Adera mencintai Ezra selama dua tahun, tapi cintanya diremehkan dan ditolak mentah-mentah. Saat hatinya mati dan ia memilih fokus pada diri sendiri, Ezra justru menyesal dan panik.
Namun terlambat, karena kini hadir Damar pria yang jauh lebih sempurna yang ternyata adalah calon suaminya.
Akankah Damar mampu menghidupkan kembali rasa cinta Adera yang bertekad untuk tidak jatuh cinta lagi?
Simak kisah cinta mereka bertiga, di novel ini akan disuguhi komedi yang lucu agar tidak terlalu mengantuk ketika membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Para perawat mulai sibuk mempersiapkan pasien untuk dipindahkan ke ruang rawat inap. Ranjang pasien didorong keluar dengan hati-hati, diikuti oleh dokter-dokter tim yang tampak lega.
Mereka pun berjalan mengiringi ranjang pasien itu meninggalkan area ruang operasi. Sebelum pergi, Nindy sempat menoleh ke arah sahabatnya.
"Dera, ikut yuk!" panggil Nindy pelan.
Tapi Adera hanya menggeleng pelan sambil tersenyum tipis.
"Nanti aja ya Nin... kalian duluan aja. Gue mau nunggu sebentar lagi di sini," jawab Adera lembut.
Nindy mengerti maksud sahabatnya. Dia tersenyum penuh makna lalu mengangguk, membiarkan Adera menunggu kekasih hatinya sendirian.
Akhirnya Nindy dan mamanya pun berjalan menyusul rombongan itu, meninggalkan area ruang operasi untuk menemani anggota keluarga mereka yang baru saja selamat.
Namun... Adera tidak bergerak.
Meskipun sahabatnya dan keluarganya sudah pergi, gadis itu masih tetap setia berdiri di tempat yang sama. Matanya tidak berkedip sedikitpun memandangi pintu ruang operasi yang masih tertutup rapat.
Dia tidak peduli kalau sudah larut malam, dia tidak peduli kalau badannya lelah. Yang dia pedulikan hanyalah satu orang yaitu Damar.
Dia ingin memastikan pria itu baik-baik saja. Dia ingin melihat Damar keluar dengan selamat dan sehat.
Menit demi menit berlalu...
Hingga akhirnya...
Suuuuuuuuuut...
Pintu otomatis itu kembali terbuka.
Dan di sanalah dia... sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul.
Damar melangkah keluar dengan langkah yang terlihat sangat berat dan lelah. Wajahnya pucat, keringat masih terlihat di pelipisnya, dan matanya tampak sayu sekali. Tubuhnya benar-benar habis tenaga setelah bekerja ekstra keras melebihi batas kemampuannya demi membantu Adera.
Namun, langkah kakinya tiba-tiba terhenti mati saat melihat sosok yang masih berdiri tegak menunggunya di sana sendirian.
Mata Damar membelalak lebar. Dia benar-benar tidak menyangka...
"A-Adera?!" serunya terbata-bata, suaranya terdengar parau dan lemah. "Kamu... kamu masih di sini? Kamu nungguin aku?"
Damar tertegun hebat. Dia pikir gadis itu sudah ikut Nindy pergi atau sudah pulang. Dia tidak pernah menyangka Adera akan menunggunya sampai akhir, bahkan setelah semua orang pergi. Hati Damar seketika terasa hangat membara, melupakan segala rasa lelah yang menyiksa tubuhnya.
Tanpa menunggu lama, Adera langsung berlari kecil menghampiri pria yang baru saja keluar itu. Wajahnya yang tadi penuh kekhawatiran kini berubah berseri-seri penuh rasa syukur dan bahagia.
"Damar!" panggilnya antusias.
Sesampainya di depan pria itu, Adera menatapnya lekat-lekat dengan senyum termanisnya.
"Terima kasih banyak, kamu benar-benar pahlawan. Pasti kamu capek ya hari ini ..." ucapnya tulus, matanya berbinar indah. "Makasih udah mau bantu, makasih udah operasi Papa Nindy. Kamu emang penyelamat kami. Aku bener-bener berhutang budi sama kamu."
Damar yang mendengar ucapan terima kasih itu, rasa lelahnya seakan berkurang setengah. Dia tersenyum tipis menatap gadis itu.
"Sama-sama sayang... udah jangan sungkan gitu dong," jawabnya pelan dengan suara yang terdengar sedikit serak dan lemas.
"Ehm... karena kamu udah baik banget sama aku," potong Adera cepat, lalu menatap Damar dengan tatapan memohon manja. "Gimana kalau aku traktir kamu makan? Sebagai tanda terima kasih dari aku"
Mata Damar langsung berbinar cerah mendengar ajakan itu.
Traktir? Makan bareng Adera?
Itu adalah tawaran terbaik yang dia dengar sepanjang hari!
Meskipun jujur saja... saat ini kondisi tubuhnya sudah benar-benar di ambang batas. Kakinya terasa berat, matanya sudah sangat mengantuk, dan energinya terkuras habis setelah operasi berat selama berjam-jam. Rasanya dia ingin langsung terbaring dan tidur panjang.
Tapi... demi bisa menghabiskan waktu berdua dengan Adera, demi bisa mengejar sang pujaan hati...
Damar langsung mengangguk cepat dengan semangat yang dipaksakan!
"Boleh, tapi biarkan aku saja yang membayar!" seru Damar cepat, seolah takut gadis itu berubah pikiran.
"Mana ada seperti itu" kata Adera.
Damar sama sekali tidak peduli dengan rasa capeknya. Yang penting bisa jalan bareng, ngobrol bareng, dan dilihatin sama Adera... capek berapa pun pasti sembuh seketika! Itu namanya cinta!
Suasana di koridor rumah sakit yang tadinya terasa dingin dan mencekam, kini berubah menjadi hangat dan penuh warna.
Adera dan Damar berjalan berdampingan, langkah mereka selaras seolah sudah menjadi satu kesatuan. Pria tampan itu berjalan dengan postur tegap meski di dalam hatinya tersimpan rasa lelah yang luar biasa, namun kehadiran gadis di sampingnya seolah menjadi sumber energi baru yang membuatnya kuat.
Mereka benar-benar terlihat bak sepasang kekasih atau pasangan suami istri yang sangat serasi. Adera yang terlihat cantik dan anggun, berjalan di samping Damar yang memancarkan aura wibawa dan ketampanan yang luar biasa.
Pemandangan itu begitu indah hingga membuat beberapa orang yang lewat pun ikut tersenyum melihat kedekatan mereka yang begitu manis dan natural.
Tanpa terasa, langkah kaki mereka pun sampai di area kantin rumah sakit .
"Pasti kamu tidak pernah makan disini kan? pilih aja apa yang kamu mau, yang banyak ya biar tenaga kamu balik lagi," kata Adera ramah sambil menepuk pelan lengan pria itu.
Damar tersenyum lembut, "Iya sayang, makasih ya."
Namun... suasana hangat itu seketika berubah menjadi canggung dan penuh sorotan mata saat mereka baru saja melangkah masuk.
Di salah satu meja panjang yang biasanya dijadikan tempat berkumpul para dokter dan staf medis saat istirahat, terlihat sekelompok orang sedang asyik mengobrol dan mengisi perut mereka.
Dan siapa yang ada di sana?
Denial!
Ya, kakak Adera sendiri! Bersama dengan beberapa dokter lain, perawat, dan... yang paling mencolok, ada Ezra di sana!
Mereka semua sedang asyik berbincang, hingga tiba-tiba perhatian mereka tertuju pada Adera dan Damar.
Mata Denial langsung membelalak lebar melihat adiknya berjalan masuk dengan mesra bersama Damar. Dia langsung menyengir lebar, matanya berkilat penuh arti.
"Adera, emm bilangnya tidak siap ternyata dibelakang kakak malah semakin maju!" seru Denial keras dengan nada menggoda yang sangat jelas, membuat seluruh orang di meja itu langsung menoleh serentak.
Mendengar suara Denial, seluruh dokter dan staf yang ada di sana pun ikut heboh. Mereka tercengang melihat kedekatan yang begitu personal antara gadis biasa itu dengan sosok tinggi besar yang sangat disegani dan sulit didekati seperti Damar.
Adera pun nampak kesal karena Denial terlalu berisik.
"Sudah jangan didengar, bukankah kita mau makan disini. Aku sudah pesan" kata damar.
Namun, di antara kerumunan itu, ada satu orang yang wajahnya berubah datar bahkan sedikit cemburu melihat pemandangan itu.
Ezra.
Matanya terbelalak tak percaya. Dia melihat jelas bagaimana Damar menatap Adera dengan tatapan penuh kasih sayang, bagaimana Damar membiarkan Adera berjalan begitu dekat dengannya, dan bagaimana mereka terlihat begitu bahagia dan serasi.
Ezra terdiam kaku. Dadanya terasa sesak. Dia baru sadar... bahwa apa yang selama ini dia anggap mudah, apa yang mungkin bisa dia dapatkan dulu, kini sudah melayang jauh dan berada di tangan orang yang levelnya jauh di atas dirinya.