Sama seperti bosnya, Adnan juga punya hobi mengambil foto dengan kameranya. Namun hobinya berubah jadi obsesi ketika dia ketagihan mendapatkan job 'fotografer p|us-p|us'. Semua itu berawal saat Adnan menemukan kamera tua milik mendiang ayahnya di lemari.
Kamera tua itu mampu membuat Adnan melihat dalam mode tembus pandang, lalu mode menampilkan yang tak kasat mata, bahkan sampai mode ronsen yang digunakan dalam kedokteran. Gilanya lagi, kamera itu mampu bisa membuat wanita klepek-klepek pada Adnan. Bagaimana bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4 - Klien Pertama
"Hah? Nggak tahan? Maksudnya nggak tahan apa, Mbak?" Adnan kaget wanita itu mendesaknya begitu.
"Pokoknya kau bisa ketemu sekarang atau tidak?"
"Ya udah, Mbak! Kita ketemu sekarang. Kirim alamatnya ya!"
"Oke!"
Tak lama setelah telepon berakhir, wanita yang mengaku bernama Fira itu mengirimkan sebuah alamat apartemen. Adnan tak punya pilihan selain pergi. Dia segera pergi menuju alamat yang disebutkan Fira.
Setelah menempuh perjalanan selama sepuluh menit, Adnan tiba di tempat tujuan. Ia lalu mendatangi unit apartemen sesuai dengan yang disebut Fira dipesan.
Adnan menekan bel pintu. Tak lama pintu dibuka oleh seorang wanita dewasa cantik.
"Dengan Mbak Fira ya? Ini saya Adnan, dari jasa fotografer itu," kata Adnan.
"Benar, aku Fira. Astaga... Ternyata kamu masih muda ya," tanggap Fira.
"I-iya..." Adnan tak tahu harus merespon bagaimana.
"Ya sudah! Ayo masuk! Kita bicara di dalam!" ajak Fira sembari membuka pintunya lebih lebar.
Adnan mengangguk dan melangkah masuk ke unit apartemen Fira. Dia disuruh duduk ke sofa. Sementara Fira mengambil sesuatu ke kamar.
Tak lama, Fira kembali dengan membawa beberapa lembar dokumen. Ia duduk ke sebelah Adnan.
Jantung Adnan berdegup kencang sekali. Dia menduga segala kemungkinan. Takut Fira akan memintanya melakukan hal aneh.
"Aku ingin kamu mengikuti lelaki ini," kata Fira sembari memperlihat sebuah foto seorang lelaki paruh baya. "Namanya Gani. Tolong ambil fotonya sebanyak mungkin. Kalau bisa foto dia pas telanjang dada," jelasnya sambil tak berhenti tersenyum.
Adnan menatap Fira dengan dahi berkerut. Permintaan itu jelas terasa aneh. Tapi hal aneh yang masih bisa dia lakukan dan toleransi.
"Kalau boleh tahu, ini siapanya Mbak ya?" tanya Adnan hati-hati. Mengingat di apartemen itu dia melihat foto pernikahan Fira di dinding, dan lelaki yang menikah dengan Fira jelas bukan Gani.
"Dia cinta pertamaku. Sudah lama aku ingin tahu kabarnya. Meski sudah menikah, aku belum bisa lupain dia. Aku hanya ingin tahu kabarnya. Itu saja cukup," terang Fira sambil memasang tatapan kosong.
Sebagai jasa fotografer yang ingin bekerja profesional, Adnan tidak mau memberi banyak pertanyaan. Apalagi jika terkait ranah pribadi.
"Gimana? Kamu bisa kan?" tanya Fira.
"Bisa, Mbak! Tapi saya perlu tahu lebih banyak informasi mengenai lelaki ini. Misalnya alamat rumah atau tempat kerjanya," sahut Adnan.
"Tentu saja aku tahu. Aku akan kirimkan alamatnya di pesan ya." Fira langsung mengirim alamat Gani melalui pesan.
"Ya sudah kalau gitu. Itu saja kan, Mbak? Kalau gitu saya pamit," imbuh Adnan.
"Loh, nggak mau minum dulu, Dek?" tawar Fira?
"Nggak usah, Mbak. Saya kebetulan ada kerjaan lain."
"Ya sudah kalau gitu. Oh iya, kalau boleh tahu aku harus nunggu berapa lama ya untuk nerima semua hasilnya?"
"Paling cepat seminggu ya, Mbak! Nanti saya kabari lagi."
Adnan pun pamit dari apartemen Fira. Namun saat dalam perjalanan kembali ke kampus, dia terjebak oleh macet. Mobilnya nyaris tidak bisa jalan.
"Astaga... Kayaknya macetnya parah banget! Sialan!" keluh Adnan. Karena bosan dia memutuskan memainkan kameranya. Adnan merekam video dalam keadaan mode normal.
"Anggap aja pemanasan," gumam Adnan.
Waktu terus berlalu. Sudah dua jam lebih Adnan terjebak macet. Sudah dipastikan dia akan tiba di kampus saat tengah hari. Adnan berharap Liza masih di kampus.
Di sisi lain, Liza baru menyelesaikan kuliahnya. Iwan teman satu jurusannya mengajak pergi ke klub malam sore nanti.
"Ih! Aku nggak mau ah! Nanti dimarahin sama mamaku," ujar Rini.
"Dih! Kamu nggak seru banget sih, Rin! Kan itu kalau mamamu tahu. Kalau nggak, ya nggak dimarahin!" sahut Liza.
"Bener kata Liza! Lagian nggak sering juga kita ke sana," sahut Salma yang sependapat dengan Liza.
"Kalian aja sana pergi sama Iwan. Aku nggak ya!" Rini tetap menolak.
"Ya udah deh kalau kau nggak mau. Awas nyesel! Di sana banyak cowok ganteng loh!" timpal Liza.
"Hah? Yang bener?" Seketika pertahanan Rini goyah.
"Bener! Bener kan, Wan?" ujar Salma mengiyakan.
"Dijamin seratus persen! Liat artis aja aku sering di sana!" ungkap Iwan.
"Hah? Artis siapa? Jefri Nichol atau Reza Rahardian itu ya?" tebak Rini yang jadi bersemangat.
"Nggak itu aja, Rin! Banyak malah!" Iwan terus memanas-manasi.
"Ya udah kalau gitu. Aku ikut..." kata Rini yang akhirnya mau.
Liza dan Salma langsung berseru senang. Iwan pun mengajak mereka pergi saat itu juga.
"Loh, kita pergi sekarang? Katanya sore?" tukas Rini.
"Klubnya terkenal. Jadi kalau mau masuk sore, mending perginya sekarang karena antriannya banyak! Lagian jam segini juga agak macet," balas Iwan.
Di waktu yang sama Adnan baru saja kembali ke kampus setelah melewati kemacetan panjang. Namun untungnya dia sempat melihat Liza masuk ke mobil Iwan. Liza tampak masuk ke mobil bersama dua teman cewek dan dua teman cowoknya.
"Loh, itu Liza mau kemana?" imbuh Adnan sembari keluar dari mobil. Ia berlari menghampiri mobil tempat Liza masuk.
Saat itulah Liza melihat kehadiran Adnan. "Astaga! Adnan! Yang cepet, Wan! Dia ngejar!" desaknya pada Iwan.
Iwan otomatis melajukan mobilnya.
"LIZ!" panggil Adnan seraya berdiri mengejar mobil. Karena tak yakin bisa mengejar dengan berlari, dia pun masuk ke dalam mobilnya. Adnan kejar mobil itu dengan mobil juga.