Melati, gadis miskin dan buta, yang dijual oleh bibinya. Demi utang. Tak pernah mengira, pelariannya dari kejaran anak buah Juragan Herwanto akan menuntunnya pada dekapan masa lalu.
Di sebuah gang sempit, ia dipertemukan kembali dengan Satya, sahabat karibnya saat tumbuh bersama di panti.
Lima tahun berpisah, takdir kembali mempertemukan keduanya, dalam balutan nestapa yang berbeda.
Melati tidak pernah tahu bahwa Satya hidup dalam bayang-bayang wajah yang cacat, akibat kebakaran hebat masa lalu. Tragedi maut yang menewaskan orang tuanya. Satya sengaja didepak dan dianggap mati oleh pamannya yang picik demi menguasai harta warisan keluarga Utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ELIYONA_5758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Mangsa Yang Datang Sendiri
Pagi itu, Mawar dan Turi memberanikan diri ke rumah Juragan Herwanto.
“Kamu yakin, mau balikin uang itu?” Turi menatap putrinya dengan pandangan ragu, sebelum naik ke atas motor.
“Sangat yakin.” Mawar memasang helm dengan sentakan kasar. Bersiap memanasi motornya. “Daripada berurusan sama tua bangka, mending aku lempar uang ke wajah menjijikkan itu, lalu urusan kita selesai."
“Baiklah. Tapi kalau Ibu sih jujur eman. Uang ratusan juta itu nggak sedikit.” Turi naik di jok belakang, memasang helmnya dengan malas. “Walau nggak dapat Bagas, setidaknya kamu bisa dapat orang kaya, meski lebih tua. Seperti Herwanto ya. Dia itu ... sudah kaya, punya nama. Dan yang paling penting, dia bisa ngangkat derajat keluarga kita.”
“Kenapa nggak Ibu aja yang nikah sama dia kalau gitu?” Mawar mulai nyolot emosi. Mulai memutar gas dengan kencang, membuat motor mereka menderu keras. “Lumayan kan aku punya bapak tiri kaya. Kita nggak perlu hidup susah."
Turi hanya mencebik diam, memeluk pinggang anaknya erat. Dalam hati, ia berseloroh, ‘Kalau Herwanto mau, aku mah ayo aja. Sayang tuh jejaka tua sukanya sama Lestari, emaknya si buta.'
Motor mulai melaju cepat, melewati rumah padat penduduk yang kumuh.
Sampai di sebuah rumah mewah model lawas, Mawar menghentikan laju motornya. Sesaat ada rasa trauma menyergap dadanya yang mendadak sesak. Namun, ia menepis kilasan memori malam kelam kala itu. Ia memilih untuk memantapkan diri demi bisa menyelesaikan semuanya.
“Kalau nggak dimulai detik ini juga. Lalu ... mau sampai kapan aku berurusan dengan Herwanto,” gumamnya, sambil mulai melangkah mendekati gerbang.
“Kamu?” Seorang penjaga menghampiri begitu melihat Mawar dan ibunya, berdiri di depan pagar besi yang menjulang tinggi.
“Aku mau bertemu Juragan Herwanto,” sahut Mawar cepat. Ia merapatkan jaketnya, mencoba menutupi tubuhnya dari tatapan penuh intrik pria itu. “Kasih tahu sama dia. Kalau aku datang mau bayar utang ibuku.”
“Masuklah.” Pria itu membuka gerbang, mempersilakan Mawar dan Turi masuk ke halaman rumah bergaya lawas yang terasa mencekam.
Di ruang tamu yang luas namun pengap oleh aroma cerutu, keduanya menunggu dengan cemas. Tak lama, sebab sang juragan langsung menemui begitu anak buahnya memberi informasi. Langkah kakinya yang berat terdengar mendekat.
Tak membuang waktu, meski dengan suara gemetar takut, Mawar memberanikan diri bicara demi mengakhiri romansa gelap yang menjeratnya. “Aku mau bayar utang Ibu. Selanjutnya, aku tak mau lagi ada urusan denganmu.”
“Hahahaha.” Herwanto tergelak, menatap Mawar dengan pandangan dewasa yang sarat akan gairah tersembunyi. “Pucuk dicinta ulam tiba sendiri. Padahal aku cari-cari, lha kok datang sendiri, hahaha.”
“Jangan banyak bicara. Mana surat perjanjian utang dan sertifikat tanah rumahku? Aku akan transfer uang kalau kau serahkan bukti lunas padaku,” desak Mawar, suaranya naik satu oktaf akibat kepanikan yang memuncak.
“Sabar dong, cantik.” Herwanto mulai merayu. Ia mengulurkan tangan, hendak menyentuh dagu Mawar, tapi keburu ditepis dengan sentakan kasar oleh gadis itu. “Galak benar.”
“Aku berani begini karena punya uang,” sumbar Mawar, meski jemarinya yang memegang gawai terasa sedingin es. “Sudah, cepat serahkan surat lunas dan sertifikat! Setelah itu, aku tak mau melihatmu lagi.”
Rahang Herwanto mengeras, merasa harga dirinya diinjak-injak oleh gadis miskin ini.
Meski begitu, ia tetap tersenyum licik, memberi kode anak buahnya untuk mengeluarkan sertifikat rumah Mawar sekaligus kuitansi lunas utang dari laci meja.
“Ini barangnya. Sekarang, mana uang seratus lima puluh juta milikku?” gertak Herwanto, mulia emosi. Ia bahkan sampai melempar berkas itu ke atas meja.
“Sebutkan nomor rekeningmu sekarang,” perintah Mawar, langsung membuka aplikasi perbankan di gawainya dengan napas memburu.
“Ketik ini, 323-6883. Jangan sampai kurang satu rupiah pun,” dikte Herwanto, matanya berkilat penuh nafsu dunia.
Mawar dengan gemetar menekan tombol konfirmasi pada layarnya. Bip.
“Sudah masuk. Cek gawaimu!” serunya, sambil menyodorkan bukti transfer digital ke depan wajah pria tua itu.
Herwanto melirik gawainya sendiri lalu mendengkus. “Berhasil. Kamu ternyata punya simpanan kaya, ya?”
“Bukan urusanmu!” Mawar secepat kilat menyambar sertifikat tanah dan surat lunas di atas meja, lalu menarik lengan ibunya yang sedari tadi terpaku. “Ayo, Bu, kita pergi dari tempat terkutuk ini!”
Mawar buru-buru pamit pergi tanpa menoleh lagi. Ia setengah berlari menembus pintu keluar. Memeluk erat berkas berharga itu di dada dengan air mata yang hampir menetes.
Merasa separuh dari jerat dosa dewasanya telah lepas walau ia tahu, janji kepada Bagas sudah menanti.
---
“Kamu yakin kalau kita akan mendatangi bibimu?” tanya Satya, ragu. Ia menatap cemas ke arah Melati, tangannya masih memegang erat setang motor yang bergetar.
“Ya.” Melati mengangguk mantap. Jemarinya meraba pundak Satya, meyakinkan dengan sentuhan asmara yang tulus. “Mereka satu-satunya keluargaku. Masa iya, saat acara tunanganku, mereka ditiadakan.”
“Iya juga sih.” Satya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dadanya dilingkupi firasat buruk akan rencana yang mungkin disiapkan keluarga Turi. “Hanya saja, aku cemas kalau … dia akan memaksa-mu lagi.”
“Sepertinya tidak. Karena dari perkataan Juragan Herwanto waktu bertemu kita, dia sudah sama Mawar. Aku rasa dia sudah tidak mau sama aku.” Melati tersenyum tipis, mencoba menghalau drama ketakutan di hati kekasihnya.
“Baiklah. Kita ke sana langsung. Supaya ini cepat selesai.” Satya mulai memanaskan motor. Lalu membantu Melati naik, memastikan kaki gadis itu menapak nyaman di pijakan.
Motor mulai melaju. Meninggalkan hening, menuju rumah Turi. Satya memacu kendaraannya membelah jalanan.
---
Dengan gemetar, Melati turun dari jok sepeda.
Begitu motor sampai di depan rumah Turi, ia meraba lengan kekar Satya untuk mencari keseimbangan, dilingkupi romansa dewasa yang sarat akan ketegangan menjelang pertemuan keluarga ini.
“Hati-hati.” Satya memberi peringatan. Ia menggenggam jemari Melati dengan lembut, menuntun langkah kekasihnya yang ringkih dengan penuh proteksi asmara.
Keduanya lalu berjalan beriringan. Masuk ke halaman rumah tanpa pagar itu. Mengetuk pintu kayu yang sudah lapuk.
“Assalamualaikum.”
Pintu terbuka dengan derit pelan.
Mawar langsung tercengang melihat sosok Melati dan pacar buruk rupanya. “Kamu pulang?” Tanpa sadar kata itu terlontar dari bibirnya, matanya melebar seketika menyadari kalau takdir, telah membawa mangsa Bagas tepat ke hadapannya.
“Aku mau memberi tahu kalau … aku mau tunangan. Dengan Satya,” balas Melati. Wajah cantiknya tersenyum tulus, menyodorkan undangan lisan demi mengikat hubungan dewasanya ke jenjang yang lebih suci.
Tak membuang kesempatan. Mawar dengan gerakan agresif langsung menarik tangan Melati ke ruang lebih dalam. “Masuk dan duduklah.”
Ia memaksa sepupunya mengambil tempat di sofa usang. Melirik sekilas ke arah kamar Turi yang tertutup rapat, lalu berkata setengah berbisik penuh rencana busuk. “Kamu ke mana saja? Tinggalmu di mana sekarang?”