kata itu keluar begitu saja dari bibirnya.

Namun sudah terlambat.

Dari balik pintu hanya terdengar satu kalimat.

> "Jangan ulangi kesalahan yang pernah kulakukan... Lindungi keluargamu."

Sedetik kemudian...

**BOOOOOOM!**

Ledakan dahsyat mengguncang seluruh ruang bawah tanah.

Langit-langit runtuh.

Debu dan batu berjatuhan dari segala arah.

Tubuh Raka terpental sambil terus menatap pintu besi yang kini tertutup reruntuhan.

Apakah pria itu benar-benar ayah kandungnya...

Atau sekali lagi mereka baru saja menjadi korban dari kebohongan yang lebih besar?

**Bersambung...**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!