NovelToon NovelToon
Cinta Ini Salah Tempat. (Kau Kaka Tiriku)

Cinta Ini Salah Tempat. (Kau Kaka Tiriku)

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Fantasi
Popularitas:401
Nilai: 5
Nama Author: Denny Priyanto

Viona tumbuh di Candisari Semarang dengan selalu merasa terlindungi oleh Zidan– kakak tirinya yang sepuluh tahun lebih tua. Sejak ayahnya tiada, Zidan selalu ada buat dia.
pelindung, guru, bahkan tempat curhat setiap kali dia punya masalah. Perlahan, rasa kagum yang dulu ada berubah jadi sesuatu yang lebih dalam. Viona tahu bahwa cinta pada kakak tiri itu tidak boleh ada, tapi perasaan itu seperti akar yang tumbuh dalam hati, sulit untuk dihilangkan.
Sampai hari itu datang, saat Zidan dengan bangga memperkenalkan Gina sebagai calon istri di ulang tahunnya yang ke-30. Dunia Viona seolah runtuh. Akhirnya dia berani mengungkapkan semua yang ada di dalam hati, tapi Zidan menolaknya dengan lembut tapi tegas:

"Aku hanya bisa melihat kamu sebagai adik perempuanku, sebagai mana cinta dan kasih sayang antara Kaka & Adik. Tidak lebih dari itu."

Untuk menyembuhkan luka dan menempatkan Cinta yang salah, Cara apa yang harus Viona lakukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kotak Pandora di Simpang Lima

Jantung Viona berdegup kencang seiring dengan deru mesin mobil yang melaju cepat membelah kemacetan sore hari di Semarang. Zidan tetap tenang di balik kemudi, matanya sesekali melirik spion samping untuk memastikan motor hitam itu benar-benar telah kehilangan jejak mereka setelah serangkaian belokan tajam di gang-gang sempit kawasan Peterongan.

"Kita aman untuk sekarang," ucap Zidan, napasnya sedikit terengah namun suaranya stabil. "Mereka tidak akan berani mengejar masuk ke dalam permukiman padat seperti itu tanpa menarik perhatian warga."

Viona menghela napas panjang, melepaskan ketegangan yang mencengkeram dadanya. "Kak, apakah kita harus langsung ke bank? Atau kita pulang dulu?"

Zidan menggeleng. "Tidak bisa menunggu. Jika Budi atau orang Wijaya menyadari bahwa Pak Joko telah memberikan kunci itu, mereka akan segera menuju bank untuk memindahkan atau menghancurkan isi brankas sebelum kita sempat membukanya. Kita harus bergerak sekarang."

Mereka mengubah arah menuju kawasan bisnis Simpang Lima, jantung komersial Semarang. Di sana, di lantai dasar sebuah gedung perkantoran tua yang masih berdiri kokoh di antara gedung-gedung baru, terdapat cabang Bank Mandiri yang dimaksud Pak Joko. Gedung itu tampak kuno, dengan arsitektur kolonial yang megah namun mulai pudar.

Zidan memarkir mobil di area parkir bawah tanah yang agak sepi. Sebelum turun, ia menoleh ke Viona. "Ingat rencana kita. Kau tunggu di dalam mobil dengan mesin menyala. Jika ada keadaan darurat, kabur segera dan hubungi Ayah atau tim keamanan. Jangan coba-coba ikut masuk."

"Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian, Kak," bantah Viona tegas. Matanya bersinar dengan tekad. "Jika sesuatu terjadi padamu, aku tidak akan bisa memaafkan diri sendiri. Lagipula, dua kepala lebih baik daripada satu. Aku bisa menjadi pengalih perhatian jika diperlukan."

Zidan menatap Viona lama. Ia melihat keteguhan di mata wanita yang dicintainya. Akhirnya, ia mengangguk pelan. "Baik. Tapi ikuti instruksiku tanpa pertanyaan. Dan tetap waspada."

Mereka turun dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk bank. Suasana di dalam bank cukup ramai dengan nasabah yang melakukan transaksi sore hari. Zidan mengarahkan langkahnya ke sudut ruangan yang agak terpencil, dekat dengan deretan loker penyimpanan barang milik nasabah (safety deposit box).

Di sana, seorang pria muda dengan kacamata tebal dan jaket hoodie sedang duduk santai sambil membaca majalah. Itu adalah Raka, teman kuliah Zidan yang kini menjadi konsultan keamanan independen. Raka mengangkat tangan sebentar sebagai tanda salam, lalu kembali pura-pura membaca.

Zidan dan Viona duduk di bangku tunggu terdekat, seolah-olah sedang menunggu nomor antrian. Zidan mengeluarkan kunci kecil berkarat dari sakunya dan menyelipkannya di bawah majalah yang ia bawa, lalu menggesernya ke arah Raka saat berpapasan seolah tidak sengaja menjatuhkan sesuatu.

Raka menangkap gerakan itu dengan refleks cepat. Ia mengambil kunci tersebut, memeriksanya sekilas, lalu mengangguk hampir tak terlihat. Ia berdiri, meregangkan badan, dan berjalan menuju petugas loket khusus untuk akses brankas.

"Selamat sore," sapa Raka pada petugas wanita di belakang kaca. "Saya ingin mengakses kotak A-409. Ini kunci fisik saya, dan ini kartu identitas saya." Ia menyerahkan kartu identitas palsu yang sangat mirip dengan aslinya—hasil karya keahliannya dalam memanipulasi data.

Petugas itu memeriksa kunci dan kartu, lalu mengetik sesuatu di komputer. "Mohon tunggu sebentar, Pak. Saya perlu verifikasi sistem."

Detik-detik berikutnya terasa seperti jam bagi Zidan dan Viona. Mereka mengamati setiap gerakan petugas dan penjaga keamanan di sekitar. Tangan Viona menggenggam erat tasnya, siap bertindak jika situasi memanas.

Setelah beberapa menit yang terasa abadi, petugas itu mengangguk. "Silakan, Pak. Kotak Anda siap diakses di ruang privat nomor 3."

Raka tersenyum tipis, lalu berjalan menuju ruang privat tersebut. Zidan dan Viona saling berpandang. Langkah pertama berhasil. Sekarang, bagian tersulit: membuka isi kotak tanpa memicu alarm atau diketahui oleh pihak bank yang mungkin sudah diwarnai oleh Budi Santoso.

Sepuluh menit berlalu. Raka keluar dari ruang privat dengan wajah datar. Di tangannya, ia membawa sebuah amplop cokelat tipis yang tampaknya diambil dari dalam kotak brankas. Ia berjalan santai menuju pintu keluar, melewati Zidan dan Viona tanpa menoleh.

Zidan dan Viona segera berdiri dan mengikuti Raka keluar dari bank, menjaga jarak aman. Mereka bertemu kembali di mobil Zidan di lantai parkir bawah tanah.

Raka melemparkan amplop itu ke pangkuan Zidan. "Isinya sesuai dugaan," kata Raka singkat. "Ada flashdisk encrypted dan beberapa foto dokumen asli perjanjian tanah Kendal, termasuk surat perintah pembakaran yang ditandatangani Budi Santoso. Ada juga catatan transfer dari rekening Wijaya ke akun offshore Budi."

Zidan merasa darahnya mendidih. Bukti itu nyata. Ini bukan lagi sekadar gosip atau ancaman kosong. Ini adalah alat hukum yang bisa menjebloskan Wijaya dan Budi ke penjara seumur hidup.

"Terima kasih, Rak," ucap Zidan tulus. "Aku akan lunasi hutangku nanti."

Raka hanya mengedipkan mata. "Hati-hati, Zidan. Orang seperti Wijaya tidak akan tinggal diam. Dia pasti punya backdoor access ke sistem bank. Mungkin dia sudah tahu bahwa kotak itu dibuka. Cek flashdisk itu di tempat yang aman, jangan di perangkat yang terhubung internet."

Setelah Raka pergi, Zidan dan Viona segera tancap gas keluar dari parkiran. Namun, baru saja mereka mencapai jalan raya, sebuah mobil SUV hitam besar tiba-tiba memotong jalur mereka, memaksa Zidan mengerem mendadak.

Dari mobil SUV itu, turun tiga pria bertubuh kekar dengan wajah tertutup masker. Salah satu dari mereka memegang tongkat besi.

"Mereka!" teriak Viona.

Zidan menginjak gas, mencoba menerobos, namun mobil SUV itu kembali menghalangi. Mereka terjebak.

"Turun dari mobil!" teriak salah satu pria itu, suaranya kasar.

Zidan memandang Viona. "Simpan flashdisk itu di dalam tubuhmu. Jangan sampai mereka mendapatkannya."

Viona mengangguk, wajahnya pucat namun teguh. Ia menyembunyikan flashdisk kecil itu di dalam bra-nya, lalu membuka pintu mobil. Zidan juga turun, berdiri di depan Viona untuk melindunginya.

"Apa maumu?" tanya Zidan dingin.

Pria bertopeng itu tertawa jahat. "Tuan Wijaya mengirim salam. Dia ingin barang-barang milik 'teman lamanya' kembali. Serahkan, dan kalian boleh pergi dengan selamat."

Zidan tersenyum sinis. "Sayangnya, barang itu sudah tidak ada di sini. Dan bahkan jika ada, kami tidak akan menyerahkannya pada pemeras."

Pria itu menggeram, lalu mengayunkan tongkat besinya ke arah Zidan. Zidan menghindar dengan gesit, namun pukulan kedua mengenai bahunya, membuatnya terhuyung. Viona berteriak, mencoba membantu, namun pria lain menahan lengannya.

Pertempuran singkat namun brutal itu terjadi di tengah keramaian jalan raya. Orang-orang mulai berkerumun, beberapa merekam dengan ponsel. Tiba-tiba, sirine polisi terdengar dari kejauhan. Suara itu membuat para penyerang panik.

"Polisi! Kabur!" teriak pemimpin mereka.

Mereka segera masuk kembali ke SUV dan tancap gas, menghilang di antara kemacetan.

Zidan terpaku, napasnya berat, bahunya nyeri. Viona segera mendekat, memeriksa lukanya. "Kak, kamu tidak apa-apa?"

Zidan menggeleng, lalu meraba saku jaketnya. Flashdisk itu masih aman di tubuh Viona. Ia tersenyum lelah. "Mereka gagal. Tapi ini berarti perang sudah terbuka sepenuhnya. Wijaya tidak lagi bermain sembunyi-sembunyi. Dia mengirim preman ke jalan umum."

Viona menatap kerumunan orang yang masih merekam. "Dan semua ini terekam, Kak. Publik akan melihat bagaimana keluarga Ardhana diserang di siang bolong. Ini bisa menjadi senjata baru kita."

Zidan mengangguk. Rasa sakit di bahunya terlupakan oleh adrenalin kemenangan kecil ini. Mereka memiliki bukti, mereka memiliki saksi, dan sekarang, mereka memiliki simpati publik yang mungkin akan berbalik mendukung mereka melawan kekerasan kriminal.

"Mari pulang," ucap Zidan. "Kita punya banyak pekerjaan malam ini. Kita akan unggah video ini, bersama dengan teaser tentang bukti korupsi Wijaya. Biarkan dia merasakan panasnya sorotan publik yang sebenarnya."

Langit Semarang mulai gelap, namun bagi Zidan dan Viona, cahaya kebenaran baru saja mulai menyinari celah-celah kegelapan yang selama ini menyelimuti keluarga mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!