Melati, gadis miskin dan buta, yang dijual oleh bibinya. Demi utang. Tak pernah mengira, pelariannya dari kejaran anak buah Juragan Herwanto akan menuntunnya pada dekapan masa lalu.
Di sebuah gang sempit, ia dipertemukan kembali dengan Satya, sahabat karibnya saat tumbuh bersama di panti.
Lima tahun berpisah, takdir kembali mempertemukan keduanya, dalam balutan nestapa yang berbeda.
Melati tidak pernah tahu bahwa Satya hidup dalam bayang-bayang wajah yang cacat, akibat kebakaran hebat masa lalu. Tragedi maut yang menewaskan orang tuanya. Satya sengaja didepak dan dianggap mati oleh pamannya yang picik demi menguasai harta warisan keluarga Utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ELIYONA_5758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Pemerasan Berlatar Asmara
“Makanan ini enak, Satya!” seru Melati, tersentak saat mencoba sate kambing pertama kali. “Daging apa ini?” Wajah cantiknya berbinar terang, memancarkan kebahagiaan, di tengah kesederhanaan warung tenda pinggir jalan yang riuh.
“Itu sate kambing. Kambing itu … apa ya? Aku bingung menjelaskan padamu.” Satya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Melati buta sejak lahir. Jelas dia pasti bingung membedakan bentuk makhluk. Satya menatap lekat paras kekasihnya dengan pandangan penuh kehangatan yang mendalam.
“Apa seperti ayam?” Melati memiringkan kepalanya, menanti jawaban dengan rasa ingin tahu yang polos.
“Beda. Badannya jauh lebih besar, berkaki empat, dan punya bulu yang tebal,” jelas Satya selembut mungkin, menuntun tangan Melati untuk kembali memegang sendoknya.
“Suatu saat aku ingin merabanya. Supaya aku tahu bentuknya. Seperti saat kau menunjukkan ayam padaku, dulu.” Melati tersenyum manis, jemarinya bergerak lembut di atas meja, mengambil santapan.
“Baiklah.” Satya tersenyum. “Ayo makan lagi.”
Baru akan memasukkan sate ke mulut. Suara dering telepon, membuat Satya tersentak. Spontan meletakkan lagi tusukan daging, memilih menggeser tombol layar hijau di gawai lamanya yang bergetar hebat.
“Halo,” sapanya dengan nada rendah.
“Bram. Ini Paman.” Suara Heru di seberang terdengar berat. Nada suaranya sarat akan intrik dan kepanikan yang mendalam.
“Oh, Paman. Ada apa?” Satya menegang, melirik Melati yang mulai menghentikan kunyahannya.
“Tirta menghubungiku. Katanya kamu menemuinya di rumah sakit.”
“Ya.” Satya menjawab singkat, mengetatkan rahangnya demi menahan emosi yang mendadak meluap.
Di seberang helaan napas terdengar, sebelum balasan kalimat. “Harusnya kamu berunding dulu sama Paman!”
“Jujur saja, Paman. Awalnya aku ingin operasi itu, berjalan dengan uangku pribadi. Tapi Paman dokter menyarankan, supaya Paman yang menanggung.” Satya menekankan kata 'menanggung' sebagai sindiran tajam atas hak warisnya yang dirampas.
“Jelas saja!” Heru membentak, kemudian menurunkan suaranya demi menyembunyikan drama busuk keluarga mereka. “Begini lho Bram, kalau kamu muncul mendadak begitu, Paman bingung menjelaskan. Kamu kan tahu, kalau orang-orang selama ini menganggapmu mati?”
Suara Heru yang keras, membuat Melati sampai bisa mendengar. Tanpa sadar berceletuk, “Mengapa orang-orang menganggapmu mati … dan kenapa pamanmu memanggilmu Bram?”
Satya baru akan membuka suara untuk menenangkan kekasihnya, saat Heru kembali berbicara dengan nada tinggi dari seberang telepon. “Apa kamu bersama gadis miskin itu, hah? Beri tahu dia, keluargamu tidak akan pernah setuju kamu sama dia!”
Melati terhenyak. Kaget. Pegangan sendoknya terlepas, menciptakan denting drama yang menyayat hati di atas piring.
“Aku tetap akan menikah dengan Melati,” balas Satya mantap. Tatapannya lurus menghujam udara kosong, menegaskan asmaranya yang takkan goyah oleh konspirasi apa pun. “Daripada Paman berkoar tidak setuju, lebih baik Paman berikan hak-ku. Dan aku tidak akan mengganggu lagi.”
Sambungan diputus Satya sepihak. Ia melempar gawainya ke meja dengan gusar, lalu buru-buru menggenggam tangan Melati yang mendadak dingin dan gemetar.
“Satya.” Melati meraba udara, mencari wajah kekasihnya dengan gundah. “Kenapa Pamanmu memanggilmu Bram? Dan sepertinya dia tidak menyukaiku? Padahal kita belum pernah bertemu.”
Satya tersenyum getir. “Itu hanya perasaanmu saja, Mel,” jawabnya, berbohong demi menjaga perasaan Melati. “Nama Bram itu nama masa kecilku sebelum masuk panti, Paman hanya belum terbiasa memanggilku Satya. Soal tidak setuju, Paman hanya syok karena aku mendadak ingin menikah. Nanti kalau sudah ketemu kamu. Dia … juga akan luruh sendiri.”
“Apa pamanmu tahu kalau aku buta?”
Celetukan tiba-tiba Melati membuat Satya menelan ludah. Suasana warung tenda mendadak terasa begitu menyesakkan, dipenuhi ketegangan drama yang kian meruncing.
“Dan … tadi kamu mengatakan kalau kamu mau operasi. Apa itu operasi wajah?” Melati kembali menyambar Satya dengan pertanyaan, meraba pipi Satya yang penuh parut luka dengan jemari lentiknya yang bergetar.
“Mel.” Satya menggenggam tangan kekasihnya, mengecup telapak tangan itu dengan penuh perasaan. “Aku harus operasi demi kesehatan. Wajahku akan dipulihkan seperti semula. Supaya kamu tidak takut nanti, kalau kamu sudah bisa melihat.”
“Melihat?” Melati mengernyit, tidak berani menggantungkan harapan terlalu tinggi pada dunianya yang gelap gulita.
“Ya. Suatu saat kamu pasti akan bisa melihat. Aku janji.” Satya menegaskan kalimatnya, bertekad menggunakan hak warisnya kelak untuk membiayai operasi donor kornea Melati.
Setelah berkata demikian, Satya menarik Melati ke dalam pelukan eratnya di bawah temaram lampu warung tenda. Mengabaikan sisa makanan yang mendingin demi menyalurkan kehangatan asmara yang protektif.
—
“Sialan! Bram menutup pembicaraan!” Heru mengumpat, emosi. Ia mengempaskan gawainya ke atas meja kerja dengan keras. Meluapkan amarah yang membakar dada akibat intrik hak waris yang kian menyudutkannya.
Suara pintu terbuka terdengar. Bagas masuk. Memicing ke arah ayahnya. “Ada apa, Yah? Kenapa Ayah kelihatan kesal?” Pemuda itu melangkah santai, meski matanya yang tajam merekam jelas kepanikan drama dewasa yang sedang melanda sang ayah.
“Bram! Dia masih bersama gadis miskin itu.” Heru memutar tubuh, menatap putrinya penuh amarah. “Aku akan mencari tahu tentang gadis bernama Melati itu.” Seringai licik mulai tampak di wajah tuanya yang sarat konflik.
“Jadi namanya Melati.” Bagas menggeser kursi di depan meja ayahnya, lalu duduk bertopang dagu dengan gestur yang teramat tenang. “Bagaimana kalau aku saja yang mencari info tentang Melati? Jujur aku penasaran dengan gadis yang bisa membuat Bram jatuh cinta, sampai mau ambil hak waris. Setelah sekian lama kematian Paman Arif.”
Heru menatap sang putra penuh selidik. “Kamu mau cari tahu tentang pacar Bram?”
“Ya. Supaya Ayah bisa fokus mengurus bisnis. Kalau aku kan cuma pegang dealer, jadi tidak terlalu sibuk.” Bagas tersenyum meyakinkan, menyembunyikan intrik pribadinya untuk melacak keberadaan Bram demi hubungan masa lalu keluarga mereka.
“Baiklah. Cari tahu, dan … laporkan kepada Ayah kalau kau dapat informasi. Mengerti?” Heru memastikan sebelum benar-benar pergi meninggalkan ruangan kantor pribadi tersebut.
“Siap.” Bagas tersenyum, menatap punggung Heru yang melangkah keluar dan menutup pintu rapat-rapat. “Waktunya memeriksa ….”
Beeep … beeep ….
Suara dering terdengar nyaring, memutus keheningan kubikal mewah tersebut.
“Shit, damn it. Dia lagi!” umpat Bagas geram begitu mendapati nama Mawar di layar gawai.
Tanpa membalas, ia menggeser tombol merah. Namun dering kembali terdengar berulang kali, hingga Bagas memblokir kontak Mawar dengan napas memburu menahan muak.
Mengacuhkan itu, Bagas kembali dengan layar komputer. Fokus untuk memeriksa laporan keuangan dealer miliknya. Namun, sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk ke bilah notifikasi, berbunyi: “Kenapa kamu memblokirku? Angkat atau aku akan viralkan sandiwara malam kita di hotel!”
Bagas menghela napas panjang, meremas jemarinya hingga memutih. Akhirnya, ia menggeser layar hijau saat panggilan dari nomor asing itu masuk kembali. “Halo.”
“Bagas. Aku sudah berpikir lama sebelum akhirnya memutuskan untuk mengambil uang kompensasi darimu,” sahut Mawar di seberang telepon, suaranya bergetar mencoba terdengar tegas dalam drama pemerasan berlatar asmara ini.
“Oh, itu.” Bagas menyeringai dingin, bersandar angkuh pada kursi kerjanya. “Baiklah. Aku akan mengirim uang. Kau bisa melakukan operasi virginity di luar negeri.”
“Luar negeri?” Suara Mawar di seberang terdengar gemetar, dilingkupi kebingungan akut atas tawaran tak terduga itu.
“Ya. Operasi virginity hanya bisa dilakukan di luar negeri jika ingin hasil yang sempurna. Uang itu aku akan berikan lebih untuk biaya hidupmu. Sebab, aku tak mau kau … kembali bekerja di kantor ayahku.”
“Apa?” Mawar tercekat, napasnya memburu panik menyadari kelicikannya justru berbalik mengusir dirinya dari lingkaran kehidupan Bagas.
“Kenapa? Kau keberatan?”
“Bagas, aku butuh uang untuk biaya hidup jangka panjang. Kalau tidak bekerja, aku dan ibuku makan apa?” sentak Mawar impulsif.